
Gradaaak..
Suasana kelas akhirnya diam. Pelan-pelan abang membuka lembaran buku, dan langsung memberi arahan pertama untuk anak buah barunya yang nampak mual akan pelajaran hari ini.
"Sebelumnya saya ndak mau perkenalan, saya maunya kalian yang cari tahu saya siapa. Sudah, begitu aja."
Abang menatapku yang melotot keheranan. Ia tersenyum jahil padaku, tanda bahwa ia tidak mau aku sok kenal sama dia ke depannya nanti.
"Khususnya yang meja kedua dari kiri. Jangan sok kenal sama saya. Oke?"
"A-ah, iya pak," jawabku sigap, lalu mengalihkan pandangan.
Mukaku memang kelihatan biasa aja, tapi di dalam hati lain cerita. Ndak habis pertanyaan terpikirkan.
"Abang jadi guru? Kenapa tiba-tiba?! Kok bisa!? Lah?"
Hatiku terus kacau dibuat abang. Kukira ia hanya disuruh Bang Hendra buat jadi staff aja disini, taunya sampai ngajar begini? Kok bisa?
"Baik, pelajaran Bahasa Indonesia setahu saya ada PR minggu lalu, jadi sebelumnya saya harap kumpulkan buku tulisnya ke meja saya."
Anak-anak kelasku sigap berdiri, dan mengumpulkan buku tulis pelajaran di meja guru. Sembari mengumpulkan buku, ada beberapa siswi kelasku yang mencoba menyapa abang.
"Salken ya pak. Ini buku saya."
"Iya."
"Bapak guru baru yaa? Udah tetap apa masih magang pak?"
"Hush! Jangan tanya yang sembarangan, Cindy!" Amel mencoba menegur bestie-nya itu.
"Ah, saya guru pengganti aja."
Sialan. Anak-anak pada sok kenalan lagi. Bikin malu betul. Mana Aba- eh maksudku Pak Guru baru ini makek ladenin segala! Kalau ketahuan anak-anak dia abangku bisa mampus lagi aku! Jadi bahan kibulan lagi!
Aku merunduk sembunyi, dan mendekatkan bukuku ke meja Gilang.
"Lang! Bisa titip kumpulin bukuku ke depan kah?" bisikku panik sembari menatap Gilang yang hendak berdiri dari kursinya.
"Aih, jalan sendiri aja kenapa sih, Yoga!?! Ada kaki dipake, pintar!"
"Ck! Sialan!"
Mau ndak mau aku harus berjalan sendiri ke depan. Dengan berat hati, aku perlahan memasang wajah bebal di hadapan anak-anak, berusaha akting ndak kenal pria bak patung di depan kelas ini.
Aku yang sudah berada tepat di depannya, pelan-pelan meletakkan buku tulisku sembari menyapanya, namun, nampak wajah Guru Baru ini kembali tersenyum jahil padaku yang sudah lelah memberanikan diri menahan malu maju ke depannya untuk mengumpulkan PR.
"I-ini pak."
"........ wah. Salam kenal ya."
"Ugh.."
"Kenapa? Ada masalah sama saya?"
"Bapak ini gimana sih. Salam kenal ke saya tapi nyebut nama aja ndak."
"Oh? Kamu mau tau nama saya siapa?"
"Ndak usah repot-repot, pak. Orang juga bapak bakal nyuruh saya cari tahu sendiri."
"....... baguslah kalau begitu."
"Eh, tapi pak saya mau tanya satu hal."
"Hm? Tanya apa?"
"Kalau kami sudah tahu namanya bapak, dapat hadiah apa?"
"!!!"
Abang sedikit terkejut melihatku menanyakannya hal itu. Bisa dilihat dari matanya yang sedikit terbuka, menandakan bahwa ia cukup terhibur dengan diriku yang masih malu-malu mau mengakuinya sebagai 'guru baru nih boss senggol dong' begini.
"Hmm, dapat apa ya..?"
"........."
Abang masih berpikir, namun anak-anak sekelas malah pada request gift duluan. Ndak ada malu-malunya sama sekali. Memang anak jaman sekarang tata kramanya ndak ada!
