
Hotel Kemza Kampung Timur.
Crak!
"Jangan ganggu, sialan."
Ambar menarik pelatuk pistolnya tanpa ragu. Ia menodongkan senjatanya ke arah kami, khususnya ke wajah Rehan, yang paling ia tak suka.
"..... sialan. Kita kena outplay, Ki," bisik Rehan cemas.
"Dan lagi-lagi mukamu yang kena todong, Han. Haha," balas Dimas berbisik.
"Si pintar."
Saya yang juga mulai panik, mencoba berusaha tenang. Saya pun mencoba memulai komunikasi untuk mengulur waktu.
"Bar, bener-bener ya. Kamu nggak ada berub-"
D O R ! D O R ! D O R !
Tiba-tiba aja wajah Rehan bolong.
"??????"
"REHAN!!"
Saya sigap berteriak, menyuruh mereka bertiga untuk berpisah.
"PISAH SEKARANG!"
DRAP! DRAP!
DOR! DOR! DOR! DOR!
Kami bertiga seketika berpisah, tapi tidak dengan Rehan yang wajahnya sudah tertembak tiga kali. Jadi dirinya otomatis tersungkur ke lantai.
"OH NO!" ujar Dimas panik.
Saya pun yang mulai menjauh lagi-lagi berteriak.
"PEDULI AMAT SAMA DIA! KABUR AJA DULU TOLOL!"
DOR! DOR! DOR!
Ambar yang menembaki kami sigap berlari dan mengejar saya. Saya pun harus berlari ke mana saja, mencoba kabur. Orang-orang yang berada di hotel sigap ikut berlari dan sembunyi.
DOR! DOR! DOR!
"AAAARGHKK!"
"A-ADA APA INI!?"
Para pengunjung hotel panik, dan segera berhamburan ke luar hotel. Salah satu pengunjung nampak melewati lobi hotel, dan menemukan mayat mba-mba kasir yang sudah tertembak.
"ASTAGA! ADA SATU ORANG KETEMBAK!"
"ITU! MBA-MBA LOBINYA KETEMBAK!"
"LARI! TELPON POLISI!"
"AAAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHH!"
Saya yang masih sibuk berlari tidak bisa apa-apa. Cuma bisa memperingati pengunjung hotel untuk menyelamatkan diri.
"LARI! SEMUA! SELAMATKAN DIR-"
S S A T ! !
"HALO."
Ambar tiba-tiba saja muncul di depan saya. Ia menembak tiga kali, dan alhasil tubuh saya pun bolong dibuatnya.
D O R ! D O R ! D O R !
"AUWH!" teriak saya kesakitan.
Ambar pun makin kesal dengan teriakan saya, dan mulai beradu fisik dengan saya.
"TCH! SIALAN!"
SSAT!
BRUGH-!
__ADS_1
Ia menendang pinggang saya, namun saya masih sempat menangkisnya. Saya pun mencopoti salah satu lukisan di dinding, dan memukulkannya ke kepala Ambar dengan keras.
B R A A K ! !
Namun Ambar masih berdiri tegak, dan masih sempat menyambar wajahku dengan tinjunya. Saya mencoba menghindar, namun Ambar sepertinya sudah tahu pergerakan saya, dan saya cuma bisa cosplay jadi samsak sebentar.
BUK! BUK! BUK! BUK!
SRAT!
Saya menghentikan tangannya, namun ia masih dengan kuatnya menarik tangannya menjauh.
TRAK!
Ambar melempar pistolnya ke arah wajah saya, agar penglihatan saya terganggu selagi ia memukuli tubuh saya. Saya pun oleng, dan mencoba mengembalikan fokus penglihatan saya.
Namun ia mengambil kesempatan untuk meninjuku secara beruntun.
BRAK!
"AW!"
BUK! BUK! BUK! BUK! BUK! BUK! BUK!
Setelah tinjuan beruntunnya ia ciumkan pada tubuh saya yang seksi ini, kepalan tangannya semakin ia genggam, dan ia tarik dengan kencang menjauh dari wajah saya.
"MATI KAU."
S S S A A A T !
Dengan cepat ia meluncurkan tinjunya ke arah wajah saya. Saya mencoba menghindar sambil kewalahan, namun Ambar sepertinya masih memimpin permainan.
Saya pun melindungi wajah saya dari tinjuannya,
namun tiba-tiba tinjunya ia belokkan dari wajah menuju perut saya.
"LAH!?-"
B U K !
Perut saya pun dicicipi tinjuannya dan darah keluar dari mulut saya.
CRAT!
D A A A A A A A A A A R ! !
Saya pun terlempar ke dinding, dan dinding hotel pun jebol seketika. Saya terbang dengan reruntuhan dinding, masuk ke salah satu kamar pengunjung.
B R A A A A A K K K !
"UGHK!"
"AAAAAAAAARGHKKKKKK!" teriak penghuni sang penghuni kamar yang tengah tersungkur ke lantai, terkejut dan terheran-heran menatap saya yang kini tertimbun bongkahan dinding hotel.
