
"Baiklah silahkan presentasikan jawabanmu."
"Sepertinya saya tidak perlu mempresentasikan semuanya, karena kebanyakan tiga jawaban sebelumnya sudah menjelaskan begitu banyak. Jadi saya ringkas aja."
"Oke, boleh."
"Bisa di lihat dari beberapa buku dan benda-benda kepunyaan bapak, memang bapak bisa bekerja di posisi apa saja, khususnya di lembaga pemerintahan."
"Hoo, menarik."
"Dan sepertinya asumsi bahwa bapak dulunya seorang penasihat departemen tidaklah logis."
"!!!!!!!!!"
"Wanjir, pede banget ngomong begitu!"
"Berani banget manasin Kak Ilham!"
Wah, lihat wajah anak ini. Penuh dengan ketenangan. Kira-kira dibalik ketenangan itu, sudah berapa kali kamu menangisi saya, Yoga?
"Buku-buku anatomi tersebut nampaknya tidak digunakan untuk mencari tahu cara membunuh seseorang yang efektif, melainkan untuk meneliti tubuh bapak sendiri."
"!!!!!!!!!"
"Dan sepertinya begitu juga untuk buku-buku dan benda-benda piskologi, sepertinya bapak menggunakan semua itu ke diri bapak sendiri. Entah apa maksudnya."
"A-apa!? Barusan Yoga bilang apa!?"
"Jadi selama ini Pak Rizky menyakiti dirinya sendiri, begitu!?"
"A-APA-APAAN!?"
Srak!
Yoga mengeluarkan sebuah fotokopi kartu keluarga yang ia lipat dari dalam kantong bajunya. Ia pun membukanya, dan memberinya padaku.
"Ini adalah kartu keluarga yang saya temukan di kamar mamak. Dan pasti kebanyakan murid pada ngira kalau KK ini palsu, dan tidak bisa dijadikan bahan informasi. Tapi mereka salah."
"Apa tuh, yang salah?"
"Kartu keluarga ini memang palsu, tapi bukan berarti informasinya di dalam semuanya salah. Ada beberapa yang benar. Khususnya di bagian NIK dan NIS."
"Hoo?!?"
"Dan saya heran sekali, setelah mencari di internet, ternyata NIK bapak yang tertera di Kartu Keluarga bukanlah Nomor Induk Kependudukan, melainkan menuju ke sebuah Kartu Identitas yang misterius."
"Wah, kartu identitas? Apaan tuh?"
"Setelah saya lanjut menyelidiki, saya menemukan Nomor Induk Kependudukan bapak sepertinya terdaftar di daftar penduduk yang istimewa. Penuh dengan daftar merah dan hijau."
"Anjir, aku nggak ngerti Yoga ngomong apa!?"
"Sejauh mana dia nyari!? Kok bisa nyampe ke situ!?"
"Yoga Saputra, sepertinya aku benar-benar telah meremehkanmu."
"Anak itu, ia bisa menyelam sejauh itu?!"
Srak!
"Dan setelah saya memeriksa lebih lanjut mengenai daftar penduduk istimewa tersebut, saya diarahkan menuju sebuah website organisasi masyarakat yang bernama KECAG."
"!!!!!!!!!"
Sesaat adikku menyebutkan nama organisasi itu, nampak Ilham yang berada di kursi OSIS mulai menyadari sesuatu.
"Tunggu sebentar, KECAG!?"
"Ke-Kenapa Ham!? Kamu tahu organisasi itu!?"
"........... jangan-jangan-!?"
"Apaan Ham!?"
"Sssht! Dengarin Yoga dulu!"
Melihat semua murid mulai berbisik, Yoga nampak terdiam sekejap. Matanya kembali berkaca-kaca, dan ia melanjutkan persentasinya.
"Nampak bahwa di beberapa tahun lalu, KECAG sedang mengadakan sebuah proyek yang membutuhkan partisipasi masyarakat biasa. Namun tujuan proyeknya untuk apa?"
"Apaan tuh?"
"Melawan sisa organisasi komunis. Yang berencana menghancurkan struktur pemerintahan kota."
"!!!!!!!!"
"Karena itu, Proyek Fad Seasta 22 akhirnya dilaksanakan selama kurang lebih 17 tahun lamanya, hingga berakhir di tahun 2015 kemarin."
"Wah, sampai sejauh itu?"
"Abang pikir Yoga nggak bisa mencari sedalam ini?'
"....... lanjutkan."
"Di dalam website proyek Fad Seasta 22 tersebut, bisa dilihat ada dua tipe warna yang digunakan dalam penulisan nama, yaitu hijau dan merah. Dan kebetulan nama abang berada dalam warna hijau."
"....... lalu?"
"Dan setelah saya klik nama abang, sebuah daftar riwayat eksperimen mulai bermunculan."
"WAAAAA! A-APA!?"
"TUNGGU SEBENTAR! E-EKSPERIMEN!?"
