GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Kedatangan Agam di sekolah


__ADS_3

Tak lama berselang, Agam pun telah tiba di sekolah Gendis, pria itu bukan hanya ingin menjemput sang istri. Tapi, dia juga ingin bertemu dengan kepala sekolah, sudah menjadi kegiatan rutin setiap tiga bulan sekali Agam memberikan donasi untuk sekolah Gendis. Dan kebetulan hari itu dirinya juga ingin menjemput sang istri sekalian.


Agam turun dari mobilnya, para siswa masih terlihat di luar kelas, banyak mata yang melihat kehadiran Agam di sekolah itu.


"Hai itu bukannya Tuan Agam, ya?"


"Iya bener itu memang Tuan Agam!"


"Waaah keren parah, bukannya makin tua makin jelek, tapi makin cakep aja tuh orang,"


"Iya kamu benar, definisi makin bersantan makin gurih,"


"Waaah kalau secakep itu sih jadi pacarnya oke-oke aja, nggak kelihatan kalau udah berumur,"


"Tapi kayaknya ada desas-desus jika Tuan Agam itu ada hubungan dengan Gendis, katanya sih Gendis itu selain jadi pembantu Tuan Agam, dia juga jadi simpanannya,"


"Wah parah sih kalau Gendis jadi simpanan Tuan Agam,"


"Makanya itu nggak tahu juga, kata Nita dan Rina seperti itu,"


Para siswa putri tampak tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka terhadap sosok Agam yang pastinya tidak pernah lepas dari sorotan. Pria itu berjalan dengan gagahnya ke arah kantor kepala sekolah tanpa ia tahu jika sang istri tengah diinterogasi oleh Bu Titin di ruangan UKS.


Agam disambut dengan hangat oleh kepala sekolah, dan akhirnya Ia pun masuk ke dalam kantor kepala sekolah untuk memberikan donasi itu. Sementara di sisi lain, setelah Gendis menampar pipi Nita, Bu Titin pun tampak hilang kesabaran, wanita itu berteriak kepada Gendis sambil membawa Gendis ke ruangan kepala sekolah.


"Gendis! Apa-apaan kamu! Kamu harus ibu laporkan ke kepala sekolah, ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, ayo ikut Ibu!" seru Bu Titin sembari menyeret tangan Gendis agar mengikuti sang guru ke ruangan kepala sekolah.


"Tunggu dulu, Bu!" seru Gendis yang tak bisa menolak permintaan Bu Titin, tidak mungkin dirinya melawan perintah sang guru. Sementara itu Nita sangat senang jika Bu Titin segera membawa Gendis ke kantor kepala sekolah.


"Sukurin kamu, Gendis! Mampus kamu, semua orang akan mempermalukan kamu. Hah aku sudah nggak sabar ingin melihat mukanya yang sok suci itu, ayo kita intip bagaimana Gendis dimarah-marahi oleh kepala sekolah," seru Nita sambil komat-kamit.


Sedangkan Dina, teman baik Gendis, gadis itu pun tampak khawatir, ia pun menelepon ibunya untuk memberi tahukan kepada pak Sulaiman jika Gendis dalam bahaya, sehingga pak Sulaiman bisa menjelaskan kepada kepala sekolah tentang permasalahan temannya itu.


Bu Een yang mendapat kabar dari putrinya, ia pun segera memberi tahukan kepada pak Sulaiman jika Gendis dalam masalah, untuk menjelaskan semuanya kepada kepala sekolah. Pak Sulaiman hari itu juga langsung ke sekolah Gendis dan akan menjelaskan sekaligus meminta maaf kepada kepala sekolah.

__ADS_1


*


*


*


Sementara itu di dalam kantor kepala sekolah, Agam sedang berbincang-bincang santai dengan kepala sekolah. Terlihat ada penjaga di depan pintu agar tidak ada yang masuk dan mengganggu pertemuan Agam dan kepala sekolah.


Sedangkan di sisi lain, Bu Titin bersama Gendis datang ke kantor kepala sekolah dengan wajah emosi, wanita itu menggandeng tangan Gendis dengan erat dengan terburu-buru.


"Maaf, Bu! Bu Titin mau kemana?" tanya security penjaga pintu.


"Saya mau bertemu dengan kepala sekolah, minggir ini sangat penting!" sahut Bu Titin yang memaksa ingin masuk ke dalam kantor.


"Maafkan saya, Bu! Pak kepala sekolah sedang ada tamu, nanti saja jika kepala sekolah selesai bertemu dengan tamunya," ucap security tersebut.


