GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Begadang


__ADS_3

Kini, Gendis berada di dalam mobil bersama sang suami, ia pun terlihat sedikit memijit pelipisnya karena menghadapi ulah teman-temannya yang baru saja membuatnya pusing.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Agam sambil menatap wajah sang istri.


"Nggak ada, Dadd! Cuma itu anak-anak udah salah faham sama Gendis," jawab Gendis.


"Salah faham? Maksud kamu?" Agam pun masih belum mengerti maksud istrinya.


"Iya itu ... mereka menyangka jika Gendis ini jadi simpanan Daddy, dan mereka juga bilang Gendis ini pembantu plus-plus untuk Daddy," ucapan Gendis justru membuat Agam tertawa.


"Kok malah ketawa sih, Dadd! Apalagi Bu Titin tuh, yang ngaku-ngaku nya teman Daddy sekolah dulu, ihh sok kecakepan, sebel!!" ungkap Gendis yang merasa tidak suka cara Bu Titin membicarakan tentang suaminya.


"Titin? Titin Taratintin? Yang punya tahi lalat di jidat itu, kan?" seru Agam yang menceritakan bagaimana teman sekolahnya yang juga merupakan guru sang istri.


"Ihhh kok Titin Taratintin sih, Dadd?" sahut Gendis sembari mengerutkan keningnya. Agam pun tertawa dan ia kemudian menjelaskan tentang siapa dulu seorang Titin itu.

__ADS_1


Titin adalah salah satu siswi yang sangat pintar di kelasnya, dulu Agam sering minta contekan kepada Titin, dan Titin sangat senang karena Agam merupakan salah satu siswa terkeren satu sekolah. Sehingga membuat Titin dengan mudah memberikan contekan kepada Agam dengan ikhlas.


Titin pun mulai gede rasa saat Agam sering meminta contekan padanya, padahal Agam bertujuan untuk memanfaatkan kepintaran Titin saja.


"Ihhh Daddy jahat banget loh, Bu Titin jadi mengharapkan Daddy tuh, makanya sampai sekarang Bu Titin nggak kawin-kawin, mungkin nungguin Daddy tuh!" seru Gendis.


"Emang aku peduli? Aku ngga mungkinlah tertarik sama dia, orang dia suka kentut, mana bau comberan lagi kentutnya, Kalau dia nggak kawin-kawin, salah sendiri. Siapa juga yang suruh dia nggak kawin, orang kawin itu enak kok, ya nggak!" sahut Agam sambil tertawa renyah menatap wajah sang istri yang tampak malu-malu.


"Apa sih, Dadd!" Gendis terlihat malu-malu kucing.


"Apa masih sakit?" Agam bertanya tentang rasa sakit yang dialami oleh Gendis karena ulahnya semalam. Gendis pun menggelengkan kepalanya.


"Begadang? Ngapain Daddy ngajak Gendis begadang? Gendis tidak suka begadang, Dadd! Bukannya Daddy besok harus ke kantor dan Gendis harus pergi ke sekolah, Gendis nggak mau datang terlambat, Dadd!" sahut Gendis sembari berpikir.


"Jadi, kamu nggak mau nemenin aku begadang?" tanya Agam serius.

__ADS_1


"Bukannya nggak mau, Dadd! Bukankah begadang itu nggak baik ya buat kesehatan? Daddy malah ajak-ajak lagi," celetuk Gendis. Agam pun tertawa kecil mendengarnya.


"Tapi ini bukan sekedar begadang, justru begadang yang ini akan membuat jantung menjadi sehat, umur menjadi panjang, awet muda dan hubungan kita akan semakin mesra," ungkap Agam menjelaskannya.


"Oh ya! Emangnya kita ngapain sih Dadd begadangnya? Nonton film kah?" tanya Gendis polos.


"Nanti kamu juga tahu," Agam melanjutkan perjalanan menuju ke rumah, untuk sejenak Gendis menatap wajah sang suami dalam-dalam, ada sesuatu yang membuatnya kagum, jarak usia Agam dan dirinya cukup jauh, tapi Agam masih terlihat begitu muda, sungguh beruntung dirinya memiliki seorang suami yang bukan hanya memiliki kelebihan dari segi materi saja, tapi segalanya. Wajah yang tampan dan tentu saja kasih sayangnya yang teramat dalam kepada Gendis.


Hingga tiba-tiba terucap dari bibir Gendis sesuatu yang membuat Agam spontan menoleh ke arah sang istri.


"Makasih, Dadd! Makasih untuk semuanya!!" seru Gendis sembari berkaca-kaca.


"Terima kasih untuk apa? Hei ... kenapa kenapa menangis? Apa aku sudah melukaimu?" seru Agam sembari mengusap lembut wajah sang istri. Gendis menggelengkan kepalanya dan spontan Ia menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya.


"Daddy tidak pernah melukaiku, Daddy baik banget sama Gendis, Gendis nggak tahu bagaimana membalas kebaikan Daddy, Gendis nggak akan pernah ninggalin Daddy, nggak akan pernah!!" ucap Gendis bak seekor kucing kecil yang manja.

__ADS_1


"Kamu ingin membalasnya, gampang! Beri aku anak yang banyak, itu saja aku sudah sangat bahagia sekali!!" jawaban Agam seketika membuat Gendis tersenyum malu-malu.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2