GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Mual-mual


__ADS_3

Waktu pun berjalan semakin cepat, hampir satu bulan Gendis dan Agam berpisah, hari ini hari terakhir Gendis ujian, entah kenapa sedari pagi Gendis merasa tubuhnya kurang fit, Gendis merasa badannya cepat pegal dan capek, bahkan Gendis pun malas untuk sarapan.


"Gendis berangkat dulu, Yah!" ucap Gendis kepada pak Sulaiman.


"Iya, eh kok wajahmu kayak pucat gitu? Kamu sakit?" tanya sang ayah khawatir.


"Nggak tahu, Yah! Bangun tidur Gendis merasa badan Gendis capek semua, hmm mungkin Gendis terlalu sering begadang, jadinya kesehatan Gendis sedikit kurang fit, untung saja hari ini terakhir Gendis ujian, Gendis harus cepat-cepat segera berangkat," balas Gendis sembari berusaha untuk kuat.


Kemudian Bu Farida datang dan melihat putrinya yang terlihat sedikit lemas.


"Gendis! Kamu sakit, Nak? Kamu nggak sarapan dulu, ini masih pagi loh, kamu tumben berangkat lebih pagi?" tanya sang ibu.


"Iya, Bu! Hari ini terakhir Gendis ujian, Gendis berangkat lebih awal karena ada persiapan untuk pembentukan panitia acara perpisahan di sekolah nanti, Pak kepala sekolah meminta Gendis untuk tampil di atas panggung." Gendis berkata sembari menahan rasa pusing di kepalanya.

__ADS_1


Sang ibu pun segera mengambilkan makanan agar perut sang anak tidak kosong. Bu Farida mengambilkan Gendis makanan dan mencoba memaksa Gendis untuk makan.


"Gendis! Ayo makan dulu, Nak! Biar perutmu ada isinya," seru Bu Farida sembari menyuapi Gendis dengan satu sendok nasi. Spontan Gendis ke arah nasi itu serasa kepalanya semakin pusing, dan Ia pun menjadi mual dan ingin muntah.


"Huek ... huek!" Gendis menutup mulutnya dan segera berlari keluar rumah, Ia pun tampak muntah-muntah di samping rumah. Sang ibu mengikuti Gendis dan berusaha untuk menolong Gendis dengan memijit-mijit tengkuk leher sang anak.


"Gendis, kamu nggak apa-apa kan, Nak?" seru Bu Farida yang terus memijit tengkuk Gendis. Setelah beberapa saat, Gendis pun mulai agak baikan, ia pun mengusap keringat di wajahnya dengan tisu yang diberikan oleh sang ibu. Bu Farida melihat wajah putrinya yang terlihat pucat.


"Gendis, wajahmu pucat, Nak! Apa kamu masih bisa berangkat ke sekolah, kalau kamu masih sakit sebaiknya izin saja kepada gurumu, nantinya pasti mereka memakluminya," ucap sang ibu mertua terlihat begitu khawatir dengan kondisi sang putri.


"Gendis!" tiba-tiba suara sang ayah mengagetkan Gendis.


"Iya, Yah!" balas Gendis. Pak Sulaiman mendekati putrinya dan bertanya, "Ayah ingin bertanya kepadamu, apa kamu dan suamimu pernah melakukan hubungan suami istri? Maaf ayah cuma menduga saja jika kamu sedang hamil, persis dengan apa yang pernah ibumu alami dulu, apa ibu masih ingat waktu itu?" ucap pak Sulaiman yang kemudian menatap wajah sang istri.

__ADS_1


Bu Farida pun mulai teringat jika dirinya pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang dialami oleh Gendis, hanya saja bedanya Bu Farida tidak pakai muntah, hanya mual-mual saja.


"Iya Ayah benar, dulu ibu juga seperti itu, apa mungkin dugaan ayah benar, Gendis sedang hamil? Ya Allah, ibu senang sekali, Nak!" seru Bu Farida yang sangat bahagia jika putrinya benar-benar mengandung.


Tentu saja, Gendis sangat terkejut, antara bahagia dan kaget, selama ini Agam selalu membuangnya di luar, hanya saja yang terakhir sebelum mereka berpisah, Agam memuaskan dirinya dengan menanam jutaan sel calon bayi pada rahim sang istri.


"Apa? Gendis hamil?" Gendis tak percaya jika dirinya bisa secepat itu mengandung anak dari benih sang suami, pasti Agam sangat bahagia jika mendengar berita itu.


Rupanya, apa yang dialami oleh Gendis tak luput dari incaran Bu Sukoco, tanpa tahu hal yang sebenarnya, Bu Sukoco sudah membulatkan jika Gendis hamil diluar nikah, hanya dengan melihat Gendis yang sedang muntah-muntah di samping rumahnya.


"Wow sepertinya ini adalah gosip terbaru, hmmm! Ternyata Gendis itu sangat murahan sekali ya, aku heran aja kenapa sih orang-orang nggak percaya jika Gendis itu bukan gadis baik-baik," Bu Sukoco langsung menyebar luaskan berita tentang Gendis yang digosipkan sedang mengandung, tentu saja setiap orang yang lewat, Bu Sukoco selalu memberi tahu berita tentang Gendis yang sedang hamil.


Sedangkan di tempat lain, Agam pun telah menyelesaikan tugasnya dan ia pun segera kembali ke rumah, tentu saja Agam pastinya sangat merindukan sang istri yang sudah sebulan ini tidak berjumpa.

__ADS_1


"Gendis! Aku akan pulang, Sayang! Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu, aku akan memberikan kejutan untukmu, tunggu aku!" ucap Agam saat dirinya sedang menatap foto sang istri pada layar ponselnya, foto Gendis ia gunakan sebagai wallpaper ponselnya, sehingga setiap saat Agam selalu melihat wajah sang istri yang sangat ia rindukan.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2