
BRAK!
Aku dan Yoga lagi-lagi berlari kecil dari ruangan menuju ruangan lainnya, membuntuti Rizky yang sedang ditawan menuju pusat eksperimen lapas untuk kembali mengikuti eksperimen yang berbahaya.
Yoga terhenti sebentar, begitupun aku.
"Yoga, kenapa berhenti?"
"Gak bisa begini terus, mba. Kalau kita terus-terusan ngebuntutin begini yang ada lama-lama bisa ketahuan!"
"Ah, bener juga. Terus?"
"Karena kita sudah tahu tujuan mereka mau kemana, kita mending cari jalur lain yang lebih aman buat nyusul mereka ke sana. Kalau bisa, kita duluan nyampe ke sana buat memahami situasi."
"Menurutmu kita bisa nyelamatin Rizky!?"
"...... harusnya bisa."
"Kamu ada rencana?!"
"Ada sih, tapi saya masih ragu. Ayo, sebelah sini!"
"Oke!"
Dap! Dap! Dap! Dap!
Kami akhirnya memutar balik, dan mencari jalur yang lebih aman untuk dilewati. Sembari melihat peta lapas di HP-nya, Yoga terus mengamati situasi.
Dap! Dap! Dap! Dap!
Kami terus bergerak, dan mengamati setiap ruangan yang kami lewati. Beberapa kamar nampak berpenghuni, dan beberapa tertidur.
Sembari bergerak, aku menanyakan beberapa hal ke Yoga.
"Psst! Yoga!"
"Kenapa, mba?"
"Sekarang jam berapa?"
"Jam 3 pagi, kenapa?"
"Bagus deh, semua tahanan pasti tidur."
Dap! Dap! Dap! Dap!
Yoga yang terus waspada menjawab ujaranku dengan peringatan.
"Kalau tahanan sih iya. Kalau penjaganya sih-"
DRAP!
Yoga terhenti, dan tangannya menghalangiku untuk maju mengintip. Aku pun menabraknya, dan bingung.
"Kalau penjaganya jangan diharap buat tidur di jam segini."
Beberapa penjaga lapas kini muncul menghantui kami. Dua orang lewat dengan Machine Gun Ready To Fire bergantung di punggung mereka. Yoga menatapku dengan senyuman manis di wajahnya, memperingatiku untuk tidak terlalu tenang dalam menghadapi situasi ini.
"Haha, hehe."
"Tetap waspada, mba. Kena tembak itu gak enak. Mba tahu sendiri kan, rasanya gimana?"
"Ah, hehe. Iya juga ya. Siap."
...----------------...
Jeglek!
Akhirnya kami sampai di pusat eksperimen lapas. Kami mencoba membuka pintu, namun tidak melihat siapa-siapa di dalamnya. Kami memasuki pusat dengan waspada, dan mulai menunggu Rizky dan KOMJEN tiba.
"Yoga. Menurutmu, apa Ayahku bener-bener ikhlas dalam memberikan restunya?"
"Ah, yang tadi?"
"Iya."
"Menurut Yoga sih, bukan tulus. Tapi nggak punya pilihan lain."
"Nggak punya, pilihan lain?"
B R A A A A A A K K ! ! !
Tiba-tiba saja, pintu pusat eksperimen ditendang oleh salah satu anak buah KOMJEN yang sudah tiba membawa Rizky. Kali ini, ada beberapa orang dokter ikut dengan mereka, salah satunya adalah dokter brengsek yang hendak mengurung kami di atas.
"Saya minta tolong ya," ucap KOMJEN teehadap salah satu dokter yang akan bertugas melaksanakan eksperimen.
"Siap pak."
"Baik, kalau begitu saya tinggal dulu."
KOMJEN segera meninggalkan mereka yang kini memasuki pusat eksperimen lapas.
Rizky yang ditawan segera diletakkan di sebuah kursi. Beberapa kancing bajunya di buka, dan ia disuntikkan sebuah obat di lehernya. Lalu detak jantungnya diperiksa oleh dokter wanita tersebut.