"Aduhh nggak bisa, Pak! Ini sangat penting sekali, tolong katakan kepada kepala sekolah jika Bu Titin ingin bertemu sebentar saja," ucap Bu Titin yang masih memaksa. Sang security pun tetap tidak bisa mengabulkan permintaan Bu Titin, karena sesuai perintah dari kepala sekolah, tidak boleh ada yang mengganggu pertemuan pentingnya dengan salah satu donatur terbesar di sekolah.


"Mohon maaf Pak Agam! Saya tinggal keluar sebentar, sepertinya ada sedikit keributan di luar," seru kepala sekolah.


"Oh ya silahkan, Pak!" balas Agam sembari tersenyum.


Kepala sekolah segera pergi dan keluar dari ruangannya, terlihat Bu Titin bersama Gendis berada di luar dengan disaksikan oleh banyak siswa yang sedang menonton.


"Ada apa ini? Kenapa semuanya ramai-ramai ke sini? Bu Titin! Ada apa sebenarnya?" tanya kepala sekolah saat melihat suasana di luar ruangannya ramai oleh siswa-siswanya.


"Pak kepala sekolah! Bapak lihat siswi kita satu ini, Gendis! Dia sudah mempermalukan sekolah kita, Pak!" seru Bu Titin dengan intonasi menggebu-gebu.


"Apa maksud Bu Titin?" jawab kepala sekolah yang belum mengerti maksud Bu Titin.


"Ini nih Pak! Murid tidak tahu diri, Gendis hamil, Pak!" ucapan lantang Bu Titin kepada security itu tentu saja membuat kepala sekolah dan semua warga sekolah terkejut setengah mati.


"Apa! Gendis hamil!!" seru kepala sekolah yang tak sengaja didengar oleh Agam.

__ADS_1


"Gendis hamil!!" Agam spontan berdiri dan berjalan menghampiri kepala sekolah yang sedang berdiri di luar ruangannya. Sementara itu Bu Titin sibuk mencaci maki bahkan menunjukkan bukti jika Gendis memang sedang hamil dengan memberikan hasil testpack itu kepada kepala sekolah.


"Bapak bisa lihat ini! Ini adalah hasil testpack positif dari gadis sialan ini!" Bu Titin berkata sembari menunjukkan wajah Gendis di hadapan semua orang.


Gendis hanya bisa menundukkan wajahnya, bagaimana lagi dia tidak mungkin memungkirinya, karena jelas memang sedang hamil.


Kepala sekolah menerima testpack itu dari Bu Titin. Namun, di saat yang bersamaan, Agam muncul dari dalam ruangan kepala sekolah dan langsung mengambil testpack itu dari tangan Bu Titin sebelum kepala sekolah menerimanya. Kemudian Agam melihat hasil testpack positif yang kini ada di tangannya.


Sontak semuanya terkejut, Bu Titin spontan melongo saat melihat Agam di depan matanya. Gendis yang saat itu pasrah, kini tersenyum bahagia menghiasi wajah cantiknya.


"Daddy!" ucapnya lirih sembari melihat wajah sang suami yang selama sebulan sangat ia rindukan.


"A-Agam ... ka-kamu!" Bu Titin terkejut dan Ia pun berkata, "Agam! Apa yang kamu lakukan?" seru Bu Titin sambil mencoba mengambil testpack itu dari tangan Agam. Namun, Agam menolaknya dan Ia pun bertanya kepada Bu Titin.


"Testpack siapa ini?" tanya Agam kepada Bu Titin sembari menatap wajah sang istri yang saat itu juga sedang menatapnya penuh kerinduan.


"I-itu punya siswi yang sudah mencoreng nama sekolah ini, itu punya Gendis, gadis itu hamil," jelas Bu Titin sambil menunjuk ke arah Gendis dengan sinis.


"Gendis hamil?"


"Iya, Gendis hamil. Memalukan bukan?" sahut Bu Titin mengejek.


Spontan Agam membuang testpack itu ke muka Bu Titin, setelah itu Ia pun berjalan menghampiri sang istri dan segera memeluknya.


"Daddy!" seru Gendis sembari memeluk sang suami penuh kerinduan.


"Maafkan aku, Sayang! Aku terlalu lama meninggalkan mu, kamu hamil anak kita," balas Agam yang sangat bahagia mendengar Istrinya sedang hamil.


"Iya, Dadd! Gendis hamil," Gendis tampak tersedu-sedu menangis dalam dekapan sang suami. Sementara itu, Bu Titin hanya bisa melongo dan lemas saat melihat pemandangan di depannya, kepala sekolah dan juga teman-teman Gendis pun ikut melongo melihat Gendis dan Agam yang sedang melepaskan rindu.


"Agam! Apa-apaan ini? Kalian berdua ngapain peluk-pelukan segala!" seru Bu Titin dengan wajah kesalnya.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2