Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
14. Kesalahan fatal


__ADS_3

Damian terlihat bergerak dengan gelisah. Berkali-kali mata biru itu menatap pintu berwarna hitam yang masih tertutup. Paara pelayan yang melihat tingkah sang atasan hanya bisa terdiam, mereka dengan jelas tahu apa yang terjadi, tapi diam adalah pilihan yang terbaik saat ini.


“Sia*!” Damian menarik rambut kasar.


Bayangan tentang Ariana yang berteriak memohon untuk dilepaskan menari di pikirannya. Teriakan kesakitan juga memenuhi indra pendengarannya.


Ceklek!


Damian mendongak, menatap pintu hitam yang tebuka. Di sana terlihat sosok wanita paruh baya dengan pakaia has dokter terlihat menatapnya sedikit sinis. Damian dengan cepat bergerak mendekat.


Plak!


Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi kirinya, membuat laki-laki itu terdiam kaku, dengna wajah yang sudah tertoleh.


“Apa yang kau lakukan dengan Istrimu?” dokter wanita itu bertanya dengan geram.


Damian masih terdiam. Laki-laki itu terlihat berusaha mengembalikan keterkejutan dan kesadarannya. Ditatap sekali lagi, sosok wanita paruh baya yang tak lain adik dari almarhumah sang ibu menatapya penuh amarah.


“Jawab, Damian!” tegasnya sekali lagi.


Damian meneguk ludah gugup, sedangkan beberapa pelayan dan pengawal memilih membubarkan diri, enggan melihat adegan selajutnya yang akan terjadi.


“Aku tidak sengaja,” jawabnya lirih.


Marta, dokter wanita itu terkekeh sinis. Tangan tuanya meraih kemeja Damian, menyeretnya untuk memasuki kamar pribadinya sendiri.


“Lihat! Apa ini yang dinamakan ketidak sengajaan. Kau apakan Istrimu, Damian. Astaga! Aku tidak menyangka, ponakanku yang lucu berani berbuat hal mengerikan seperti ini terhadap wanita, terlebih dia adalah Istrimu sendiri.” Marta menunjuk Ariana yang terbaring lemah, dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya, dan jangan lupakan kain kasa yang menutupi sebagian tubuh indahnya.


Damian hanya menundukkan kepala, rasa bersalah kian mencuat, membuatnya benar-benar merutuki sikap biada\*nya tadi.

__ADS_1


“Maaf.” Hanya itu yang mampu Damian keluarkan. Laki-laki itu tidak menyangka, semua kemarahannya benar-benar membuat ia terjerumus dalam kubangan hitam, yang menjeratnya dalam satu pusaran rasa bersalah yang hebat.


Marta memicingkan mata tajam, gigi wanita itu terlihat saling bergesekan. “Maaf? kau tolo*! Kau lihat, wanita ini harus mengalai kekerasan. Bukan hanya fisiknya, tap juga batin. Bahkan wanita ini harus mengalami pendarahan hebat, apa yang kau lakukan? Kau tahu, semua itu bisa merusak masa depannya. Andai saja aku telat sedikt, aku khawatir akan terjadi hal buruk dengannya, bahkan fatalnya, ia bisa kehilangan nyawa, dan rahimnya.” Marta mengusap, sedikit memijat pelipisnya lelah. Ingatan tentang luka menganga yang ia lihat di inti Ariana membuat ia benar-benahr kehilangan akal. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan keponakannya itu.


Bahkan, korban pelecehan itu tidak separah ini. Apa Damian benar-benar berniat merusak gadis ini. Memasukinya dengan kasar, memberikan luka fisik yang sangat mengerikan. Benr-benar kelakuan binatang.



Damian yang mendengar penuturan Marta terkejut. Apa separah itu? bahkan wanita itu hampir kehlangan rahim dan nyawa jika ia terlambat sedikit pun?


“Apa separah itu?” tanyannya sedikit gugup.


Marta yang mendengar pertanyaan polos itu tanpa basa basi menarik selimut yang menutupi tubuh Ariana, yang hanya memakai pakaian minim. Luka-luka itu membuat Mata memilih pakian itu, dibanding pakain yang lebih tertutup.


“Kau lihat ini.” Tunjuknya tepat ke arah inti Arina yang tertutup kasa, dan di sana terdapat bercak merah pekat.


Deg!