Rizky menatap wanita tersebut nakal, lalu tersenyum manis.
"Ah, sudah lama ya An-"
PLAK! PLAK! PLAK!
Sang dokter wanita itu sigap menampar Rizky sekuat tenaganya. Membuatku dan Yoga kaget tak bersuara.
Rizky yang ditampar masih saja tersenyum manis menatap dokter wanita itu. Salah satu dokter nampak mengambil sebuah selotip, dan menutup mulut Rizky serapat mungkin.
Tak lupa mereka menutup kedua mata Rizky dengan mengikatkan sebuah kain ke kepalanya dengan erat.
Sedangkan dokter wanita itu mengacuhkan pandangannya, ia menjauh dari Rizky dan segera keluar dari ruang eksperimen.
...----------------...
TUK!
Perlahan, kepala Rizky jatuh. Menandakan ia tak sadarkan diri. Melihat itu, Yoga langsung panik. Ia pun berbisik cemas padaku.
"Astaga! Abang pingsan!"
"Apa yang tadi disuntikin?! Obat bius!?"
"Kayaknya! Astaga abang!! Abang!"
"Yoga! Tenang dulu!"
"Aku harus berbuat sesuatu!"
__ADS_1
Aku mulai melirik kesana kemari, berusaha memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya sebuah ide muncul, aku langsung memberitahu Yoga tanpa ragu.
"Yoga! Aku ada rencana!"
"A-apa?!"
"Kamu bikin keributan di luar gimana!?"
"Bi-bikin keributan!?"
"Ayolah, kamu kan bisa meledak, toh?!"
"A-apa!?"
Jegreeek!
Semua meja alat-alat bedah untuk eksperimen mulai ditarik mendekati Rizky yang tengah tak sadarkan diri. Yoga pun semakin panik, dan mau tidak mau setuju dengan rencanaku. Tanpa aba-aba, ia langsung menyelinap keluar ruangan.
"Ughk!"
"Eh!? Eh!? Yoga!? Jangan dulu!! Alamak anak itu!"
Di sisi lain, pisau bedah sudah berada di dada Rizky. Membelah kulitnya dengan cepat. Tak lama kemudian, Sang Dokter hendak ingin mengambil sampel darah dari tubuhnya. Ia pun mengambil jarum suntik dan,
SREEEET!
BRAAAAAAAAKKKK!
"Astaga!"
"Ada apa!?"
"Ada sesuatu terlempar!"
"Pak Ben, kayaknya ada penyusup!"
"Tetap pada prosedur! Kalian masih mau hidup ka-"
D U A A A A A A A A A A A A R R R R R R ! ! ! !
Ledakan tiba-tiba berbunyi dan mengguncangkan ruangan beserta isinya. Semua dokter yang bertugas terjatuh ke lantai, begitupun semua alat-alat bedah kini berserakan di mana-mana.
"ARGGHK!!"
"SEMUA SELAMATKAN DIRI! EVAKUASI!"
"SEMUANYA LEWAT SINI!"
DAP! DAP! DAP! DAP! DAP!
Semua dokter meninggalkan ruangan dengan panik, meninggalkan Rizky sendiri di ruangan tersebut.
...----------------...
Aku pun keluar dari bawah meja, dan membuka selotip yang membungkam mulut Rizky tersebut. Sesaat selotip itu lepas dari wajahnya, perlahan senyum nakal kembali terbit di wajahnya. Menyambutku yang kini sedang menarik penutup matanya menjauh dari wajahnya.
Sreeeet...
Aku menatap wajah Rizky dengan ekspresi ragu, sembari meneteskan air mata dengan deras.
Sedangkan Rizky yang hanya menatapku dengan senyum cabulnya itu, perlahan wajahnya memerah. Pertanda ia merasakan sesuatu di hatinya.
Kedua matanya berkaca-kaca, seolah menunggu saat-saat ini datang.
"Akhirnya kau datang. Wanitaku."
Kami berpelukan erat, dan nampak Rizky yang terduduk dikursi menikmati reuni kami.
