
Kedua gadis itu tampak memperhatikan Gendis dan mendengarkan percakapan yang dilakukan oleh Gendis dengan suaminya, sejenak Nita dan Rina saling menatap saat Gendis menyebut dengan kata Daddy.
"Eh coba kamu dengerin! Apa aku yang salah dengar, kalau Gendis memanggil Daddy? Atau jangan-jangan ...." Nita pun mulai menduga jika Gendis menjadi simpanan hidung belang, atau juga menjadi simpanan Agam sendiri.
"Iya kamu benar! Aku juga denger, apalagi mesra sekali Gendis memanggilnya, hiiii dasar cewek murahan! Pantas saja dia bisa melanjutkan sekolahnya, padahal kamu tahu sendiri bagaimana kondisi keluarganya yang serba kekurangan, yang pastinya Gendis pasti ngejual dirinya buat bersekolah, CK! Dasar cewek munafik!" umpat Rina.
Di sisi lain, Gendis masih belum sadar jika percakapannya dirinya dengan sang suami rupanya direkam oleh kedua temannya yang jail itu. Nita dan Rina membuat rencana untuk mempermalukan Gendis di depan guru dan juga semua teman-temannya.
"Baiklah, Dadd! Gendis mau ke kantin dulu, lapar banget!" ucap Gendis.
"Hmm ... iya makanlah! Apa uang sakunya tidak kurang?" tanya Agam.
"Enggak lah, Dadd! Gendis bisa kok irit, ini sudah lebih dari cukup, makasih Daddy! I love you!"
"Love you too,"
Gendis pun segera menutup ponselnya dan kedua temannya segera pergi dari tempat semula agar Gendis tidak curiga. Gendis pun kemudian beranjak keluar kelas dan menuju ke arah kantin.
__ADS_1
Sedangkan Nita dan Rina tampak menatap Gendis dengan sinis, ada senyum seringai dari bibir Nita, setidaknya ia memiliki bukti untuk membuat Gendis malu di depan semua teman dan guru-gurunya.
"Kita simpan video ini, dan ini akan menjadi bukti siapa sebenarnya Gendis!" seru Nita dengan sorot matanya yang sinis.
Sementara itu, Gendis berjalan menuju ke kantin sendirian, tiba-tiba Arif datang dari arah samping menghampiri Gendis yang saat itu sedang berjalan sendiri.
"Gendis, tunggu!" seru Arif sembari menahan tangan Gendis, spontan Gendis melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arif.
"Lepasin! Apaan sih kamu pegang-pegang," ketus Gendis sembari terus berjalan tidak memperdulikan Arif.
Gendis berhenti dan menatap tajam wajah Arif, "Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, jadi mulai sekarang kamu tidak usah menggangguku lagi, minggir! Aku mau ke kantin!!" seru Gendis yang masa bodo saat Arif mencoba merayunya lagi.
"Gendis! Ayolah, masa kamu tidak mau memaafkan aku, kamu sombong sekali sekarang!" sahut Arif yang tidak terima jika dirinya tidak dihiraukan oleh mantab pacarnya itu.
Hingga akhirnya, datang kedua gadis yaitu Nita dan Rina yang melihat Arif sedang berdiri sambil memanggil nama Gendis. Namun, Gendis tidak memperdulikannya.
"Hai, Rif! Kamu ngapain bengong di sini?" seru Nita sambil menepuk pundak Arif. Spontan Arif terkejut melihat kedatangan kedua temannya itu.
__ADS_1
"Eh kalian, aku heran aja dengan sikap Gendis sekarang, dia jadi cuek dan sombong sekali, padahal aku berusaha baik sama dia, tapi dia tetap ketus denganku," ungkap Arif yang membuat kedua gadis itu tersenyum menyeringai.
"Ya iyalah Gendis bersikap seperti itu sama kamu, orang kamu bukan termasuk tipe nya, meskipun kalian dulu pernah berpacaran, dan sekarang Gendis tuh tipenya bukan cowok keren kayak kamu," ucap Rina sambil tertawa sinis.
"Maksudmu?"
"Gini ya, Rif! Aku bilangin sama kamu, sebaiknya kamu tidak usah mendekati Gendis lagi, dia itu seleranya Om-om berdompet tebal, kamu mana mampu, orang si Gendis sekarang jualan dirinya," sahut Nita dengan tertawa jahat.
"Apa? Eh kalian hati-hati ya kalau ngomong, bisa jadi apa yang kalian omongin itu adalah fitnah," sahut Arif yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan kedua gadis itu, karena Arif tahu betul bagaimana Gendis.
"Eh kamu tidak percaya? Itu terserah kamu, yang jelas aku sudah mendapatkan buktinya, jika Gendis itu adalah simpanan Om-om, bisa jadi si Gendis itu menjadi teman tidur Tuan Agam, dia kan tinggal di rumah mewah itu sebagai pembantu Tuan Agam. Nah, siapa tahu kalau malam Gendis merangkap menjadi pembantu plus-plus," ucap Rina yang tak sengaja terdengar oleh Bu Titin yang kebetulan lewat di belakang mereka.
"Apa? Gendis menjadi pembantu plus-plus di rumah Agam? Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan!" sahut Bu Titin yang seketika mengejutkan ketiga siswa itu.
"Bu Titin!!"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1