
JEGLEK!
Seorang pria berkacamata nampak mendatangi sebuah ruang kerja. Ia membawa beberapa kertas di tangannya, dan segera memasuki ruangan dengan wajah kesal.
PRAK!
"LIHAT ANAKMU."
Ia menampar kertas-kertas tersebut ke atas meja kerja Sang KOMJEN yang sedang asik bersantai. Sang KOMJEN hanya diam dan menatap kertas-kertas itu dengan wajah yang tidak berekspresi, dan membiarkan pria berkacamata itu menyelesaikan uneg-unegnya.
"Mau sampai kapan anakmu begini!? Sebaiknya anda lakukan sesuatu sebelum kota kacau gara-gara dia!"
"Adamar, ndak bisa tenang dulu kah sebentar?"
"Mau tenang gimana!? Rumah sakit dibomnya begitu aja apanya yang membuat saya tenang!?"
"Saya yang suruh dia, jadi tenangkan dirimu."
"A-APA!?"
BRAK!
Pria tampan berkacamata itu sigap menggebrak meja dengan kedua tangannya yang berurat emosi. Matanya melotot, menatap wajah KOMJEN yang begitu ringan menghadapi masalah yang menyangkut publik.
"APA MAKSUD BAPAK!? KALAU PUBLIK TAHU DIA ANAK BAPAK GIMANA!? SEMUA USAHA BAPAK SELAMA INI AKAN SIA-SIA!!"
"Halaah, kamu aja yang terlalu panikan. Santai aja dulu. Kalau memang ketahuan yah saya tinggal minta maaf aja toh? Gampang. Publik mah ndak semudah itu dibuat gabruk sama berandalan."
"...... Bapak bicara seakan memang sengaja bikin rusuh kota karena Tuan Hendy. Bapak memang masih bisa keluar dari masalah tapi anak bapak bagaimana!?"
"Ah, ndak papa. Toh dia nanti udah ndak bakalan kemari lagi. Wong santai aja dulu."
"Bapak.. Ndak khawatirin dia sama sekali!?"
"Kalu dia sudah di Australia nanti, jangan sebut dia anak saya ya. Bikin pusing aja kamu."
"...... A-apa!?"
Deg.
Adamar terdiam. Kacamatanya pun segera memutih, dan ia sigap melirik tajam nan menusuk ke arah bos besarnya tersebut. Pelan-pelan ia berbicara di dalam hatinya,
"Orang tua ini makin hari makin gila. Seandainya saja saya punya hak untuk membeberkan segalanya, mungkin saja..."
Ia pun menghela nafas, dan menatap televisi.
"Breaking News dari Pusat Kota. Rumah Sakit Restu Ibu telah dibom dan masih dalam keadaan yang rusuh. Semua pegawai rumah sakit kini masih mengevakuasi para pasien serta pengunjung. Para tersangka kini dalam pelarian, serta aparat yang bertugas sedang dalam perjalanan untuk..."
Pria Tampan bernama Adamar tersebut segera menegak ludahnya sendiri, dan menoleh ke sana kemari dengan wajah yang dongkol.
"Tuan Hendy. Saya harap Anda segera sadar, akan perbuatan Ayah Anda yang sudah terlewat batas."
...***...
Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan
D U A R ! ! !
"ASTAGA! YOGAA!"
"Ah ups," ujar Dimas sedikit menyesal melempar Yoga ke arah Hendy dan anggota boyband-nya dengan enteng seperti itu.
Anastasia yang berada di samping saya pun sigap memarahi saya dengan wajah marahnya yang imut itu.
"DIMAS! KENAPA KAMU LEMPAR YOGA BEGITU!?"
"OH MY GOT! ADEKNYA YOGA MELEDAK!!"
"DIMAS!"
"A-AYM SORI."
"Haaah..."
Anastasia mengusap poni ke belakang kepalanya sendiri. Ia menghela nafasnya kecewa, dan segera memelototi saya.
"Rizky!! Adekmu digituin kenapa kamu diam aja begitu?!
"Ma-maaf."
Kami pun seketika berhenti berlari, dan Hendra mengamati ledakan tersebut. Sedangkan Anastasia teeus memarahi saya, saya hanya bisa meminta maaf.
"Ya Allah gimana sudah Yoga itu!! Rizky! Sana selamatin dia!!"
"Ma-maaf."
"Jangan minta maaf doang! Susul dia sana atau ngapain kek!"
"Tunggu seb-""
Hendra mengedipkan matanya sekali, dan ia pun segera memberitahu kami tentang kondisi Yoga yang berada di bawah kepulan asap tersebut.
__ADS_1
"Ah, Yoga baik-baik aja."
"A-apa?!"
"Wow, tau darimana, Masbro?"
"Tuh, liat dia lagi lari ke sini."
Kami pun menoleh ke arah asap, dan melihat Yoga sedang berlari terbirit-birit dengan bajunya yang sudah robek tak karuan. Ia pun terus berlari sambil menangis, menatap kami dengan tatapan panik nan takut.
DAP! DAP! DAP! DAP!
"HAH! HAH! HAH! HAH! HAH!"
"YO-YOGA!"
"SE-MA-NGAT! SE-MA-NGAT!" teriak Hendra menyemangati Yoga dari jauh.
"HAH! HAH! HAH! HAAAAAAAAARGHHHHHHH!! ABAAAHHNGGG TOLOOOOONGGG!!! HAH! HAH! HAH! HAH! AAAAAAAARRGHHKK!"
"ASTAGA! RIZKY! CEPAT JEMPUT DIA SANA!!"
"Ah, i-iya."
Syung!
