GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Garis dua


__ADS_3

Para tetangga dan orang-orang sekitar berlarian untuk melihat kondisi Bu Sukoco yang baru saja tertabrak mobil. Para warga segera memanggil ambulance karena Bu Sukoco terlihat tak sadarkan diri dan kepalanya kakinya mengalami luka yang cukup berat.


"Astaghfirullah Bu Sukoco! Kasihan sekali!"


"Huuh itu akibatnya kalau suka julid, demen banget ngomongin orang lain, kena karma langsung, kan?"


"He em iya ya Bu ibu, pasti Bu Sukoco kena karma tuh!"


Tampak para tetangga Bu Sukoco membicarakan tentang kejadian yang menimpa Bu Sukoco. Bu Een yang mendengar itu mencoba menenangkan tetangganya agar tidak bicara yang tidak-tidak.


"Astaghfirullah Ibu-Ibu, stop ngomongin Bu Sukoco, kalau kita pada ngapokin beliau apa bedanya kita sama Bu Sukoco, do'akan saja semoga Bu Sukoco bisa insyaf," ucap Bu Een.


Karena mendengar suara ribut-ribut di luar, pak Sulaiman dan istrinya keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berdua menghampiri para Ibu-ibu dan bertanya kepada mereka, "Ada ya Ibu-ibu? Kok ramai sekali?" tanya pak Sulaiman yang melihat para tetangganya berkerumun. Sedangkan Bu Sukoco sudah dibawa ke rumahnya sambil menunggu kedatangan ambulance.


"Eh Pak Sulaiman, itu loh Pak, Bu Sukoco tertabrak mobil dan sekarang sedang menunggu kedatangan ambulance," balas Bu Een.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, semoga Bu Sukoco baik-baik saja," sahut pak Sulaiman.


Kemudian salah satu tetangga pak Sulaiman berkata, "Ya Allah, pak Sulaiman kok masih saja mendoakan keadaan Bu Sukoco sih. Kalau saya jadi Bapak, saya ogah doain dia. Bu Sukoco sudah terlalu jahat sama keluarga bapak, terutama sama Gendis, selalu saja Bu Sukoco bilang jika Gendis itu simpanan Tuan Agam, kalau saya jadi bapak, udah saya racun tuh Bu Sukoco!"

__ADS_1


"Astaghfirullah! Kok sadis sekali pakai diracun segala. Ada-ada saja ibu-ibu ini," sahut Bu Farida.


"Biarkan saja, Bu! Biar kapok. Tapi bener kan Pak kalau Gendis itu memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Tuan Agam? Maaf sebelumnya nih ya Pak Sulaiman, soalnya kita semua kan lihat jika Tuan Agam tuh baik banget kepada Gendis, ya jujur kita semua sangat senang akhirnya Tuan Agam nggak sejahat dulu lagi semenjak Gendis menjadi pembantunya. Hanya saja kedekatan mereka berdua itu yang membuat kami agak gimana gitu," sahut salah satu diantaranya.


Pak Sulaiman hanya tersenyum, ternyata selama ini para tetangganya sudah berprasangka aneh-aneh kepada putrinya. Akhirnya agar tidak timbul fitnah lagi, pak Sulaiman pun mengatakan yang sebenarnya kepada para tetangganya itu.


"Baiklah jika ibu-ibu ingin tahu yang sebenarnya. Jadi begini, sebenarnya Gendis dan Tuan Agam sudah menikah secara siri, dan saya sendiri yang menikahkan mereka. Apa yang ibu-ibu lihat itu memang benar, Gendis mesra dengan Tuan Agam itu memang benar, agar tidak terjadi dosa maka Tuan Agam meminta untuk dinikahkan dengan putri kami. Dan kami pun minta maaf kepada semuanya jika sudah mengganggu ketenteraman kampung ini," ungkap pak Sulaiman yang membuat para tetangga tentu saja terkejut dan juga ikut bahagia.


