
Gendis tetap memaksa untuk pergi ke sekolah, karena bagaimanapun juga ia harus merampungkan ujiannya yang tinggal satu hari saja. Gendis memang terlihat sedikit pucat, tapi ia tetap tidak perduli ia harus segera sampai di sekolah tepat waktu.
Akhirnya, setelah beberapa menit Gendis pun tiba di halaman sekolah dan ia segera meletakkan motornya pada area parkiran. Setelah itu ia pun beranjak pergi ke kelasnya.
Seperti biasa, dua orang temannya yang selalu kepo dengan kehidupan Gendis, Nita dan Rina tampak depan tatapan yang sinis melihat kedatangan Gendis yang melewati koridor sekolah.
"Eh tumben si Gendis kayak sakit gitu?" bisik Nita kepada Rina.
"Hmm ... mungkin itu karma dia, cewek murahan pasti cepat kena karma," sahut Rina dengan sinis.
"Karma? Iya juga ya, hmm rasain tuh cewek nakal, pasti dia kena penyakit yang menjijikkan akibat keseringan main dengan Tuan Agam, nggak tahu malu banget," ucap Nita yang selalu mencibir Gendis.
Gendis pun melewati kedua gadis itu, Gendis melihat keduanya yang terlihat bermuka masam. Gendis hanya cuek dan tidak menghiraukan kedua temannya itu. Hingga akhirnya, Nita berteriak kepada Gendis dengan mengatakan jika Gendis adalah gadis yang sombong.
"Dasar sombong! Baru kaya jadi pembantu aja belagu! Jadi cewek perrek aja bangga, dihh malu-maluin sekolah saja!" ucap Nita yang memaksa Gendis untuk berhenti dan menghampiri Nita.
"Eh ... kamu ada masalah apa sih sama aku? Aku tidak pernah loh mengganggu kalian berdua, kalian pikir aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang kalian lakukan di pinggir jalan raya dekat hotel Jingga, apa yang kalian lakukan di sana jika tidak sedang menjajakan diri? Hanya saja aku tidak ingin ribut hanya gara-gara itu, aku selama ini diam, sudah cukup kalian berkata seperti itu padaku, faham!" ucap Gendis yang seketika membuat Nita dan Rina diam tak berkutik.
"Ck! Darimana Gendis tahu kalau kita sering mangkal di sana? Sialan! Dia bisa ngomong ke semua anak-anak, bisa gawat tuh!" bisik Nita kepada Rina.
"Iya kamu benar Nit, aku juga nggak ngerti darimana dia tahu, tempat itu kan jauh dari kampung kita," balas Rina.
Di saat yang bersamaan, Bu Titin berjalan mendekati Gendis, rupanya Gendis sudah tidak kuat lagi menahan rasa pusing di kepalanya, matanya kian berputar-putar dan akhirnya Ia pun jatuh pingsan di atas lantai.
'Bruuukk'
__ADS_1
"Gendis!!" Dina berlari untuk menolong temannya itu.
"Ya ampun Gendis, kamu kenapa. Tolong! Tolongin Gendis!" teriak Dina yang akhirnya terdengar oleh beberapa teman laki-lakinya. Dan merekapun segera membawa Gendis ke ruangan UKS.
Sementara itu Nita dan Rina tampak saling menatap dan menduga-duga jika Gendis sedang hamil.
"Gendis kenapa tuh? Jangan-jangan!" seru Nita yang tak sengaja didengar oleh Bu Titin.
"Jangan-jangan kenapa?" sahut Bu Titin tiba-tiba, membuat kedua gadis itu terkejut.
"Eh ... Bu Titin, ini loh Bu, kami menduga jika si Gendis itu sedang hamil, Bu!" ucap Nita yang seketika membuat Bu Titin membulatkan matanya.
"Apa? Gendis hamil? Jika itu benar-benar terjadi, itu artinya dia sudah mempermalukan sekolah kita ini, ini tidak bisa dibiarkan, memalukan!" umpat Bu Titin sambil beranjak menghampiri Gendis yang saat itu sedang dibawa ke ruangan UKS.