"Ih, dapat hadiah kah pak? Uang dong!"
"Traktir Mie Ayam aja pak! Di kantin belakang!"
"Dapat nomor Howsapp bapak gimana??"
Anak-anak pandai! Ada guru baru bukannya dihargain, malah diporotin begini! Apasih!? Benar-benar ndak ada sopan santunnya!
"Teman-teman, sebaiknya biarin Pak Guru mikir. Jangan minta macam-macam. Biar Pak Guru kasih sebisanya aja."
"Apasih Yoga ini! Batu betul! Sok Lider kamu!"
"Emang tau! Pak Guru, si Yoga ini suka betul ngurusin orang pak! Ndak jelas anaknya! Haha!"
"Ugh.. awas kau ya."
Nirmana anak itu, malah fitnah ndak jelas sialan! Coba aja anak itu tau ini abangnya siapa, pasti dia bak-
"10 JUTA GIMANA?"
"........ a-apa?"
"... syaratnya harus tahu duluan nama panjang saya, dan cari tahu juga pekerjaan tetap saya sebelumnya apa. Gimana?"
"WOAAAAAAHHHH!!"
"A.... apa?"
__ADS_1
"GILA! YANG BENAR PAK!!?? BAPAK BERCANDANYA NDAK LUCU NIH! HAHAHA!"
"BUSEET! CUMA HARUS CARI TAHU NAMA PANJANG SAMA PEKERJAAN SEBELUMNYA KAN!?"
"WIH TANYA GURU LAIN AJA YUK! TANYA PETUGAS AJA SEKALIAN KAH?"
"A-apa-apaan!?"
ABANG!?! ABANG NGAPAIN COBA?! MACAM-MACAM BETUL!! 10 JUTA!? BUAT APA COBA!?
"Oh iya anak-anak, jangan lupa sebarin ke seluruh sekolah ya. Murid-murid kelas lain juga bisa dapat kesempatan loh."
"WAAAAAAA!!-"
Alhasil, kelas jadi ricuh. Siapa sangka di hari pertama masuk, Abang jadi selebriti sekolah. Cuma buat tebak-tebakan nama panjang sama pekerjaan dia, 10 juta dia gelontorkan buat liga tarkam sekolah.
Pasti dari kalian ada yang mikir,
"Ah buat Yoga mah gampang, adeknya mah tau segalanya soal kakaknya. Pasti dia lah yang dapat, ez mah ez!"
PALA BAPAK KAU EZ!
Masalahnya adalah, aku juga ndak tahu apa-apa soal Abang. Nama panjangnya sih tahu. Tapi kalau soal pekerjaan, hobi, masa lalu dan lain-lain, yah aku ndak tahu sama sekali.
"Baik, saya juga ngadain kuis setiap hari, jadi pastikan perhatikan pelajaran saya ya."
"Siap paaak!"
"Oh ya dan satu lagi. Saya cuma mau kasih kalian dua tipe nilai. ndak ada yang boleh ganggu gugat keputusan saya, di pelajaran yang saya kasih hari itu juga! Paham?"
"Tu-tunggu pak! Dua tipe nilai maksudnya gimana?"
"Selama saya ngajar di kelas dan jadwal pelajaran kalian, saya cuma mau kasih dua tipe nilai. Yaitu nilai seratus dan satu. Dan saya ndak akan kasih PR, soalnya saya ndak mau repot."
"WAAAAAAAA!!!-"
Lagi-lagi kelas ribut. Mereka pastinya ngira belajar bareng abang bakalan gempil. Padahal sudah nyata neraka.
Lihat wajah abang itu. Senyum-senyum manis padahal perasaan aja ndak punya! Apa coba?! Jelas-jelas 10 juta sama ndak ada PR itu cuma pancingan doang! Teman-teman pada ketipu semudah itu, sialan!
"Lang! Gilang!" bisikku menyapa Gilang yang sudah senyum-senyum manis bahagia di kursinya.
"Gilang! Jangan ketipu, coy!"
"Hah.. apa? Ketipu apa?"
"Ab- eh maksudku guru baru itu mencurigakan betul coy! Jangan gampang percaya gitu, sialan!"
