Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
7. Cucu


__ADS_3

“Lakukan apa yang kau inginkan, tapi jangan salahkan aku, kalau kau akan kehilangan segalanya. Terlebih nyawa-nyawa orang yang kau sayangi,” Damian berucap dengan wajah penuh seringai.


Max yang mendengar ucapan Damian mengepalkan tangan. Ingatan tentang Salsha yang sudah pergi membuat ia takut. Ia takut kehilangan kembali.


“Damian, jangan lakukan itu. Kau tahu bukan, hubungan ini tidak sehat.”


Damian yang mendengar hanya terkekeh sinis. Tidak sehat? Di mana saja laki-laki itu selama ini?


“Dari mana letak ketidak sehatannya?”


“Da_”


“Bukankah hubungan dikatakan tidak sehat ketika kita sudah melakukan hal-hal yang terlarang. Seperti yang kau lakukan dengan wanitamu dulu,” Damian berucap dengan sinis. Kilatan emosi terlihat jelas di netra birunya.


Max yang mendengar ucapan Damian termenung. Ya, ia sadar hubungannya dengan Salsa dulu tidak sehat.



Damian yang merasa sudah menang tertawa keras, membuat beberapa pelayan yang bertugas membersihkan kebun merinding.


Si tiran yang tidak pernah memandang bulu saat menghancurkan lawanya kini tertawa. Tawa yang menyeramkan. Tanpa membuang waktu, mereka semua segera beranjak pergi, menjauh dari sosok Damian.


“Kenapa kau diam? Apa sekarang baru sadar jika hubungan kita baik-baik saja, dan layak untuk diperjuangkan.” Damian menyeringai di balaik gawai. Kelicikan terlihat jelas di wajah tampannya.


Sedangkan Max hanya bisa menggigit bibir atasnya. Ia benci menjadi lemah. Ia benci menjadi pecundang. Bersama Damian, sifat itu selalu muncul.


“Damian _”


“Pikirkanlah baik-baik. Aku tutup dulu, ingat aku menyanyangimu.”


Tut!


Damian menyandarkan kepalanya di kursi, membiarkan matahari menyapu seluruh wajahnya. Rasa lelah menyerang tubuhnya. Lelah fisik maupun batin. Kadang laki-laki itu ingin menyerah, membiarkan Max hidup dengan duniannya sendiri. Tapi ada sedikit rasa takut, ia takut Max akan kembali seperti dulu.


Puk!


Tepukan di bahunya membuat mata biru itu dengan cepat terbuka. Di pandanginya sosok wanita yang berdiri itu dari bawah. Meihat hidung kecil nan runcing itu membuat rasa kesal tiba-tiba melandanya.


Menghela nafas panjang, kemudian ia bangkit guna menjauhi sumber kekesalannya itu.


Ariana yang melihat itu melototkan mata, merasa tidak percaya dengan tindakan Damian yang mengacuhkahnnya.


“Hay, Gay!”


Langkah Daman terhenti. Mendengar panggilan itu membuat amarahnya membeludak. Dengan cepat, ia membalikkan tubuh, menatap Ariana yang terlihat berkacak pinggang.

__ADS_1


“Sekali lagi kau menyebutku gay, jangan salahkan aku jika matahari tidak akan terbit lagi di hidupmu.” Damian mendesis tajam, membuat Ariana sedikit mengerjap dan memundurkan langkahnya.


“Terus, kau ingin aku memanggilmu apa?”


Pertanyaan dengan nada polos itu semakin menyulut emosi Damian. Menghela nafas panjang, laki-laki itu berjalan mendekat, membuat tiap langkah yang ia ambil mengurkan aura dingin yang menyeramkan.


“Panggil aku Damian,” bisiknya dengan pelan, tapi sarat akan ancaman.


Ariana membeku. Bisikan itu membuat sekujur tubuhnya terasa merinding. Meskipun ia berulang kali mengatakan tidak takut dengan kaum laki-laki, tapi ia tetap seoarag wanita yang memiliki tingkat kerapuhan tersendiri.


“Kau paham?” bisiknya lagi.


Ariana yang entah kenapa hanya bisa mengangguk. Kuncian, dan bantingan yang menjadi jurus andalannya seakan ikut terkunci.



Damian yang menyadari ketakutan wanita di depanya itu terkekeh, merasa puas melihatnya. Ya, ini yang paling ia sukai. Di takuti.



Tanpa berkata lagi, kaki kekar itu melangkah menjauh meninggalkan taman dengan seorang wanita yang berdiri kaku.



“Mampus! Bagaiamana bisa aku lupa memberitahu kedatangan Papanya Damian.” Ariana menepuk kening, merasa kesal dengan dirinya sendiri.


Berpikir sebentar, kemudian ia merubah wajahya menjadi cuek kembali. “Hmm, biarlah. Salah sendiri, mengapa bersikap seperti itu.”


