
Di dalam pesawat, Hendy Anas sedang duduk santai menikmati waktu bersantainya untuk penerbangan menuju Australia.
Setelah semua perjuangan kerasnya selama ini, akhirnya ia bebas melakukan apapun yang ia mau. Dan itu menjadi sebuah kelegaan terbesar dalam hidupnya.
Ia hendak memasang headphone miliknya, dan menyaringkan volume musik DJ Disco Dangdut yang sudah menjadi genre musik terfavorit di senjatanya. Tak lupa ia menutup mata, dan kepalanya sedikit termangut-mangut, menikmati suara kick yang penuh efek distorsi, seakan-akan membuat telinga orang awam pecah saat mendengar pertama kali.
Crak!
Asik menikmati musik, tiba-tiba saja sesosok tangan dengan sebuah pistol muncul dari belakang kursinya, menodong kepala Hendy Anas yang masih termangut-mangut dengan seru, tak memperhatikan sekellilingnya itu.
Hendy Anas tidak sadar, terus menutup matanya santai, tak sadar kepalanya tengah dalam bahaya.
Tangan yang memegang pistol itu nampak kesal karena terkacangi, jadi tangan tersebut sigap memukul kepala Hendy Anas tiga kali dengan kencang.
TRAK! TRAK! TRAK!
"AW! AW! AW! BUSET APA-APAAN!!?"
Ckrak!
Tangan dengan pistol itu akhirnya kembali ke posisi todongannya. Hendy Anas yang akhirnya sadar langsung kaget dan terheran-heran, hendak berteriak namun satu tangan lagi muncul dan sigap menutup mulutnya rapat-rapat.
"WAARG- Hmppphh! Hrnmmnnpppphh!!"
Hendy Anas panik, dan menoleh ke belakang kursinya. Seketika, kedua matanya melotot semakin syok, betapa kagetnya ia melihat Dimas dan Hendra sudah menggrebek dirinya mencoba kabur dari semua aksi kriminal yang sudah ia lakukan selama ini.
"Hmmph! Hmmph! Hmph!! Hhrgmppph!!"
Hendy Anas terus berusaha bersuara kencang, dan menoleh kesana kemari, nampak beberapa penumpang lain tak sadar bahwa dirinya sedang dalam bahaya.
Hendy pun sadar bahwa meminta bantuan orang lain juga akan membahayakan dirinya, apalagi ia sekarang terkenal karena semua perbuatan jahatnya yang membuat dia harus diam-diam kabur dan menyelamatkan diri dari aparat kepolisian, yang sudah mendahuluinya terlebih dulu.
Hendra menaik-turunkan kedua alisnya sombong dan berbisik,
"Mau kemana, Manis?"
"HMMMMPH!!!"
Dimas yang menutup rapat serta menodongkan pistol tepat ke kepala Hendy Anas sedikit menahan ketawa, namun tidak dengan senyumannya. Ia yang tersenyum hebat, berbisik kejam ke telinga Hendy Anas, mengancamnya untuk tidak berbuat hal-hal yang bodoh.
"Ayok, turun yang elok-elok. Kalau macam-macam, saya kaaih DOR loh. Pfftt-!!"
"Ppffttt!!"
Hendra dan Dimas hampir lelah menahan ketawa, perlahan mengiringi Hendy Anas turun dari pesawat. Sembari berjalan, Hendy Anas yang berkeringat dingin sedikit bingung karena musik dari headphone masih bisa ia dengar, terpampang jelas di kedua telinganya.
Seraya panik, Hendy Anas mencoba memangut-mangutkan kepalanya, berusaha menenangkan diri sambil menikmati musiknya itu.
Dimas pun Heran melihat tingkahnya itu.
"He'eh masih aja ini orang sempet-sempetnya-!"
"Ck! Sudah Mas biarin aja."
Hendy Anas perlahan tersenyum sembari menutup kedua matanya, dan kini pundaknya bergoyang-goyang.
"Pal pale pal pale palee.. Kanan kiri kanan kiri.. Putar-putar jari.. Aselolet aselolet mamah muda.. Goyanganmu terlalu indah.. Kachow!"
Seraya mendengar Hendy Anas berusaha menghibur dirinya sendiri, Dimas nampak penasaran akan sesuatu. Ia pun berbisik ke telinga Hendra dan bertanya,
"Be-betewe.."
"Aish, kenapa lagi?"
"E-enggak, penasaran aja. Kok lirik musiknya begitu?"
