GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam
Gendis adalah istriku


__ADS_3

Tentu saja teman-teman Gendis pun ikut terkejut, apalagi Nita dan Rina mereka berdua terlihat menunjukkan kepada teman-temannya jika apa yang ia katakan itu benar.


"Tuh! Kalian lihat sendiri, kan? Gendis itu jadi simpanannya Tuan Agam, mana mungkinlah aku bohong!" ucap Nita dengan sangat percaya diri.


Teman-teman Gendis pun saling berbisik, kedua gadis itu tampak menyunggingkan senyumnya dan berharap mereka bisa mempermalukan Gendis lebih kejam lagi.


"Kalian tahu nggak sih! Parahnya si Gendis itu sekarang sedang bunting, hiii dasar cewek najis nggak sih!" sambung Rina yang semakin membuat teman-teman Gendis tidak percaya.


Dina yang mendengar kedua gadis itu menjelek-jelekkan Gendis, ia pun tidak terima saat mulut Rina berkata seperti itu.


"Eh kalian berdua, jaga tuh mulut! Kalau nggak tahu apa-apa mending diem!" sahut Dina yang kesal dengan ulah kedua cewek itu.


"Ya ampun Dina! Kamu ini bodoh apa tolol sih! Udah jelas-jelas Gendis itu positif hamil, kamu buta ya! Tuh Bu Titin saksinya. Apa lagi yang ingin kamu bela dari si Gendis. Percuma! Nggak guna," sindir Nita sembari pergi meninggalkan Dina dengan sinis.


"Aku yakin Gendis tidak seperti itu, aku tahu betul bagaimana dia, ya Tuhan! Selamatkan Gendis dari fitnah ini," ucap Dina lirih, ia pun sesekali melihat ke arah gerbang sekolah dan benar saja terlihat pak Sulaiman datang untuk melihat kondisi sang anak yang kabarnya sedang mendapat masalah dengan gurunya.


"Pak Sulaiman! Syukurlah, semoga semuanya cepat beres dan tidak ada lagi fitnah dan salah faham, karena aku yakin sekali Gendis tidak bersalah," ucap Dina sembari menghampiri pak Sulaiman dan memberi tahukan kepada pria itu jika Gendis berada di depan kantor kepala sekolah.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Agam melepaskan pelukannya dari sang istri, ia terlihat begitu bahagia saat melihat wajah istri kecilnya lagi.


"Kau tidak apa-apa?" seru Agam kepada istrinya. Gendis pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Hanya sebuah kalimat yang terucap dari bibir Gendis, "Gendis kangen sama Daddy!"


Agam tersenyum dan mengusap wajah sang istri, sejenak Agam terganggu dengan suara Bu Titin yang memaksanya untuk membalikkan badannya.


"Agam!! Ngapain kamu peluk tuh gadis sialan, kamu tahu dia itu salah satu siswi yang tidak berguna, malu-maluin sekolah ini. Agam! Katakan padaku, kamu dan Gendis tidak ada hubungan, kan? Dia cuma pembantumu, kan?" ucap Bu Titin dengan sedikit lantang.


Agam berjalan mendekati Bu Titin dan menatap wajah tak asing yang merupakan teman sekolahnya itu.


"Kalaupun aku ada hubungan dengan Gendis, kamu mau apa? Bukankah itu bukan urusanmu?" sahut Agam dengan tatapan matanya yang tajam.


"Tutup mulutmu Bu guru! Pantaskah kata-kata itu terucap dari mulut seorang guru yang dihormati oleh siswa-siswanya? Gendis bukan gadis murahan, aku mencintainya dan dia adalah istriku!" ucapan Agam seketika seperti suara gemuruh yang membuat Bu Titin kaget sekaget-kagetnya.


Begitu juga dengan Nita dan Rina, kedua gadis itu tampak membulatkan matanya saat mendengar pengakuan dari Agam tentang status Gendis.