***


Ruang keluarga itu terasa mencekam. Tatapan mata dengan netra berbeda itu membuat ketegangan semakin terasa.



Jordan membuang nafas, kemudian berucap dengan nada lelah. “Papa ingin segera menimang cucu. Kau tahuakan, Papa kesepian.”



Damian yang melihat itu membuang muka. Selalu itu yang menjadi alasan papanya. Ingin sekali ia berteriak, jika papanya kesepian, datang saja ke pesat, atau club malam, di sana tidak ada kata sepi.


“Araiana,” Jordan memanggil menantunya dengan lembut. Tatapan matanya pun berbada saat beradu dengan Damian.


Netra abu kebiruan itu terliht lebih lembut, dan enak di pandang saat bersitatap dengan netra madu.


“Iya, Pa.” Ariana menjawab dengan nada sedikit gugup.

__ADS_1


“Papa berharap banyak padamu, tolong berikan Papa cucu.” Jordan menatap sendu Araiana, membuat wanita itu meringis.


Dalam hati, terbesit rasa kasihan. Bagaiamana bisa, seorang ayah yang baik memiliki anak seperti setan. Bukan hanya itu, tapi juga kelainan. Sebenarnya ia tidak pernah mempermasalahkan jika ada oarng yang memiliki penyimpangan, toh mereka pasti punya alasan, dan ia tidak ingin mengusik mereka dengan argumennya yang pasti akan terasa menyudutkan bagi mereka.



Tapi, apa ia tetap harus diam, di saat ia sendiri menikah dengan seoarng gay, dan memiliki ayah mertua yang mengharapkan sosok cucu dari pernikahan mereka.


“Maaf, Pa. Tapi seperetinya__ auchh,” ucapan itu terputus saat Ariana meresakan pingganya seperti di gigit semut. Mata madunya menatp sinis Damian yang menjadi dalang dari kesakitannya.


“Kami akan mengusahakannya, Pa. Papa tenang saja.” Damian dengan cepat menyela. Netra birunya terlihat serius, jauh berbeda dengan apa yang ia utarakan di hati.


Jordan yang melihat itu menghela nafas lega. Pria tua itu dnegan perlahan bangkit, di ikuti kedua anaknya.



Sebelum benar-benar berdiri, Jordan berkata dengan ada ceria, “kau tidak usah ke kantor dulu. Papa sudah mengurus semuanya. Selama satu bulan ini, Papa ingin kalian berusaha maksimal, dan menghasilkan keturunan.” Jordan tersenyum lebar, kemudian melenggang pergi diikuti asisten sekaligus supir pribadinya itu.



Ariana yang mendengar perkataan mertuanya membuka mulut lebar, merasa tidak percaya dengan kegigihan sang mertua.


“Apa, satu bulan? Bagaiaman bisa aku bercinta dengan laki-laki sepertimu, dan pastinya ‘itu’ mu sangat tidak memuaskanku.” Araiana menatap jijik Damian, terlebih saat matanya menatap ke arah benda di antara dua paha itu.


Bayangan jika benda itu pernah masuk ke lubang a\*us atau bahkan ia yang di masuki membuat ia jijik. Tanpa sadar, Araiana merasa mual.


“Huek.” Dengan cepat wanita itu berlari dengan tangan yang menutup mulutnya rapat.


Damian yang masih terkejut dengan perkataan Jordan menatap aneh Ariana yang berlari dengan kecepatana di atas rata-rata.


“Kenapa dengan gadis itu?”


***


Max menumpukan kepalanya di atas lutut. Ingatan tentang masa-masa remajanya bersama Damian membuat ia terkekeh miris. Ternyata, selama ini kesuksesannya berkat campur tangan Damian.



Laki-laki bernetra biru itu terlalu jauh masuk dalam kehiudpannya. Membuat ia sulit terlepas.


“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku terima saja dengan statusku. Memilih kembali seperti dulu, meskipun rasanya sudah sangat berbeda?” Max meraup kasar wajahnya.


Kekalutan membuat tubuhnya perlahan meluruh, kemudian meringkuk di atas dinginnya lantai. Salju turun semakin deras, membuat tubuh Max semakin merasa menggigil, tapi laki-laki itu terlihat tidak ada keinginan sama sekali untuk bangkit, sekedar membaringkan tubuh d atas ranjang.


“Tuhan, kenapa kau tega sekali. Pertama kau ambil anakku, kedua, kau ambil wanitaku, dan terakhir, kau kembalikan aku dengan laki-laki yang sangat berarti dalam kehidupanku, dan laki-laki yang bisa menghancurkanku,” ucapan lirih itu menjadi penutup, sebelum laki-laki itu menutup mata.

__ADS_1


__ADS_2