GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Jangan ditahan!


__ADS_3

"Iya! Kerokin punggungku, biasanya aku minta Mbok Juwar yang ngerokin, tapi mungkin sekarang si Mbok sedang tidur, jadi nggak mungkinlah aku bangunkan dia, kasihan! Mumpung kamu ada di sini, tolonglah sebentar, Gendis!" pinta Agam memelas dengan suaranya yang terdengar bergetar.


Karena tak tega melihat kondisi sang suami yang benar-benar kedinginan, Gendis pun menuruti permintaan sang suami. Ia pun segera mengambil minyak urut dan ia pun meminta Agam untuk tengkurap.


"Daddy tengkurap gih! Biar Gendis kerokin punggung nya," titah Gendis kepada suaminya. Agam pun menuruti permintaan sang istri, dan ia pun tidur dengan posisi tengkurap.


Setelah Agam tidur dengan posisi tengkurap, Gendis mulai membuka punggung sang suami yang tertutup dengan selimut. Dengan sangat pelan, Gendis mengusapkan minyak urut pada punggung suaminya dan setelah itu Ia pun mulai mengerik punggung kekar itu.


Dengan telaten Gendis mengerik semua bagian punggung Agam, dan memang warna hasil kerikan dari koin itu berubah menjadi kemerahan, apalagi kulit Agam yang nyata-nyata berwarna kuning Langsat.


Hingga akhirnya, Gendis sampai di pinggang sang suami, sejenak Gendis melihat bekas luka jahitan yang cukup besar pada area pinggang sang suami, tentu saja Gendis penasaran, sebenarnya apa yang pernah dialami oleh sang suami. Perlahan, Gendis menyentuh bekas luka jahitan itu. Seketika Agam membalikkan badannya dengan cepat, sehingga membuat Gendis kaget dan mengusap dadanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Agam sembari menahan tangan Gendis yang digunakan untuk menyentuh luka itu.


"Ma-maaf Daddy! Sa-saya tidak bermaksud untuk ... untuk ... em saya cuma penasaran kenapa pinggang Daddy terluka? Pasti itu bukan luka biasa iya, kan?" tanya Gendis memberanikan diri untuk menatap wajah Agam.


Agam menundukkan wajahnya sembari berkata, "Hm iya, ini bukan sekedar luka biasa, luka ini terkena sabetan pisau pria selingkuhan istriku, aku memergoki mereka berada di dalam satu ranjang, kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu? Sakit!! Istriku bercinta dengan pria yang tak lain adalah temanku sendiri, aku berusaha menghajar pria itu, tapi sayangnya istriku justru melindunginya, istriku memohon padaku untuk tidak mencelakainya, karena rasa cintaku yang sudah buta, aku pun mengabulkan permintaannya. Tapi ...."


Agam tidak melanjutkan kata-katanya karena ia terlalu pedih untuk mengingat memori yang membuka luka lama dalam hatinya itu.

__ADS_1


"Tapi apa, Dadd?" tanya Gendis penasaran.


"Saat aku akan pergi meninggalkan kamar laknat itu dan setelah aku menjatuhkan talak tiga kepada Istriku, pria itu menghujamkan pisau pada tubuhku, beruntung aku bisa menghindarinya, sehingga pisau itu mengenai pinggangku dan aku mendapatkan jahitan yang cukup banyak, karena uratnya ada yang terputus," ungkap Agam saat mengingat dirinya berdarah-darah pada malam saat ia memergoki sang istri berada dalam satu kamar dengan temannya sendiri.


Sejenak Gendis ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Agam, pasti luka itu tidak sebanding sakitnya dengan luka yang ada di dalam hati Agam.


"Pasti Daddy sedih banget! Tega sekali wanita itu menyakiti Daddy," sahut Gendis dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sangat sakit dan hati ku benar-benar hancur, aku sangat mencintai istriku, aku memberikan segalanya untuk dirinya. Tapi apa yang aku dapatkan, sebuah kenyataan pahit yang tidak akan bisa kulupakan, sejak saat itu kamu tahu sendiri bagaimana sosok Agam yang kamu temui, aku menjadi pemarah, aku menjadi seorang yang kejam, dan aku hanya memiliki sebuah kebencian, aku tidak perduli orang-orang melihatku dengan benci, hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang gadis yang membuatku penasaran," ungkap Agam sembari menatap wajah sang istri dengan tatapan lembut.


