Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
Pemuda Berapi


__ADS_3

30 menit yang lalu.


Nampak Yoga sudah berada di luar berniat membuat keributan. Namun, ia kebingungan bagaimana caranya ia membuat keributan.


"Ah! Gimana kalau pake penjaga aja! Hufft!"


DAP! DAP! DAP! DAP! DAP!


"Mana penjaganya ini coy!!"


Yoga berlari mencari penjaga lapas yang berpatroli. Tak lama kemudian, ia pun menemukan dua orang penjaga yang tengah berjalan di koridor lapas.


"AIH ITU MEREKA!!"


DAP! DAP! DAP! DAP!


"HAH! HAH! HAH! BISMILLAH!!"


...----------------...


Salah satu penjaga nampak mengunyah roti. Ia hendak membagikan rotinya ke temannya dengan santai, sebagai seorang teman yang baik, tentu saja.


"Nih, makan."


"Wah thanks."


"Sama-sama. Betewe, mas tau nggak?"


"Nggak, apaan emang? Nyam~"


"Gini, semalam kan aku boker. Inget gak?"


"Hah inget tuh, kenapa emang? Nyam~"


"Aku di WC tuh sempat ada teriak, ingat gak?"


"Ha ingat-ingat. Kenapa emang? Nyam~"


"Aku tuh kaget tau. Coba tebak kaget gara-gara apa?"


"Nggak tau tuh. Gara-gara apa emang? Nyam~"


"Aku tuh, kaget gara-gara eek-ku mirip eek kambi-"


B R A A A A K K ! !


"WOOOOOOOYYYYYY!"


Kedua penjaga yang tenang dan santai berbincang, dibuat syok karena Yoga dengan sengaja melompat ke salah satu dari mereka tiba-tiba memeluk dan menggigit kepala penjaga tersebut.


KRAUK!


"HAAARGHHK! APA-APAAN!?!?"


"WARGH!? NGAPAIN KAMU, DEK!?"


"ALLAHU AKBAR!! KENAPA ADA ANAK SMA DI LAPAS COK?!"


"GAK TAHU MAS!!!"


"AAARGHHKKK SAKIT SAKIT SAKIT COK!"


"HADUH! MANA MASIH MAKE SERAGAM LAGI!!"


"HAAARGHHHH LEPASIN LEPASIN LEPASIN!! ADUH ADUH ADUH!!"


"ADUHH ANAK SMA INI KAYAKNYA KANIBAL COK!! MAKAN ORANG!!!"


"HAAAAAARGHHHH NGAPAIN KEEEEK SAIPUUUUULL!!!!"


"UUUUUGHHKKKK LEPASIN DEK!! ADEEEK!!"


Yoga masih menggigit kepala salah satu penjaga itu dengan sekuat yang ia bisa. Sembari salah satu penjaga mencoba menariknya dari temannya, Yoga masih bersikukuh tidak mau melepaskan gigitannya begitu saja.


"AAARGGKK! KEPALAKU!! ADUH! ADUHH! MAMAAAAAAK!!"


"LEPASIN DEEEK! ADEEEK!! MAU MASUK LAPAS BUKAN GINI CARANYA DEEEK!!"


Tak lama kemudian, tarikan penjaga itu pun semakin kuat menarik tubuh Yoga. Yoga yang mulai merasakan momentum, terus menunggu sampai tarikan penjaga itu semakin kuat, hingga mampu menghantamnya ke dinding yang jauh.


"AAAAAAAAAAARGGGHHHGGGGGKKKKK!!!!!! TOLOOOOONGGGG!!!"


"UUAGHHHHHH LEPAAAAASSSSSS!!!"


Sesaat, Yoga pun akhirnya merasakan momentum yang tepat untuk melepas gigitannya. Ia pun membuka mulutnya, dan melepaskan tangan dan kakinya dari tubuh penjaga yang menjadi korbannya tersebut.


"Sekarang!"


SRAAAAAAAAAT!! BAATSSS!!!


"HAAARGH!! AKHIRNYA LEPAS MAS!!"


Yoga pun melayang menuju dinding ujung koridor, dan ia menutup matanya erat-erat. Mempersiapkan diri untuk meledak.


"BISMILLAHI ALLAHU AKBAAR!!"


Sesaat tubuh Yoga akhirnya menyentuh dinding, ledakan besar pun terjadi.


D U A A A A A A A A R R R R R ! ! ! ! ! !


Kedua penjaga tersebut tentu saja terlempar jauh karena gelombang syok yang menghantam mereka. Tak lupa seluruh penghuni lapas nampaknya telah terbangun, terkejut dengan ledakan yang terjadi.


"WAAAAARGGGHKKK!!"


Nampak lapas bergetar dengan kuat. Beberapa saat, dinding koridor hancur berkeping-keping akibat ulah Yoga tersebut. Tak lama kemudian, alarm darurat pun berdering kencang, membuat beberapa penjaga lain yang berpatroli harus berlari mengawasi seluruh tahanan.

