
Lapas Balikpapan.
JEGLEK!
Pintu sebuah sel bawah tanah terbuka. Perlahan, dua orang memasukinya, seraya satu orang membawa sebuah kursi plastik.
TRAK!
Kursi plastik itu diletakkan ditengah sel, lalu satu orang mendudukinya, sembari satu orang menyalakan lampu sel dari luar.
CETAK!
"Assalamualaikum," ujar satu orang yang tengah duduk, ternyata adalah Ilham dengan wajahnya yang kosong nan lesu.
Ia menatap kakaknya terpenjara di ruangan sedingin kutub utara, dengan kedua tangannya telah terpotong, kepalanya telah dipasung, dan puluhan rantai berkarat kini memenuhi tubuhnya.
Ambar tidak menjawab salam, namun hanya melirik ke arah adik kesayangannya tersebut, dan mengangguk.
"Kenapa ndak jawab?" tanya Ilham perlahan.
Ambar membuka mulutnya, dan memperlihatkannya kepada Ilham. Ilham mencoba memperhatikan mulut Ambar, dan melihat hal yang tidak ingin dirinya lihat.
Rebecca yang tidak sanggup melihat, hanya menggeleng tak kuasa, seraya mengusap air matanya.
"Lidahnya dipotong, Ham."
"Cih, sialan.."
Ilham mengusap wajahnya, seraya Rebecca terus menguras air matanya di luar. Ia menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya lalu berkata,
"Kayaknya ini memang ulah papahku, Ham."
"Papahmu menyiksa senjata buatannya sendiri?"
"Dia udah nggak percaya lagi sama bawahan-bawahannya. Kayaknya emang dari dua hari lalu, dia udah berencana mau membunuh semua sekutu yang membantunya naik ke jabatan walikota lima tahun lalu."
"Ayahmu mau menutup masa lalunya? Buat apa?"
"Kementerian."
"Ayahmu mengincar posisi di kementrian?"
"KOMJEN dan Papah sudah membuat kesepakatan. Mereka akan menggunakan senjata mematikan mereka lagi untuk merebut posisi apapun di Kementrian."
"Senjata mematikan. Apa mereka ada mengatakan sesuatu soal Pak Rizky dan Kakakku?"
"Menurut rekaman suara yang kutemukan di ruangan kerja papah, awalnya mereka hanya mencoba untuk menggunakan kakakmu dan salah satu temannya, namun siapa sangka Sang Joker tiba-tiba datang."
"Sang Joker? Maksudmu Pak Rizky?"
"Aku sudah mencari informasi apapun. Yang kutemukan sejauh ini hanyalah itu."
"Sepertinya memang Pak Rizky adalah seseorang yang luar biasa. Ayahmu dan KOMJEN saja sudah sangat takut dibuat beliau."
"Setahuku, Pak Rizky adalah salah satu orang terpenting yang menaikkan Papahku ke posisi walikota, namanya terus ada di dokumen penting Papahku."
JEGREK!
Mereka berdua pun terdiam untuk sesaat, hingga akhirnya kedua tangan Ambar muncul dan mulai melepas pasungan dari kepalanya secara tiba-tiba.
BRAK!
"Ka-Kakak!" ujar panik Ilham seraya membantu Kakaknya melepaskan diri dari semua kurungan dan ikatan rantainya tersebut.
Rambut panjang Ambar masih sedikit menutupi wajahnya, dan nampak Ambar menyarak rambutnya dan membiarkan nafasnya berhembus uap hangat di sel tahanannya yang sedingin es tersebut.
Ambar membuka mulutnya, dan menemukan lidahnya telah beregenerasi kembali.
"Sejak kapan kakak melepaskan diri?"
"Semenjak kamu tiba. Kerja bagus."
"Kakak kenapa tiba-tiba memihak Pak Rizky? Saya kira kakak-"
"Anggap saja kakak sudah rusak. Senjata negara bukan lagi profesi Kakak. Sekarang kakak hanyalah narapidana yang sudah kabur dari sel tahanannya," jawab Ambar santai seraya merapikan rambut dan bajunya.
"Kakak, maaf selama ini Ilham menutup mata. Ilham tidak mau percaya kalau kakak adalah senjata biologis."
__ADS_1
"Nggak perlu minta maaf. Sejujurnya kakak pun tidak mau percaya. Tapi apa boleh buat. Ayah sudah melemparku ke sekolah itu. Jadi jangan ditanya lagi."
