
VIP Estat D' Meat Balikpapan
Terlihat dua orang bapak-bapak tengah berada di tengah makan malam yang cukup mewah. Salah satu bapak-bapak tersebut bertubuh buncit, yang satunya sama aja, cuma lebih putih.
Tinut!
Tak lama kemudian, HP salah satu pria itu berbunyi kencang. Salah satu bapak membuka HP-nya, dan membaca isi pesan yang masuk.
Klang!
Sendok ia letakkan di piringnya. Ia pun menghela nafas sebentar. Temannya yng melihat, mencoba bertanya apa yang terjadi.
"....... Anakmu telpon?"
"Hmm.... Nggak, pak. Cuma pesan aja."
"Kayaknya gagal lagi tuh."
"Iya. Sebentar ya pak."
Sang bapak pun sedikit menjauhkan layar HP dari kedua matanya yang sudah rabun. Ia mencoba membaca pesan yang anaknya kirim.
"Hahaha.. Entah apa alasannya gagal kali ini," ujar temannya remeh.
"Nggak sih, pak."
"Hm? Maksudnya?"
Klak!
Sang bapak pun mematikan HP-nya, lalu meletakkannya di meja. Tak lama kemudian, ia menjawab pertanyaan kawannya.
"............. Sepertinya anak itu berhasil."
"Hm? Berhasil? Anakmu? Tumben?"
"Saya tahu, memang sulit dipercaya."
"Bhahahahaha! Ayolah pak. Jangan begitu. Setidaknya senyum sedikit dong!"
"Haah... Semoga saja tidak akan datang masalah lagi."
Tak lama kemudian, salah satu bapak tersebut meminum air putihnya. Ia pun mendorong piringnya ke depan, pertanda ia telah selesai bersantap.
"Tapi sepertinya kita akan terkena sedikit masalah lagi."
"Hm?"
"Sepertinya benda itu kembali ke sini."
"Hm? Benda? Maksud bapak?"
"Ayolah. Bukannya bapak yang paling tahu soal benda itu?"
"Ah, maksud bapak Si Rizky Billar itu?"
"Nah, itu tahu."
"Haah, benda itu ya."
"Sebaiknya cepat bapak bereskan dia. Racuni atau kirim orang aja. Gak usah pakai cara yang terlalu lebay. Bisa-bisa dia yang duluan ngacaukan kita. Ya toh?"
"..... Benar, makhluk itu bisa meledak kapan saja. Sebaiknya memang saya harus cepat bertindak. Entah apa tujuannya kali ini, saya harus tetap tajam di segala situasi."
"Tapi, sepertinya Si Rizky Billar ini gak bisa mati gampang loh, pak. Dibakar atau dikasih air keras aja gak mati-mati."
"Mungkin, dibekuin bisa kali ya pak?"
"Wah kalau itu saya belum pernah nyoba. Haha."
JEGLEK!
"Permisi, saya ingin memberi laporan."
Seorang penjaga memasuki ruangan, dan berbisik ke salah satu bapak-bapak tersebut. Tak lama kemudian, bapak yang dibisiki pun kembali menghela nafas kecewa.
"Ada apa? Kenapa tiba-tib-?"
"Ah. Baiklah. Saya mengerti. Keluarlah."
"Baik, saya permisi."
JEGLEK.
"Ada apa?"
"Haah, anakmu. Sepertinya ia berencana mau membunuh anakku."
"...... Hah?"
"Habisnya, tempat kedua kayaknya memang berat buatnya."
"Yowes lah, saya bereskan aja gimana?"
"Loh? Kan anakmu?"
__ADS_1
"Bhhahah! Sampeyan bilang mesin pembunuh kayak gitu anak saya?"
"...... Hmm. Terserah bapak aja. Saya cuma mau putra idiot saya gak mati dulu untuk sekarang."
"Yowes."
TOK! TOK! TOK!
Pintu tiba-tiba berbunyi, lalu terdengar suara Hendy Anas dari luar.
"Papi, ini saya."
"Nah, itu anakmu sudah sampai," ujar KOMJEN santai.
"Masuklah."
JEGLEK!
Beberapa saat kemudian, Hendy Anas pun memasuki ruangan. Dengan sebuah file berisi kertas tunangan kontrak miliknya yang sudah dibubuhi cap jari Anastasia di atasnya.
