
Suasana malam itu berubah menjadi malam yang hangat, hanya mereka berdua yang mengetahuinya, untuk kali pertama Gendis merasakan sesuatu yang ia rasakan begitu sakit, tapi juga manis dan indah, Agam bukanlah seorang yang baru dalam dunia percintaan, ia sangat berpengalaman dalam hal melumpuhkan seorang wanita, apalagi Gendis yang belum berpengalaman.
Agam melakukannya begitu lembut sehingga rasa sakit akibat robekan selaput dara itu pun tak terlalu sakit terasa, dan Gendis pun mulai nyaman dengan sesuatu yang terasa sesak di bawah sana, mengoyak mahkota yang menjadi kebanggaan seorang gadis, dan Gendis memberikannya sukarela kepada Agam yang nyatanya sangat menginginkan Gendis untuk menjadi miliknya seutuhnya.
"Ehhmm ... Dadd!" suara lenguhan Gendis yang terlalu indah didengar, membuka Agam semakin bersemangat untuk bekerja keras menanamkan benih-benih cintanya pada rahim sang istri.
"Apa masih sakit?" bisik Agam disela-sela dirinya bergerak lembut. Gendis menggelengkan kepalanya dan setelah itu Ia pun menatap kedua bola mata sang suami yang terlihat begitu mencintainya itu.
"Dadd! Sekarang aku adalah milik Daddy, Gendis sangat mencintai Daddy, jangan tinggalkan Gendis, Dadd! Aku nggak mau berpisah dengan Daddy, nggak mau!" ucapan manja Gendis membuat Agam tersenyum.
"Meninggalkanmu? Tidak pernah terbesit dalam pikiran ku untuk meninggalkanmu, Sayang! Kamu adalah mutiara cintaku, aku akan selalu melindungimu, tidak akan ada yang bisa menyakitimu, dan aku akan hancurkan siapa saja yang berani menyakiti istriku, aku pastikan itu," balas Agam yang semakin membuat Gendis terharu.
"Oh Daddy! Makasih banyak!!" Gendis semakin mempererat pelukannya dan itu membuat Agam semakin bergairah.
"Hmm ... bolehkah aku bergerak lebih cepat? Karena ini terlalu enak, Sayang!" bisik Agam yang sudah tidak sabar ingin membawa Gendis semakin jauh terbang tinggi.
"Nggak usah izin, Dadd! Udah cepetan, pakai nanya lagi," balas Gendis. Agam tak menyangka jika sang istri ternyata menikmati permainannya. Ranjang Big size itu bergerak sendiri seolah ada sesuatu yang menggerakkannya, kedua insan yang dimabuk cinta itu bersembunyi di balik selimut, entah apa yang dilakukan oleh mereka berdua, Othor juga tidak tahu, sehingga membuat ranjang itu bergerak dengan cepat.🤭
Belum lagi suara-suara yang saling bersahutan, memenuhi seluruh ruangan yang romantis itu.
*
*
*
Keesokan harinya, Gendis membuka kedua matanya, sejenak Ia beranjak untuk duduk. Namun, Gendis merasa sedikit tidak nyaman dan terasa sangat perih pada area sensitifnya.
"Awwww ... ssss ... kok sakit sih? Bukannya semalam rasanya enak, ya! Kok sekarang sakit? Aduhhh!!" rintih Gendis dengan ekspresi wajahnya yang meringis. Ia merasakan inti tubuhnya yang terasa sangat ngilu.
__ADS_1
Sejenak Gendis melihat ke arah samping, di mana sang suami berada? Ia pun melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Ho ya ampun, aku harus segera bersiap-siap, aku harus ke sekolah," ucap Gendis sembari beranjak untuk pergi ke kamar mandi. Dengan sangat pelan, Gendis berusaha untuk pergi sendiri ke kamar mandi, meskipun ia sedikit kesakitan saat sedang berjalan. Dan sedikit demi sedikit, akhirnya Gendis sampai juga di kamar mandi.
Gendis kemudian menutup pintunya dan Ia pun segera membersihkan dirinya. Sementara itu, Agam yang baru saja datang dari luar, ia melihat ke sekeliling di mana keberadaan sang istri.
"Gendis! Kamu di mana?" Agam berteriak memanggil nama sang istri. Di saat yang bersamaan Gendis sibuk membersihkan tubuhnya, ia pun mendengar suara sang suami yang sedang memanggil dirinya.
"Iya Dadd! Gendis sedang mandi," jawabnya dari dalam. Agam pun tersenyum, kemudian Ia tak sengaja melihat sesuatu di atas sprei tempat tidur mereka, di mana di tempat itu adalah saksi bisu dirinya menjadi yang pertama untuk gadis yang dicintainya.