"Kakak juga sudah lepas dari posisi tunangan Hendy Anas. Entah apa yang bisa kita lakukan untuk ke depannya," ujar Ilham cemas.
"Apanya. Justru aku senang. Dulu, aku hanya bertindak seperti boneka karena mengharapkan orang yang tidak bisa diharap. Mempercayai pria kolot itu hanyalah kelakuan idiot."
"........"
"Syukurlah, kak."
Pluk!
Ambar dan Ilham pun berpelukan, dan Rebecca segera mematikan lampu sel tahanan, meminta mereka berdua segera pergi dari lapas.
"Ayo, kita harus segera pergi dari sini."
"Ayo."
...----------------...
BRAK!
KOMJEN dan bawahannya, Si Adamar, kini sudah berada di lobi kantor walikota. Seraya berjalan, mereka merapikan baju mereka masing-masing, dan Adamar menunjukkan jalan ke atasannya dengan sopan.
"Lewat sini."
"Oh iya, haha. Mari."
Jeglek!
"Assalamualaikum, Pak Sakir," salam KOMJEN memasuki ruangan walikota seraya Adamar menahan pintu masuknya.
"Waalaikumsalaam silahkan masuk pak," jawab Pak Sakir Iswandono, walikota Balikpapan dengan ramah, menyambut bestie-nya itu.
"Adamar, tunggu di luar. Saya mau bicara empat mata."
Adamar pun segera keluar dan menjaga pintu, seraya Sang KOMJEN mulai duduk di depan walikota dengan senyum mencurigakan miliknya tersebut.
"Ada apa, pak? Kenapa tiba-tiba datang?"
"Walah, sekedar kah sekedar? Ada macam-macamnya ini pasti. Ya toh?"
"Wahaha!"
"Hahaha!"
Setelah mereka tertawa untuk sesaat, Sang KOMJEN pun tanpa basa-basi mulai bertanya-tanya.
"Saya datang kemari memang ingin memastikan sesuatu, mengenai proyek eksperimen Garuda Merah lima tahun lalu."
"Oh? Fad Seasta 22 ya?"
"Bapak sudah memusnahkan seluruh senjatanya?"
"Belum. Ada beberapa anak masih saya biarkan bebas."
"Kenapa?"
"Saya masih perlu membalas budi kepada mereka."
"Alaaah! Ngapain lagi balas budi! Sudah lima tahun masih pikirin balas budi! Apa toh pak? Rencana kita ke depan toh gimana?"
"Haah, bapak ndak ngerti ya? Kenapa saya bisa ada di sini selama ini? Ini karena mereka."
"Haah. Bapak ini udah mulai rusak juga atau apa?! Kenapa belum di-"
"Jaga ucapanmu, pak. Yang timang kamu sampai ke posisi ini itu siapa?" ujar walikota dingin, sembari mengerjakan seluruh dokumen penting kota hari ini.
"!!!!!!!"
Sang KOMJEN pun terdiam. Mendengar celotehan kawan dalam kejahatannya itu kembali mengocah-ngocehi dirinya lagi setelah sekian lama.
"Kamu toh cuma bisa merajuk, merengek, mengomel, meremehkan. Ada saatnya kamu paham kalau mereka itu tidak bis- ah. Bukan tidak bisa, tapi TIDAK BOLEH disentuh."
"Tidak boleh? Kok begitu pak?"
"Ya pokoknya tidak boleh, apalagi kalau anak itu ada."
__ADS_1
"Ah, yang namanya Rizky Rizky itu ya? Anak yang sukarela mendaftar jadi bahan eksperimen?"
"Nah, itu tahu. Kamu juga toh yang terima dia dengan senang hati. Gak sopan dong kalau main munsnah-musnahkan aja."
"Ya itu kan sudah lama toh pak? Kita juga pas itu sedang berjuang melawan komunis. Kita sudah melakukan hal yang benar toh pak? Ya jadi fungsinya mereka ini buat apalagi?"
"Ck-ck-ck, memang bapak KOMJEN kita yang satu ini sudsh buta akan keperimanusiaan ya."
"Loh? Pak Walikota? Memang mereka semua itu manusia kah?"
"Dulunya kan mereka manusia toh pak? Sampai kita rusakkan mereka semua? Apa rasa bersalahmu itu sudah hilang?"
"....... Haih."
"Pokoknya jalankan aja sesuai rencana. Sampai saya sudah siap, kamu bisa isi posisi di kementrian apa aja. Tetap kumpulkan uang dan orang aja. Suap siapa aja yang diperlukan dan bisa dipercaya."