Sang Papi membuka file itu, dan memeriksa isinya. Tak lama kemudian, ia tersenyum manis.
"Wah, tumben kamu pintar."
"Jadi, saya sudah boleh berangkat?"
"Iya, berangkatlah besok."
".... Terima kasih."
"Tapi sebelum itu..."
"Ada lagi yang papi butuhin?"
"Ah.. Sebentar."
Sang Papi mengeluarkan foto saya yang sedang duduk di bis kota tempo hari lalu. Ia pun menaruhnya di meja, dan menghadapkannya ke wajah Hendy Anas.
Hendy Anas melihat wajah saya yang sangat tampan di foto itu, seketika mengerutkan dahinya.
"Kenapa foto ini?"
"Kamu..... sudah bisa beresin orang, belum?"
D E G !
"..... Be-beresin...? Maksudnya pi?"
"Maksud papi kamu sudah bisa bunuh orang belum?"
Hendy Anas kembali bungkam untuk beberapa saat. Meskipun ragu, ia tetap mau papinya melanjutkan kaimatnya. Ia pun mengangkat foto saya yang sangat ganteng itu, dan memperhatikannya.
"Kamu bisa?"
"Bisa."
"Oke, kalau gitu kamu beresin orang itu bisa nggak?"
"..... yang papi kasih lihat ke saya ini bukan orang."
"Ah, benar juga. Kalau begitu papi ulang pertanyaannya."
".......... Baik."
"Kamu sudah bisa bunuh monster, belum?"
".........."
Hendy Anas kembali senyap untuk sesaat. Pelan-pelan, ia melirik ke arah bunga dalam vas di ujung meja yang tengah layu. Setelah dua detik, ia pun mengedipkan matanya dan sigap menjawab papinya.
"...... Sepertinya saya masih ragu, tapi saya bisa coba kalau papi mau."
"Wah, kalau bersemangat gini, gimana papi naikkan prizepool-nya? Kalau kamu bisa bunuh makhluk menjijikan ini, papi izinin kamu tinggal di Aussie selamanya. Bagaimana?"
DEG!
".... Sela-.... manya?"
"Ya."
".......... Sa-saya akan berusaha yang terbaik."
"Bagus. Bawa aja fotonya."
"Tidak, pi. Makasih. Ingatan aja sudah cukup."
"Hhahahahaha!"
...***...
Esoknya, di Rumah Sakit Restu Ibu, Balikpapan
"Anastasia, jangan banyak gerak dulu, ya."
"Ah, i-iya."
__ADS_1
Saya masih berada di rumah sakit. Merawat teman-teman saya tentu saja. Semenjak kerusuhan di hotel terjadi, keviralan pasti datang menjemput berita.
Namun, untung saja saat itu tidak ada orang yang sempat merekam wajah kami, khususnya Anastasia. Akan bahaya kalau orang-orang tahu wajah putri dari pemegang saham perusahaan tenaga terbesar di Indonesia, kini tengah terancam mati.
"Viral, sebuah hotel di Balikpapan, Kalimantan Timur tiba-tiba rusuh karena adanya serangan pemberontak. Dikabarkan bahwa satu orang telah meninggal dunia dikarenakan luka tembak yang berasal dari senapan angin..."
Anastasia yang menonton televisi, sigap berwajah khawatir.
"..... Langsung viral, tapi kenapa beritanya melenceng begini ya? Jelas-jelas yang dipakai pistol api," ujarnya cemas lalu menghela nafasnya.
Saya yang sibuk mengupaskannya apel, mencoba menghibur dirinya.
"... Dan kabarnya kerusuhan terjadi karena putri dari pemilik perusahaan Sanford, Daus Aning kini tengah diculik dan hilang jejak, dari hotel tersebut."
"Ah, berita soal aku nggak ditutup," bisik Anastasia kecewa.
"..... Kemungkinan besar papahmu yang biarin sebagian beritanya dapat informasi kalau semuanya terjadi gara-gara kamu diculik."
Anastasia melirik ke arah saya. Ia mengedipkan matanya dua kali dan bertanya,
"..... Teman-temanmu gimana?"
Saya meletakkan beberapa iris Apel di mejanya.
