Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
Rencana Lain


__ADS_3

Ngeeng! Ctang!


Anastasia dan Leo sudah berada di pasar. Meskipun begitu, mereka sepertinya tidak ingin masuk ke dalam pasar, dan hanya pergi duduk nongkrong di Jembatan Manggar.


"Ah! Stengah jam naik motor, cuma buat nongkrong doang!"


"Ah! Beli Salome yok!"


"Leo! Udah kubilang aku nggak bawa uang!"


"Aman, kubayarin."


Srak!


Leo pun membeli dua bungkus salome pedas dan memberikannya langsung ke Anastasia. Karena masih panas, Anastasia mencoba membuka plastik salomenya terlebih dulu, lalu meniupnya agar cepat menghangat.


"Fuuhh.. fuuhh.."


"Udahlah, papahmu gak usah dilawan lagi. Percuma."


"Fuuhh.. gak boleh. Aku mau coba lagi. Fuuh.. Fuuh.."


"Yaelah ini cewek."


"Lagian ngapain juga kamu ngurusin aku? Verna sama Layla apa kabar?"


"Ah, aku udah izin kok, santai aja. Mereka masih di taman."


"Hadeh. Suami macam apa kamu? Anak sama Istri berdua doang di taman bapaknya malah nyasar ke jembatan manggar. Sama cewek lain lagi!"


Tak lama kemudian, mereka pun segera memakan salome yang sudah mereka hangatkan. Embun hangat mulai keluar dari mulut mereka, sembari udara dingin pantai manggar menghembusi rambut mereka.


"Na, kudengar pacarmu datang, ya?"


"..... iya."


"Kamu nggak judes-judes sama dia kan?"


"..... nggak."


"Lho? Maksudnya?"


Anastasia yang masih meniup salome hangatnya, pelan-pelan memperbaiki posisi duduknya. Ia pun memakan satu salome, dan menjawab Leo.


"Pertama datang Asep kira dia cuma mas-mas yang mau jual tanah. Jadi bayangin aja gimana kelanjutannya. Kamu tahu aja kan aku ngadepin mas-mas jual tanah itu gimana."


"Hadeh, Asep lagi tuh. Salah kasih info mulu."


"Iya. Memang dia minta dipecat kayaknya."


"Haaah, jadi gimana? Pacarmu marah?"


"Nggak, justru dia masih mau lanjut sama aku. Aneh kan?"


"..... nggak sih. Justru wajar."


"Hm? Kok bisa begitu?"


"Kalau nggak lanjut bararti usaha dia nabung sama pulang ke sini buat minang kamu berarti sia-sia dong?"


"!!!!"


"........ aku bener, kan?"


"........"


Anastasia terdiam. Ia perlahan merunduk, lalu merenung. Ia berpikir apakah selama ini dirinya benar-benar mencintai saya apa adanya? Ia juga berpikir apa selama ini ia pernah mengapresiasi saya yang sudah berusaha mendapatkan dirinya?


Anastasia kurang yakin.


"....... iya, Le. Kamu bener."


Anastasia pun kembali mendongak menghadap pantai. Suasana pagi sunrise pun menyilaukan mata mereka. Angin pagi kembali berhembus, dan menambah kisah serta semangat baru Anastasia untuk kembali memulai hari.


"Aku pengen ketemu Rizky."


"Ya telpon dah."


"Gak bisa."


"Hm? Kok gitu?"


"Hapeku ketinggalan, hehe."


"Yaelah, dasar."


"Haha!"

__ADS_1


...----------------...


Ana's POV


Di taman rusunawa.


"Tante Anaa! Ayaah!" sahut Layla kecil yang melihat ayah dan tante kesayangannya berjalan menuju arahnya dengan sekresek pisang molen.


"Layla! Apa kabar, sayang?!"


"Baiiikkk! Aku kanget tante!"


"Ahaha! Tante juga kok!"


Verna, istri Leo, di lain sisi sepertinya marah melihat kelakuan suaminya ini yang sudah seenaknya membawaku ke sini. Ia pun bergegas mendatangi Leo, dan menjewer telinga kanannya.


"Ughk! A-aduh, yank!"


"Kamu! Lagi-lagi nyulik anak orang ya!? Kenapa Ana bisa di sini!?"


"A-adudududududuh! I-itu dia slekan lagi sama bapaknya! Kasihan tau! Jadi sekalian kubawa healing!"


"Healing matamu! A-aduh, Ana.. maafin Leo yah? Sudah berapa kali dia begini!"


"Ah, nggak papa, Ver. Udah sering diculik Leo dari kecil, haha."


"LEO! MINTA MAAF SAMA BAPAKNYA NANTI!!"


"Aih i-iya yank! Aduduh!"


...***...


Grep!


Aku berdua Verna nampak duduk di kursi taman, selagi Leo dan Layla bermain. Aku berencana meminta bantuan Verna untuk bisa mendapatkan hati ayahku.


"Kemarin lusa aku sampai diracun, sama papah."


"A-APA!?"


"...... yang papah lakuin juga sebenarnya bener. Mau dia bujuk aku seberapa kerasnya, kalau yang dia minta itu ketemuan sama Rizky, aku gak bakal ngizinin."


"...... sebegitu sukanya kamu sama cowok itu?"


"Aku gak mau bikin usahanya sia-sia. Aku harus bisa menjalin hubungan sama dia, aku sudah cinta sama dia dari lama. Aku butuh rencana lain."


"Haaah... masih aja kepala batu betul kamu ya."


"Emang laki-laki yang namanya Rizky ini siapa sih? Atau kamu ini kena tipu ya!? Langsung jatuh cinta padahal baru kenal dari internet?! Baru namanya Rizky lagi! Dari namanya aja udah kelihatan pasti orangnya jelek banget!"