"Ck! Kenapa lagi sih Mas!? Selera musik orang itu beda-beda! Wajarin aja coy!"
...----------------...
Brak!
"Pak! Tahanan eksperimen berhasil kabur dari pusat pak!"
Seorang karyawan menggebrak pintu kantor KOMJEN dengan keras. Sang KOMJEN dan asistennya Adamar, sedikit tersentak kaget.
"BEUH! KAGHET!"
"Nggak sopan kamu! Ketok dulu pintunya!"
Si karyawan hanya bernafas panik, lalu menunjuk-nunjuk ke arah TV.
"Haah... Haah.. Itu! TV! Siaran TV 3!"
Adamar yang sigap mengerti, langsung mengambil remot dan menyalakan TV. Sang KOMJEN pun segera ikut menyimak, dan sampailah mereka di Siaran TV 3.
B L I P !
"-paknya ada beberapa kelompok penjahat kembali menyerang fasilitas penting di pusat kota. Kali ini nampaknya Lapas Resmi Tahanan Pusat Balikpapan menjadi target sasaran berikutnya. Satu bom kecil diledakkan, membuat beberapa tahanan panik dan ingin kabur dari lapas. Kelompok penjahat ini sepertinya lagi-lagi berhasil kabur, selagi kembali mencari target selanjutnya. Dimohon agar warga kota berhati-hati, dan tetap waspada akan lingkungan sekitar. Jika terjadi hal-hal mencurigakan, atau-"
__ADS_1
B L I P !
T R A A K !
Adamar segera membanting remot TV ke lantai. Seraya si karyawan dan Sang KOMJEN memperhatikannya, Adamar meledak dengan amarahnya.
"SELESAI! SEMUA SELESAI! COBA LIHAT ANAK BAPAK! APALAGI YANG DIA MAU PERBUAT!?"
"Adamar, wes tenang dul-"
"BAGAIMANA SAYA MAHU TENANG BILA BUDAK KAU BERBUAT BURUK LAGI MACAM TU!? TAK DE SAYA BOLEH TENANGKAN DIRI KALAU MACAM NI!!"
"Aih, keluar lagi Melayu-nya."
"HUUURGHH!"
"Tenang dulu, Adamar. Saya wong ngerti maksudmu toh apa. Tapi saya sudah punya rencana."
"A-apa? Rencana?"
...----------------...
Jegrek!
Saya, Anastasia, dan Yoga kini berada di sebuah angkot. Kami kebetulan sedang menemukan angkot lewat dekat BSCC DOME, jadi kami bisa kabur lewat situ.
Untuk kabur dari lapas sendiri, kami menggunakan Yoga sebagai penghancur tembok paling atas lapas. Amankan diri dan berhasil mencari jalan keluar.
Brmmmmm!
Kami belok kiri menuju Living Plaza Balikpapan, dan kebetulan sang supir angkot sedang menuju Terminal Batu Ampar.
"Mas, ini tujuan ke arah bandara kah?"
"Oh, iya mas, kebetulan tujuan saya ini ke terminal, pas betul itu lewatin bandara!"
"Oh, yaudah pale kalau begitu, turunin kami di bandara bisa kan?!"
Saya kembali duduk di kursi tepat belakang supir, membelakangi jendela. Sedang Anastasia dan Yoga duduk di sampingku. Sembari Yoga tertidur, Anastasia duduk seraya melamun menatap jalanan.
Mungkin ini saat yang tepat untuk menghiburnya?
Pluk!
Saya menepuk pundak Anastasia dengan lembut, seraya menatap kedua matanya lembut.
"Sudah, ndak usah khawatir," hibur saya dengan nada bicara canggung.
Perlahan, Yoga menepuk pundak Anastasia, berusaha ikut menghiburnya dikala sedih.
...----------------...
Bandara Sepinggan
Kami sudah tiba di bandara, segera mencari Dimas serta Hendra yang pastinya sudah menangkap Hendy Anas yang hendak kabur, tak tahu diri.
Dap! Dap! Dap!
"Ki! Tunggu dulu! Rizky!" teriak Anastasia dari jauh, tertinggal olehku dan Yoga yang sudah hendak memasuki bandara.
"Yoga! Tunggu sebentar!"
"Ke-kenapa, bang?!"
"Aku mau ngomong sebentar sama calon istriku, kamu bisa tunggu di sini dulu, ndak?"
"O-oke!"