Nita dan Rina pun mengikuti Bu Titin di belakangnya, mereka berdua ingin sekali melihat Gendis yang akan dimarahi oleh Bu Titin.
"Gendis! Gimana keadaanmu? Kamu sakit ya?" tanya Dina yang khawatir melihat kondisi temannya yang tampak pucat itu.
"Hmm ... kepalaku dari pagi sangat pusing, aku juga nggak tahu kenapa?" balas Gendis sambil memegangi kepalanya.
"Ya ampun, Gendis! Kalau tahu gitu mendingan kamu izin saja, kamu sakit loh daripada terjadi apa-apa," ucap Dina.
Tiba-tiba saja terdengar suara Bu Titin yang menyolot tanpa aba-aba. "Gendis! Katakan pada Ibu! Sudah telat berapa hari kamu?" pertanyaan yang membuat Gendis bingung dan ia pun mulai berpikir.
"Kenapa ibu bertanya seperti itu?" sahut Gendis tidak mengerti.
__ADS_1
"Tidak usah pura-pura, bilang saja sama Ibu, apa kamu telat bulan?" Bu Titin bertanya dengan tatapan yang tajam. Tentu saja sebagai teman, Dina juga bingung kenapa Bu Titin bertanya demikian.
"Maaf, Bu! Bukan bermaksud lancang, tapi pertanyaan ibu itu tidak masuk akal, apa hubungannya Gendis yang sakit dengan telat bulan?" tanya Dina yang diiringi dengan senyum sinis Bu Titin.
"Dina! Kamu itu tidak tahu apa-apa, temanmu ini bukanlah teman yang baik yang seperti kamu kira," balas Bu Titin.
"Bagaimana ibu bicara seperti itu? Gendis teman baik saya, dan saya sangat percaya padanya," sahut Dina.
"Sudahlah Dina, ibu malas bicara dengan kamu, ibu hanya ingin bicara dengan Gendis, karena ibu ingin tahu saja apakah Gendis sedang hamil atau tidak," ucap Bu Titin yang seketika membuat Gendis membulatkan matanya.
Tak terima di situ, Nita dan Rina yang juga ikut bersama Bu Titin juga menantang Gendis untuk membuktikan jika Gendis sedang hamil.
"Bu Titin benar, karena kita curiga jika Gendis sudah berbadan dua, ya iyalah dia kan simpanan Tuan Agam, pasti setiap malam digerayangi tuh sama laki-laki itu, idihhh kalaupun benar Gendis hamil harusnya dia dikeluarkan saja dari sekolah ini, bikin tercoreng citra sekolah kita, Bu!" sahur Nita.
Gendis pun terpaksa menerima tantangan Bu Titin dan kedua temannya, hari itu juga Bu Titin memberikan testpack kepada Gendis tes urine, dengan sedikit ragu Gendis pun menuruti permintaan sang guru.
Gendis masuk ke dalam kamar mandi dan Ia pun mulai menggunakan testpack tersebut, tentu saja ia ingat jika dirinya memang belum datang bulan, bahkan dirinya terhitung sudah terlambat datang bulan selama tiga hari.
Sementara di tempat lain, Agam pun sudah tiba di kota tempat tinggalnya, pria itu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri tercinta, ia pun langsung menuju ke rumah mertuanya di kampung.
"Gendis! Aku datang, Sayang!" dengan penuh semangat, Agam pun mendatangi rumah pak Sulaiman dan berharap bisa segera bertemu dengan sang istri.
Tentu saja kedatangan Agam di rumah pak Sulaiman mendapatkan sorotan dari tetangga sekitar, terutama Bu Sukoco yang tidak ada kapok-kapoknya membuat gosip.
"Loh! Itukan Tuan Agam, hmm dia pasti datang untuk mengambil peliharaannya, ya ampun! murahan sekali sih Gendis itu," seru Bu Sukoco di depan ibu-ibu yang berbelanja di warung depan rumah Gendis.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...