GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Ditangkap polisi


__ADS_3

"Apa, Pak? Bapak mau menangkap Arif anaknya Pak Sukoco? Nah, di sini ada Ibunya, Pak!" seru Pak RT sambil menunjuk ke arah Bu Sukoco. Sontak Bu Sukoco panik dan gugup, polisi itu pun segera bertanya kepada Bu Sukoco.


"Apa benar, Ibu adalah orang tua dari saudara Arif Budiman?" tanya pak polisi.


"Sa-saya iya, Pak! Saya adalah ibunya Arif, ada apa Bapak ingin menangkap anak saya? Anak saya tidak bersalah, Pak! Itu semua fitnah." Bu Sukoco tampak membela sang anak, tentu saja ia tidak ingin sang anak ditangkap polisi karena tentu saja itu sangat membuatnya malu.


"Kami hanya menjalankan tugas, Bu! Karena putra Ibu dilaporkan oleh orang tua seorang gadis atas tuduhan pencabulan kepada anak mereka, dan sekarang gadis itu sedang hamil," ungkap polisi yang membuat Pak RT terkejut dan tidak menyangka jika anak Bu Sukoco sudah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.


Pak RT pun langsung berkata kepada Bu Sukoco, "Sudah saya bilang kan, Bu? Kita tidak boleh menuduh dan memfitnah orang sembarangan, tanpa mengetahui bukti dan kebenarannya, karena terkadang kita sendiri itu lebih buruk dari orang yang kita tuduh dan kita hina, sekarang Tuhan sudah membuka semua aib keluarga Bu Sukoco, di saat Bu Sukoco sibuk membuka aib Gendis. Di saat itu juga Tuhan membuka aib anak ibu sendiri, makanya hati-hati dengan mulut kita."


Bu Sukoco tampak malu dengan ucapan dari Pak RT, apalagi ada beberapa tetangga yang ia ajak untuk melaporkan Gendis dan Agam, tentu saja berita penangkapan Arif itu menjadi gempar satu kampung.


Polisi itupun langsung menangkap Arif yang saat itu sedang tiduran di rumahnya.


"Loh loh ada apa ini, Pak?" Arif tampak kaget dan bingung bagaimana bisa ada polisi yang sedang membawakannya secara tiba-tiba.


"Sudah! Kamu diam saja dan ikut kami ke kantor polisi dan jelaskan saja di sana!" seru salah satu polisi itu. Arif pun tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya pasrah karena sejatinya Arif memang melakukannya. Tapi, Bu Sukoco tampaknya tidak rela jika sang anak ditangkap polisi. Wanita itupun segera menghadang polisi itu untuk membawa putranya pergi.

__ADS_1


"Tunggu, Pak! Ini pasti salah, Pak. Arif tidak mungkin berbuat seperti itu, itu adalah fitnah! Anak saya belum lulus sekolah, Pak. Bapak tidak bisa membawa Arif begitu saja dong, dia itu masih pelajar, Pak." Bu Sukoco tampak berusaha untuk membela sang anak.


"Iya anak ibu memang masih pelajar, tapi dia sudah berani berbuat kurang ajar. Silahkan ibu jelaskan di kantor polisi, kami akan tetap membawa anak ibu," seru kedua polisi itu dengan membawa Arif untuk masuk ke dalam mobil. Sementara itu, Arif tampak menangis saat dirinya dimasukkan ke dalam mobil.


"Huhuhu Ibu! Aku tidak mau dibawa ke kantor polisi, Bu!" rengek Arif saat dirinya menangis di dalam mobil polisi itu.


Kedua polisi itupun segera pergi dan membawa Arif ke kantor polisi, Bu Sukoco tampak tidak terima, wanita itu meminta suaminya untuk segera membebaskan sang anak.


"Ayo, Pak. Cepetan! Bebaskan Arif, Pak! Polisi sialan itu sudah membawa anakku, ini tidak adil!" teriak Bu Sukoco yang terlihat begitu kesal.


"Hiiii nggak nyangka, ya! Ternyata si Arif udah pinter ngehamilin anak orang,"


"Bener tuh! Katanya aja si Arif itu anaknya baik dan nggak neko-neko, eh nyatanya dia udah pinter bikin anak," .


"Kasihan gadis itu ya, Bu! Sukurin tuh Bu Sukoharjo. Kena batunya dia!"


"He em tuh! Biasanya Bu Sukoco demen banget menjelek-jelekkan si Gendis, eh lah kok anaknya lebih parah,"

__ADS_1


Bisik-bisik para tetangga yang tinggal di sekitar rumah Bu Sukoco yang letaknya sekitar 50 meter dari rumah Gendis. Kebetulan saat itu Bu Farida melihat ada kerumunan di depan rumah Bu Sukoco, Bu Farida yang saat itu baru saja pulang dari belanja, mendadak dikejutkan dengan para warga yang ramai-ramai berkumpul di depan rumah Bu Sukoco.


Bu Farida pun tidak menghiraukan apa yang terjadi, karena sepertinya para tetangganya sedang membicarakan sesuatu tentang Bu Sukoco. Bu Farida lebih memilih menghindar daripada nanti terjebak gibah. Tapi, bagaimanapun caranya Bu Farida menghindar, para tetangga itupun tanpa sengaja melihat Bu Farida yang sedang berjalan menuju ke rumahnya.


"Eh Bu Farida!" sapa salah seorang tetangganya.


Bu Farida spontan menoleh dan menjawabnya, "Iya, Bu! Ada apa, ya?" tanya Bu Farida. Salah seorang tetangganya berlari menghampiri Bu Farida dan mengatakan jika ada berita yang menggemparkan warga kampung mereka.


"Eh Bu Farida tahu nggak sih! Kalau si Arif anaknya Bu Sukoco itu ternyata udah bisa menghamili anak gadis orang loh, Bu!" seru sang tetangga.


"Maksud, Ibu?" tanya Bu Farida serius.


"Ya ampun Bu Farida, masa Ibu tidak tahu sih jika Bu Sukoco sudah mendapatkan karma yang setimpal," ungkap sang tetangga.


"Karma? Maksudnya apa ya?" Bu Farida tampak masih belum mengerti.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2