Anastasia pun berlari ke arah kami berdua, dan saya pun segera menghampirinya.
"Kenapa?"
"Kamu nangkap Hendy Anas!?"
"Iya, kenapa?"
"Ngapain kamu nangkap dia?! Apa gunanya dia!?"
"Haah, dia kan tunangan kamu? Kamu ndak senang kah?"
"Apa ini ada hubungannya sama surat kontrak kami berdua?!"
"Iya dong."
Lagi-lagi mata Anstasia menunjukkan emosi. Ia nampak tertekan dengan saya yang masih mencoba memutus hubungan dirinya dengan dunia politik.
Namun, sebenarnya saya hanya ingin Anastasia bisa bebas dari kurungan itu. Memegang hak begitu besar, yang seharusnya tak ia pegang.
Ini semua salah saya. Dari awal ini semua salah saya.
__ADS_1
Saya harus melakukan sesuatu. Karena lagi-lagi ini sudah kelewat batas, apa yang KOMJEN sialan itu mau perbuat sampai-sampai harus mengadakan seri eksperimen lagi? Dan tersebunyi?
"Anastasia."
"Apa?"
"Alasanku menangkap Hendy Anas bukan untuk menghancurkan surat kontrak kalian."
"Lalu?"
"Aku, ingin memperkuat surat kontrak itu."
"Apa? Maksudmu?"
"Aku ingin memperkuat ikatan kalian dengan posisi orang tua kalian. Kalau bisa, aku ingin kontrak kalian sangat sangat kuat sampai tidak bisa dilepas."
"Apa maksudmu!? Kau ingin aku dan Hendy Anas terus bertunangan!?"
"Tidak."
"Loh?! Tadi kata-"
"Pernikahan."
"... A-apa? APA?!"
"Aku ingin kalian berdua menikah."
"RIZKY BILLAR SAPUTRA!!"
"Coba kamu dengar aku dulu sampai habis, Anastasia!"
"....... Kalau begitu jelaskan."
Di lain sisi, Yoga masih menatap kami berdua dari jauh. Ia memperhatikan keadaan sekitar, dan berusaha untuk tidak tertarik. Sampai akhirnya Dimas dan Hendra berjalan keluar dan berpapasan dengannya.
"Loh?! Bang Dimas! Bang Hendra!"
"Beuh! Yoga udah datang kah!?"
"Yoga!"
Dap! Dap! Dap!
Yoga berlari menghampiri mereka bertiga.
"Kalian ndak papa kah?"
"Aman aja dek. Abangmu suruh ke sini. Penerbangan sepuluh menit lagi. Ini orangnya tadi udah anteng di pesawat, kasihan kami porotin begini."
Saya pun sudah melihat mereka, dan segera menghampiri mereka bersama Anastasia. Hendy Anas yang melihat Anastasia mendatanginya lagi-lagi tertegun. Ia pun segera melepas headsetnya dan mulai bertanya-tanya.
"Lah, Anastasia Aning? Ngapain kalian bawa nenek jablay itu ke sini?!"
"Bukannya urusanmu belum selesai dengannya?" jawab Hendra sigap.
"Haish."
...----------------...
Dap! Dap! Dap!
"Wah wah wah, lihat siapa ini," ujarku singkat.
"Apa maumu? Sampe bawa-bawa dia segala?" tanya sigap Hendy Anas menata saya tajam.
"Bukan apa-apa, saya cuma mau kamu hidup nyaman di Australia."
"Pfft. Terus?"
"Kami butuh sesuatu darimu. Sebagai gantinya, kami akan memberimu keselamatan absolut di Australia."
"Keselamatan Absolut? Nggak usah ngada-ngada. Keselamatan Absolut cuma bisa diberikan oleh seorang walikota atau orang yang berposisi di atasnya. Kamu mah apa? Senjata biologis bisa apa?"
"Betul, saya memang cuma senjata. Tapi yang menawarkan Keselamatan Absolut bukan saya, tapi papahnya si nenek jablay ini."
"Daus Aning?"
"Betul, kata beliau, anggap aja kayak permintaan maaf."
"Oke, kalau begitu, apa yang kau mau dariku?"
"Tanda tangan, dan cap tiga jari. Cap jempol juga boleh."
"Hah? Buat apa? Tanda tangan ijazah?"
"Matamu."
"Ya terus buat apa, sialan!?"
__ADS_1
"Surat nikah."
".......... A-apa?! Su-surat apa?! Surat nikah!?"