
Sementara Ibu-ibu sibuk membicarakan Agam dan Gendis, rupanya celotehan tetangga tidak digubris sama sekali oleh keduanya, meskipun Gendis tahu jika ada beberapa tetangganya yang sedang memperhatikan mereka.
"Ya ampun! Pasti mereka sedang membicarakan kita, Dadd!" seru Gendis kepada Agam.
"Siapa?" Agam bertanya sambil memperhatikan sekitar.
"Biasa Dadd! Ibu-ibu tukang gosip," balas Gendis.
__ADS_1
"Oh ... kirain apaan, nggak usah pedulikan mereka, setelah kamu lulus sekolah aku akan mengumumkan pernikahan kita, dan mereka akan tahu siapa sebenarnya kamu, untuk sekarang kamu fokus saja dengan sekolahmu, ya! Jika mereka mengganggumu, kamu bilang saja padaku!" seru Agam yang membuat Gendis semakin mencintai suaminya.
"Makasih banyak, Dadd!" Gendis semakin mesra menggandeng suaminya. Sehingga membuat para tetangga kepo itu semakin kepanasan, terutama Bu Sukoco yang dari dulu tidak suka dengan keluarga pak Sulaiman.
"Ihhh dasar kelakukan mereka, benar-benar memalukan kampung kita saja, kita harus lapor sama pak RT ibu-ibu, perbuatan mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja, ini sama aja dengan mencemarkan nama baik kampung kita, masa dua orang yang bukan muhrim peluk-pelukan kayak gitu sih, apalagi si Gendis tuh, dihhh! Dia itu masih sekolah udah pinter godain pria dewasa, ciihhh! Untung saja dulu Arif tidak mau melanjutkan hubungan dengan Gendis, amit-amit!" umpat Bu Sukoco dengan mulutnya yang terlihat komat-kamit.
"Eh ... Bu Sukoco jangan buruk sangka dulu, siapa tahu kalau Gendis dan Tuan Agam itu memang sudah meresmikan hubungan mereka, hanya saja kita belum diberi tahu, bisa jadi mereka sudah nikah Sirri, iya kan Ibu-ibu, karena menurut saya tidak mungkin Gendis seperti itu kalau bukan memang mereka punya hubungan resmi, anak pak Sulaiman itu kan baik tidak pernah macam-macam," ucap salah seorang tetangga yang memiliki pikiran positif, namanya Bu Een yang tak lain adalah ibu dari Dina, teman Gendis di sekolah.
__ADS_1
"MasyaAllah Bu Sukoco, jangan terlalu buruk sangka, nanti misalnya mereka bener suami istri, Bu Sukoco bakalan malu loh, kita berprasangka yang baik-baik saja ya, Bu! Nanti jatuhnya fitnah, ingat Bu! Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," ucap Bi Een mengingatkan.
"Bu Een bener juga tuh! Kalau beneran Gendis dan Tuan Agam sudah menikah, kita sendiri yang bakal malu udah nuduh mereka, ah udahlah biarkan saja mereka, toh juga nggak ada hubungannya dengan kita," ucap salah satu tetangga.
Bu Sukoco merasa tidak terima jika tidak ada yang percaya dengan ucapannya, ia pun bertekad akan melaporkan Gendis dan Agam ke RT supaya para tetangganya percaya kalau hubungan Agam dan Gendis itu adalah hubungan haram.
"Jadi, Ibu-ibu tidak percaya nih sama saya? Baiklah, nanti saya akan buktikan jika omongan saya ini benar, saya akan melapor ke RT, bila perlu ke pak lurah sekalian, dan saya akan buktikan jika hubungan Gendis dan Tuan Agam itu adalah hubungan yang terlarang, ingat ya!" ucap Bu Sukoco sembari pergi meninggalkan tempat.
__ADS_1
Bu Een pun cuma bisa geleng-geleng kepala melihat sifat Bu Sukoco yang selalu berburuk sangka kepada keluarga pak Sulaiman, padahal anaknya sendiri, Arif. Sudah beberapa kali mendapatkan laporan jika pernah menghamili anak gadis tetangga desa dan Bu Sukoco menutup-nutupinya dan bilang itu hanyalah fitnah. Dan sampai sekarang gadis itu belum dinikahi oleh Arif, dan Arif terancam akan dipenjara jika tidak menikahi gadis itu secepatnya.
...BERSAMBUNG ...