"Ah, mereka nggak usah dipikirin. Ini Apelnya, dimakan."
Graaak!
Hendra datang membawa beberapa buah-buahan dan dokumen dari perpustakaan kota. Dimas datang bersamanya, dengan perban di sekujur tubuhnya.
"Selamat siang. Ini saya bawa buah-buahan," sapa Hendra lemah lembut kepada Anastasia.
"Astaga. Kalian masih sakit tapi sudah bisa keluyuran kemana-mana."
"Ah jangan risau, mba. No problem!"
"Wah, beneran gak pulang-pulang, mba?" tanya Dimas berjalan di belakang Hendra.
"Apa ini, saya ndak ditanya?"
BRAK!
Hendra nampak kesal, dan membanting dokumen itu ke meja, menghadap ke arah saya dengan wajah kesalnya.
"Alah kamu itu. Pengen ditanya orang padahal kamunya ndak pernah mau nanya orang."
"Memang, ndak tau diri!"
Saya pun duduk di kursi, dan mengambil dokumen itu dengan wajah yang masam.
".... Kalian kurang ajar, tapi ada benarnya juga."
Anastasia tertawa melihat kami, namun seketika wajah bahagia itu hilang. Tidak lain karena ia mengingat Ayah dan Ibunya di rumah. Ia khawatir kalau saja ada yang akan terjadi jika ia membangkang seperti ini.
Namun, karena ia telah terlanjur menandatangani dokumen tersebut, rasanya ia tidak punya pilihan lian selain melarikan diri.
"Entah apa rencana wanita itu, rasanya saya masih khawatir. Saya rasanya ingin kembali ke rumah," ujar cemas Anastasia keluar dari mulutnya.
Kami sekejap menoleh ke arahnya, lalu menunduk. Penculikan tiba-tiba yang sudah Hendy rencanakan juga tidak bisa kami prediksi kapan datangnya. Pencegahan juga tidak bisa dilakukan karena Ayah Anastasia sendiri juga mengizinkan Hendy untuk berbuat seenaknya.
Tidak ada jalur pencegahan atau pelarian. Sedari awal, penculikan ini memang tidak bisa dihindari.
"..... Mau sejauh apa berpikir, semuanya memang sudah ada di luar kendalimu. Kamu nggak bisa ngapa-ngapain," balas saya menenangkan dirinya.
"Iya, mba. Lagipula, melarikan diri juga salah satu cara untuk melindungi diri mba dari bahaya lain yang mungkin datang kapan aja. Ini sudah jadi pencegahan yang baik," lanjut Dimas.
Anastasia pun mengkernyit. Wajahnya memasam, dan perasaan resah kembali menghantui pikirannya.
Selain dirinya sudah jatuh terperangkap ke tangan Hendy Anas, dirinya kini sudah tidak punya tempat atau tujuan untuk mengadu. Termasuk keluarganya sendiri.
Sekarang, hidupnya bergantung kepada dirinya sendiri dan keputusannya sendiri.
"Mamah.. Mamah bakalan gimana? Pasti papah kira mamah yang bolehin aku kabur terus nggak balik-balik."
"Jangan cemas, dia pasti nggak kenapa-kenapa. Nanti saya coba tanyakan Asep kabar mamahmu gimana."
Anastasia menghela nafasnya dengan raut wajah cemas.
"Ah, ngomong-ngomong, sepertinya papahmu tau kamu ada di sini. Karena itu sepertinya kamu harus segera keluar dari sini. Kita cari penginapan tersembunyi," ujar Hendra memberi saran.
"Apa? Cari penginapan? Mau bunuh diri apa? Jelas-jelas identitasnya pasti ketahuan publik kalau dia di penginapan, bego!" ejek Dimas.
"Terus mau kemana?! Ada ide lain?!" teriak Hendra kesal.
JEGLEK!
"Di rumah kita aja gimana, bang?!"
"Eh?"
"Hm? Siapa?"
Kami semua segera menoleh ke arah pintu, di mana suara itu berasal. Dengan segera, senyum di wajah Hendra dan Anastasia pun terbit setinggi-tingginya.
"YOGA!" teriak mereka berdua.
__ADS_1
Yoga pun tersenyum percaya diri, dan medongakkan wajahnya sok keren.
"Kangen Yoga ndak, bang?"