__ADS_1


Yoga yang kini tertimbun di bawah bongkahan batu dinding koridor, mencoba merangkak untuk kabur. Namun, karena beberapa penjaga lain yang panik datang menghampiri lokasi ledakan, ia tidak bisa sembarangan keluar.


"Apa ini!? Ada yang coba kabur!?"


"Apanya pak?! Kalau ada orang kabur kenapa bomnya di taruh di dinding begini!?"


DAP! DAP! DAP! DAP!


Sembari kedua penjaga itu mengawasi area ledakan, segerombolan dokter eksperimen nampak berlari panik dari pusat eksperimen lapas.


"Kalian ngapain!? Kabur!! Nanti ada ledakan lagi gimana!? Mau mati kalian!?"


"Loh!? Kalau kami pergi yang menjaga tahanan siap-"


"PEDULI AMAT SAMA TAHANAN!! TINGGALIN AJA!!"


"Alamak!"


"Ayo pak!"


Dap! Dap! Dap! Dap! Dap!


Kedua penjaga itu akhirnya ikut kabur bersama segerombolan dokter eksperimen tersebut. Membuat Yoga akhirnya bisa keluar dengan aman.


Tak lama keluar, Yoga langsung sigap berlari kembali ke pusat eksperimen, hendak ingin menyelamatkan abangnya.


Dap! Dap! Dap!


"Hah! Hah! Hah! Hah! A-Abang!! Hah! Hah!"


Tak lama Yoga sampai ke pusat eksperimen, ia hendak ingin membuka pintu. Namun, sedetik ia merasakan sesuatu di pikirannya. Entah mengapa tangan kanannya menolak untuk membuka pintu.


Yoga nampak bingung, lalu mencoba mengintip ke dalam ruangan.


Kedua mata Yoga terbelalak melihatku dan Rizky berpelukan.


Ia hanya terbelalak sekejap, lalu dengan perlahan mundur menjauh dari pintu. Ia dengan terengah-engah duduk di samping pintu, mencoba beristirahat, menarik nafasnya tenang.


Ia menatap tangan kanannya yang masih gemetaran, dan tersenyum manis. Ia pun berbisik,


"Thanks, hampir aja saya merusak suasana."


Tak lama kemudian dari ujung koridor menuju pusat eksperimen lapas, nampak KOMJEN beserta kru kesayangannya hendak pergi mengevakuasi diri.


Yoga yang menatap mereka dengan tatapan lelah, kembali merasakan emosi yang besar.


"Haah.. Haah.. Haah.. Manusia kurang ajar," bisik Yoga kesal, karena masih marah akibat ulah pria tua itu hendak berulah lagi dengan abangnya.


Namun, untuk sesaat Yoga sadar, ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan pria tulen tidak tahu diri tersebut. Jadi Yoga hanya memalingkan pandangannya ke arah plafon dengan kelelahan.


Tak lama kemudian, suara lift lapas dari jauh terbuka.


Jegreesss!!!


Yoga menoleh dari jauh, dan menemukan dua orang keluar dari dalam lift tersebut.


Kedua orang tersebut nampak singgah menghampiri Yoga yang tengah kelelahan, lalu menyapanya dengan heran.


"Loh? Yoga!?"


"Yoga Saputra?!"


Yoga yang pandangannya masih buram, mencoba mengedipkan kedua matanya dengan cepat untuk menjernihkan pandangan. Ia menemukan kedua teman sekolahnya di lapas tersebut, Rebecca dan Ilham.


"Aih? Kalian berdua kenapa selalu aja barengan kemana-mana hah? Pacaran kah kalian?!"


Ilham menatap Yoga malas dan menjawab,


"Bukan urusanmu."


Rebecca yang terkejut segera mendekati Yoga dan menyentuh luka di wajah Yoga dengan perlahan.


"Kamu kenapa berdarah-darah ginii, Yoga?!"


Yoga yang mulai merasa tidak nyaman segera menepis tangan Rebecca dari wajahnya. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya lalu menjawab,


"Bukan urusanmu."


"Ah.. So-sorry," ujar Rebecca maaf, lalu berdiri menjauh dari Yoga.


"Yoga Saputra. Kau mau membawa kabur tahanan!?"


"Ya kali, Ham! Dia jelas-jelas korban ledakannya!"


"Apa yang kau tahu, Rebecca?"


"Coba kamu pikirin dulu, kalau dia mau bawa kabur tahanan, ngapain dia make seragam sekolahnya!?"


Yoga yang masih kelelahan, nampak memaksa dirinya untuk ikut berdiri. Ia berjalan mendekati Ilham dan menatap kedua mata Ilham dengan emosi yang berapi-api.


"Kau. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Harusnya aku yang bertanya."


"Heh. Apa seseorang yang penting bagimu ada di sini? Kayak pria tua brengsek yang kabur barusan?"