"Baik, pak."
"Oh iya dan.."
"Iya, pak?"
"Soal Pak Aning. Itu bagaimana keadaan beliau sekarang ya? Apa anaknya sudah bisa pegang posisinya? Saya perlu beliau buat ngisi posisi saya secepatnya."
"Pak Aning? Ngisi posisi bapak? Buat apa?"
"Lah? Ya kalau bukan beliau siapa lagi coba? Kamu? Kamu sudah mau ngisi posisi di Kementrian kok posisi saya juga mau dirauk. Keparat juga kamu ya."
"Bukan gitu, pak. Saya mau nawarkan Adamar buat duduk di posisi bapak. Biar saya enak gerak-gerakin uang di kota ini sesuka hati. Mengawasi aliran dana pemerintah dan dana dari BUMN juga mudah lewat Adamar."
Mendengar sang KOMJEN sudah berani berbuat semaunya, sang walikota nampak sedikit kesal dengan perkataannya tersebut.
Tak bisa kembali dipungkiri. Keadaan di kota bukan lagi sebuah cabaran dan cibiran publik kritis dan masyarakat, keadaan kota memang sudah menjadi angin kentut yang baunya tak mampu dihindari politikus.
Curiga adalah kewajaran, berhati-hati hanyalah tingkah, keuntungan merupakan kunci utama.
Layangkan beberapa sumber uang, dari tambang, masyarakat, tempat umum, fasilitas resmi maupun perusahaan, seorang politikus selalu bisa mencari jalan tikusnya untuk meraup keuntungan.
Mau berapapun jumlahnya. Maupun jumlah persenan yang didesimalkan, ataupun angka dibawah sepuluh yang dibagi lima, angka tersebut jika ditelaah mampu memberi seorang politikus dua mobil Ferrari, kalau ndak perumahan lah, minimal.
Terlebih, ini Balikpapan coy.
Kota produktif, lalu perminyakan. Dimana-mana ada sumber uang, mau di pasar maupun di perusahaan, bahkan sekolah-sekolah.
Sumber korupsi pastinya tersebar luas. Banyak lubang uang yang bisa dikeruk lebih dalam.
Sang KOMJEN pasti tahu lebih baik daripada kita. Apalagi beliau selalu tahu sumber uang yang diprioritaskan yang mana, yang dihindari terlebih dulu yang mana.
Rakyat curiga? Beliau dicibir? Itu aja kah?
Dia yang punya aparat? Dia yang punya keamanan kota? Kenapa harus gemetaran?
Cibiran masyarakat hanyalah kentut di telinga beliau. Karena bukan lagi hal yang perlu ditakutkan. Semua lubang uang haram yang beliau temukan bukanlah lubang uang sembarangan.
Bisnis itu selalu diperluas coy. Selalu ada jalan tikus buat tikus yang selalu rakus. Barangkali uang gajian kalian yang ngakunya UMK, dipotong dua persen karena pajak, eh ternyata dua persennya dibelikan villa mewah. Cuma bisa pasrah, coy.
...----------------...
Saya apa kabar?
Sejujurnya, di sini lagi-lagi saya dibutakan perasaan.
Sebagai seorang senjata negara, dulu memang saya selalu dipuja-puja para koruptor yang menganut sistem politik komunis, dan alhamdulillah sampai sini bisa saya basmi semua.
Eh kalau yang bukan komunis bagaimana bang?
Ya itu bukan urusan saya lagi. Sebagai mantan senjata yang tidak dipake saya hanya bisa tersenyum manis di gudang senjata.
Diperintah itu tidak enak. Apalagi kalau atasanmu itu yang makan gajimu mentah-mentah. Dan perlu diingat, gaji saya dulu mentahannya itu lumayan loh. Mungkin Balcony bisa saya beli cash.
Itu tadi adalah pandangan saya sebagai senjata. Namun sebagai masyarakat? Gimana Ki?
Walah, sebenarnya saya bukan tipe Rizky Billar yang KDRT. Tapi kalau tipe Rizky KDPN (Kekerasan Dalam Politik Negara) mungkin saya bisa pikir-pikir.
Politikus, saya butuh calon uang haram yang masih halal punya kalian untuk biaya sekolah adek saya, eh sekalian buat dana pernikahan saya nanti. Uang kalian saya colek sedikit ndak papa ya.
Sebelumnya, saya harus berburu korban dulu. Uang siapa yang mau dicolek?
__ADS_1