GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Kedatangan polisi


__ADS_3

Agam berusaha untuk tidak tergoda, ia pun mengalihkan perhatiannya pada topik pembicaraan yang lain.


"Em ... iya, kayaknya aku harus bersabar dulu, Daddy belum bisa pulang sekarang, tolong ditutup lagi! Biar nanti tidak ada nyamuk yang masuk, sayang kalau digigit nyamuk, tambah bentol-bentol dan gatal nanti!" ucap Agam kepada istrinya.


"Ihh apaan sih Daddy! Di sini nggak ada nyamuk kok. Beneran nih nggak mau, ya udah! Gendis tutup," balasnya sembari menutupi kembali kedua paha mulus itu.


"Nah, gitu dong! Tunggu dua Minggu lagi, kamu tidak sabar banget sih, oh ya bagaimana dengan sekolahmu, apa ujiannya sudah selesai?" tanya Agam mengalihkan pembicaraan.


"Tinggal beberapa hari aja, Dadd! Setelah itu tinggal menunggu pengumuman aja!" balas Gendis sembari tiduran.


"Baguslah! Dan setelah ini aku akan mengumumkan kepada semua orang jika kamu adalah Nyonya Agam Brandon. Apa para tetangga masih mengganggumu?" Agam bertanya sembari menyalakan satu batang rokok.


"Ya begitulah, Dadd! Mereka masih kepo dengan hubungan kita, meskipun Gendis berusaha untuk tidak perduli, tapi kok gimana gitu, mulut nyinyir mereka itu bikin kuping panas, Dadd! Kadang Gendis pingin banget siram mulut mereka pakai air cabe, biar pada ndower sekalian, sebel banget tahu nggak, Dadd! Makanya Daddy cepetan pulang dong! Apalagi setiap malam Gendis selalu mimpi buruk, nggak ada yang dipeluk!" Gendis tampak mencurahkan segala kegalauannya selama ditinggal sang suami pergi ke luar kota.


"Loh! Katanya ada ibu yang menemani?" tanya Agam.


"Ya iya sih, kadang bobo sama ibu, tapi Gendis juga kadang kangen berat sama Daddy, pinginnya dipeluk Daddy, Gendis cuma bisa peluk foto Daddy saja, cuma bisa liat Daddy dalam foto, tapi nggak bisa menyentuh. Hmm ... pokoknya sedih banget nggak ada Daddy!" ungkap Gendis sembari mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Benarkah? Kita pasti akan bertemu, kita akan melepaskan rindu, sepulang dari luar kota aku akan mengajakmu berlibur ke Bali, aku ingin menikmati bulan madu kita, dan pastinya aku akan mengajak ayah dan ibu untuk liburan ke Bali juga, apa kamu senang?" seru Agam yang membuat Gendis tersenyum malu-malu.


"Terserah Daddy saja, walaupun tidak pakai bulan madu, Gendis juga nggak apa-apa kok, di rumah sama aja, lagian dimana pun tempatnya rasanya juga pasti sama." Mendengar jawaban dari sang istri, Agam pun tertawa kecil.


"Rasa apa yang sama? Kamu jangan bikin penasaran Daddy dong!" seru Agam menggoda.


"Ya rasa itu, pokoknya yang itu, yang bikin berkedut enak ...." balas Gendis dengan suara yang melemah. Agam semakin tertawa mendengar kepolosan istrinya.


"Oh itu, ternyata kamu sangat menyukainya, ya? Aku pikir kamu akan kapok dan tidak mau lagi, ternyata kamu masih mengingatnya."


Percakapan keduanya pun tak terasa sampai jam satu malam, sementara itu di luar jendela kamar Gendis, ada seseorang yang sengaja menguping pembicaraan Gendis dengan suaminya.


Keesokan harinya, Bu Sukoco benar-benar melaporkan tentang apa yang didengarnya semalam kepada pak RT.


"Pokoknya Pak RT harus menindaklanjuti tegas gadis itu, dia sudah bikin malu kampung kita, Pak!" seru Bu Sukoco yang tidak terlalu ditanggapi oleh Pak RT.


"Maaf Bu Sukoco, saya mengerti maksud Ibu. Tapi, kami juga tidak bisa langsung menghakimi Gendis dan Tuan Agam, karena tidak ada bukti-bukti kuat jika mereka melakukan hubungan terlarang, jadi Bu Sukoco juga harus berhati-hati, nanti dikhawatirkan akan timbul fitnah!" balas Pak RT.

__ADS_1


"Aduh Pak RT, saya ini mendengar dengan telinga saya sendiri, Pak! Bagaimana si Gendis itu sedang bicara sangat mesra sekali, ih kayak gadis yang tidak pernah dididik sopan santun, apa harus seperti itu bicara dengan majikannya sendiri, pakai sayang-sayangan, menjijikkan sekali," umpat Bu Sukoco yang membuat Pak RT geleng-geleng kepalanya.


"Astaghfirullah, Bu Sukoco! Istighfar Bu. Maaf bukannya saya membuka aib Bu Sukoco sendiri, tapi alangkah baiknya Bu Sukoco nasihati dulu anak ibu, si Arif. Semoga saja gadis yang sudah Arif hamili itu tidak jadi melaporkan anak ibu ke kantor polisi," ungkap Pak RT yang seketika membuat Bu Sukoco salah tingkah.


"Em ... itu tidak akan terjadi, Pak! Anak saya itu dijebak dan itu sama sekali salah Arif, dia itu sengaja dirayu sama gadis itu supaya bisa menjadi mantu saya, ihh tapi saya nggak sebodoh itu, itu pasti cuma tipuan mereka saja, anak saya tidak mungkin berbuat cabul seperti itu, dia kan anak yang Sholeh, Pak!" seru Bu Sukoco tidak terima jika anaknya disebut-sebut menghamili seorang gadis.


Hingga akhirnya, tanpa diduga tiba-tiba saja sebuah mobil polisi lewat di depan rumah pak RT dan berhenti, setelah itu keluar salah satu polisi dan menanyakan dimana rumah Pak Sukoco.


"Selamat siang bapak polisi, ada yang dapat saya bantu!" sapa Pak RT, saat seorang polisi sedang menemuinya.


"Permisi Pak RT, kami mau tanya, rumah Pak Sukoco sebelah mana ya?" tanya polisi itu yang seketika membuat Bu Sukoco terkejut bukan main.


"Kenapa mereka ingin datang ke rumahku?" batin Bu Sukoco yang mulai panik.


"Oh rumahnya pak Sukoco, kalau boleh tahu ada keperluan apa bapak-bapak polisi ingin menemui Pak Sukoco?" tanya Pak RT.


"Begini, Pak! Kami datang ke sini karena ada surat perintah penangkapan saudara Arif putra bapak Sukoco atas kejahatan pencabulan dan pemerkosaan," mendengar ucapan dari polisi itu, Bu Sukoco seketika tubuhnya gemetar karena anak yang selalu ia bangga-banggakan ternyata dilaporkan ke polisi atas tuduhan pemerkosaan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2