"Hah? Istri!! Tidak mungkin!" Nita tampak menggelengkan kepalanya dan tidak percaya jika Gendis adalah istri Agam Brandon. Bu Titin yang masih tidak percaya, ia pun langsung menyangkal jika Agam dan Gendis tidak mungkin pasangan suami istri.

__ADS_1


"Tidak mungkin! Kamu pasti berbohong, tidak mungkin kalian suami istri, kalaupun iya tunjukkan padaku mana buktinya? Mana? Nggak usah mengada-ada kamu, ya! Gendis itu masih sekolah, tidak dibolehkan bagi seorang siswa menikah selama masih berstatus sebagai pelajar," desak Bu Titin yang ingin mengetahui bukti kebenaran pernikahan Agam dan Gendis.


"Oke fine! Tidak masalah bagiku, lagipula Gendis hanya tinggal menunggu ijazahnya saja, bukan? Aku dan Gendis memang menikah secara siri, dia sekarang adalah Nyonya Agam Brandon, dia bukan pembantu lagi, karena aku tidak ingin merusak anak gadis orang, aku menikahinya secara diam-diam, kami memang sengaja menyembunyikan pernikahan ini, dan sekarang kami tidak perlu lagi menyembunyikannya, karena aku akan menikahi Gendis secara hukum. Dan kamu sebaiknya ucapkan selamat untuk kami berdua, karena Gendis saat ini sedang hamil, tentu saja aku sangat bahagia," ucapan Agam seketika membuat wajah Bu Titin tertunduk malu.


Setelah mengatakan hal itu kepada Bu Titin, Agam pun meminta maaf kepada kepala sekolah atas kekacauan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman tentang berita kehamilan Gendis.


"Pak kepala sekolah, saya pribadi minta maaf ya sebesar-besarnya atas kesalahpahaman ini, dan sekarang saya klarifikasi ke semuanya, Gendis memang istri sah saya secara agama, dan kalian semua teman-teman Gendis, kalian bisa hadir dalam pesta pernikahan kami, aku akan mengadakan pesta pernikahan selama tujuh hari tujuh malam, biar kalian semua puas dan tidak menghina keluarga istriku lagi. Dan untuk Bu Titin sepertinya Bu Titin butuh refreshing otak, silahkan datang ke acara resepsi pernikahan kami, siapa tahu nanti kamu bisa mendapatkan jodoh dari sana," Agam berkata sembari tersenyum kepada Bu Titin yang kepalang malu.


"Sialan! Kamu pikir aku perawan nggak laku!" balas Bu Titin kesal sambil pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Nita dan Rina hanya tertunduk malu. Dari arah yang lain Pak Sulaiman datang dan memberikan penjelasan kepada kepala sekolah tentang berita simpang siur anaknya. Pak Sulaiman memberikan dokumen penting bukti jika Gendis dan Agam sudah menikah secara siri dan ditandatangani oleh beberapa saksi kuat.


Akhirnya, Pak kepala sekolah bisa memakluminya. Dan hari itu adalah hari terakhir dimana Gendis memakai seragam sekolah, karena mereka semua hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan.


Agam membawa istrinya pulang, tiba-tiba Gendis melihat Nita dan Rina yang tampak menghampiri Gendis dan meminta maaf karena sudah memfitnah Gendis.


"Gendis! Kami minta maaf jika selama ini sudah salah menilai tentang kamu, kami benar-benar menyesal," ucap kedua gadis itu.

__ADS_1


"Aku katakan pada kalian! Jangan terlalu berburuk sangka dengan apa yang kalian lihat tanpa tahu yang sebenarnya, aku tidak membenci kalian, hanya saja aku tidak suka sifat kalian yang mudah sekali berasumsi. By the way, aku maafkan kalian. Ayo Dadd!" jawab Gendis sembari pergi meninggalkan kedua gadis itu.



__ADS_2