"AAARGHKK! MELEDAAK! DINDINGNYA MELEDAAK! ADA BOM! *******! TOLO-!?"
Tap.. Tap.. Tap..
Ambar berjalan melewati lubang dinding hotel yang sudah ia buat. Pelan-pelan, ia mendekati tubuh saya yang sudah turu bareng reruntuhan dinding. Sang pengunjung hotel yang melihat Ambar yang berniqab dengan cadarnya yang panjang gemulai kembali syok.
"AAHH! ITU DIA TER-"
GREP.
Ambar mengambil sebuah tempat lilin dari atas meja kamar.
"BERISIK."
SSAT!
Ambar melempar tempat lilin itu menuju si penghuni hotel. Si penghuni hotel itu pun berteriak sekencang-kencangnya.
"AAAAEEEEEERRRRRGHKK!! TOLOOOOOOONGGGG!!!!!-"
Si penghuni mencoba merunduk dan melindungi kepalanya. Namun, tempat lilin tersebut sepertinya terbang lebih cepat dari tubuh penghuni hotel itu.
Tempat lilin itu semakin mendekati wajah sang penghuni hotel dan,
T R A K ! !
Tempat lilin itu tertahan di tangan seseorang. Sang penghuni yang bingung pun segera membuka tangannya, dan mencoba melihat keadaan.
Beruntung, Rehan sempat menangkap tempat lilin tersebut.
__ADS_1
Namun, salahnya, ia menyelamatkan penghuni kamar tersebut dengan kepalanya yang masih bolong dan mengeluarkan darah.
Si penghuni kamar tentu aja syok.
"A-AAAAHH!! ZOMBIEE!! ADA ZOMBIEE!!"
"Ha-halo pak. Saya buk-"
SRARAK!
Si penghuni itu bangun dari lantai, dan lari sekuat tenaganya.
"AAAARGHKK!! KIAMAT! KIAAMAAT! DUNIA SUDAH KIAMAAaaaa...."
"Ah... ma-maaf paak..."
Ambar yang melihat Rehan masih berdiri tegak di hadapannya sigap mengangkat reruntuhan dinding yang cukup besar, lalu melemparkannya ke Rehan dengan sekuat tenaganya.
SRAAAAT-!
Rehan pun segera menghindar, dan Dimas muncul dari belakangnya, meninju reruntuhan itu hingga hancur berkeping-keping.
D A A A A R ! !
"Dimas!"
Sruk! Sruruk!
Reruntuhan dinding berjatuhan, dan meninggalkan ruangan dalam keadaan sunyi. Ambar yang melihat Dimas dan Rehan kembali melawannya setekah sekian lama pelan-pelan membuka suaranya.
"Apa ini..? Reunian?"
Rehan masih terhuyung-huyung, segera menghentakkan kakinya ke lantai.
"AMBAR! GILA KAMU YA!? NGAPAIN BANTUIN HEN-"
"Dia tunanganku. Ini urusanku. Bukan urusan kalia-"
"Apapun urusannya Rizky juga bakalan jadi urusannya kita! Kamu udah gila apa!? Kamu pikir bantuin Hendy Anas buat dapatin saham Sanford bakalan bikin hidupmu bahagia!?"
Ambar dengan pelan menjawab,
"......... mungkin."
DEG!
Hendra pun mulai berwajah kesal.
"KOMUNIS BAKAL BALIK, BAR! SUPREMASI BAKALAN BALIK! PEMERINTAHAN ABSOLUT YANG MENGHANCURKAN TANAH AIR BAKAL BALIK!! KAMU MAU KOMJEN SIALAN ITU NGUASAIN KITA LAG-"
".... aku ingin bahagia, Hen."
Deg.
Untuk pertama kalinya, Ambar mengatakan apa perasaan yang ia rasakan. Hendra, Dimas, Rehan pun seketika terbelalak. Untuk pertama kalinya mereka melihat sisi diri Ambar yang seperti ini.
Apa emosinya sudah kembali?
Rehan pun menelan salivanya, dan
"Aku tahu, Ambar. Kami pun tahu. Tapi, apa harus dirinya!?"
"............"
Ambar terdiam. Untuk pertama kalinya, dirinya juga merasa sesak. Dirinya sudahlah biasa dimanfaatkan orang-orang yang lebih tinggi darinya, namun entah mengapa, ketika dirinya sudah berhadapan dengan Hendy Anas, lilin emosinya pelan-pelan kembali memercikkan api.
S R U K !
Ambar tiba-tiba saja terduduk di lantai. Ia menutup matanya dengan kedua tangannya, dan perlahan ia menangis.
"Ukh.."
Seketika, kami semua pun heboh dalam diam.
"A-Am-?!?"
"A-Ambar?"
"........ dia, menangis..?"
Saya pun yang sudah muncul di belakangnya nampak sedikit bingung dengan dirinya yang akhirnya mulai rusak tersebut. Pelan-pelan, saya menepuk pundaknya sekali, dan menghiburnya.
"Kataomoi memang berat, Bar. Tapi bukan berarti kamu harus nerobos terus begini."
__ADS_1
"........"