
Setelah memberikan nasihat kepada sang anak, ayah dan ibu Gendis pulang ke rumahnya, mereka diantarkan oleh sopir Agam, dengan menggunakan mobil mewahnya, Agam pun berencana untuk merenovasi rumah sang mertua, agar kondisi rumah mereka semakin layak untuk dihuni dan tidak berantakan seperti saat ini.
Setelah ayah dan ibu Gendis pulang, tinggallah dirinya dan juga sang suami, Agam menunjukkan kamar mereka, tentu saja gadis itu terlihat kikuk untuk pertama kalinya ia tidur bersama laki-laki.
"Nah Gendis! Sekarang kamar ini adalah kamar kita berdua, kamu bisa bebas melakukan apapun di rumah ini, karena mulai hari ini kamu adalah Nyonya Agam Brandon," ucap Agam sembari menatap wajah istri kecilnya.
"Hehehe iya Tuan!! Eh Daddy maksudnya," balas Gendis sambil cengar-cengir.
"Ya sudah! Sekarang mandilah! Aku mau keluar sebentar untuk mengurus penjualan tanah di desa sebelah, kalau kamu lapar tinggal minta Mbok Juwar untuk mengambilkan nya, besok pagi aku akan urus semua perlengkapan surat untuk kamu melanjutkan sekolah, sehingga kamu bisa masuk sekolah dengan segera," ungkap Agam yang memaksa Gendis memeluk suaminya.
'Greepp'
"Terima kasih banyak, Daddy! Saya nggak tahu harus berkata apa, Daddy sudah sangat baik sekali kepada saya," ucap Gendis sembari menangis terharu. Agam yang masih terkejut saat gadis itu memeluknya untuk pertama kali, ia pun membalas pelukan istrinya itu dengan mengusap lembut rambut Gendis.
"Kamu tidak perlu membalasnya, belajar saja yang rajin, dan tunjukkan kepada semua orang jika kamu pasti bisa mendapatkan impianmu, aku hanya bisa mendukung mu, dan kamu tidak perlu memikirkan apa yang akan kamu bayar untukku, cukup kamu berada di sampingku saja aku sudah sangat bahagia, jangan pernah tinggalkan aku, Gendis. Berjanjilah padaku! Kamu tidak akan pernah meninggalkanku," ucap Agam penuh harap.
Gendis melepaskan pelukannya dan menatap wajah pria yang kini menjadi suaminya itu. Gendis tersenyum dan berkata, "Saya tidak akan pernah meninggalkan, Daddy! Tidak akan pernah, Gendis akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Daddy, dan melayani Daddy dengan sebaik mungkin, tapi ...." Gendis tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa?" Agam pun semakin penasaran dengan apa yang akan Gendis katakan. Gendis tidak menjawabnya karena ia sangat malu untuk mengatakannya, tentu saja Agam pun mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya itu.
"Baiklah, aku tahu maksudmu! Lagipula aku juga tidak akan memaksanya, jadi santai saja, kamu jangan takut jika aku memintanya secara paksa, itu tidak akan pernah terjadi," seru Agam yang membuat Gendis tersenyum.
"Ya sudah! Aku keluar dulu,"
Agam pun segera berjalan menuju ke pintu kamar, malam pengantin yang seharusnya terjadi dengan indah, nyatanya Agam justru keluar untuk mengurus surat-surat tanah miliknya.
__ADS_1
Sebelum Agam pergi, Gendis memanggil sang suami dan berlari kecil menghampiri nya.
"Tunggu, Dadd!!" seru Gendis yang kini berada di belakang Agam yang baru saja membuka handle pintu kamar mereka.
Agam membalikkan badannya dan bertanya kepada sang istri, "Iya ada apa lagi?"
Gendis mulai mendekati sang suami dan setelah itu Ia pun mengalungkan tangannya pada leher Agam, seketika Agam terkejut bagaimana bisa Gendis tiba-tiba bersikap seperti ini padanya.
"Gendis!!!"
Spontan Gendis mencium bibir suaminya sebagai tanda terima kasihnya sudah mengizinkan dirinya untuk melanjutkan kembali sekolahnya untuk beberapa bulan ke depan.
