
Di sekolah, jam istirahat pertama.
"Yogaa! Aku boleh nitip roti nggak!?"
"Aih, ambil sendiri kenapa sih!?"
"Ih Yoga nggak seruu!"
"Banyak cocot betul! Kamu punya kaki tangan dipake lah!"
Kondisi sekolah syukurnya sudah berubah menjadi seperti biasa. Dan lebih baiknya, setelah kontes selesai, ada beberapa anak murid yang mulai membuat hubungan pertemanan dengan murid-murid dari kelas lain.
"Wah! Di kelasmu semuanya ikut kontes tadi?"
"Haha, cuma meramaikan aja sih! Bagiannya Nakatani dari kelas A juga banyak yang ikut!"
"Waah-! Kontesnya nyampe kelas A? Buset!"
Syukurlah semua murid pelan-pelan bisa membuat jaringan komunitas baru. Apalagi selama ini, sekolah benar-benar sepi. Semua muridnya hanya punya perkumpulan masing-masing kelas, dan tidak pernah mau berinteraksi sesama kelas lain.
Namun, semenjak kontes abang diberlangsungkan, banyak murid mulai membuat koneksi baru antar kelas, guna memperbanyak jual-beli informasi disaat kontes tempo hari berlangsung.
Adik saya contohnya, Yoga, tiba-tiba mulai membangun koneksi dengan OSIS yang berkuasa di sekolah, dipuji-puji, pula. Mengejutkan.
Untuk kondisi saya sendiri sayang masih sama seperti kemarin, selalu menikmati Teh hangat di meja saya, sampai akhirnya ada beberapa guru datang, menanyakan sampai mana materi yang saya ajarkan pada murid-murid mereka di saat mereka sedang tidak ada.
Kebetulan Sang Guru IPA yang datang kali ini, beliau bernama Pak Hansem.
"Ah, selamat pagi Pak Rizky," sapa beliau memanggil saya sedang asyik menyeruput Teh Hangat dengan nyaman di meja saya.
Saya meletakkan segelas teh hangat saya perlahan ke meja, dan menyambut beliau.
"Aaaaaah, iya pagi."
"Kelas 12-B untuk kemarin lusa sudah bapak kasih tugas buat IPA ya?"
"Ah, sudah. Yang mempelajari struktur dan sistem gunung berapi ya?"
"Iya, pak. Saya sudah bagi materinya kan? Ini saya minta tandain di buku saya sampai mana bapak ngajar."
"Ah, satu bab yang itu sudah. Bapak bisa lanjut ke bab berikutnya, tapi tolong nilai dulu tugas anak-anak."
"Lho? Bapak bukannya nggak ngasih PR?"
"Saya ndak bilang PR. Saya bilang tugas."
"Ah, yasudah kalau begitu saya berangkat dulu. Makasih banyak ya, pak."
"Ah, iya. No problemo."
Jegreek!
Sang guru IPA, Pak Hansem sepertinya keluar dari ruangan guru dengan raut wajah kecewa.
"Haah, tugas yang dikasih ke anak-anak apa, coba? Sehari belajar satu bab sekaligus? Palingan gak masuk di otak, haah ngulang dulu deh."
Tap! Tap! Tap!
Pak Hansem pun berjalan dengan lemas menuju kelas 12-B. Setelah sampai, ia pun membuka pintunya, dan menemukan beberapa gunung berapi mulai bererupsi.
KRIEEEET!
"Anak-anak, selamat pag-"
"DUAAAAAAAAAR!!!"
"INI DIA! SUPER VOLCANO!"
Pak Hansem syok seraya menjatuhkan buku-bukunya ke lantai, ia yang panik melihat murid-muridnya bereksperimen tak sanggup menahan teriakannya.
"WAAAAARGHHH!! ANAK-ANAK APA INI??!"
Ada sebuah gunung berapi yang diledakkan sebagai percobaan. Adam dan Rizal, duo super yang dari kemarin paling heboh sendiri di kontes, sepertinya sangat berbakat di bidang sains. Bersama yang lain, saya memberikan tugas membuat simulasi gunung berapi simpel pakai reaksi bahan-bahan rumahan.
Psssshhhh!
"A-apa-apaan ini!? Kalian bikin gunung berapi!?"
"Halo, Pak Hansem! Met pagi!"
"Adam! Kamu ngapain lagi hah!?"