"Yaelah suudzon betul kamu jadi orang! Rileks sebentar aja bisa ndak sih?!"
"Ughk! Sialan lu!"
Terakhir kali aku belajar sesuatu dari abang, pasti akhir-akhirnya aku menyerah. Mau belajar Catur, belajar Othello, apapun itu, mau game HP sekalipun, pasti selalu akan menjadi neraka untukku.
Kalau dulu, biasanya aku sering meminta kakak mengajariku apa saja. Namun, kakak sering meminta imbalan. Misalnya kalau aku menyerah di tengah jalan, aku harus kasih satu mainanku yang paling berharga buatnya.
Kalau kalian berpikir aku sudah berhasil belajar beberapa hal, tidak juga. Dan tentu saja, ada begitu banyak mainanku sudah diraupnya. Entah berada di mana mereka sekarang.
...----------------...
6 tahun lalu.
Trak!
"Argh! Susah betul! Ndak bisa! Aku kena skak terus! Asli abang licik!!"
"Lho kok ngamok? Mana semangatnya tadi?"
"Yoga belajar Catur buat ikut lomba 17-an aja kok bang! Tapi abang ajarinnya sampe pake teknik-teknik turnamen segala! Ya pasti Yoga nda' bisa bang!"
"Hmm, kalau begitu Game Bot-nya buat abang dong?"
"Aih, ambil sudah! Sesuai janji! Yoga tepatin! Ambil sudah itu! ndak seru juga kok!"
"Haha, makasih banyak, Master Yoga."
"Abang ndak usah ngolok!"
"Hmm, katanya mau juara?"
"SIAPA BILANG?! YOGA CUMA MAU MERAMAIKAN AJA BANG!"
Taruhan yang tidak menarik buat orang dewasa, tapi bagi anak kecil sepertiku, Game Bot itu adalah senjata berhargaku di masa kecil. Cuma gara-gara nyerah diajarin catur, Game Bot itu sudah ada di tangan abangku yang galak di semua hal.
"Yoga! Kamu bisa main Catur!?"
"Ah ndak usah ajak aku main begituan! Nyesal betul aku belajar! Gara-gara kamu Game Bot kesayanganku di ambil abangku!"
"Lho!? Tapi kamu dapat juara 3 loh! Jago betul!"
"A-apa?"
Namun siapa sangka, cuma dua jam latihan, aku sudah bisa bermain Catur sampai ke juara tiga. Bukan hanya berapa puluh orang yang ikut serta, tapi lomba 17-an tingkat kelurahan sudah bisa dibilang liga besar untukku yang masih kecil.
"Yoga! Selamat ya!"
"Mamak! Yoga juara!"
"Mamak bilang apa? Belajar itu sama abang! Bisa kan?"
"........ ah iya. Abang mana, mak?"
"Ah, abang sekolah hari ini. Mungkin minggu depan baru kamu bisa pamerin hadiahnya ke dia, ya?"
"Iya mak!"
__ADS_1
...----------------...
Apasih.
Manusia kaku macam abang kan memang pandai di segala hal, sama kayak bapak. tapi apa daya aku yang ndak bisa apa-apa. Cuma bisa main game HP doang.
Tapi bukan berarti aku ndak mau berusaha belajar. Masuk perguruan tinggi juga salah satu mimpiku yang masih belum tercapai.
Tapi karena keadaan keluarga, kayaknya masuk perguruan tinggi yang akreditas bagus sudah menjadi angan-angan doang. Jadi universitas biasa pun menurutku sudah cukup untuk tabunganku tutupi.
Aku pun sampai sekarang mau berusaha biar ndak lagi ngerepotin abang buat kedepannya.
"Haah. Repot lagi, ini."
Trak!
Cindy meletakkan sendok dan garpu di samping mangkok Mie Ayamku. Kelihatan Amel dari samping kiri menyapaku dengan nada bahasa kurang sopan.
"Kamu kenapa sih, Yoga? Dari tadi mengomel terus?"
"Ah paling gara-gara Pak Rizky ya!?" ujar Cindy pede sembari memamerkan nama depan abang yang sudah ia ketahui.