Saya pun baru melangkahkan kaki, dan tiba-tiba sesuatu terjatuh dari langit, dan menggelinding ke arah kami.
TRAK.
Kami menatap benda tersebut, dan sedikit kebingungan.
"Hm?"
"Apaan tuh?"
"Kok kayak grana-"
D U A A A A A A A A A A A A R R R R R !
...***...
Nampaknya sebuah granat telah menghantam kami. Kami pun segera terbang terpisah, dan jatuh ke tanah dengan brutal. Saya yang menyadarinya, sigap menatap Anastasia yang tengah terjatuh dan berdarah-darah di tanah.
Untuk kami, ledakan ini bukanlah apa-apa. Segores dua gores tidak akan ada masalah. Namun untuk Anastasia?
Hanya takdir yang bisa menentukannya.
"ANA!!"
"AGHGK!"
Dap! Dap! Dap! Dap!
Kami segera menghampiri Anastasia yang tergeletak di tanah. Namun tak lama, Hendy dan bawahannya kembali mengepung kami dengan todongan senjata mereka.
Hendy Anas mendekati saya yang memangku Anastasia. Ia melirik acuh ke wajah Anastasia yang penuh darah, dan segera memalingkan pandangan.
"Menyerah aja bisa nggak? Saya sudah kasih cara yang gampang, lho."
"........"
Sruk!
"He-Hendy Anas!"
"Hah... Hah... A-Abang!!"
Semua orang di sisi saya panik. Saya menatap mata Hendy Anas dengan tatapan kosong. Dan itu lagi-lagi membuat saya bingung.
Ada apa ini?
Kenapa saya tidak merasa kesal? Mengapa saya tidak marah? Kenapa saya hanya merasa... hampa?
Saya pun merunduk, dan mulai berbicara sendiri.
"........ Aneh," gumam saya bingung dengan wajah kosong.
Hendy Anas pun bingung.
"Apa?"
"Lagi-lagi, nggak ada rasanya."
".... Ngomong apa kau?"
"Apa itu memang sudah tidak bisa kembali?"
".... Pfft-! Waaah..."
Saya pun kembali menatap kedua matanya, dan ia mulai mengatakan saya sudah gila, dan mengatakan beberapa kalimat omong kosong.
__ADS_1
"Waaah.. ternyata emang kalian sudah hilang akalnya yaa. Memangnya dulu kau diapakan hah? Setahuku pusat penelitian dan eksperimen manusia tidak seburuk itu dalam merusak manusia."
"..... Ngomong apa kau?"
"Sudah kubilang menyerah saja, bangsat. Serahkan dirimu dan mereka akan kulepaskan."
"Kau pikir aku akan menyerahkan Anastasia semudah itu?"
"Haaah...."
Kedua mata saya melotot, dan saya mendekatkan wajah saya tanpa ada rasa takut. Saya pun perlahan berbisik,
"Enyahlah, bajingan."
Hendy Anas terdiam sejenak. Namun, pelan-pelan senyum jahat kembali terbit di wajahnya. Menandakan ia tidak peduli.
"Aku hanya perlu dirimu, wahai monster yang nggak tahu diri. Seandainya kau ikut bersamaku dari awal wanita ini pasti sudah bisa kembali bekerja dan menghasilkan uang bersama Ayahnya tercinta."
"..... Kau, tidak mengincar Anastasia?"
"Tidak."
"..... Bukannya kau mengejar Anastasia?"
"Ah, urusanku dengannya sudah selesai. Kini urusanku hanya tinggal dirimu."
"..... Targetmu sebenarnya.. Aku?"
"Hah.. Si bangsat ini masih tidak paham?"
"Ah, saya sudah paham. Kalau begitu.."
Yoga dan yang lain mendengar pembicaraan kami dengan saksama, sigap tertegun dan mencegah saya melanjutkan kalimat.
"A-Abang!!!"
"W-whadafak!! He-Hendra!! Apa yang Rizk-"
"Mas, deketin Rizky."
"A-apa..?"
"CEPAT! CEGAH DIA!!"
"A-apanya..?"
"CEGAH APAPUN YANG DIA PIKIRIN! CEPAT SANA!"
"O-OKE!"
Drap! Drap! Drap!
Dimas segera mendekati saya dengan wajah yang panik. Saya pun hanya melirik ke arahnya, dan ia pun menenangkan saya dengan situasi buruk yang sedang terjadi.
"Ri-Rizky," bisik sapanya gagap.
"Apa? Kenapa tiba-tiba kam-"
"Apapun yang kamu pikirkan, buang semua jauh-jauh. Apapun itu!"
"..... Hendra suruh kamu ngomong begitu ya. Aish, bantu dikit kek, kalian sialan."
"Heh! Dari awal emang misi kita kan tujuannya mau bundir, cuman nggak begini juga kali caran-"
"Dimas."
"A-ah iya?"
"Tolong jaga Anastasia selagi saya ndak ada."
"A-apa? Kamu mau kemana?"
"..... Saya mau pergi ke kebun binatang."
"A-apa? Ke-kebun binatang? Me-memang di Balikpapan ada?"
"Ada. Malahan lebih menarik lagi. Kebun binatangnya beda dari yang lain."
"Ma-maksudnya unik?"
"Benar. Apalagi, yang bikin unik itu karena binatang-binatangnya bisa duduk di kursi, berjam-jam."
"Bi-binatang? Duduk di kursi berjam-jam? Makannya apa coba?"
"Makanannya itu sudah pasti.."
"Sudah pasti..?"
"..... Uang rakyat."
...----------------...
__ADS_1
Ini gambar Rizky dari saya. Sebagai permintaan maaf karrna jarang upload.