"Ah, ini tugas dari Pak Rizky! Kita disuruh buat simulasi gunung berapi."
"Si-simulasi!? Ma-maksudnya pake reaksi bahan kimia rumahan yang itu!?"
"Iya, pak! Silahkan dinilai ya!"
"LHA-LHAAA!?"
"Su-sudah sampe bikin simulasi gunung berapi!? Pak Rizky ngajarin baru sehari udah sampe simulasi-simulasi segala!?"
Doeng.
Kepala Pak Hansem nampak berasap tebal. Wajahnya memucat, khawatir akan keadaan murid-muridnya yang sudah saya udak-udak tersebut.
Namun untuk sekarang kita biarkan saja. Ada beberapa hal lain yang lebih penting.
...----------------...
Jam istirahat kemudian.
Srak!
Yoga nampak mengumpulkan buku LKS IPA yang sudah dikerjakan dari kelasnya. Ia menaruhnya di meja saya, dan berwajah masam, seperti biasa.
"Ini, bang."
"Yang benar aja? Kamu masih panggil saya abang?"
"Cuma guru pengganti pujungan betul kamu bang. Asal abang tau aja ya, lama kelamaan hati ini rasanya makin ndak sudi tau, manggil abang itu 'Pak Rizky, Pak Rizky', kesannya sudah macam orang lain aja kamu bang."
"Haah, yaudah terserah. Betewe, hari ini pulang sekolah kita ke ruang kepsek ya, kita tanya soal namamu yang muncul di website KECAG."
"Hm? Maksudnya? Kenapa kepsek? Bu Ther ada hubungan sama KECAG? Sejak kapan?"
"Wah banyak tanya kamu ya. Ikut aja kenapa je? Katamu penasaran?"
"Haih, iya sudah bang, terserah! Terserah kamu bang!"
"Dan....!"
"Apalagi?"
...***...
Srarak!
Saya pun mengeluarkan sebuh kertas dari laci meja. Saya menyerahkannya ke Yoga, dan nampaknya Yoga sudah tahu kertas apa yang hendak saya kasih.
"Ini ada formulir pendaftaran OSIS. Abang dapat dari Ilham. Keknya dia mau rekrut kamu jadi-"
__ADS_1
"Aih, sudah kuduga. Buang aja kertasnya bang. Ndak sudi!"
"Lho? Kok ngamok?"
"Si bontor sama si cekikikan itu pasti ada niat tersembunyi! Entah mau nipu atau mau manfaatin Yoga, intinya niat mereka sudah pasti busuk!"
"Hadeh, jangan langsung suudzon begitu je, Yoga."
"Ya terus ngapain mereka cuma-cuma mau ngundang aku masuk ke OSIS? Yang biasanya diundang ke OSIS itu anak-anak yang berpengaruh di sekolah! Kayak anak-anak anggota parlemen atau legislatif, kalau ndak minimal pasti anak jenius!"
"Ya kalau memang niat mereka cuma itu? Toh kamu kan juga bisa sangat berguna di sana."
"Apanya berguna bang? Bukannya abang juga tau Yoga itu manusia paling nggak guna di muka bumi ini!? Kan abang pernah bilang begitu!?"
"Yaudah, mau masuk atau nggak terserah kamu. Yang penting suratnya sudah abang kasih."
"Yaudah kalau begitu."
Srarak!
Yoga melipat formulir pendaftaran OSIS Ke dalam kantong bajunya. Ia pun merapikan seragamnya, dan hendak pergi dari ruang guru.
"Yoga balik ke kelas dulu."
"Iya. Nanti abang tunggu di kantin."
"....... iya."
...***...
Pulang sekolah kemudian.
Tok! Tok! Tok!
Saya dan Yoga nampak telah hadir di depan ruang kepsek. Saya mengetok pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam ruangan.
"Bu Theresia?"
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Permisi!"
".........."
"Bu Ther udah pulang kah?"
"Seharusnya belum."
TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!
"Permisi!!"
"..............."
Saya dan Yoga kembali menoleh satu sama lain. Mau tidak mau, kami pun mencoba membuka sendiri pintu tersebut.
"Bang hati-hati," ujar Yoga memperingati, dan saya pun mengangguk paham.
"Iya."
GREP!
Saya pun menggenggam gagang pintu, dan membukanya pelan-pelan, dan pintu pun ternyata tidak terkunci.