Untuk sejenak, Gendis memalingkan wajahnya karena malu, Agam pun menangkup wajah manis itu sembari berkata, "Kamu tahu Gendis! Dulu aku memutuskan untuk tidak mencintai seorang wanita lagi, bagiku semua wanita itu sama saja, mereka suka menyakiti hati para pria. Tapi entah kenapa aku melihatmu sangat berbeda, rasa benci itu hilang seketika aku melihat senyuman ini, dan mulai saat itu aku meyakinkan diriku bahwa kamu adalah pengobat rasa sakit hatiku selama ini, dan aku akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkanmu, apa kamu bisa mengerti apa yang kurasakan?" seru Agam yang kini semakin mendekati sang istri.


Entah kenapa Gendis tidak bisa menolak saat sang suami sudah berani melingkarkan tangannya pada pinggang seksinya.


"Hmm ... Dadd! Daddy harus tidur! Biar Daddy nggak sakit," ucap Gendis dengan suara yang berbisik.


"Aku tidak bisa tidur, Gendis! Maukah kamu menemani ku tidur?" balas Agam sembari berbisik pada telinga Gendis, terdengar seperti tiupan angin surga, membuat Gendis terbuai oleh hangatnya nafas sang suami yang kini menyeruak pada lehernya yang putih.


"Ah ... Dadd! Geli!" pekik Gendis tatkala Agam mulai mencumbu nya. Agam pun mulai terbakar gelora asmara, ia semakin menikmati aroma wangi tubuh sang istri, merasakannya dengan begitu menjiwai. Tanpa sadar Gendis pun mulai terbawa suasana, ia pun lupa jika dirinya sepakat dengan Agam untuk tidak terlalu jauh berhubungan, karena Gendis masih usia sekolah. Tapi ... suasana malam itu sangat mendukung untuk mereka berdua terlibat dalam hubungan asmara.

__ADS_1


Tanpa sadar sentuhan itu merambat pada bibir mungil Gendis, dan ciuman itu pun tidak bisa dielakkan lagi.


Desaahan angin berbisik, suara dentingan jam yang terdengar pelan, seolah berlomba dengan deru nafas keduanya yang mulai terbakar gelora asmara percintaan.


Tanpa sadar jika kain-kain penutup yang Gendis kenakan, terlempar semua di atas lantai kamar itu tanpa terkecuali. Gendis menatap wajah sang suami yang kini berada di atasnya, senyum seringai menghiasi wajah tampan Agam yang tak pernah pudar dimakan waktu.


Gendis memejamkan matanya dan bersiap saat Agam ancang-ancang masuk ke bawah sana. Baru saja menyentuh lapisan pertama, Agam teringat akan janjinya jika dirinya tidak akan menyentuh sang istri hingga istrinya sudah lulus dari sekolah. Dengan cepat Agam pun beranjak berdiri dan ia pun menutup tubuh Gendis yang polos dengan selimut. Kemudian Agam segera mengenakan piyama yang sudah disediakan oleh Gendis.


Sembari memakai piyama itu, Agam pun berkata, "Maafkan aku sekali lagi, Gendis! Tak seharusnya aku lakukan ini, maaf aku tidak bisa menahannya, saat aku berada di sampingmu, sebaiknya kita tidur terpisah saja, itu akan lebih baik." Mendengar ucapan dari sang suami, seketika Gendis menahan tangan Agam untuk tidak pergi dari kamar.


"Jangan pergi, Dadd! Jangan tinggalkan aku di sini sendirian? Kamar ini adalah kamar kita, untuk apa Daddy tidur di luar? Jika Daddy ingin aku menemani Daddy tidur, aku bersedia dan aku sudah siap!!" ucap Gendis yang seketika membuat Agam membalikkan badannya.


"Kamu serius ingin tidur denganku? Kamu tidak takut?" tanya Agam. Gendis pun menggelengkan kepalanya, justru ia menarik tangan Agam dengan cepat sehingga pria itu kembali berada di atas tubuh sang istri.


"Aku tidak takut, terserah Daddy mau melakukan apapun, aku sudah siap. Lakukan lah, Dadd! Aku sudah ikhlas!!" ucap Gendis sembari mempersilahkan sang suami untuk melanjutkan sesuatu yang tertunda itu.


Agam tersenyum kemudian mengecup kening sang istri, setelah itu ia berbisik pada telinga Gendis, "Itu artinya kamu sudah siap menerimaku, Sayang! Jangan ditahan! Aku akan membawamu jalan-jalan terbang melayang ke angkasa."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2