Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
Rizky Tanpa Billar


__ADS_3

TENOT! TENOT! TENONET!


Bis Kota kembali membunyikan knalpotnya. Di tengah-tengah lampu merah, gas bis bergigi satu diinjak sang supir. Namun, bukannya saya menutup hidung, saya malah sibuk menikmati asap hitam nan pekat tersebut.


"Wah sialan, ini bis kampret kali!"


Saya bersama ojek terhenti tepat di samping bis kota itu. Sang ojek menoleh ke arah saya, dan terkejut melihat saya sedang menikmati asap knalpot bis yang begitu hitam, sehitam mimpi-mimpi saya di masa lalu.


"Lah, asepnya jangan dihirup, mas!"


"Better, daripada saya ngirup lem."


"Lha?!"


Reketeketeketeketek!


Bunyi motor ojek yang sudah saya pesan kini memajukan moncong ban motornya hingga sampai di depan pintu bis, berdampingan bersama kendaraan lain yang berhenti di lampu merah.


Saya pun mengangkat pantat, segera turun dari motor.


"Oke, saya turun di sini."


"Lh-lho?! Napa turun di sini mas?!"


"Ini bis jurusan saya, mas."


"Lh-lho?! I-ini di lampu merah, mas!?"


"Oke, sama-sama. Duitnya sudah ya."


"Lho?!"


Saya pun dengan percaya diri berjalan melewati motor-motor yang tengah berhenti di lampu merah. Sebagian pemotor menoleh heran, sebagiannya lagi melirik acuh, namun kebanyakan pemotor malah menatap saya kasihan.


Saya yang sudah sampai mulai dengan keren menaiki bis lewat pintu samping, segera menghadap sang penjoki bis. Meminta izin masuk.


Cegesss!


"Lho?!"


"...... tujuan Balikpapan, ya."


"........ ba-baru naik, mas?"


"Benar."


"...... i-ini di tengah lampu merah, baru naik?!"


"Benar."


"Ti-tiket ada, mas?"


Srarak!


Saya mengeluarkan tiket bis yang sudah lecek dari kantong celana, lalu mendekatkannya tepat ke dua mata sang Penjoki Bis. Penjoki bis sedikit juling menatap, namun segera mengangguk. Mengizinkan saya masuk bis.


Semua orang yang berhenti di lampu merah sontak menatap ke arah saya dan sang pengawal bis. Tidak luput juga mata orang-orang yang sudah berada di dalam bis.


"Hmm, emang orang kalau beda itu selalu diperhatiin ya, mas."


"..... mas nya sih, kayak gembel. Silahkan duduk di belakang."


"Ehem."


...***...


Selama ini, saya sudah menabung. Sampai hari ini, saya sudah siap meminang Anastasia. Gadis gemulai yang saya temukan di internet.


Awalnya saya berjanji akan meminang di pertengahan mei, namun karena kata tetangga meminang wanita di akhir tahun itu lebih terkesan romantis, jadi saya ingin memberi surprise.


Selama ini saya hanya mendengar Anastasia sebatas online, jadi wajar kalau saya juga sedikit ragu. Di usia yang sudah tidak muda ini, terkadang kita membutuhkan resiko sebagai variasi pengalaman.


Toh memang wajah Anastasia seperti Sanggar Pisang yang gosong, namun saya tetap menginginkan cintanya. Karena tiga tahun menjalani hubungan online bukan berarti kami tidak mengenal satu sama lain.


Speaker di atas bis nampak mulai berbunyi. Sang penjoki bis memasang lagu, sembari mengusap keringat di dahinya dengan lap kain yang mengitari lehernya. Ia tersenyum manis, dan ikut bernyanyi.


 


...****************...


Kulari mengejar laju bis kota


Berlomba-lomba saling berebutan

__ADS_1


'Tuk sekedar mencari tempat yang ada


Kucari dan terus kucari-cari


Namun semua kursi telah terisi


Dan akhirnya aku pun harus berdiri


Bercampur dengan peluh


Semua orang


Yang bermacam aroma


Bikin ku pusing kepala


Serba salah, napas pun terasa sesak


Berhimpitan, berdesakan, bergantungan


Memang susah jadi orang yang tak punya


Ke mana pun naik bis kota...


 


...****************...


Sembari menikmati lagu yang diputar, Koran Balikpapan menjadi hal pertama yang saya baca di hari itu.


"Mas! Ini koran dari Balikpapan kah?!"


"Lain, mas! Yang di bawah!"


"Yang ini, kah?!"


"Nah iya, mas!"


"Oke.."


Semua kolom lowongan pekerjaan saya baca, dan hinggap saya mengambil sebuah pena dari tas. Saya melihat beberapa daftar, dan menandainya.


Mas yang ngawal bis tadi, hinggap di kursi saya. Ia menyapa saya dengan lantang,


"Ah, ndak urus! Saya tandai yang butuh banyak orang! Mungkin sekarang lowongannya masih buka itu!"