Tanpa kusadari, ternyata kepalanya terjebak di kedua gunung milikku, membuatnya semakin tidak ingin lepas dari pelukanku.
Aku yang sudah sadar dan kesal, sigap melepas pelukanku dan menamparnya dengan keras.
"RIZKY! NGAPAIN KAMU!?"
P L A A A K K ! !
...----------------...
Masih duduk di kursi, ia nampak mengelus-elus pipi kanannya yang merah sehabis kutampar. Tak lupa tatapan matanya yang terus menatapku buas seakan-akan tak akan membiarkanku jauh darinya lagi.
"Mampus. Dasar cabul, tak sedar diri."
"Namanya kesempatan."
"MATAMU KESEMPATAN!! DISELAMATIN BUKANNYA TERIMA KASIH, MALAH BANYAK TINGKAH!"
"Hehe. Aw."
Aku pun menemukan sebotol air, dan mencium baunya serta mencicipi rasanya. Setelah kurasa aman, aku pun memberikannya ke Rizky.
"Ini, minum."
"Hm?"
"MINUM!!"
"O-oke."
Gluk. Gluk. Gluk.
Rizky meminumnya setengah, lalu bertanya.
"Apaan ini?"
"Ya apalagi, air minum lah!"
Aku mencoba mencari perban, ataupun betadine untuk mengobati luka Rizky. Rizky yang sadar sigap menghentikanku.
"Kamu ngapain?"
"Nyari apa aja, yang bisa ngobatin luka."
"Gausah repot-repot. Kita cuma perlu keluar dari sini."
"Terus apa? Berhadapan sama penjaga-penjaga dan orang-orangnya KOMJEN sialan itu!? Kamu luka lagi, gimana!?"
"Kalau soal aku kamu ga-"
"Gausah apa?! Gausah khawatir!?"
"......"
Mendengarku kembali mengomel, Rizky terdiam. Ia hanya menatapku, nampak menyiapkan diri untuk kumaki-maki selama apapun.
__ADS_1
Namun sejujurnya, aku justru merasa tidak berguna baginya.
Seharusnya ia yang memaki-maki diriku saat ini, seharusnya situasi kami seperti itu. Namun terkadang, aku tidak tahu diri. Selalu saja merasa benar.
Aku pun mengusap wajahku kecewa, dan menghentikan semua omelanku.
"Haah... Lupakan. Seharusnya kamu yang omelin aku sekarang."
Mata Rizky pun terbuka, dan ia bertanya.
"Aku omelin kamu? Kenapa?"
"Karena aku nggak berguna? Karena aku gak bisa ngapa-ngapain?"
Mendengar itu, Rizky sigap tertawa.
"Pfft-! Bhahahaha!"
Aku tidak tahu apa yang lucu, aku hanya duduk dan meminum air di botol yang tadi, dengan wajah lesu.
Namun tiba-tiba Rizky datang menghampiriku dan memutar kursiku menghadap tubuhnya yang sedikit terekspos itu.
Sruuuk.
DRAK!
"Dengarkan aku."
"A-apa!?"
"Kau bilang dirimu tidak berguna, padahal baru saja menyelamatkanku dari sini?"
"Apanya menyelamatkan? Keluar aja belum. Lagipun, kalau bukan karena Yoga bikin keributan di luar, dokter-dokter brengsek itu pasti udah ngudak-ngudak badanmu, tahu?"
Setelah mendengarku terus menyalahkan diri, wajah Rizky yang semula biasa saja, perlahan berubah menjadi bengis. Kedua matanya melotot, dan menendang kursiku hingga terbanting ke dinding.
BRAAAK!
"ARGHKK! RI-RIZKY!? APA-APAAN!?"
BRAK!
Rizky tiba-tiba datang dan mulai mempertanyakan perilaku negatifku barusan dengan nada bicaranya yang mulai merasa kesal.
"Apa ini? Kepercayaan dirimu hilang hanya karena ada orang muncul memiliki kemampuan yang tidak bisa kamu miliki?"
