GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Keluar kota


__ADS_3

Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu. Kini, usia pernikahan Agam dan Gendis sudah berjalan lima bulan, mereka terlihat semakin mesra, hari-hari Gendis tidak luput dari perlakuan sang suami yang selalu memanjakan dirinya.


Agam dan Gendis sengaja menunda untuk hamil dengan melakukan metode membuang di luar, mengingat Gendis masih berstatus sebagai seorang pelajar, Agam tidak ingin menghamili Istrinya saat sang istri masih berjuang untuk lulus sekolah, meskipun tidak bisa dipungkiri jika Agam sangat menginginkan bayi dari rahim sang istri.


Sementara berita tentang hubungan Agam dan Gendis santer semakin berkobar, Gendis menjadi bahan perbincangan teman-temannya, apalagi setiap hari Agam mengantarkan Gendis ke sekolah, tentu saja gosip tentang hubungan terlarang itu kian besar.


Tapi Gendis tidak perduli dengan gosip tentang dirinya dan Agam, bahkan Gendis terkesan cuek dan masa bodo dengan atau sindiran teman-teman bahkan gurunya sendiri, Bu Titin.


Bahkan, Bu Titin mengancam Gendis untuk melaporkannya kepada kepala sekolah, dan Gendis pun hanya santai menyikapinya. Ia tidak takut sama sekali dibilang kumpul kebo ataupun sebagai pemuas nafsu majikannya, toh pada akhirnya mereka juga yang akan malu jika tahu yang rahasia sebenarnya.


*


*


*

__ADS_1


Hingga suatu hari, Agam dan Gendis yang saat itu baru saja selesai menunaikan kewajiban sebagai suami istri, Agam terhempas di samping sang istri, keduanya terlihat mandi keringat, sepertinya aktivitas yang baru saja mereka lakukan membuat keduanya tersengal-sengal. Gendis merasa ada sesuatu yang berbeda dari percintaan mereka kali ini.


"Dadd!!"


"Hmm!!"


"Daddy keluarkan di dalam, ya?" tanya Gendis sembari meletakkan kepalanya pada dada sang suami.


"Maafkan aku, Sayang! Aku tidak tahan lagi, kamu semakin pintar dan semakin lincah saja, jadi aku tidak sempat untuk mencabutnya," balas Agam sembari mengusap lembut rambut sang istri. Gendis pun tersenyum dan semakin mempererat pelukannya. Di sela-sela mereka berdua melepaskan lelah karena aktivitas yang indah itu, Agam berkata kepada sang istri, "Sayang, besok aku pergi keluar kota selama satu bulan, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal? Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," seru Agam sembari memeluk sang istri.


"Keluar kota? Kenapa harus keluar kota sih, Daddy! Satu bulan lagi, lama banget Gendis bobo sendirian dong? Ah nggak mau, Gendis ikut, ya?" ucap Gendis dengan manja sembari mengerucutkan bibirnya.


"Hmm ... tapi Gendis nggak berani bobo sendirian, Dadd! Mana lama banget, satu bulan lagi," protes Gendis.


"Gini aja deh! Kalau kamu nggak berani tidur sendirian, kamu bisa tinggal di rumah orang tuamu selama aku tinggal pergi, bagaimana? Tapi setelah aku pulang, tentu aku akan jemput kamu," seru Agam yang seketika membuat Gendis bahagia.

__ADS_1


"Daddy beneran nih! Gendis boleh nginep di rumah Ayah dan Ibu?" tanya Gendis dengan wajah yang begitu berseri, Agam pun menganggukkan kepalanya. Gendis pun spontan memeluk suaminya dengan erat..


"Hmm ... makasih banyak, Daddy! Sudah lama juga Gendis nggak ketemu sama Ayah dan Ibu, Gendis kangen banget sama mereka," ucap Gendis sembari berkaca-kaca.


"Kamu bisa sepuasnya melepaskan rindu dengan ayah dan ibu, tapi ingat! Tapi kamu tidak boleh nakal!" seru Agam memperingatkan sang istri.


"Nakal! Ya nggak lah Daddy sayang, emangnya Gendis nakal apaan coba?" sahut Gendis sembari memutar bola matanya.


"Kamu tidak boleh pergi sendirian, kamu harus berada di rumah saja! Jika kamu ingin pergi kamu bisa minta antar oleh sopir, mengerti!" seru Agam.


"Iya iya Dadd! Tapi Dadd, selama satu bulan emang Daddy bisa kuat berpisah dengan Gendis?" tanya Gendis sembari menatap wajah sang suami.


"Entahlah! Kalau aku nggak kuat, tentu saja aku pasti pulang," sahut Agam sambil tertawa kecil.


"Gendis doain, Daddy nggak kuat, biar bisa pulang secepatnya, karena Gendis juga nggak bisa lama-lama berpisah dengan Daddy, nggak ada mainannya dong setiap malam, Gendis udah terlanjur suka dengan mainan lato-lato punya Daddy!" ucapan Gendis seketika membuat Agam tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kamu tuh ya!"


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2