"A-abang!!" bisik Yoga panik.
"Aku tahu. Waspadalah."
Krieeeeeeet...
Yoga pun mengintip ke dalam ruangan, dan nampak ruangan begitu gelap gulita.
"Ka-kayaknya nggak ada ora-"
SSAT!
"A-apa it-!?"
CTANG!
"WARGHK! ASTAGFIRULLAH!"
"YOGA!"
Tiba-tiba sebuah pisau kecil melayang ke daun pintu, persis tertancap di samping wajah Yoga. Melihat itu, Yoga langsung menjauh dari pintu, dan terjatuh lemas ke lantai koridor.
"AAARGHK! APA-APAAN!?!"
"Kamu nggak papa?!"
Yoga hanya menggeleng takut, dan menolehkan wajahnya ke arah saya. Perlahan, darah mulai muncul dari pipi kanannya.
"!!!!!!"
Saya hanya terdiam, dan memperhatikan pisau kecil tersebut. Melihat sebuah ukiran kecil di gagangnya, saya pun menoleh ke arah ruang kepsek, dan memberanikan diri memasukinya.
"A-abang...!" bisik Yoga panik, mencoba menghentikan saya.
"Heh, cemas kau dek?"
"YAIYALAH BANG! JANGAN MACAM-MACAM!! NANTI KALAU ADA AP-"
"Gak akan terjadi apa-apa. Kamu pergi ke ruang guru, suruh guru siapapun telpon polisi."
"Ha-hati-hati bang."
Saya pun melangkahkan kaki memasuki ruang kepsek. Melihat tidak ada pisau lagi yang melayang, saya pun berani melanjutkan langkah kaki. Melihat ruangan yang begitu gelap, saya pun menekan saklar lampu yang berada di samping pintu.
Ctak!
Setelah menyalakan lampu, Bu Ther nampak terikat tali dan mulutnya yang dilakban. Darah keluar dari dahinya, dan beliau hanya mengucurkan air mata.
"Wah, pemandangan yang menegangkan sekali," ujar saya santai.
Saya melihat seorang wanita bercadar mengarahkan sebuah pistol ke arah kepala Bu Ther yang terus menangis tanpa bersuara. Wanita bercadar itu pun menoleh ke arah saya, dengan kedua matanya yang mulai menyala.
"Apa kabar, Jablay?"
"....... kau masih saja sama, Rizky."
"Heh, sama gimana tuh?"
"....... dirimu masihlah sekedar cangkang kosong."
"Aku bukanlah dirimu, Ambar."
"Apa maumu datang kembali ke sini?"
"Waduh tenang dulu. Kenapa make nyandera atasan segala? Dipecat gima-"
"JAWAB!!!!"
__ADS_1
"Yaelah, Bar. Aku cuma-"
"JANGAN BANYAK BACOT! AKU TAK MAU BICARA DENGAN DIRIMU YANG BERUSAHA BERTINGKAH LAYAKNYA MANUSIA SEPERTI ITU!!"
CRAK!
Ambar pun menempelkan moncong pistolnya ke kepala Bu Theresia. Tanda bahwa ia siap membunuh beliau kalau saya tidak menjawabnya dengan jujur.
"AKU MAU BICARA DENGAN RIZKY YANG AKU TAHU!!"
"......... ah.."
"KELUARKAN DIRIMU YANG SEBENARNYA! BAJINGAN!"
Ternyata wanita idiot ini masih saja sama seperti dulu. Tidak suka berbasa-basi. Tidak mudah dimanipulasi seperti orang lain.
Saya pun harus benar-benar melepas semua akting dan ekspresi wajah palsu saya yang sudah lama saya latih agar terlihat layaknya orang-orang.
Ah, percuma juga latihan. Padahal salah satu alasan kuat saya latihan merubah ekspresi wajah karena mau pamer ke Ambar. Karena kami berdua adalah salah satu dari anak-anak yang kehilangan indera emosi dari eksperimen bertahun-tahun lalu.
Saya pun melemaskan semua otot wajah saya, dan berbicara tanpa adanya emosi. Seperti saya yang dulu di pelatihan.
"Baiklah. Apa kau tidak suka aku kembali?"
"....... akhirnya."
"Jawab."
"Apa tujuanmu kembali, Rizky? Apa mau membuka kembali luka perang di masa lalu? Apa belum cukup kematian teman-teman kita untuk membuka matamu?! Kamu masi-"
"Tidak, tuh."
