Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
26. Gay? benarkah


__ADS_3

Ariana memicingkan mata. Cahaya matahari membuat matanya perih. Lenguhan ia keluarkan saat merasa tubuhnya terasa remuk. Ingatan demi ingatan mulai berkelebat di otaknya membuat mata madunya membulat sempurna.


“Sialan!” desisnya tajam.


Matanya kini menatap sosok laki-laki yang dengan tenangnya tidur dengan posisi tegkurap. Punggung kekar nan polos itu membuat kegeraman yang ia rasakan meningkat berkali-kali lipat.


Bugh!


“Auuw, apa yang kau lakukan?” Mata biru itu terbuka sempurna menatap tajam sosok Ariana yang terlihat menahan amarah.


“Dasar, baji*gan! Beraninya kau menyentuhku?” Ariana menatap garang Damian.


Nafas wanita itu terlihat terengah-engah. Bahkan uap panas terasa jelas dari kepalanya. Ia benra-benar marah.



Damian yang paham betul sebab kemarahan Ariana hanya dim. Amarah yang timbul akibat pukulan dari wanita itu dengan cepat menguap. Wajah bantalnya kini berubah menjadi cengiran.


“Oh ya, bukankah tadi malam kau juga menikmatinya?” Damian memposisikan tubuhnya menyamping. Tangan kirinya ia jadikan penyangga kepala.


Ariana yang mendengar perkataan Damian membuang muka. Wajahnya berubah warna menjadi merah, antara amarah dan juga malu.



Dalam hati, wanita itu sibuk mengutuk sifatnya yang seperti wanita murahan semalam. Bagaiamana bisa ia yang awalnya dengan tegas menolak malah terhanyut bahkan ia tanpa sungkan mend\*sah dengan keras.


“Kau, jangan ulangi lagi hal seperti itu,” tekan Ariana tajam.


Damian hanya tersenyum. Mata birunya menatap tubuh bagian atas Ariana yang terbuka. Bukan masalah jika tubuh wanita itu terbungkus pakaian, masalah utamanya, wanita itu tidak memakai apa pun, yang artinya ia benar-benar polos. Oh, bukan hanya wnaita itu, tapi ia juga sama polosnya.


“Apa kau berniat mengulangi kegiatan semalam?”


“Apa maksudmu?” Ariana memicingkan mata.


“Lihatlah dirimu saat ini.”


Ariana masih bingung dengan perkataan Damian, hingga rasa dingin yang menyapu tubuhnya benar-benar membuat matanya membulat. Dengan ragu ia menundukkan kepala, harapan semoga yang dipikirkannya salah terhapus tepat saat matanya menatap dua gunungnya yang terlihat menantang itu.


“Arrgghh! Breng*ek!” umpat Ariana.


Damian yang melihat itu tergelak dengan keras. Bahkan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya tersingkap, memperlihatkan tubuh keseluruhannya yang benar-benar polos.



Ariana masih sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut. Nafasnya kembali tidak beratur, kali ini bukan karena amarahnya untuk Damian, tapi ia marah pada diri sendiri. Bagaiamana bisa ia tidak sadar.


“Hay, kau mau ke mana?” Damian berteriak saat melihat Ariana yang melangkah pergi.

__ADS_1


Gelak tawanya tak bisa dibendung lagi saat melihat tangan Ariana yang terjulur ke atas dan mengacungkan jari tengah.



Tawanya berhenti tepat setelah pintu kamar mandi tertutup. Helaan nafas ia keluarkan. Damian memasang wajah lelah. Tubunya ia rentangkan, membuat matanya mentap lurus langit langit kamar.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku?” Damian menyentuh dada kirinya yang berdetak kencang.


Beberapa detik berlalu, dan ia masih menikmati detak jantung yang menggila. Ingatan tentang Arian yang berkeringat di bawahnya membuat sesautu dalam tubuhnya terasa panas. Senyum lebar tak dapat ia cegah.



Namun, bayangan tentang amarah Max membuat senyumnya lenyap. Wajah tampan itu dengan cepat berubah menjadi serius.


“Sepertinya da yang berusaha mengadu domba diriku dengan Max,” ucap Damian yakin.


Laki-laki itu ingat. Ia memberi perintah bawahannya untuk memindahkan Salsha. Biar bagaiaman pun, ia tidak suka Max bersama wanita murahan itu. Bersama Salsha, Max berubah menjadi liar, dan ia benci. Tapi ia juga tak ingin memisahkan wanita itu jika Max benar-benar mencintanya.


