
"...... saya...."
"Saya...?"
"Saya..... tidak tahu."
"!!!!!!!"
Sontak semua murid yang berada di ruang guru terkejut. Mereka semua kembali berbisik satu sama lain, menatapku dengan tatapan heran.
"...... bohong. Tidak mungkin. Apa yang selama ini kau lakukan? Menutup matamu pada kakakmu sendiri?" Ilham mencoba memprovokasiku.
Aku yang merunduk kesal, lagi-lagi merasa bersalah.
"Kau pikir selama ini aku tidak mencoba untuk mencari tahu? KAU PIKIR SELAMA INI AKU TIDAK PENASARAN?!"
"A-apa!?"
Aku semakin kesal. Kini, emosiku sudah berada di ambang batas. Selama ini, hanya ada beberapa perasaan yang selalu kupegang untuknya. Yaitu rasa hormat, rasa kagum, dan rasa sayang. Tak kukira selama ini aku selalu menganggap abang adalah sebuah patokan untukku menjalani hidup.
"ABANG! ABANG SENDIRI YANG SURUH YOGA BUAT NDAK PERNAH CARI TAHU APA-APA SOAL ABANG, YA KAN?!"
"....... benar."
"DAN SEKARANG BARU ABANG SURUH AKU CARI TAHU SENDIRI, BEGITU!?"
"....... menurutmu?"
"Sepertinya Yoga berubah pikiran."
"Hm?"
"Yoga sudah tidak ingin mengalahkan abang, maupun bapak."
"....... lalu?"
"Yoga mau kalahkan diri sendiri terlebih dulu. Seperti abang bilang dulu, hancurkan batasan, dan kalahkan apapun yang menghalangi, bukan begitu?"
"Wah, kamu ingat itu?"
"TERSERAH! BUAT SIAPAPUN YANG MINTA SAYA DIDISKUALIFIKASI, SAYA NDAK PEDULI!!"
"A-apa!?"
Ilham dan gadis hihihi itu membelakakkan mata mereka. Perlahan mereka saling menoleh satu sama lain, pertanda bahwa mereka harus menyusun rencana lain untuk menyingkirkanku dari arena kontes mereka.
"ABANG!!"
"Ya?"
"YOGA PASTI MENANG. YOGA BAKAL BUKTIIN! YOGA BISA!"
"Ho? Pede banget kamu ya?"
"LALU SOAL PRIVILEGE SAYA SEBAGAI ADIK. AYO KITA SELESAIKAN DI SINI."
Pertama, hancurkan semua privilege-ku dulu untuk mereka semua. Agar masih bisa mengikuti kontes ini, mau ndak mau aku harus bisa menyama ratakan posisi, apapun caranya.
"KARENA SAYA BISA MENDAPAT KEUNTUNGAN BISA MENGAWASI DAN MENCARI TAHU LEBIH DEKAT, SIAPAPUN BISA DATANG KE RUMAH NANTI SORE, LALU SOAL AKU YANG TAHU SIAPA PACARNYA, MAAF, SEBENARNYA AKU JUGA NDAK TAHU SIAPA PACARNYA, JADI KALIAN CARI TAHU SENDIRI DI KAMARNYA YANG GERSANG ITU!!"
"!!!!!!!!!"
"WEH-WEH-WEH! LIHAT, ITU NAH ADEKNYA PAK-"
"KENAPA-KENAPA!? KITA BOLEH KE RUMAHNYA PAK RIZKY!?"
Semua ricuh, sesuai rencana. Kini, tinggal eksekusi terakhir untuk menyelamatkan posisiku di kontes ecek-ecek sialan ini.
"DENGAN BEGINI, PRIVILEGE SAYA NOL!!!!"
"WAAAAAAA-!!!"
Beres. Semuanya beres. Sekarang, tinggal kembali beekompetisi dengan fair, dan memenangkannya. Gausah lagi dibawa panik, tinggal cari tahu seperti biasa, dan kelar.
