
Pak Sulaiman dan istrinya dikejutkan dengan kedatangan sang menantu, Agam datang ke rumah mertuanya tentu saja untuk menjemput sang istri tercinta.
"Nak Agam, ya ampun kami kira siapa, maaf kami sempat tidak mengenali," seru pak Sulaiman.
Agam tersenyum dan ia pun segera mengeluarkan oleh-oleh yang dibelinya untuk kedua mertuanya.
"Maafkan saya jika tidak memberi tahukan dulu kepada Ayah dan ibu, karena saya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Gendis. Apa Gendis ada di dalam?" tanya Agam yang tentu saja ia begitu rindu berat dengan istrinya.
"Oh Gendis ke sekolah, hari ini katanya ujian terakhir. Tadi, Ibu sudah bilang jangan ke sekolah dulu, karena ibu lihat Gendis sepertinya sedang tidak enak badan, tapi namanya juga keras kepala, dia tetap nekad untuk ke sekolah," ucap bu Farida yang tentu saja membuat Agam khawatir.
"Apa? Gendis sakit?" Agam mulai panik dan Ia pun menjadi tidak tenang karena kepikiran tentang sang istri.
__ADS_1
"Katanya kepalanya pusing dan ia sempat mual-mual, Ayah yakin sih jika Gendis itu sedang hamil, soalnya apa yang dikeluhkan oleh Gendis itu sama dengan ibunya dulu pas hamil Gendis," ungkap pak Sulaiman yang seketika membuat Agam membulatkan matanya.
"Gendis hamil?" seakan tak percaya jika dirinya mendengar istrinya hamil. Wajah bahagia pun terpancar dari Agam, pria itu benar-benar terharu dan bahagia jika benar Gendis sedang hamil.
"Saya akan menjemputnya ke sekolah, Ayah dan Ibu di rumah saja, saya akan menjemput Gendis dan segera membawanya ke dokter," ucap Agam yang semakin tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.
Pak Sulaiman dan Bu Farida pun menganggukkan kepalanya, saat itu juga Agam segera pergi untuk menjemput sang istri di sekolahnya. Ia langsung pergi setelah beberapa saat masuk ke rumah sang mertua. Tentu saja kepergian Agam membuat Bu Sukoco semakin kepo dengan apa yang dilakukan oleh Agam.
"Bu Sukoco tidak boleh berprasangka buruk seperti itu, namanya juga majikan yang baik, saya merasa sekarang Tuan Agam itu nggak seperti dulu, banyak perubahan saat Gendis menjadi pembantunya, Tuan Agam lebih kalem sekarang dan dia pun sering menyapa warga sekitar, udah nggak sombong lagi seperti dulu. Mungkin saja Tuan Agam merasa jika Gendis adalah pembantu yang baik makanya dikasih hadiah," sahut Bu Een.
"Aduhh Bu Een, jangan terlalu percaya dengan pekerjaan si Gendis, emang Bu Een tahu apa yang dilakukannya saat di rumah Tuan Agam, siapa tahu kan dia nyambi jualan apem," sahut Bu Een dengan wajah julidnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah Bu Sukoco, istighfar Bu. Ingat anaknya saja, ya! Kasihan loh si Arif di dalam penjara, sedangkan ibunya sibuk ngurusin orang lain. Ingat Bu! Semut di seberang lautan jelas terlihat, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, Ibu melihat dengan jelas kesalahan yang belum tentu Gendis lakukan. Sementara anak Bu Sukoco sendiri sudah menodai bahkan menghamili anak gadis orang lain, tidak pernah Bu Sukoco bicarakan, sekarang katakan kepada kami, bagaimana nasib gadis itu, Bu? Kasihan loh itu anak orang bukan anak kucing ... eh!" sindiran Bu Een membuat Bu Sukoco malu setengah mati. Wanita itu pun segera pergi meninggalkan warung dan merasa percuma ngomporin tetangganya.
"Sialan benar, huuuuuu Bu Een tuh, ya! Bikin aku malu aja!" umpat Bu Sukoco di sepanjang jalan, mulutnya komat-kamit tanpa melihat arah jalanan, hingga akhirnya tiba-tiba ada sebuah motor dari depan yang menabrak Bu Sukoco sekeras-kerasnya.
'Braaaakkk'
"Aaaahhhhhhh ...!"
"Astaghfirullahal adzim!" ucap ibu-ibu yang masih ada di warung saat mendengar teriakan Bu Sukoco.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1