Sentuhan itu dirasakan Agam begitu lembut, bagaimana pun juga Agam adalah pria normal yang sudah lama berpisah dari istri pertamanya, ciuman seorang gadis yang sangat dicintainya membangkitkan gairah Agam yang seharusnya ia simpan dulu untuk nanti saat Gendis sudah siap.
Gendis merasa jika suaminya mulai tergoda dengan sentuhannya, Gendis pun berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Agam, ternyata Gendis sudah membuat macan tidur itu terbangun.
"Ah ... Dadd!! Jangan lakukan itu!" pekik Gendis tatkala Agam sudah berani melakukan hal yang lebih dalam lagi kepada Gendis. Tapi anehnya, bukannya menolak atau mendorong tubuh suaminya, Gendis justru menikmati apa yang dilakukan oleh Agam.
Mungkin Agam sudah sangat terlatih untuk melakukan pemanasan, dan itu cukup membuat nafas Gendis naik turun, Gendis seolah lemah terkena setiap kecupan Agam pada seluruh tubuhnya.
"Daddy, jangan!!" bibir Gendis menolaknya, tapi tidak dengan bahasa tubuhnya, seolah dirinya mempersilahkan Agam untuk berbuat apa saja.
Cukup puas pria itu bermain di permukaan kulit istrinya, hingga akhirnya jurus terakhir adalah berkunjung ke suatu tempat yang dinamakan pusatnya surga dunia, untuk pertama Agam cuma merabanya dengan tangan dan memainkan benda kenyal yang sudah basah sedari tadi itu.
Gendis semakin menggelengkan kepalanya dan Ia merasa ada sensasi rasa yang benar-benar nikmat, hanya sebuah elusan tangan saja, Gendis seolah berada di alam nirwana.
__ADS_1
"Jangan ... jangan ... jangan!!"
Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Gendis, tapi Agam tidak menghiraukannya sama sekali, pria itu justru semakin penasaran dengan isi yang dibalut dengan kain berwarna putih itu.
Agam menyingkapnya dan melepaskan penutup itu dengan mudah, setelah itu Agam pun mulai menyentuh sesuatu yang paling berharga itu sembari berbisik pada telinga Gendis.
"Ini milikku!!" bisikan itu terdengar begitu lembut, membuat jiwa Gendis semakin terbang melayang.
Agam merasakan tempat itu masih sangat asri, belum pernah terjamah oleh tangan laki-laki. Sehingga ia pun merasa jika dirinya harus menjadi orang yang pertama kali mengeksplorasi apa yang menjadi kebanggaan Gendis itu.
"Jangan Daddy! Jangan lakukan itu, bukankah Daddy sudah janji untuk tidak melakukannya sekarang?" seru Gendis disela dirinya menahan hasrat yang kian bergejolak itu.
"Ahh ... Gendis! Aku sudah tidak tahan, bolehkah aku ... haaaaaaaa tidak!!"
Seketika Agam menarik tangannya dari tempat itu, kemudian ia pun menjauh dari posisi Gendis yang saat itu sedang berada di atas ranjang tidur dengan keadaan separuh telanjang.
Agam menghela nafasnya, hampir saja ia kehilangan kendali, Ia pun dengan cepat mengambil selimut dan menutupi tubuh istrinya yang hampir saja ia telanjangi.
Gendis menatap wajah sang suami yang tampak nya merasa bersalah.
"Maafkan aku!! Tidak seharusnya aku melakukan hal ini padamu, aku benar-benar menyesal," ucap Agam sebelum dirinya meninggalkan Gendis di dalam kamar itu dengan posisi acak-acakan.
Agam merapikan kembali bajunya dan menutup kembali ritz celananya, setelah itu Ia keluar dari kamar Gendis.
Setelah melihat suaminya keluar dari kamar, Gendis pun menepuk jidatnya sendiri dan ia pun merasa kenapa dirinya bisa melakukan hal itu.
__ADS_1
"Astaga!! Apa yang sudah aku lakukan? Dan ... dan ini ... ya ampun kenapa bisa terlepas sih, kok aku nggak kerasa dia udah melepaskan nya, pantas saja rasanya kok beda, lembut banget tangannya, tidak-tidak ... Gendis apa kamu sudah gila! Hampir saja kalian melakukannya," ucap Gendis saat dirinya membuka selimut dan nampak lah mahkota miliknya yang terbuka dan terlihat rumput-rumput tipis yang menghias di sekitar mahkota wanita itu.
...BERSAMBUNG ...