"Mulai dari eksperimen psikologis, eksperimen penumbuhan kebal terhadap racun, pelatihan edukasi super, hingga eksperimen membunuh syaraf rasa sakit, dan serangkaian pelatihan militer keras yang menggunakan obat-obat terlarang."
"!?!?!?!!"
"Pa-Pak Rizky!? Pak Rizky pernah jadi Subjek Eksperimen!?"
"Rebecca, diamlah!!"
Saya yang mendengar mereka semua syok, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Melihat wajah kasihan mereka yang menatap seolah saya adalah tikus percobaan, mulai kembali mengingatkan saya semasa jaman dahulu.
Saya pun meminta Yoga melanjutkan presentasinya.
__ADS_1
"....... terus?"
"Dan nampak abang sudah menyelesaikan eksperimen itu dengan sempurna, karena itu nama abang berwarna hijau."
"Habis itu?"
"Setelah tahu abang adalah sebuah subjek percobaan, saya akan kembali mengingatkan bahwa organisasi KECAG berada langsung di bawah pemerintahan pusat, dijalankan untuk melawan oknum-oknum komunis yang ingin menghancurkan struktur tatanan negara."
"Lalu jawabanmu?"
"Karena itu, pekerjaan abang sebelumnya adalah...
"...... hm? Adalah?.."
Yoga terdiam sesaat, ia nampak ragu menguak jawabannya, namun yakin dengan kepercayaan dirinya.
Ia pun mengangkat tangannya dan mengarahkan jari telunjuknya ke wajah saya, lalu dengan percaya diri menjawab,
"........senjata biologis."
...***...
JRENG! JRENG! JRENG!!
"!!!!!!!!!!!!"
"SE-SENJATA!?"
"APA-APAAN!?"
"HAH!?
"Apa?? Dia bilang apa!?"
Teman-teman Yoga bukan main bingung dengan jawabannya. Mereka berbisik satu sama lain, berdiskusi mengenai jawaban melenceng yang tiba-tiba ia lontarkan dengan percaya diri.
Sang duo super Adam dan Rizal aja sampai keheranan mendengar jawaban Yoga.
"Yakali senjata biologis, Dam! Mana ada yang begituan!"
"Diam dulu Jal, siapa tau bener gimana?!"
"MASA JAWABANNYA ITU SIH!?"
"Shhhhttt!!"
"Yakali coy!"
"Diem!!"
...----------------...
Kembali ke tempat duduk OSIS.
Nampak Rebecca dan Ilham ikut berdiskusi seraya berbisik. Rebecca dan Ilham membahas peringatan dari orang tua mereka yang sepertinya memiliki hubungan dengan guru abal-abalan mereka yang satu itu.
Mereka mulai waspada.
"Ternyata memang peringatan ayahku tidak main-main! Ia benar, seharusnya kita berhati-hati!" bisik Ilham ke Rebecca seraya menatap Yoga dengan tatapan tajam.
"Semenjak Pak Rizky masuk ke sekolah ini, ayahku memang langsung menelepon, untuk mengawasi gerak-geriknya dari jauh."
"Hanya itu!?"
"Sepertinya ayahku nggak mau mengungkap kebenarannya."
"....... Pak Rizky... ternyata dia adalah senjata biologis?"
"Sebutan lainnya adalah Tentara Super. Biasanya di kirim ke luar daerah yang penuh kekacauan di dalam pemerintahannya. Terkadang, mereka diperintahkan untuk membunuh eksekutif-eksekutif yang pernah terlibat dalam organisasi komunis," jawab Ilham lengkap, lalu kembali menoleh ke arah Yoga yang sukses membuat seluruh sekolah gempar.
"....... tentara... super..? Pak Rizky!?"
...----------------...
Prok! Prok! Prok!
"Bagus, hasil riset dan penelitianmu bagus, Yoga."
"Jadi..? Apa hasinya? Salah atau benar?"
"Baiklah, kalau begitu saya ungkap ya."
Deg... Deg... Deg..
"Yoga Saputra. Berdasarkan hasil riset, analisa, serta hasil jawaban akhirmu akan saya putuskan.."
Deg... Deg... Deg...
"Bahwa jawabanmu......"
Deg... Deg... Deg...
"....... BENAR!"
JENG! JENG! JENG! JENG!
WOOOOOOOOOOOO!!!!!
WAAAAA-!!!
PROK! PROK! PROK! PROK!
Semua murid segera bertepuk tangan dan berdiri, penuh dengan respect. Yoga yang masih berdiri terdiam menatapku, perlahan meneteskan air mata. Saya pun berdiri, dan memeluknya dengan erat.
"BUSET! TERNYATA BENAR!"
"WAAAAH!! GILAAA!!"
PROK! PROK! PROK! PROK! PROK!
"GILAA YOGA! NGGAK NGOTAK!! JENIUS!!"
"KITA TERLALU NGEREMEHIN DIA, COY!"
"YOGA! YOGA! YOGA!"
__ADS_1
"YOGA! YOGA! YOGA!"