“Lihat, dia mengalami pendarahan, dan hal itu bisa berakibat fatal, terlebih Bibi yakin, punyamu berukuran raksasa, melihat efek yang di derita wanita malang ini.” Marta berucap lirih di akhir kaliamt. Merasa sedikit canggung.


Damian yang awalnya merasa bersalah, kini merasa malu saat wanita tua itu menyebut ukuran benda pusakanya. Benar, ia memang memilki benda yang ukurannya di atas rata-rata, tapi ia juga tidak menyangka bendanya akan berefek fatal seperti itu.


“Dan kau tahu, luka di kepala gadis ini juga tidak bisa dianggap remeh.” Marta kembali melanjutkan perkataannya, membuat Damian kembali tersadar.


Mata biru itu menatap kepala mungil yang kini sudah terbalut perban. Ingatan tentang berapa kali ia menyeret wanita itu hingga mengalami benturan membuat ia benar-benar kalut.


“Aku ...”


“Aku apa? Ahh, sebenarnya bibi tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi melihat bekas cumbuan di tubuh Istrimu, serta pendarahan di sana, dan beberapa bekas lebam di tubuhnya, Bibi yakin, kau memperk*sanya.” Marta memicingkan mata, menatap Damian dengan sinis.

__ADS_1


Damian terdiam, mendengar kata-kata bekas cumbuan membuat rahangnya mengeras. Kini ia tahu siapa yang harus disalahkan. Semua ini karena Ricard, dan ia harus membuat perhitungan untuk laki-laki itu.


“Damian!” Marta memanggil Damian dengan suara yang sudah naik satu oktaf. Wanita itu benar-benar terlihat marah, dam hal itu membuat Damian terlihat kebingungan.


“Eh? Kenapa Bi?”


“Kau masih bertanya kenapa? Sedangkan Bibi sudah bicara panjang lebar!” Marta berkacak pinggang.


Damian yang melihat itu terlihat meneguk ludah sedikit kasar. Meihat kemarahan Marta sama saja melihat kemarahan sang ibu. Fitur wajah mereka yang sangat mirip, serta sifat yang sebelas duabelas, sangup membuat nyalinya langsung ciut.


“Maaf, Bi.”


“Ck sebaiknya aku langsung lapor ke Papamu saja. Biar Papamu membawa pergi Menantunya dari suami hewan sepertimu,” ucap Marta dengan raut kesal.


Damian melebarkan mata, terlebih melihat tangan keriput marta yang sudah mengambil gawai dan berniat memanggil sang papa.


“Bi, aku mohon jagan sampai berita ini sampai ke telinga keluarga. Semua ini hanya salah paham. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi, dan akan memperbaiki semua.” Damian menarik tangan ramping itu, membuat gerakan wanita tua itu sedikit kesulitan.


“Cih, kau pikir Bibi percaya? Tidak! laki-laki yang sudah berani bermian tangan saat terbawa emosi tidak akan smeudah itu menghilangkan kebiasannya. Bisa jadi, habis ini kalian bertengkar, dan kau mengulangi kesalahan yang sama.”


“Tidak Bi, aku bersumpah tidak akan mengulanginya lagi.” Damian mencoba membujuk sang bibi. Harapannya hanya satu, kejadian ini tidak menyebar, dan ia bisa memohon maaf pada Ariana.


Marta masih terdiam. Wanita tua itu terlihat masih berusaha menarik tanganya dari genggaman Damian.


“Tidak, Bibi tidak akan pernah mendengarkan kemauanmu. Kau sudah keterlaluan.” Marta menatap serius Damian.


Damian yang melihat itu menggeram kesal, dengan kasar laki-laki itu menyentak tangannya, membuat tangan tua itu terhempas dengan kasar. Bahkan Marta sedikit meringis.


“Terserah! Lakukan apa yang ingin Bibi lakukan.” Damian menatap datar Marta.

__ADS_1


Marta yang merasakan perubahan Damian sedikit merinding. Namun, wanita itu tetap berusaha biasa saja. Tangan rampingnya berusaha kembali menghubungi Jordan, ayah Damian. Namun, perkataan Damian selanjutnya sanggup membuat gerakannya terhenti.


“Tapi jangan salahkan aku, jika Bibi tidak akan bisa bertemu kembali dengan dia.” Damian tersenyum misterius, membuat gawai yang Marta pegang terjatuh dan menimbulkan suara yang nyaring.


__ADS_2