GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Disamperin Arif


__ADS_3

Tiba waktunya jam pulang sekolah, semua siswa berhamburan keluar dari kelas, tak terkecuali Gendis.


Dina, teman sebangkunya menawarkan bantuan untuk pulang bersama, "Ndis! Kita pulang bareng yuk!" tawarnya sembari tersenyum.


"Nggak usah, Din! Terima kasih banyak, aku sedang menunggu seseorang," balas Gendis sembari berjalan menuju ke arah halaman sekolah.


"Ohh ya udah kalau gitu. Oh ya, Ndis! Kadang aku pingin banget main ke rumahmu, tapi kamunya sekarang tinggal di rumah Tuan Agam, jadi ya nggak bisa lagi deh kita main bareng," seru Dina.


"Hehehe iya, Din! Sekarang aku lebih sering tinggal di rumah Tuan Agam, maklumlah aku kan sekarang bekerja di rumah beliau, jadi mau nggak mau ya aku harus tinggal di sana. Setiap Minggu aku pulang kok, kita bisa ketemu di hari Minggu," balas Gendis. Dina pun mengangguk.


Kedua gadis itu berjalan menuju keluar halaman sekolah, Dina melihat mobil jemputannya sudah tiba, setelah itu Dina pamit pulang kepada Gendis.


"Aku pulang dulu, ya! Daaaahh Gendis! Nanti kabarin aku ya kalau kamu pulang," seru Dina sambil melambaikan tangannya.


"He em pasti!" balas Gendis sambil tersenyum.

__ADS_1


Akhirnya, Dina masuk ke dalam mobil, sementara itu Gendis masih menunggu Agam datang menjemputnya.


Saat Gendis menunggu sang suami datang, Arif terlihat menghampiri Gendis dan menggodanya.


"Hai Gendis! Kamu nggak pulang?" tanya Arif basa-basi sambil menaiki motor sportnya.


Gendis pun hanya diam tanpa memperdulikan Arif sambil sesekali memperhatikan arah jalan, mungkin saja mobil suaminya sudah terlihat.


Arif pun tampak berhenti dan memperhatikan Gendis yang sedang berdiri di depan pagar sekolah, seolah gadis itu sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Kamu nunggu siapa, Ndis? Daripada kamu di sini sendirian dan nggak ada yang nganter kamu pulang, sebaiknya bareng aku saja naik motor, gimana? Ya anggap saja kita bernostalgia saat kita masih pacaran dulu," ucap Arif yang membuat Gendis terganggu.


"Pekerjaan? Emang sesibuk apa sih kamu? Sampai nggak sempat untuk menemaniku," sahut Arif.


"Bukan urusanmu!" jawab Gendis singkat.

__ADS_1


"Apa kamu punya kerjaan sampingan selain jadi pembantu?" pertanyaan Arif seketika membuat Gendis menatap tajam ke wajah mantannya itu.


"Apa maksudmu?" seru Gendis yang mulai kesal.


"Halah Gendis! Kamu pikir aku tidak tahu, kamu bukan hanya bekerja sebagai pembantu di rumah Tuan Agam, tapi kamu juga melayani pria tua itu saat sedang di atas ranjang, bukan? Ngaku aja deh! Giliran aku yang minta ditemenin nggak mau, ternyata selera kamu rendah, ya! Suka yang udah tua," ucap Arif sambil meledek Gendis.


Gendis pun tidak marah, justru dirinya tertawa kecil mendengar ucapan dari Arif yang hanya terhasut omongan Nita dan Rina. Gendis pun semakin menggoda dan mengelabui Arif dengan dirinya yang memang lebih memilih pria dewasa.


"Hiya ... kamu benar sekali, aku memang lebih suka pria yang sudah tua. Kenapa! Nggak boleh? Tuan Agam itu lebih segalanya daripada kamu, dia lebih baik, lebih penyayang, lebih tampan, lebih kaya, dan tentunya lebih setia dari pemuda kampung seperti kamu, dan aku sangat suka itu, jadi nggak usah sok ikut campur urusanku," balas Gendis sembari tersenyum smirk.


Hingga akhirnya, datang sebuah mobil mewah milik Agam yang menghampiri Gendis. Tentu saja Gendis sangat bahagia melihat kedatangan sang suami. Ia pun segera menghampiri mobil suaminya dan langsung tersenyum sinis kepada Arif.


"Sorry! Aku pulang dulu, ada pekerjaan sampingan yang harus aku lakukan, tuh! Tuan Agam sudah menjemput ku, aku udah nggak level naik motor kamu, ihhh nanti rambut ku bisa rusak kena angin, lebih baik aku naik ke dalam mobil Tuan Agam saja, nyaman dan tentu saja aku tidak akan kepanasan, huuu ya ampun! Enak banget dimanja sama majikan, iyuuhhh!!"


Setelah mengatakan hal itu, Gendis segera naik ke dalam mobil dengan tawa sinisnya kepada Arif.

__ADS_1


"Ck! Sialan si Gendis!" umpat Arif sambil memukul tangki bensin motornya.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2