Dan nampak kontes berhadiah 10 juta SMKN B akhirnya selesai, dan Alhamdulillah sepertinya saya kembali modal. Semua murid berkumpul ke arah Yoga, dan memberi Yoga selamat.
"Selamat, Yoga!!"
"Congratss!!"
"A-ah i-iya makasih.. A-aduh!"
Yoga pun akhirnya tersenyum manis, sembari berterima kasih ke teman-temannya yang masih membiarkannya ikut dalam kompetisi ini.
"Gila! Yoga, kamu keren banget!"
"Ah, ma-makasih!"
"Kok bisa kamu tahu kalau KK itu nggak palsu?! Kasih tahu dong!?"
"Ah, i-itu.."
Haha. Lihat wajah paniknya akhirnya kembali. Siapa sangka sisi jenius dan seriusnya yang barusan kita lihat hilang dalam sekejap mata sesaat dirinya dipanggil oleh seorang cewek.
Alhasil, kontes liga tarkam berhadiah yang saya adakan selesai sekaligus sukses. Anak-anak yang berpartisipasi nampaknya benar-benar menikmati kontes ini. Terlihat dari ekspresi wajah mereka yang tersenyum nan semangat.
Yoga dikerumuni teman-teman sekolahnya, dan diberi tepuk tangan meriah, dan tidak lupa pujian yang pantas. Dari jauh, saya menatap dirinya yang tersenyum lebar, menikmati kemenangannya seraya malu-malu.
Dari jauh saya tersenyum, dan merasakan kehangatan mulai menyelimuti dada saya dengan lembut. Saya mengelus dada dua kali, lalu berdiri dadi kursi. Seraya tersenyum bangga menatap Yoga, saya berbisik,
"Selamat, Yoga. Abang bangga."
...----------------...
Tenenenet!
Jam istirahat.
Setelah kontes tersebut selesai dengan meriah, tak sadar 3 jam telah berlalu.
Perlahan saya dan beberapa anggota OSIS menyimpuni ruang aula, dan membersihkan meja-meja yang sudah di pakai. Tak lama kemudian, Rebecca dan Ilham datang menghampiriku.
"Hihihi, Pak Rizky Billar Saputra! Selamat ya! Hihihi!"
"Billar-nya jangan disebut ya."
"Selamat, Pak Rizky."
"Wah, selamat karena apa nih? Karena identitas saya udah ketahuan, kah?"
"Tentu saja bukan. Kami mau mengucapkan selamat karena adik bapak menang. Sekaligus selamat karena kontesnya berakhir sukses."
"Wah, makasih kalau begitu. Ayo suruh anak-anak kembali ke kelas. Saya mau ngajar."
"Baiklah. OSIS! Bubarkan anak-anak ke kelas mereka masing-masing!"
"Siap, ketua!"
...----------------...
Saya pun kembali berberes-beres, dan datanglah Yoga menghadap saya dengan wajahnya yang masih panik nan sembab.
"Wah, kenapa nggak kembali ke kelas? Udah mau jam pelajaran kedua lho."
"Gimana rasanya, bang?"
"Hm?"
"......... sakit, ya? Harus menjalani semua itu, selama ini..?"
"......... abang sudah menyerahkan diri secara sukarela. Jadi buat apa merasa sakit?"
"Begitu ya."
"Jangan cemas, proyeknya kan sudah selesai."
"........."
Wajah Yoga nampak kosong, ia teridam sesaat, merenungkan apa yang kira-kira kualami di masa-masa itu. Ia merapatkan mulutnya, kemudian menarik kemudian menghela nafasnya lelah. Ia kembali menoleh ke arahku dan bertanya,
"............ terus kenapa nama Yoga Saputra ada di website itu?"
JDER!
"........... ternyata kamu benar-benar mencari sampai ke akarnya, ya?" jawabku singkat.
"Jawab, bang!! Kenapa nama Yoga bisa ada di daftar website itu!? Yoga juga pernah ikut pelatihan sama eksperimen dari pemerintah!?"
"Kamu ndak klik namamu di websitenya?"
"SUDAH! TAPI HALAMANNYA JADI KOSONG!! APA-APAAN!? SELAMA INI YOGA JUGA JADI BAHAN EKSPERIMEN PEMERINTAH!?"
"Ah... kalau begitu nanti ikut abang. Kita tanya bareng-bareng."
"A-apa!?"
"Yaudah, sana. Balik ke kelas. Abang mau ngajar."
"Ah... i-iya."
Saya pun hendak pergi meninggalkan aula, namun Yoga masih saja menahan saya dengan sebuah pertanyaan.
"A-ah! Satu lagi, bang!"
"Aish apalagi!?"
"Ke-kencan abang kemarin gimana?! Sukses aja, kah!?"
"Ah..... kencan abang kemarin kacau."
"A-APA!?"
"Sudah, abang mau ngajar. Bay-baaay!"
"A-abang! Tunggu!!
...To be continued......
__ADS_1