GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Mengantarkan Gendis


__ADS_3

Akhirnya, hari dimana Agam harus pergi ke luar kota pun segera tiba, pagi ini Agam pun mengantar Istrinya ke rumah orang tuanya karena selama kurang lebih satu bulan Agam akan meninggalkan Gendis ke luar kota. Karena sore harinya Agam harus berangkat ke Bandara.


Gendis terlihat nempel terus dan tidak mau lepas dari sang suami, ia sudah terlanjur nyaman bersama sang suami.


"Daddy janji segera pulang, ya! Gendis pasti kangen banget, Dadd!" seru Gendis sembari bergelayut mesra pada lengan Agam.


"Iya ... kamu jangan khawatir, aku tidak akan lama, lagipula aku pasti tidak akan betah di sana, karena ini demi tugas, jadi Daddy harus berangkat, Sayang! Sekarang kamu bisa tidur dulu dengan ibu, kamu bisa bermanja-manja dengan mereka, supaya kamu tidak kesepian di rumah, lagipula selama aku pergi, kamu bisa konsentrasi belajar, kan! Sekarang kamu sudah mulai ujian sekolah, hari-hari kamu sudah disibukkan dengan belajar, ngga mungkin kan kamu sibuk urusin aku terus!" seru Agam sembari mengusap lembut wajah sang istri.


Mbok Juwar sudah menyiapkan tas besar yang berisikan segala keperluan Gendis, karena Agam tidak mau Gendis kekurangan apapun, baik pakaian ataupun makeup, Agam ingin melihat istrinya terlihat segar dan cantik, dari segi penampilan dan juga riasan yang terkesan lebih segar bagi gadis seusia Gendis.


Setelah semuanya beres, Gendis berpamitan kepada Mbok Juwar dan setelah itu, Agam pun segera mengantarkan Gendis ke rumah orang tuanya di kampung. Selama tinggal di kampung, Agam sudah menyiapkan motor untuk Gendis berangkat ke sekolah, karena jarak rumah Gendis ke sekolah tidak terlalu jauh. Gendis menolak diantar oleh sopir karena ia tidak ingin terkesan wow, Gendis ingin berangkat sekolah dengan mengendarai motor saja.


Sementara di sekitar tempat tinggal pak Sulaiman dan Bu Farida, para tetangga kini membicarakan kondisi rumah yang dibangun oleh pak Sulaiman, rumah pak Sulaiman kini lebih mentereng daripada rumah-rumah tetangganya, dan itu membuat Bu Sukoco menggosipkan jika uang yang dipakai untuk membangun rumah pak Sulaiman adalah uang haram, alias uang dari Gendis yang menjadi simpanan Agam.


Apalagi saat itu ada mobil pick up yang membawa sebuah motor baru yang berhenti tepat di depan rumah Gendis.


Terlihat ibu-ibu yang sedang berkumpul di warung melihat kedatangan motor baru yang diturunkan di rumah Gendis itu.


"Eh Ibu-ibu, kayaknya pak Sulaiman beli motor baru deh!"


"Waaah iya tuh! Eh itukan motor keluaran terbaru iya nggak sih!"

__ADS_1


"Waaah sekarang pak Sulaiman hebat ya! Rumahnya paling bagus udah gitu hidup pak Sulaiman udah berubah drastis, lihat deh! Usaha mie ayam pak Sulaiman semakin laris, dan sekarang udah buka cabang di kota, hebat ya!"


Mendengar para ibu-ibu yang memuji kehidupan keluarga Gendis, Bu Sukoco yang sedari dulu tidak suka dengan keluarga Gendis, ia berusaha untuk menghasut para tetangganya.


"Ya ampun Ibu-ibu, gitu aja kok heran, kalau saya nih nggak heran! Ya iyalah pak Sulaiman bisa bangun rumah, beli ini itu, duwit darimana coba Kalau bukan dari Gendis yang jadi simpanan Tuan Agam, pasti dia tuh menjajakan apem dia sama Tuan Agam!!" seru Bu Sukoco dengan sinis.


"Ha ... masa sih, Bu. Gendis bisa sampai seperti itu, dia kan gadis baik-baik, bukannya Gendis datang ke rumah Tuan Agam untuk membayar hutang-hutang pak Sulaiman?"


Bu Sukoco pun langsung menyahuti, "Aduuh ibu-ibu gimana sih! Nggak mungkinlah Gendis mendapatkan gaji sebesar itu sampai dia bisa bangunin keluarganya rumah baru, apalagi beli motor baru seperti itu, duwit dar mana kalau bukan menjadi pembantu plus-plus! Apalagi dia bisa sampai bersekolah, hello butuh duwit banyak untuk masuk sekolah, renovasi rumah apalagi beli motor, iyuuhhh!" ungkap Bu Sukoco yang seketika membuat ibu-ibu saling berbisik.


"Ih masa sih Gendis seperti itu? Ya ampun murahan banget tuh anak!"


"Ya ampun kalau begitu ceritanya, sama aja dengan Gendis sudah mempermalukan kampung kita tuh!"


Ibu-ibu terdengar begitu riuh membicarakan tentang kehidupan keluarga Gendis yang tak luput dari intaian tetangga mereka.


Tak berselang lama, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Gendis.


"Eh eh siapa lagi tuh yang datang!!"


"Waaah mobilnya bagus banget, nggak ada yang punya di kampung ini,"

__ADS_1


"Halah mobil gitu aja heboh! Norak!!" sahut Bu Sukoco yang terlihat sinis saat melihat mobil mewah Agam berhenti tepat di depan rumah Gendis. Setelah mobil itu berhenti, perlahan Agam turun dari mobil, penampilan Agam yang terlihat keren dan macho membuat Ibu-ibu yang berada di warung itu terlihat tak mengedipkan matanya sama sekali.


"Itu Tuan Agam! Ya ampun makin cakep aja tuh duda!"


"Bodinya itu loh yoloh! Andai saja bodi pak suami di rumah seperti itu, hmm bakal tak peluk terus!"


"Betul, Bu! Sayang pak suami bodinya nggak kayak gitu, tapi kayak polisi tidur,"


"Eh ngomong-ngomong ngapain Tuan Agam datang ke rumah Gendis?"


"Ho oh tuh, ngapain ya Tuan Agam datang ke sana?"


Di saat ibu-ibu sibuk dengan bisik-bisik nya, tiba-tiba saja Gendis keluar dari mobil dengan penampilannya yang terkesan mewah dan sangat cantik.


Mata ibu-ibu itu melotot saat melihat Gendis berjalan begitu mesra dengan sang suami.


"Gendis dan Tuan Agam kok mesra sekali, ya?"


Bu Sukoco yang melihat itu tampak tersenyum smirk dan berkata kepada para tetangganya.


"Ibu-ibu lihat sendiri, kan? Saya ngga bohong, Gendis pasti menjadi simpanan Tuan Agam, diiihhh murahan sekali!!" gerutu Bu Sukoco dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2