"Wew, sudah tau aja nama depannya," ujarku malas meladeni sesi pamer-pamerannya tersebut.
"Udah tahu dong, Yoga!!" balas Cindy songong.
Aku pun segera mengaduk Mie Ayamku dan menambahkan sambal dan kecap. Seraya menghembuskan nafas malas, aku kembali mencoba bertanya.
"Kamu tahu dari mana, Cin?"
"Bu Sinah. Guru baru juga!"
"Iya, Yoga baru tahu kan? Ahaha!"
"Wew, tahun ini ada banyak guru baru, ya?"
Trak! NGIIIIIIINGGGGGGG--!
Tiba-tiba speaker sekolah yang sudah lama tidak dipakai berbunyi kencang. Tak lama kemudian, muncul suara seorang pria yang mengumumkan perihal liga tarkam barunya yang sudah ia adakan di kelasku sebelumnya.
"Assalamualaikum, ini saya 'si guru baru nih boss, senggol dong'."
"A-abang!?!?"
"Loh?! Pak Rizky!" teriak Cindy kaget sembari menujuk ke arah speaker sekolah tua nan usang di atas plafon kantin
Aku sigap berdiri, dan kembali melotot keheranan. Apa sudah yang abang mau perbuat kali ini?! Mau ngapain sih kamu, bang?!
"Buat seluruh siswa-siswi SMKN B, ada turnamen tebak-tebakan baru yang berhadiah besar! Untuk posternya sudah saya pasang di papan mading tua depan taman sekolah. Ndak perlu daftar, yang penting kalian adalah siswa atau siswi resmi sekolah ini, kalian valid sudah terdaftar. Saya tidak akan menerima pertanyaan lagi, semua yang di poster sudah cukup informasi untuk kalian baca mengenai detailnya. Sekian."
"Abang!?! Mau ngapain lagi dia!?"
Gradak!
Aku pun bangun dari kursi kantin, dan segera mengajak Cindy dan Amel untuk pergi melihat posternya ke taman sekolah.
"Cindy! Amel! Sini ikut ke taman sekolah! Cepat!"
"Eh Yoga! Ini Mie Ayamnya gimana!?"
"TINGGAL AJA DULU, SIALAN!"
"Ih apasih! Yoga itu!!"
"Udahlah Cin, ayo aja!"
Saat kami sampai, sudah ada berpuluh-puluh murid memenuhi area papan mading. Mereka semua menatap satu poster besar yang sudah ditempel rapi bertuliskan,
...----------------...
...TEBAK-TEBAKAN BERHADIAH...
..."Semangat j(uang) adalah Jalan Ninjaku."...
...Guru baru nih boss, senggol dong. Yang mau uang silahkan ikuti tebak-tebakan ini. Siapapun murid yang berhasil lebih cepat menebak nama panjang serta pekerjaan tetap saya sebelumnya dengan paling benar, akan saya beri 10 juta secara tunai maupun non-tunai....
...Salam Sepuluh Juta!...
...----------------...
"Buset, detail banget ya, bosku. Pake di-print segala. Rajin betul," bisikku kesal.
Di belakangku, anak-anak terus saja berdatangan. Mulai berhimpitan tak karuan, membuatku mulai merasa mual mencium bau-bau yang bercampur aduk.
"Ish, Cindy! Lawan kita banyak banget!"
"Yang jawab paling cepet dan paling bener pasti menang nih!"
"Waaa! Gila coy!"
"Widih! 10 juta! Tunai non tunai coy!"
"Kasih tahu Kak Bagas! Kasih tahu Kak Bagas!"
WAAAAAAAA-!!!!
Situasi taman semakin ricuh, dan anak-anak semakin berhimpit menghadap papan mading. Aku yang mulai eneg, dengan cepat pergi dari taman sekolah seraya menutup hidung serapat mungkin.
"Ughk! Kabur ajalah, sialan!"
Entah apa yang abang rencanakan kali ini, pasti ujungnya dia mau ngibul-ngibulin aku lagi!
Apa aku seriusin aja nih, liga tarkamnya?
"Argh, sialan!"
__ADS_1