“Wanita itu masih hidup, bahkan aku yakin saat ini keadaanya jauh lebih baik. Lantas kenapa Max bisa berkata seperti itu?”


Laki-laki itu memijat pangkal hidung. Rasa geram mengingat bagaimana Max memberikan pukulan dan membangkang apa yang ia perintahkan benar-benar membuat kesabarannya habis.


“Ck, biarlah! Biarkan laki-laki pecundang itu berpkir jika wanita murahan itu mati.” Damian tersenyum miring.


Flash back!


Bawahan yang memakai masker hitam dan topi hitam itu terlihat terkejut. Namun, ia yang sudah memiliki pengendalian diri yang cukup dengan cepat menghilangkan ekspresinya.


“Baik Tuan.”


“Bawa wanita itu pergi, tapi jangan sampai membuatnya mati.”


“Apa anda yakin Tuan?” bawahannya itu menatap Damian sedikit ragu.


Damian yang paling tidak suka jika ada seseorang yang mempertanyakan keyakinannya tentang keputusan yang sudah di ambil mentap tidak suka.


“Maaf, Tuan. Maafkan saya yang sudah lancang mempertanyakan keputusan Tuan.”


“Pergi! Dan laksanakan perintahku, jangan sampai ada yang curiga.”


“Baik Tuan, saya berani bertaruh nayawa, jika misi yang Tuan berikan saat ini akan berjalan sesuai dengan yang anda inginkan.”


Damian tersenyum. Dagunya bergerak sebagai tanda jika bawahannya itu bisa pergi.



Satu jam berlalu, Damian masih tenang duduk di atas kursi kebesarannya. Mata birunya menatap CCTV yang ia pasang di dalam kamar.

__ADS_1



Pemandangan seorang wanita bernetra madu yang hanya memakai pakaian dalam berwarna hitam membuatnya meneguk ludah beberapa kali. Katakan ia gila, tapi ia merasa was was saat mendapatkan beberap penyusup yang dengan beraninya memasuki areanya.



Jika di mansion hanya ada dirinya dan para pegawai, mungkin ia akan biasa-biasa saja, tapi di dalam sana ada seorang wanita yang tak lain istri sahnya. Ariana.



Drt... Drt ...



Getaran gawai membuat perhatian Damian teralih. Mata biru itu terlihat berbinar saat melihat foto yang dikirimkan sang bawahan.


[misi komplit] di sampingnya juga terdapat foto seorang wanita yang terbaring lemah dengan selang yang menjadi penopang hidupnya. Salsha Dawal.


“Setidaknya, aku bisa mempertemukan kalian di saat keadaanmu lebih baik lagi. Dan aku harap saat itu, Max benar-benar sudah berubah menjadi seorang laki-laki gantle.”


Flashback of


“Hay, apa yang kau lakukan?” Araiana menatap horor Damian.


Damian yang terkejut dengan suara Ariana dengan cepat terlonjak. Decakan kesal ia keluarkan.


“Apa lagi?” tanyanya dengan malas.


“Hay, seharusnya kau menutupi tubuhmu!” Ariana melempar handuk yang setengah basah tepat di area terlarang Damian.


Damian yang mendepatkan perlakuan seperti itu terkekeh miring.


“Hmm, apa ini harum tubuhmu? Kenapa baunya berbeda?” Damian menghirup dalam-dalam handuk kecil itu.


Mata Ariana membulat. “Kau? Aku memberikanmu handuk bukan untuk kau endus! Pakai handuk itu untuk menutupi pisangmu!” Ariana beranjak pergi untuk memasuki ruang ganti.



Damian tersenyum miring. Matanya menatap penuh arti handuk yang di lempar Ariana.


“Hmm, entah mengapa aku ingin melakukan kegiatan itu lagi.” Damian menutup mata.


Laki-laki itu merasa malu dengan pemikiran konyol serta kotor yang timbul di otaknya. Namun satu fakta membuat ia tersadar.


“Ck, aku harus segera menyingkirkan Ricard!” ucapnya dengan serius.


Bahkan laki-laki itu seakan lupa jika dirinya seorang gay? sebenarnya apa yang terjadi? Apa Damian benar-benar gay, atau ia sebenarnya normal? Sungguh membingungkan.

__ADS_1


__ADS_2