Agam tersenyum bangga, noda darah itu membuktikan jika dirinya adalah pria pertama bagi Gendis, Agam meraba noda darah yang mengering bercampur cairan miliknya itu.
"You're still virgin."
Sebuah kalimat yang membuat Agam sangat bangga sebagai seorang laki-laki, hingga akhirnya terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.
"Dadd! Bisa ambilkan handuk, nggak? Aku lupa bawa handuk!" seru Gendis yang bersuara dibalik pintu kamar mandi.
"Ini handuknya, Gendis! Buka pintunya dong!" seru Agam sembari berdiri di depan pintu dengan mengalungkan handuk sang istri pada lehernya.
"Tapi, Dadd! Gendis malu!" jawab Gendis.
"Kenapa harus malu? Katanya mau diambilkan handuk, kalau tidak kamu buka, bagaimana bisa aku berikan handuk ini?" sahut Agam sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding depan kamar mandi.
"Aduh! Masa iya sih aku buka pintunya, keenakan Daddy dong!" batin Gendis yang masih malu-malu jika Agam melihat dirinya yang polos tanpa busana.
"Ayo cepetan, Gendis! Kamu nggak pergi ke sekolah? Hari ini kamu waktunya masuk," ucap Agam yang seketika membuat Gendis terpaksa membuka pintu kamar mandi.
"Ah iya, Dadd! Tapi Daddy janji jangan lihat, ya? Gendis malu!" jawabnya dari dalam, seketika Agam tersenyum tipis mendengar ucapan lugu sang istri.
__ADS_1
"Iya aku janji, aku nggak bakalan lihat, tapi ngintip dikit boleh, kan?" goda Agam sambil tertawa kecil.
"Ayolah Dadd! Jangan bercanda dong! Gendis udah kedinginan nih!"balas Gendis.
"Iya iya aku janji! Udah, sekarang bukalah! Aku sudah menutup mataku," ujar Agam sembari menutup matanya.
"Bener, ya! Aku buka nih, awas kalau Daddy melihatnya? Gendis nggak bakalan maafin Daddy!" ucap Gendis sembari perlahan membuka pintu kamar itu.
Perlahan namun pasti, akhirnya pintu itu terbuka dan Gendis melihat ke luar pintu, ia melihat Agam yang sedang berdiri sembari meletakkan handuk itu pada lehernya, sehingga Gendis terpaksa harus berdiri di depan sang suami untuk menarik handuk itu.
Gendis melihat sang suami yang sudah menutup matanya, ia pun perlahan berdiri di depan sang suami sembari menarik handuk itu untuk segera menutupi tubuhnya.
"Awas ya, Daddy! Nggak boleh buka matanya!" seru Gendis saat perlahan dirinya melepaskan handuk yang Agam letakkan pada lehernya. Baru satu tarikan tangan, Gendis dikejutkan dengan tangan yang menyentuh pinggangnya yang tak lain adalah tangan sang suami.
"Daddy!" seru Gendis sembari melototkan matanya, saat dirinya merasa sang suami sedang melingkarkan tangannya pada pinggang seksinya yang masih polos.
Dengan keadaan masih terpejam, Agam tertawa kecil saat merasa jika sang istri mulai panik saat dirinya menarik pinggang itu kearahnya.
Setelah Agam berhasil membawa sang istri ke dalam pelukannya, pria itu pun membuka kedua matanya dan menatap wajah sang istri yang tampak tersipu malu.Tentu saja saat itu Gendis masih dalam keadaan polos.
"Pagi ini istriku terlihat sangat menggoda, rasanya aku ingin mengulangi seperti semalam. Tapi ... aku sadar jika istriku harus ke sekolah, karena istriku termasuk masih bocah dan anak-anak," ucap Agam sembari tertawa.
"Apa sih, Daddy! Gendis bukan bocah, ya! Daddy kan udah tahu rasanya, apa Gendis masih terbilang bocah? Tentu saja tidak kan, Dadd!" ucapan Gendis seketika membuat Agam semakin gemas dengan istrinya.
"Hmm ... memangnya kamu tahu darimana jika kamu bukan bocah lagi?" tanya Agam sambil menciumi pipi Istrinya.
"Ya tahulah! Bukannya Daddy juga udah tahu, ngapain Gendis harus jawab, Daddy sendiri yang udah nikmati, kok malah nanya sih!" balas Gendis sembari memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh pada rahang sang suami.
"Hmm ... iya! Besar sekali, dan aku sangat suka!!" jawaban Agam seketika membuat Gendis tersenyum malu-malu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...