
Pada akhirnya, Agam menikahi Gendis secara diam-diam, meskipun begitu, Agam tetap menikah secara hukum dan agama, sehingga keduanya bukanlah melakukan pernikahan sirri, ikatan keduanya sah secara hukum dan agama.
"Saya terima nikah dan kawinnya Gendis Anindya binti Sulaiman dengan mas kawin emas 24 karat dengan berat 100 gram dan tanah seluas seratus hektar dibayar tunai."
Dengan satu tarikan nafas, Agam berhasil menjadikan Gendis sebagai istrinya, usia yang terpaut jauh tidak menyurutkan keduanya untuk menyatukan cinta mereka, meskipun sekarang Agam harus bersabar menunggu Gendis berusia lebih dewasa, apalagi Gendis memutuskan untuk bersekolah lagi. Kurang dari setahun Gendis menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA.
Pernikahan keduanya dilakukan di rumah Agam sendiri, dengan dihadiri oleh beberapa saksi dan juga kedua orang tua Gendis. Dan mulai saat itu, Gendis akan tinggal di rumah Agam.
Setelah akad nikah selesai, pak Sulaiman dan istrinya pamit pulang.
"Kalau begitu Ayah dan Ibu pulang dulu, kamu baik-baik ya di sini, Nak Agam pasti menjagamu, dan sebelumnya saya juga berterima kasih sekali kepada Nak Agam yang sudah menjadikan Gendis sebagai bagian dari hidup Nak Gendis, anak kami ini memang sedikit keras kepala, jadi Nak Agam mudah-mudahan bisa mengerti sifat Gendis, dia juga terkadang masih kekanak-kanakan," ucap pak Sulaiman.
Gendis pun terlihat malu dan menundukkan wajahnya, sedangkan Agam hanya bisa tersenyum dan mengerti maksud ayah mertuanya.
"Ayah mertua tidak perlu cemas, saya akan selalu bersabar menghadapi sifat dan karakter Gendis, ya meskipun kadang membuat sakit kepala saya," ungkap Agam yang membuat Gendis membulatkan matanya menatap wajah suaminya.
"Kapan saya bikin Tuan sakit kepala? Tuan itu yang selalu bikin saya kesal!" balas Gendis tak terima.
__ADS_1
"Gendis! Kamu tidak boleh berkata seperti itu kepada suamimu, ingat! Sekarang kamu itu istrinya, harus berkata sopan, dan juga jangan panggil suamimu dengan Tuan, dia bukan Majikanmu lagi, tapi suamimu, panggil Mas atau Abang, atau yang paling kekinian Papi atau Daddy, kayak di novel-novel itu loh, biar keren," celetuk Bu Farida yang membuat Gendis berpikir, apakah dia harus memanggil suaminya dengan nama lain?
"Panggil aku Daddy saja, sepertinya itu lebih mesra," sahut Agam yang memaksa Gendis menatap wajah sang suami.
"Daddy? Tapi apa itu bukan panggilan untuk ayah? Masa aku harus memanggil suamiku dengan ayah?" sahut Gendis. Agam mendekati istrinya dan menatap wajah Gendis dalam-dalam.
"Aku lebih suka kamu panggil Daddy, bukankah suatu hari nanti anak kita juga akan memanggil ku dengan Daddy? Jadi, anggap saja kita melatih diri sebelum anak-anak kita lahir ke dunia," ungkap Agam yang membuat pak Sulaiman dan Bu Farida senyum-senyum.
"Anak-anak? Tapi kita bukannya sepakat untuk tidak membuat anak dulu," balas Gendis.
"Iya itu memang betul, tapi bukankah kita juga calon orang tua nantinya? Biarpun aku harus menunggu lama untuk itu," ungkap Agam.
"Gendis! Ikut Ibu sebentar, sebentar saya mau bicara dulu dengan Gendis, ada sesuatu yang harus saya sampaikan padanya!" ajak Bu Farida. Agam pun cuma tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gendis pun mengikuti perintah sang ibu, kemudian Bu Farida mengatakan sesuatu setelah posisi mereka agak jauh dari Agam.
"Gendis! Kamu dengar nasihat ibu, ya! Sekarang status mu adalah istri Tuan Agam, jadi ibu berharap kamu menuruti perintah suamimu, selagi itu adalah untuk kebaikan, jangan tolak permintaannya, jangan membuatnya kecewa, Ibu lihat Tuan Agam sangat mencintaimu, dan ibu berharap kamu bisa menjadi istri yang baik untuk nya, kamu mengerti, kan?" seru Bu Farida.
__ADS_1
"Iya, Bu! Gendis akan berusaha untuk menjadi istri yang baik, Gendis akan melayani suami Gendis, tapi ... untuk yang satu itu Gendis belum siap, Bu! Nggak apa-apa kan, Bu? Apa Gendis akan tetap berdosa? Lagipula dia juga nggak keberatan kok untuk tidak menyentuh Gendis," jawab Gendis sembari berbisik.
Bu Farida tersenyum dan menatap wajah lugu anaknya.
"Gendis! Kamu sudah 18 tahun, kamu bukan anak kecil lagi, untuk masalah itu cuma kalian berdua yang tahu, ibu hanya berpesan jangan tolak permintaan suamimu, dalam hal apapun. Dan ingat Gendis! Harus ada hak dan kewajiban yang seimbang antara suami istri, kamu faham kata-kata ibu, kan?" ucap Bu Farida.
Gendis pun mulai berpikir apakah dirinya harus melakukan itu?
"Apa Gendis harus melakukannya, Bu? Tapi Gendis masih sekolah, bukannya seorang siswa itu tidak boleh melakukan seeks selama menjadi siswa?" pertanyaan Gendis seketika membuat sang ibu tertawa kecil.
"Ya ampun Gendis! Memang hubunganmu dengan suamimu itu hubungan terlarang? Kalian berdua tuh suami istri, tapi Ibu juga tidak memaksa kamu untuk melakukannya di usia sekolah, itu hak kamu, hanya saja itu sah sah saja untuk dilakukan, toh kalian berdua sudah menikah," mendengar ucapan dari sang Ibu, sejenak Gendis berpikir apa yang dikatakan oleh ibunya memang benar.
"Iya juga sih! Ibu memang benar, tapi ... Gendis masih takut."
...BERSAMBUNG...
Mampir dulu yuk ke karya punya Kak Casyaaa 🥰🥰
__ADS_1