"Siapa maksudmu pria tua brengsek!?"


Yoga pun semakin mendekatkan wajahnya dengan emosi. Ia berbisik ke arah Ilham dengan darah yang masih mengucur dari kepalanya dengan percaya diri.


"Entah apa benar KOMJEN sialan itu lagi-lagi berencana menghancurkan negara, atau mencari kekuatan dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, yang jelas aku akan menyiksanya dengan kedua tanganku sendiri."


"KOMJEN?"


"Setelah seenaknya ia menangkap kakakku dan berencana kembali melakukan eksperimen menurutmu aku tidak marah?"

__ADS_1


"A-apa!? Eksperimen?!"


"I-Ilham! Kamu tahu soal ini!?"


"..........."


Ilham sejenak terdiam, ia merenungkan beberapa hal, hingga akhirnya ia kembali menoleh dan menatap Yoga dengan tatapan kaget.


"Ja-jangan-jangan Pak Rizky adalah target KOMJEN selama ini!?" teriak Ilham syok menoleh ke arah Rebecca yang ikut terkejut.


"Hah!? A-apa!?"


...----------------...


BRAK!!


Sedetik kemudian, Rizky dan aku keluar dari ruang pusat eksperimen lapas, menghampiri mereka bertiga yang lagi-lagi terkejut.


"Hayoloh, gosipin orang itu gak baik, loh."


"A-Abang!!"


"Pa-Pak Rizky!?!"


"Hiyyy! Pak Rizky-nya nongol!"


Jegrek!


Aku dari belakang Rizky tanpa ragu segera menghampiri Yoga yang nampak kesakitan dan kelelahan.


"Yoga! Kamu nggak papa?!"


"Mba Ana! Ah Yo-Yoga udah gapapa kok, mba."


Rebecca dan Ilham yang melihat wajahku pun segera terkejut setengah mati.


"A-Anastasia Aning!?"


"Hiyyyy kenapa ada Anastasia Aning di sini!?"


Aku yang masih kebingungan dengan situasi ini, hanya bisa kembali menyapa mereka berdua dengan ramah.


"Ah halo. Temen-temennya Yoga ya?"


"Ha-Ham, bukannya di berita.."


"I-iya?"


"Bukannya di berita tadi bilang Anda harusnya sudah mati!?"


"A-APA?!"


B R A A A A K K K ! !


Sesaat Rebecca mengatakan kalimat itu, Yoga dengan emosinya yang kembali memuncak segera mendatangi Rebecca dengan emosi. Aku pun segera menahannya mundur, begitupun juga Rizky.


"APA KAU BILANG!?"


"Yo-Yoga! Yoga!"


"Wow wow wow, tenang dulu wahai anak muda."


"KAU PIKIR MBA ANA SELEMAH ITU!?"


"Hush! Hush! Hush! Yoga! Sudah sudah sudah."


"Beh beh beh, tenang dulu Yoga, cuma berita doang Yoga."


Ilham dan Rebecca pun menoleh satu sama lain, dan nampak Ilham mulai pamit hendak mengundur diri.


"Yoga Saputra, asal kau tahu kedatanganku ke sini hanya sekedar untuk mengunjungi keluargaku saja. Hanya itu."


"A-apa..? Keluarga?"


Rizky yang menahan pundak Yoga segera menepuknya sekali, membuat Yoga menoleh ke arahnya.


"...... Akan ku kasih tahu nanti," bisik Rizky menenangkan adiknya itu.


"Jadi, saya dan Rebecca pamit undur diri. Maaf kami merepotkan."


"Ma-maaf, Yoga. Gue gak bermaksu-"


"Rebecca, ayo."


"I-iya."


Dap.. Dap.. Dap.. Dap.. Dap..


Rebecca dan Ilham pun berjalan menjauhi kami dan kami pun hendak keluar dari lapas tersebut.


...----------------...


"Yoga. Kamu nggak papa? Butuh bantuan?" tanya Rizky khawatir.


"Yoga gapapa," jawab Yoga datar sembari terengah-engah berjalan di depan kami berdia.


Aku dan Rizky menoleh satu sama lain, lalu kembali menoleh ke arah Yoga. Sedang Yoga yang masih berjalan terengah-engah nampak masih kesal.


Tak lama kemudian, ia merasakan tangan kembali menepuk kedua pundaknya, membuatnya kembali menghela nafas malas dan berbalik badan menghadap kami berdua.


"Haaah, apalagi hah?!"


B L U U G G H H ! !


"EH!? APA-APAAN!?"

__ADS_1


Kami berdua sigap memeluk Yoga seerat mungkin, membiat Yoga bingun nan malu untuk sesaat. Meskipun wajahnya memerah dan enggan, tapi perlahan ia mengangkat kedua tangannya dan memeluk kami berdua dengan malu-malu.


"A-apasih, kalian.."


__ADS_2