Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
Tidak Bersalah


__ADS_3

UKS.


Bu Sinah melihat Yoga sedang tertidur. Sambil menyimpun kotak P3K, ia masih menyempatkan diri untuk memeriksa suhu tubuh Yoga.


Crak.


"Waduh, 38 derajat.. Astagfirullah, dia demam."


Krieeeeeet...


Dari luar, saya membuka pintu UKS pelan-pelan. Hendak membawa Yoga pulang dari sekolah.


"Permisi, Bu Sinah."


"Ah, Pak Rizky. Sudah mau pulang?"


"Iya, biar saya yang bawa anak itu."


Sruk.


Saya mengangkat tubuh Yoga yang tengah tertidur pulas. Bu Sinah di lain sisi, masih saja berwajah khawatir.


"....... hati-hati pak, Yoga lagi demam itu."


"Demam?"


"Iya, saya barusan cek suhu badannya ternyata panas nya naik. Jadi 38 derajat."


"Ah, baiklah kalau begitu. Makasih banyak ya bu."


...----------------...


Di depan gerbang.


Hendra sudah menunggu bersama mobilnya. Tak lama kemudian, saya pun datang dengan Yoga yang sudah tidur di kedua tangan saya.


"Ah, Rizky."


Hendra menghampiri kami, dan mendapati pipi Yoga yang sudah dijahit, masih dipenuhi darah. Hendra pun menatap Yoga cemas, lalu melirik masam ke arah saya ini.


"Jangan bilang kamu bawa dia ketemu Ambar?" tanya Hendra curiga.


Saya yang hendak menidurkan Yoga ke dalam mobil, hanya bisa menjawab Hendra sejujurnya. Karena mau seberapa jagonya saya berbohong, ia bisa saja tahu.


"Ndak sengaja, Hen."


"Haaah.. maksudmu ndak sengaja?"


"Awalnya aku cuma mau bawa dia ketemu Bu Ther, taunya Ambar sudah duluan jadiin beliau sandera."


"Haaah..."


Hendra mengusap wajahnya kecewa. Saya pun hanya bisa menerima keadaan, dan akan memperhatikan Yoga lebih baik lagi, biar kejadian kayak gini ndak akan terulang lagi.


Saya juga harus meluruskan masalah tentang pisau kecil itu.


"Ah, Hendra. Aku juga mau kasih kabar soal pisau itu."


"Hm? Kenapa?"


"Sebelumnya aku mau tanya. Apa kamu kasih pisaumu ke Ambar?"


"..... kenapa?"


"Hah, siapa yang sangka pisau yang kubuat akan menyakiti keluargaku sendiri."


"Tunggu, Ambar nyakitin Yoga pakai pisauku?"


"Iya. Bahkan ia tak ragu-ragu melemparnya sekencang itu. Sebaiknya kamu ambil lagi dari dia. Berbahaya untuk semua orang."


"Haaah.... astaga."


"Baiknya kita omongkan soal itu nanti. Aku mau antar Yoga pulang dulu. Nanti aku balikin mobilmu."


"Yasudah pale, hati-hati."


...***...


Di rumah.


Yoga terbangun dari tidurnya, dan sekarang sudah jam 2 pagi. Ia hanya menatap plafon kamarnya, lalu mengangkat tubuhnya ke posisi duduk.


"Uhk..."

__ADS_1


Ia mulai merasa nyeri tidak sedap menyelami pipi kanannya. Ia mencoba menoleh ke arah cermin, dan menemukan 7 jahitan menempel di pipinya.


"Buset, tujuh?"


Krieeeeet..


"Yoga?"


"Ah, abang!"


"Kek mana? Masih sakit kah, jahitannya? Badanmu masih ada kah, yang lemas?"


Saya sigap menempelkan tangan saya ke dahi Yoga. Saya menatap pipi Yoga cemas, dan memulai menjelaskan padanya tentang hubungan saya dengan Ambar.


"..... maafin abang."


"Hm?"


"Seharusnya abang yang masuk ke ruang kepsek lebih dulu."


"... bu-bukan salah abang, kok. Justru seharusnya Yoga lebih berhati-hati."


"........."


Saya pun kembali berdiri dan mengambilkan segelas air putih dari atas meja. Sedangkan mamak diluar nampak memasakkan Yoga bubur nasi.


Klang!


Mendengar suara mamak memasak, saya lagi-lagi termenung, dan memikirkan hasil tindakan saya hari ini.


Sebenarnya saya tidak mau Yoga terlibat hal-hal yang seharusnya tidak ia libati karena semua hal yang terikat dengan saya akan sangat berbahaya untuknya. Termasuk masa lalu saya dan orang tua saya. Apalagi dirinya adalah harapan besar keluarga kami.


Dirinya tidak bersalah. Semua hal yang terjadi selama ini, ia tidak pernah ikut campur tangan dalam hal apapun. Meskipun begitu, apakah terlahir di keluarga kami adalah salah satu alasan mengapa dirinya juga akan terkena imbasnya?


Meskipun saya tidak ingin membiarkannya jatuh bersama kami, namun saya percaya. Yoga masih punya masa depan yang luas. Meskipun ia tidak bersalah, bukan berarti ia tidak boleh tahu semua hal buruk yang keluarga kecilnya perbuat.


Saya pun akhirnya memutuskan tidak ingin menyembuyikan apa-apa lagi dari Yoga.


"Yang melempar pisau itu adalah Bu Ambar."


"Hah, siapa? Bu Ambar?"


"Kamu kenal?"