"MasyaAllah, ternyata mereka sudah menikah toh! Ya ampun pak Sulaiman, kenapa nggak dirame-ramein pesta pernikahan mereka, biar kami ndak salah faham gitu," ucap Bu Een.


"Ibu-ibu tenang saja, setelah Gendis lulus sekolah, kami berencana untuk menggelar pesta pernikahan Gendis di kampung ini, ibu-ibu tunggu saja undangannya," seru pak Sulaiman.


Akhirnya, kini para tetangga tahu jika hubungan Gendis dan Agam sudah sah meskipun secara agama, setidaknya mereka sudah tidak curiga lagi, dan ternyata tuduhan Bu Sukoco itu adalah fitnah belaka.


"Syukurlah, Pak! Akhirnya kami bisa lega, ternyata omongan Bu Sukoco itu nggak benar, untung kami nggak percaya begitu saja, ternyata benar, kan? Gendis itu sudah jadi istrinya Tuan Agam," sahut Bu Een yang diiyakan oleh ibu-ibu lainnya.


Sementara di tempat lain, Gendis harap-harap cemas saat akan melihat hasil testpack di tangannya. Kalaupun dia hamil itu adalah anugerah yang terindah bagi dirinya dan suami, hanya saja kondisinya saat ini kurang tepat, karena Gendis berada di lingkungan sekolah dan ia pun belum mengumumkan pernikahannya ke khalayak ramai.


Pada akhirnya, setelah beberapa menit Gendis menutup mata, akhirnya Gendis membuka mata dan melihat hasil testpack yang ternyata memang positif.

__ADS_1


"Garis dua! Alhamdulillah ya Allah! Aku beneran hamil, Daddy pasti sangat bahagia bila mengetahuinya. Tapi sayang, sekarang bukan waktu yang tepat, Bu Titin dan kedua gadis julid itu pasti menyudutkan ku, mereka pasti berkoar-koar jika aku melakukan hubungan terlarang. Ah ... bodo amat! Mikirin mereka bikin kepala makin pusing, dah biar saja mereka ngomong apa. Yang jelas aku sangat bahagia sekali," ucap Gendis lirih.


Tidak ada kesedihan pada wajah Gendis, kalaupun dia hamil toh dirinya sudah menikah dengan Agam, lagipula sebentar lagi dia akan lulus sekolah, tidak mungkin sekolah mengeluarkan dirinya di saat ujian sekolah sudah berakhir.


"Gendis! Cepetan lama sekali sih keluarnya!" teriak Bu Titin sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Iya iya Bu, sebentar!" jawab Gendis sambil merapikan rambutnya. Selang beberapa saat, Gendis pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang serius menatap ketiga wanita yang akan berusaha menjatuhkan dirinya itu.


"Mana testpack nya?" seru Bu Titin meminta hasil testpack itu. Gendis pun memberikannya tanpa beban. Seolah dirinya cuek dengan apa yang akan di katakan oleh Bu Titin, Rina dan Nita.


Bu Titin tampak membuka hasil testpack itu dan akhirnya matanya membulat sempurna saat melihat dua garis pada hasil testpack itu, tak ketinggalan Rina dan Nita juga terkejut saat melihat Gendis ternyata memang hamil..


Gendis pun terlihat santai, seolah dirinya tidak mau ambil pusing dengan perkataan ketiga wanita itu nantinya.


"Ya ampun Gendis! Ternyata kamu benar-benar perrek, ya!" seru Nita sambil berjalan menghampiri Gendis. Spontan Gendis melayangkan tangannya pada pipi Nita dan terdengar suara tamparan yang cukup keras.


'Plaaaakkkk'


Semuanya terhenyak tak terkecuali Bu Titin. Nita pun memegangi pipinya yang terkena tamparan dari Gendis.

__ADS_1


"Dengerin, ya! Perrek jangan teriak perrek, ngaca sana!" sahut Gendis dengan sikapnya yang masa bodo.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2