"A-apa?"
"Kemana perginya wanita hebat yang terus mengatakan bahwa ia bisa melakukan segalanya sendiri demi dirinya tersebut?"
"......."
"Jangan bilang nyalimu surut hanya karena ada seorang dokter gadungan yang menghinamu tidak berguna karena tidak memiliki kemampuan apa-apa?"
"..... Ri-Rizky.."
"Aku jatuh cinta padamu bukan karena paras, kondisi keluarga, atau citra dan harta negara yang kini berada di tanganmu."
"........"
"Aku jatuh cinta padamu karena kegigihanmu melewati semuanya, mampu mencoba apapun yang kau inginkan meskipun keterbatasan selalu menghambatmu. Kau berhasil membuktikan diri bahwa kau tidak terhentikan. Bagai kau meludahi wajahku berkali-kali. Kau mengerti?"
"....... A-aku tidak mengerti."
"....... Haaah. Kau minta aku ngomelin kamu, kamunya malah nggak ngerti."
"A-APA!?"
"Anggap aja.."
"I-iya..?"
"Anggap aja aku, iri padamu."
"...... Iri?"
Rizky akhirnya terdiam, namun ia masih menatap kedua mataku lebar.
Aku yang masih terbelalak karena semua omelannya tadi mulai memerahkan wajahku dengan malu. Aku mencoba mengalihkan pandangan, namun nampak Rizky tidak memalingkan matanya sedetikpun dari wajahku.
Perlahan, tangan kanannya mengelus belakang kepalaku dengan lembut, lalu ia mendorong kepalaku menuju kepalanya yang mulai memiringkan posisinya. Matanya perlahan menutup, membuatku sedikit bingung apa yang coba ia lakukan.
"Ri-Rizky..?"
Beberapa saat kemudian, bibirnya mulai menyentuh bibirku, membuatku sadar apa yang sedang ia perbuat.
"Mmh!"
Aku pun memejamkan mataku dan merapatkan bibirku takut. Rizky yang paham akan situasiku, nampak mengelus kepalaku dengan lembut. Memintaku untuk menerimanya dengan santai.
Aku pun menerima bibirnya meraup bibirku pelan, sembari wajahku terus memerah malu.
...----------------...
Bibir kami bersentuhan sebentar saja, namun bagiku, sentuhan itu berlangsung lama sekali. Bagaikan momen penentu dalam hidupku, lama sekali seperti penyerahan medali, lama sekali seperti waktu ujian, seperti durasi lomba debat, sangat mencekam, namun membuat diri menjadi bersemangat.
Beberapa detik, bibir kami pun berpisah.
Rizky membuka matanya terlebih dulu, lalu tersenyum manis. Melihat ekspresi wajahku yang masih terlihat takut, ia pun kembali memelukku dengan erat.
P L U K !
"UGHF! RI-RIZKY!?"
"KAMU TUH KENAPA SIH GEMESIN BANGET HUUHH!?!!!?"
"APA????"
Ia melepaskan pelukannya dariku, lalu mengggenggam tangan kananku dengan erat. Ia menatap mataku dengan wajahnya yang memerah.
"Karena aku sudah dapat restu, jadi tinggal sah-in semuanya, kan?"
"A-apa!? Ah-! Ha-harusnya sih, gitu."
"Yaudah, biar aku selesaikan semuanya. Kamu tunggu sebentar lagi nggak papa, kan?"
Mendengarnya bertanya, aku nampak terdiam sejenak. Sebelumnya, aku selalu menjawab Rizky dengan jawaban-jawaban yang ragu.
Kali ini, aku tidak mau ragu.
Aku akan yakin.
Dengan mata berkaca-kaca, aku menggenggam erat tangan Rizky yang menggenggam tanganku. Rizky yang sadar, sigap menoleh ke wajahku.
__ADS_1
Ia menemukan wajahku yang semakin memerah nan berlinang air mata, dengan berani dan yakin menjawab,
"Iya. Aku akan tunggu."