"Kamu tahu?"


"Si kunti OSIS yang kasih tahu."


"Kamu beli informasi dari Rebecca juga?"


"Ndak, dia kasih cuma-cuma."


...----------------...


Saya pun duduk di ranjang, dan menepuk pundak kanannya sekali. Yoga pun membalas tatapanku dengan ekspresi bingung.


"Ambar sepertinya ndak suka kamu menang kontes yang abang adakan kemarin," ujar saya serius, sekaligus memperingati Yoga akan bahaya apapun yang bisa saja datang.


"Ah, Yoga sudah tahu," jawabnya kecewa sembari menunduk.


"Keluarga Perwira dan keluarga kita tidak punya hubungan yang baik dari dulu. Jadi karena itu berhati-hatilah."


"Abang suruh hati-hati, tapi malah kasih Yoga saran buat masuk ke perkumpulannya si bontor itu?"


"Berhati-hati bukan berarti menjauh. Justru terkadang, tetap dekat dengan musuh adalah siasat terbaik yang bisa seorang pejuang lakukan untuk terus mendapatkan informasi."


"....... tapi Ilham dan Rebecca sudah tahu abang siapa. Apa ndak makin bahaya?"


"Kamu masih sekolah, Yoga. Mereka tidak akan melakukan hal apapun yang berbahaya untukmu."


"....... tapi ndak buat abang, kan? Mereka setiap hari pasti bakal ngintai abang. Apalagi abang dulunya senjata yang orang tua mereka pakai buat mempertahankan kuasa mereka di pemerintahan negara. Apapun tidakan abang yang bikin mereka curiga, abang pasti bisa dipecat kapan aja. Kalau perlu, abang pun juga bisa mereka sakiti kapan aja."


"Kalau dipecat ndak masalah, yang masalah itu kalau kamu juga kena imbasnya."


"....... kalau itu Yoga sendiri ndak masalah. Toh abang keluarga Yoga. Mas-"


"Ndak boleh."


"....... apa?"


"Kamu ndak boleh kena imbasnya. Titik."


"Kok begitu?"

__ADS_1


"Kamu masa depan cerah buat keluarga kita. Kamu ndak bisa ikut campur dalam urusannya abang. Tetaplah bergerak aman."


"Tapi abang suruh-"


"Kamu masuk atau ndak mau masuk OSIS itu urusanmu. Abang ndak punya hak buat larang atau maksa kamu bikin keputusan. Abang cuma minta kamu buat berhati-hati dalam bertingkah."


"....... i-iya sudah pale, kalau begitu."


Crak.


Obat yang ada di kresek saya baca semua terlebih dulu. Setelah saya yakin obat-obat tersebut aman, obat pereda nyeri pun saya buka. Saya mengendusnya sebentar, mencoba waspada akan obat palsu yang bisa saja membahayakan adik saya.


"Ngapain sampe dicium segala?"


"Cuma mau mastiin. Bu Sinah bisa aja kasih kamu obat yang salah."


"Ndak mungkinlah Bu Sinah ngasih Yoga obat aneh-aneh."


"Abang ndak tahu Bu Sinah siapa, jadinya harus tetap waspada."


"... pfft! Aih terserah kamu lah bang!"


...----------------...


Krieeeeeet..


"Yoga, Rizky. Buburnya udah jadi. Ayo ke dapur makan dulu."


"Ah, iya mak."


Kami pun makan bubur nasi di dapur, bersama mamak yang ikut membaca obat-obat Yoga. Ada beberapa obat ia singkirkan, dan ada beberapa obat yang ia geser ke arah Yoga.


"Pereda nyeri jangan ditelan banyak-banyak. Sekali aja cukup," ujar mamak ringan, sembari meletakkan obat oereda nyeri ke dalam kotak P3K di dekat kulkas.


"Hm? Kenapa memangnya mak?" tanya Yoga bingung.


"...... ndak papa. Makan paracetamol sama obat pelancar darahnya aja," jawab mamak singkat.


"...... oke deh."


Mamak pun bangun dari duduknya, dan hendak meninggalkan kami untuk pergi tidur.


"Mamak mau tidur. Kalau ada apa-apa bangunin aja."


"Iya mak," jawab kami berdua sigap.


...----------------...


Besoknya, di rumah Anastasia.


BRAK!


Anastasia membanting pintu kamarnya dengan keras. Ibunya pun mengikuti langkahnya dari belakang. Dengan wajah yang sudah dibasahi air mata, Anastasia berekspresi kecewa dengan tingkah ayahnya tempo hari lalu.


"Ana! Ana!"


"Ana mau sendiri!"


"Ana! Dengerin ibu dul-"


"JANGAN GANGGU ANA!"


BRAK!


Anastasia kali ini membanting pintu kamarnya, dan memutuskan untuk segera naik keatas ranjang, lalu menenggelamkan suaranya di dalam bantal.


Tak lama kemudian, ia pun sudah terbaring lelah di ranjangnya.


"....... percuma. Semuanya sudah ketahuan," bisiknya pasrah.


Namun, tiba-tiba saja jendela kamar Anastasia terbuka. Seorang laki-laki duduk manis, mengajak Anastasia pergi ke suatu tempat.


Jeglek!


"Kenapa? Habis slekan lagi, sama papahmu?"


"...... nggak bisa datang lewat pintu depan kah? Leo?"


"Hehe. Kurang greget dong, mba!"


"......"


"Jadi? Ikut apa mager nih?"

__ADS_1


"....... yuk."


__ADS_2