
Sarapan pagi paling nikmat bagi Agam adalah ciuman dari istri tercinta, sebelum mereka memulai aktivitas, tentu saja keduanya menyempatkan diri untuk bermesraan sejenak. Hingga akhirnya Gendis mendorong tubuh sang suami agar tidak terlalu jauh mengingat pagi ini Gendis harus masuk sekolah.
"Sudah Dadd! Jangan teruskan! Gendis mau ganti baju dulu, Gendis tidak mau terlambat ke sekolah," ucap Gendis sembari menahan bibir sang suami agar berhenti melahap bibirnya.
Agam pun terpaksa menuruti permintaan sang istri, karena ia sendiri juga tahu Gendis harus pergi ke sekolah untuk melanjutkan pelajarannya.
"Hmm ... ya sudah! Sekarang pakai seragam mu, aku akan menunggumu, setelah itu aku akan mengantarkan ke sekolah," seru Agam sembari melepaskan tubuh polos Gendis yang tentunya sudah membuat Agam sesak nafas, apalagi pemandangan yang masih sangat cantik dengan bentuk tubuh Gendis yang masih kinyis-kinyis, laki-laki mana yang tidak tergoda untuk menyentuhnya, sesekali Agam menepuk pinggul Sang istri sehingga membuat Gendis terkejut.
'Plookk'
"Aduh! Apa sih, Dadd! Sakit ..." seru Gendis saat tangan sang suami menepuk pantatnya. Agam pun tertawa kecil, lantas ia pun membiarkan Gendis memakai pakaiannya, s sementara dirinya terlihat santai sambil duduk di atas ranjang dengan menyandarkan kepalanya.
Gendis dengan santai memakai pakaiannya dari daleman hingga kemeja sekolah dan rok abu-abu anak SMA. Kini Gendis tidak terlihat seperti sudah menikah, ia terlihat masih seperti seorang gadis lugu dengan segala kepolosannya.
Gendis duduk di kursi meja rias sembari menyisir rambutnya yang masih sedikit basah, rambut Gendis yang panjang memaksa Agam mendekati sang istri dan membantunya untuk menyisir rambut yang panjangnya sampai sepinggang itu.
"Sini aku sisirin!" tawar Agam sembari membantu Gendis untuk menyisir rambutnya, sementara Agam menyisir rambut sang istri, Gendis terlihat mengoleskan bedak pada wajahnya. Setelah itu Gendis mengoleskan lipgloss warna pink cerah pada bibirnya yang mungil. Membuat Agam membungkukkan badannya dan mengecup pipi Gendis sembari memuji kecantikan sang istri.
"Kamu sangat cantik sekali! Akan lebih cantik jika kamu memakai lipstik berwarna merah, pasti kamu terlihat sangat menggoda," bisik Agam yang membuat Gendis mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Kemudian Gendis menatap wajah suaminya yang terlihat begitu terpesona akan kecantikan sang istri.
"Daddy yang benar aja dong! Masa Gendis harus pakai lipstik warna merah sih, Gendis ini mau ke sekolah Daddy! Apa kata teman-teman jika mereka melihat Gendis pakai lipstik warna merah, yang ada nanti Gendis dapat Bullyan dari mereka," ucap Gendis.
"Nggak boleh, ya! Aku lupa jika sekarang kamu seorang siswa. Well! Tidak apa-apa, tapi nanti malam aku ingin melihatmu memakai lipstik merah itu bisa, kan?" balas Agam sembari garuk-garuk kepalanya.
Gendis pun tertawa melihat ekspresi sang suami, "Iya iya, nanti Gendis pakai untuk nyenengin Daddy, sekarang kita sarapan dulu, Gendis laper banget, Dadd!" Gendis tampak bergelayut manja pada lengan Agam.
"Hmm ... okay! Aku tahu kamu pasti kehabisan tenaga, bukan? Maafkan aku, ya! Gara-gara aku kamu jadi kelelahan, apa masih terasa sakit?" tanya Agam yang masih mengkhawatirkan kondisi sang istri yang tentu saja ini adalah pengalaman pertama baginya.
"Hmm ... sedikit! Kalau dibuat jalan masih sedikit nyeri, padahal semalam kan nggak gitu rasanya, kok sekarang jadi perih sih," ucap Gendis yang masih merasakan nyeri pada pangkal pahanya.
"Daddy turunkan Gendis! Nggak enak dilihatin mulu," seru Gendis sembari memperhatikan para pelayan yang sedang berbisik sembari tersenyum kecil menatap Agam yang sedang menggendong sang istri.
"Ya ampun, mereka mesra sekali! Pasti Tuan Agam dan Mbak Gendis udah ... ninuninu!"
"Itu sudah jelas, Tuan Agam sangat mencintai Mbak Gendis, bahkan sepertinya perlakuan Tuan ke Mbak Gendis lebih mesra dari istrinya dulu iya, nggak?"
"He em! Aku lebih suka Tuan Agam dengan Mbak Gendis, berasa cemistri nya itu uhhh bikin ngiri,"
__ADS_1
"Mudah-mudahan saja Tuan Agam dan Mbak Gendis segera diberikan momongan, biar rumah ini ramai,"
"Tapi Mbak Gendis masih sekolah, nah itu rencananya Mbak Gendis mau melanjutkan sekolahnya yang sempat putus gara-gara jadi pembantu Tuan Agam,"
"Ya menurutku sih nggak apa-apa kalaupun Mbak Gendis hamil, toh ada suaminya kok,"
Bisik-bisik para pelayan Agam yang melihat kemesraan mereka berdua. Hingga akhirnya Agam meletakkan tubuh sang istri untuk duduk di kursi meja makan, dan Gendis pun mengucapkan terima kasih kepada sang suami.
"Terima kasih banyak, Dadd!"
Agam pun ikut duduk di samping istrinya dengan bahagia. "Aku tidak akan membiarkan istriku berjalan dengan keadaan kesakitan, karena akulah orang yang sudah menyebabkan rasa nyeri itu, dan untuk berikutnya kamu tidak akan pernah merasakan sakit lagi karena sudah terbiasa."
Agam berkata sembari tersenyum nakal kepada Gendis yang kini sudah menjadi milik Agam seutuhnya.
"Hmm ... mungkin karena terlalu besar, Dadd! Nggak muat. Jadinya terasa nyeri banget," balas Gendis dengan segala kepolosannya. Agam pun tertawa melihat istrinya yang begitu lugu.
"Benarkah? Bukan punyaku yang besar, tapi punyamu yang masih terlalu sempit, jadi rasanya seolah-olah sesak. Nanti, jika sudah terbiasa kamu tidak akan merasa sakit lagi," ungkap Agam sembari berbisik agar tidak terdengar oleh para pelayan yang ada di sekitar mereka.
"Terbiasa? Itu artinya sering dong, Dadd?" ucap Gendis sembari menatap dua bola mata Agam yang terlihat sangat liar.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...