"!!!!"
"Aku kembali cuma mau meminang seroang gadis. Tidak ada alasan lain."
"....... a-apa..?"
"Yang benar saja? Kau sampai menyandera Bu Ther begitu? Sungguh tindakan yang nggak ada gunanya sama sekali. Masih saja idiot."
"JANGAN BOHONG!! KAMU!? JATUH CINTA!? KAMU PIKIR AKU PERCAYA?!"
"Bacalah pikiranku. Kau masih menilai kejujuranku?"
"Kau kembali membuat kami semua panik hanya karena mau meminang seorang gadis!?"
"Maksudnya? Anak-anak lain semuanya panik cuma karena aku kembali?"
"KARENA KAU KEMBALI TANPA TUJUAN!! KAMI PIKIR KAU KEMBALI KARENA SESEORANG DAP-"
"Apakah aku harus selalu memberi kabar? Mau kembali kapan itu urusanku. Lepaskan Bu Ther. Aku ada urusan dengannya."
"......... kalau kamu berboho-"
"Padahal kau bisa membaca pikiran, tapi masih saja ngomong begitu, wanita idiot."
"Khk-! Dasar.. pria batu."
...***...
Di koridor bawah menuju ruang guru.
Yoga berlari dengan kencang, tidak peduli dengan pipinya yang terus mengeluarkan darah. Meskipun menangis, ia nampak terus berlari secepat yang ia bisa, terus memikirkan diriku.
"HAH! HAH! HAH! HAH! HAH! ABANG! JANGAN KENAPA-NAPA! HAH! HAH! HAH!"
BRAK!
Yoga pun rela menabrakkan dirinya yang sudah tak sanggup berlari demi membuka pintu dengan cepat. Dengan baju seragamnya yang mulai basah karena darah, ia pun segera menghampiri guru yang paling dekat dengan pintu, yaitu Bu Sinah.
"ASTAGFIRULLAH!? YOGA!?"
"BU-BU SINAH! BU....! I-IBUU!"
"ASTAGA YOGA!!"
Pak Hansem yang hendak pulang pun langsung panik melihat Yoga, dsn segera mengambil kotak P3K. Di sisi lain, Pak Dede yang sedang menyeruput kopi, sigap muncrat dan panik menghampiri Yoga yang sudah terjatuh ke lantai.
HMMFFRRRRT-!!!
"YA ALLAHU AKBAR! KENAPA PIPI-"
"PO-POLISI-!! TE-TELPON.... UGHK!-"
"YOGA!!"
"TELPON POLISI! BU-BU THER!! BU THER JUGA HILANG!!"
"A-APA!? BU-BU THERESIA ADA DI RUANGANNYA, YOGA! SAMA BU AMBAR!"
"A-APA!? NGA-NGGAK ADA, BUU! TELP-"
Namun, saya pun muncul dari luar pintu, menghampiri Yoga yang mulai hilang kesadaran. Selagi ia diobati, nampak bibirnya memucat.
"Yoga!"
"KHKK! A-ABANG!!"
"PAK RIZKY!!"
Grep!
Saya pun menenangkan Yoga, dan mencoba menghilangkan serangan paniknya. Saya menggenggam tangan kanannya, dan menatap matanya erat.
"Yoga, tenanglah. Semua sudah aman."
"A-abang... Hah.. Hah.. I-Ibu Ther.."
"Bu Ther udah ketemu. Beliau nggak papa. Tenanglah."
"A-Alhamdu-.. lillah.. Hah.. Hah.."
"Jangan banyak ngomong. Bernafas dulu yang tenang."
"Haah.. haah.. haah.."
...***...
Tap.. Tap.. Tap.. Tap..
Dari belakang tubuhku, nampak Bu Ambar datang menghampiri Yoga yang sudah dilukainya. Ia menatap Yoga yang terluka dengan mata masam.
"Orang ini adikmu? Yang menang kontesmu tadi?"
"Ada masalah lagi?"
"Tidak, cuma mengecewakan aja."
Ia pun lanjut berjalan melewati kami. Dengan aura tubuhnya yang mengerikan, ia lagi-lagi merendahkan saya yang nampak hanya melihat tingkahnya dengan mata kosong.
"..... setidaknya akan ada harapan bagi keluarga sialanmu untuk bahagia, Rizky."
__ADS_1