GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Menggoda suami


__ADS_3

Akhirnya, setelah Agam mengantarkan sang istri ke rumah kedua orang tuanya, ia pun langsung balik ke rumah dan segera menyiapkan semuanya untuk kepergiannya ke luar kota selama kurang lebih satu bulan.


"Aku pergi dulu! Jaga dirimu baik-baik!" ucap Agam sembari mengecup kening sang istri.


"Iya, Dadd! Jangan lama-lama!" balas Gendis yang tampak tak rela suaminya pergi.


Kemudian Agam meminta izin kepada mertuanya untuk menjaga Gendis selama ia pergi ke luar kota, tentu saja pak Sulaiman dan istrinya akan menjaga putri mereka dengan baik.


"Saya titip Gendis, Pak! Saya usahakan tidak akan lama, setelah urusan selesai, saya pasti segera kembali," ucap Agam diselingi senyumnya yang selalu membuat Gendis ingin sekali melihatnya.


Gendis memeluk suaminya erat-erat, sungguh dirinya pasti sangat merindukan sang suami, apalagi dalam waktu yang cukup lama mereka berpisah.


"Kamu jangan khawatir! Aku akan selalu menghubungimu, setiap malam aku pasti akan menelepon mu, hmm senyum dong!" goda Agam sambil mengangkat dagu Gendis.


Gendis tersenyum untuk suaminya, dan pada akhirnya ia harus melepaskan Agam untuk pergi, karena bagaimanapun juga Agam pergi untuk keperluan pekerjaannya, karena Agam termasuk orang yang penting dalam bisnisnya.


Gendis menatap kepergian sang suami, mobil mewah itu perlahan menjauh dari rumah pak Sulaiman dan akhirnya menghilang di jalan raya.

__ADS_1


Gendis masuk ke dalam rumah bersama ayah dan ibunya.


"Sudahlah Gendis! Sebaiknya kamu istirahat saja! Suamimu kan sedang melakukan pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya, dan tugasmu sekarang adalah fokus pada ujian sekolahmu, disaat suamimu pulang nanti, kamu harus memberikan surprise untuknya, kamu harus tunjukkan bahwa nilai kamu sangat memuaskan dan bisa membanggakan dirinya, sehingga ia tidak sia-sia bekerja dan meninggalkan istrinya demi membahagiakan kamu tentunya," ucap sang ayah.


"Iya, Yah! Gendis mengerti, Gendis akan tunjukkan kepada suami Gendis jika Gendis pasti mendapatkan nilai yang baik di sekolah, Gendis janji!" Gendis bertekad untuk semangat belajar agar nilai ujiannya bagus dan bisa membanggakan orang-orang yang ia sayangi terutama sang suami.


*


*


*


Hari pertama ujian, kelas 12 mengikuti ujian sekolah seluruhnya, dimana ujian itu akan berlangsung satu Minggu sebelum ujian nasional yang dilaksanakan serentak setelah ujian sekolah selesai. Gendis terlihat begitu serius, dan sebagai siswi yang rajin, tentu saja Gendis selalu belajar tiap malam, sementara di tempat lain tentu saja Agam juga sibuk bekerja, sebagai seorang pengusaha Agam tentunya bersikap profesional dan ia tidak ingin mencampur adukkan urusan keluarga dan bisnis, meskipun sebenarnya ia sangat merindukan Gendis yang tak terasa susah hampir dua Minggu tidak berjumpa.


Mereka hanya melakukan video call saja, meskipun mereka sama-sama saling merindukan.


Malam itu, Agam melakukan panggilan video call dengan sang istri yang sedang beranjak tidur. Gendis melihat ponselnya yang berdering.

__ADS_1


"Daddy!!" seketika Gendis sangat bahagia saat mendapatkan telepon dari sang suami. Ia pun segera membuka percakapan dengan Agam yang saat itu juga sering beranjak beristirahat.


"Hai Dadd! Kapan Daddy pulang? Gendis kangen banget nih!" seru Gendis dengan suara manjanya.


"Dua Minggu lagi, Sayang! Sabar dong, aku juga kangen berat sama kamu, kalau saja aku bisa datang ke tempatmu sekarang juga, hmm sudah aku uyel-uyel kamu!" Agam berkata dengan gemas.


"Lama banget, dua Minggu serasa dus tahun, udah kangen banget sama pelukan Daddy, ciuman Daddy, sentuhan Daddy, lato-lato Daddy, semuanya Gendis kangen!!" ucap Gendis yang seketika membuat Agam tertawa kecil.


"Hei! Kamu pikir aku juga tidak kangen, aku kangen mendengar suara desaahan manjamu, pelukan eratmu, erangan mu yang membuatku candu, dan yang tak bisa aku lupakan adalah jepitan menggoda itu," Agam berkata dengan tatapan yang nakal.


Gendis tersenyum, justru dirinya menggoda sang suami dengan membuka rok tidurnya sampai sebatas pangkal paha.


"Daddy mau ini?" goda Gendis dengan gayanya yang menggoda, laki-laki mana yang tahan melihat godaan surga dunia yang melambai-lambai nyata di depan mata.


"Shiiit! Haruskah aku pulang sekarang?" batin Agam yang merasa jika dirinya mulai tergoda.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2