GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Ke sekolah


__ADS_3

Kedua pasangan pengantin baru itu terlihat begitu bahagia pagi itu, Mbok Juwar pun ikut bahagia melihatnya, hingga akhirnya jam menunjukkan pukul setengah tujuh dan Gendis pun harus segera berangkat ke sekolah.


"Gendis harus berangkat, Dadd! Sudah siang takut terlambat," ucap Gendis sembari menyiapkan dirinya untuk segera pergi ke sekolah.


"Biar aku antar!" tawar Agam yang bersiap untuk mengantarkan istrinya ke sekolah.


"Emm ... Daddy nggak ke kantor?" tanya Gendis.


"Hari ini aku berangkat sedikit siang, aku ingin mengantar istriku sebentar, kenapa? Kamu tidak suka aku antar? Apa kamu malu diantar oleh pria tua sepertiku?" sahut Agam yang membuat Gendis tertawa kecil.


"Apa sih, Daddy! Ya nggak lah, ngapain aku malu, cuma nanti kalau ada yang lihat, apa mereka nggak mengira yang aneh-aneh tentang kita, Dadd?" tanya Gendis yang khawatir jika teman-temannya menganggapnya aneh, karena Gendis terkenal sebagai pembantu di rumah Agam Brandon.


"Biarin aja! Nggak usah dipedulikan, yang penting kamu fokus pada belajar kamu, kamu cukup bilang siapapun yang berani mengganggumu, biar aku yang menghadapinya," ucap Agam yang membuat Gendis bergelayut pada tangan sang suami hingga akhirnya keduanya sampai di depan rumah. Setelah itu, Agam pun membukakan pintu mobil untuk sang istri, kemudian Gendis tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil.


Akhirnya, mobil mewah itu melaju ke jalan raya dan menuju ke sekolah Gendis yang jaraknya sekitar sepuluh menit dari rumah.

__ADS_1


Tak menunggu lama, akhirnya mobil mewah Agam berhenti di depan pintu gerbang sekolah Gendis. Terlihat teman-teman Gendis yang melongo melihat kedatangan Gendis yang keluar dari mobil Agam.


"Eh ... itu bukannya Gendis, ya? Dia masuk sekolah lagi?" seru Nita teman sekelas Gendis.


"Eh iya loh! Itu memang Gendis, dia sama siapa tuh!" sahut Rina yang juga teman sekelasnya.


Nita dan Rina adalah teman Gendis yang sering membully Gendis, karena Gendis termasuk murid miskin, tidak seperti mereka yang kedua orang tuanya adalah orang yang cukup terpandang di desa mereka, di mana kedua orang tua Nita dan Rina memiliki sawah dan pekarangan rumah yang luas, di mana mereka juga adalah tetangga Gendis.


Rumah Gendis adalah rumah yang paling terkecil di antara deretan rumah-rumah tetangganya, dan itulah yang menyebabkan keluarga Gendis dicap sebagai keluarga paling miskin.


"Daaahhh Daddy!"


"Nanti sepulang sekolah aku jemput! Belajar yang rajin!" ucap Agam sebelum dirinya pergi meninggalkan Gendis. Gendis pun mengangguk dan tersenyum.


Setelah mobil Agam pergi, Gendis pun segera masuk ke dalam halaman sekolah, kehadiran Gendis setelah dua Minggu gadis itu meninggalkan sekolah disambut oleh dua temannya, Nita dan Rina.

__ADS_1


Nita dan Rina terlihat menghadang langkah Gendis yang saat itu sedang berjalan menuju ke ruangan kelasnya.


"Gendis! Kamu sekolah lagi? Udah punya duwit kamu? Sok-sokan sekolah lagi," sindir Nita.


"Hmm ... bukannya sekarang kamu tuh harusnya jadi pembantunya Tuan Agam? Emang pembantu bisa izin sekolah, ya?" sahut Rina dengan sinis. Gendis pun tersenyum kepada keduanya dan berkata, "Memangnya tidak boleh ya seorang pembantu bersekolah? Bersyukur aku memiliki seorang majikan yang baik seperti Tuan Agam, beliau mengizinkan aku untuk bersekolah, ada masalah, kah?" ucap Gendis yang membuat kedua gadis itu kesal.


"Hmm ... iya sih nggak salah memang seorang pembantu bersekolah, tapi gue curiga jika pembantu seperti kamu memiliki rayuan maut kepada majikannya, hello hari gini emangnya masih ada cewek yang nolak kebaikan seorang pria yang tentunya mengharapkan imbalan yang lebih, kamu pasti menemani Tuan Agam tidur, kan? Selain jadi pembantunya, kamu juga pasti menjadi pemuas nafsunya, kan? Cewek miskin seperti kamu pasti tergiur untuk melakukannya," ledek Nita.


'Plaaakkk'


Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi Nita, Gendis terlihat marah saat temannya itu menghina dirinya seperti itu.


"Tutup mulutmu! Nggak usah sok tahu, minggir!!!" seru Gendis sembari pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja. Tentu saja Nita sangat malu saat Gendis menampar pipinya di depan banyak teman-temannya, tak terkecuali Arif, mantan pacar Gendis.


"Gila si Gendis! Dia sekolah lagi, makin cantik aja dia!!" batin Arif dengan senyum smirk nya, Arif pun mengikuti Gendis dari belakang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2