"Heh! Mulut! Kamu belum aja ketemu sama dia! Mayan ganteng tau!"


"Hadeh, non. Jaman begini yang namanya Rizky itu palingan playboy! Tau ndaak!? Banyak simpanannya tau! Apalagi kalau pacarannya lewat internet!"


"A-apa!? Ma-masa!?"


"Makanya, kalau emang mau niat sama dia, LANGSUNG SIKAT! DEKETIN! PERIKSA DIRINYA LANGSUNG! UDAH PERNAH MAIN SAMA CEWEK LAIN APA BELUM!!!"


"A-apa!? Bu-bukannya bakalan terlalu b-brutal yah kalau begitu!?"


"...... hah? Brutal maksudnya?"


"A-anu! Ka-kan periksa dulu!?"


"I-iya? Apanya yang brutal?!"


"Ta-tapi cara periksanya gi-gimana!? A-ADUH! KEPALAKU! AARGH! ASTAGA! PIKIRANKU!!"


"TU-TUNGGU DULU! JANGAN-JANGAN KAMU MIKIR YANG ANEH-ANEH LAGI! MA-MAKSUDKU-"


"ASTAGAA! YA AMPUN! AKU NGGAK BISA NGECEK LANGSUNG! AKU NGGAK SANGGUP!!"


"A-ANA! MAKSUDKU-"


"AAAAAARGHK!!"


...----------------...


Rizky's POV


Siangnya, di Gedung Perusahaan Sanford.


Saya nampaknya mendapatkan hari libur. Meskipun begitu, saya tidak bisa melewatkan kesempatan yang tiba.


Benar, memburu pekerjaan lagi.


Bagi kalian, mungkin saya yang sudsh bekerja sebagai guru sementara mungkin saja seharusnya bisa tenang. Namun di kasus kali ini berbeda.

__ADS_1


Saya diundang langsung sama calon mertua, jadinya saya tidak bisa menolak. Tentu aja karena rencana saya menjilati beliau untuk mendapat restu adalah rencana paling masuk akal untuk saat ini.


Apalagi karena saya juga cuma kerja 3 hari di sekolah, mungkin mengisi waktu luang di sini merupakan keputusan bagus, lagipula saya juga butuh olahraga pikiran yang baik.


Jegress!


Pintu otomatis sudah bergeser, mempersilahkan saya masuk. Di dalam gedung, terlihat seorang wanita cantik siap melayani tamu.


"Permisi, mba."


"Selamat datang, pak. Ada yang bisa dibantu?"


"Ini, saya mau mengantar berkas lamaran."


"Ah, atas nama siapa?"


"Atas nama Rizky (ugh) Saputra."


"Ah.. Rizky Billar Saputra ya pak?"


"Bi-Billarnya kalau bisa jangan disebut ya mba."


"Saya sudah dapat informasi dari manager, silahkan langsung naik pak."


"Mantap, terima kasih banyak."


Jeglek!


Saya pun di antar salah satu karyawan ke lantai atas gedung perusahaan yang besar ini. Pelan-pelan, saya membuka senjata saya, dan berniat menghubungi Anastasia. Namun, karena teringat insiden hari itu, saya memilih untk membiarkannya beristirahat sejenak.


"Mungkin dia butuh tidur," gumam saya kecewa, namun bukan berarti saya harus berkecil hati. Anastasia butuh istirahat, apalagi yang meracuni dia adalah ayahnya sendiri. Wajar kalau dirinya butuh waktu memulihkan diri.


...***...


Tok! Tok! Tok!


"Pak CEO, ini Pak Rizky nya sudah datang."


"Baiklah, suruh dia masuk."


Saya pun dipersilahkan masuk. Pelan-pelan, saya berjalan menghadap sang calon mertua, dan memberi beliau jawaban atas tawaran tiba-tibanya.


"Selamat pagi, papah."


"Kamu memang nggak ada sopan-sopannya. Duduk."


"Oke."


Bruk!


Saya pun menduduki kursi tamu dengan cukup santai. Tak lama kemudian, asisten beliau menghampiri saya membawakan kopi panas. Saya yang mencium aroma kopi tersebut sigap sedikit menahan nafas.


Yah, nanti kalian juga akan tahu sendiri alasannya kenapa.


"Nggak nyangka kamu mau terima tawaran saya semudah ini."


"Boleh, saya juga kebetulan mau ngisi waktu luang. saya juga bosan ngurusin anak-anak di sekolah."


"Hoh, kamu sedang bekerja di sekolah?"


"Cuma part time aja, pah."


"....... kalau begitu sebaiknya kau tidak usah bekerja disini. Sama aja kamu ngabaikan tugas pentingmu di sekolah."


"Ah-"


JEGLEK!


Tiba-tiba seorang wanita berambut panjang hitam dengan bibirnya yang merah merona memasuki ruangan. Ia pun berjalan dengan gagah berani, langsung menyerang ayahnya tanpa pikir panjang.


Klotak! Klotak!


"Kalau papah tolak kenapa dari awal papah kasih dia tawaran kerja?!"


PRAK!


"Papah nggak jelas."


Anastasia nampak berjalan mendekati ayahnya, dan melemparkan sebuah dokumen lamaran. Ketika ayahnya melihat dokumen tersebut, nama lengkap saya tertera dengan jelas.


"Kenapa kamu ikut-ikutan dalam hal ini?"


"Di dalamnya sudah Ana kasih surat rekomendasi. Jadi papah gak bisa nolak, sesuai peraturan perusahaan."


"...... Ana."


"Kenapa? Nggak setu-"

__ADS_1


"Kamu ini bahkan tau tidak, dia ngelamar di posisi apa?"


"...... hah?"


__ADS_2