"...... orang Balikpapan ya, mas?"


"Lho? Tau darimana?"


"Mas nya dari ngomong aja sudah ketahuan!"


"Aih, masa'?!"


"Nah!"


Saya menggelengkan kepala heran, dan kembali menatap koran. Hingga akhirnya, satu jam telah berlalu. Dan orang-orang dari tempat lain mulai memasuki bis hingga saya terhimpit di tempat duduk.


Saya segera bersimpun, dan kembali mengenakan tas. Saya hendak membuka jendela, namun tetiba saja saya melihat seorang wanita hamil berdiri di kerumunan orang ditengah bis.


"Wah."


Grep!


Laki-laki tidak bisa begini. Sudah melihat wanita mengandung kesusahan, harus diberi solusi. Harus dibantu.


Begitupun dengan Anastasia nanti. Saya harus bisa bantu dia mengatasi semua masalah yang ia punya. Memang saya tidak sempurna, namun sebagai seorang calon suami, mencari solusi untuk tantangan-tantangan pernikahan kedepannya adalah hal yang harus saya jalani dengan serius.


Benar. Bismillah.


"Mba, permisi. Pakai kursi saya aja, ya."


"Ih, mas siapa, ya?"


"Aih?"


"Ma-mas. Saya sudah punya suami. Nggak lihat apa ini perut saya sudah besar?!"


"Sa-saya cuma mau kasih kursi aja, mba. Saya lihat mba nya kesusahan perut besar begitu."


"Ih, jangan deket-deket mas!-"


"Sa-saya cuma mau kasih kursi, mba."

__ADS_1


"Ih! Mas! Saya sudah punya suami!!"


"Bu-bukan begitu. Mba mengandung besar butuh duduk di kursi. Gak baik berdiri di tengah-tengah kerumunan orang desak-desakan begini. Ayuk, duduk di ku-"


"Mas. Saya tahu mas-nya mau PDKT sama saya. Jadi tolong, saya gak butuh laki-laki cadangan! Saya sudah punya suami!"


"Mba, maksud saya bukan begitu!"


"Ih! Jauh-jauh! Saya teriak nih!"


"A-aduh.."


"Ih! Jauh-jauh, nggak!? Saya sudah punya suam-"


"Woy, mba!"


Glek!


Seorang wanita muda segera menegur wanita yang hamil ini. Ia yang mengenakan hijab segitiga segera bangun dari kursinya, dan segera berdiri, memotong kerumunan. Ia menghampiri saya, dan menatap wanita hamil ini songong. Ia pun menarik maskernya turun dan berkata,


"Mba bukannya bilang makasih, malah suudzon! Dosa, mba!"


"Ih! Mba siap-"


"Heh! Jelas-jelas masnya mau bantu mba yang kesusahan karena perutnya besar. Bukannya diterima malah disangka PDKT. Ih, kege'eran!"


"A-apa?! Apa kam-"


"Sudah! Duduk di kursi saya aja. Biar saya yang duduk di kursi mas nya! Minggir!"


"Ih! Siapa sih mba ini?! Nyur-"


"DUDUK!"


"A-ah i-iya iya! Ini saya duduk!"


Saya terdiam. Bukan hanya karena ucapan wanita muda itu benar, namun saya terdiam karena ketakutan. Apa jadinya kalau Anastasia marah dengan cara yang seperti itu? Apa saya harus diam? Apa saya harus memberikan solusi lain?


Toh Anastasia sudah hidup berkecukupan. Pasti apa-apa dirinya sudah tidak kesusahan lagi. Apalagi dirinya tinggal di Balikpapan. Di Balikpapan itu hidup sudah enak. Pasti dirinya sudah tidak butuh marah-marah yang berlebihan lagi.


...****************...


Jegress!


Satu jam lagi sudah saya tempuh. Kini, kami satu Bis Kota dari Samarinda sudah sampai di Terminal Batu Ampar. Kami turun satu persatu, dan saya pun yang baru turun segera membantu seorang bocil yang kesusahan turun dari tangga bis.


"A-aduh!"


"Hap!"


"Hah! Ma-makasih bang!"


"Hati-hati, dek. Kaki makanya dipanjangin."


Ibunya yang sibuk membawa dua kardus mie nampak ikut kesusahan turun. Satu kardus mie jatuh dari pundaknya, saya pun sigap menangkapnya.


"Hup! Hati-hati dong, bu."


"Ahahaha, aduh, makasih ya, mas."


"Aman."


...****************...


Jeglak!


Sang pengawal bis nampak kembali menaiki bis. Mesin kembali menyala, dan suaranya kembali menghalangi telinga untuk berkomunikasi dengan baik.


"Mas! Makasih ya sudah bantu!"


"Oh iya, mas! Sama-sama!"


"Namanya siapa, mas?!"


"APA?!"


"Namanya!!! Siapa namanya!!?"


"Oh!! Nama, kah?!"


"Iyo!!"


"Oh!! Nama saya..."

__ADS_1


__ADS_2