"Daripada meminta pembelaan, kau malah menyerahkan privilege-mu ke kami semua. Anak aneh," ujar Ilham si bontor kebingungan.
Aku yang akhirnya bisa tersenyum jahil, kini hanya bisa berdiri tegap di hadapannya, dan percaya diri menanuting dirinya.
"CEMAS KAU DEK!?"
Abang menatapku bangga. Perlahan senyum manis mendarat di wajahnya, dan ia pun akhirnua kembali duduk di mejanya.
"Baiklah, kalau begitu saya tunggu semua jawaban hasil riset kalian besok. SILAHKAN INVASI WILAYAH SAYA SEPUASNYA."
"WAAAAAAAAAAHH-!"
"BUSET BENER! BOLEH KE RU-"
"ADAM-ADAM! AYOK IZIN SAMA AYAHMU NANTI SOR-"
"CEPET-CEPET-CEPET! KITA-!!"
Semua murid sigap keluar dari ruang guru, lalu bersiap akan rencana selanjutnya untuk menginvasi wilayah abang.
Sedangkan Ilham dan gadis kunti itu nampaknya masih di ruang guru untuk meminta maaf atas hal yang mereka berdua perbuat.
"Sepertinya rencana saya untuk menyingirkanmu gagal."
"Hihihi, padahal udah yakin banget tadi bakalan bisa," ejek gadis itu.
"Usaha yang bagus buat kalian berdua. Tapi liat aja nanti, aku yang menang!"
"...... kau anak yang menarik, Yoga Saputra."
"Bacot, manusia bontor macam kamu mah ez aja dilawan. Coba aja aku ndak ada hubungan sama manusia batu ini, dari jam istirahat ke-1 mah aku sudah dapat jawabannya duluan!!"
__ADS_1
"Hihihi, awas kepalanya meledak! Udah jadi gede banget tuh!"
"Hahaha hihihi, kamu siapa juga sih, cewek kunti?!"
"Ah, salken yah, aku Rebecca! Sekretaris OSIS! Terus manusia bontor yang di depanku ini Ilham, ketua OSIS!"
"....... ke-ketua OSIS!?"
SRARARAK!
Kertas-kertas jawaban mulai dihamburkan ke tempat sampah oleh abang. Ia kembali menyeruput teh hangatnya, lalu membubarkan kami bertiga.
"Baiklah, nanti sore saya ada kencan, jadi kalau kamar saya diudak-udak, tolong bersihkan kembali seperti semula, oke?"
"Siap, Pak Rizky."
"Hihihi, oke pak!"
"Terus kamu, Yoga."
"APA LAGI!? DIGIDAW-DIGIDAW-DIGIDAW TUNENENET?!"
"Kamu jangan begitu sama Anaknya Walikota. Keluarga kita bisa kena bahaya nanti."
"A-APA?! ANAKNYA SIAPA!?"
Rebecca dan Ilham pun sedikit tertawa, dan hendak pergi dari ruang guru. Mereka pamit padaku, sembari mengejek.
"Kau dengar itu? Berhati-hatilah kalau bicara."
"Hihihi, dadah Yoga! Sampai jumpa di rumahmu nanti sore!"
Aku terdiam sejenak, sembari memperhitungkan dan memperkirakan tingkahku yang sudah sangat sopan kepada mereka barusan.
"YA-YANG MANA BANG!? YANG ANAK WALIKOTA SIAPA TADI!?"
"Itu, yang cewek."
"RE-REBECCA!?"
"Iya, yang satunya anaknya Perwira Tentara."
"A-APAAAAA!?"
...***...
Di luar ruang guru.
Rebecca dan Ilham sepertinya telah keluar dari ruang guru, dan mulai membahas strategi dan rencana mereka selanjutnya.
"Hihihi, Ham! Makin seru ya! Sarannya Bu Ther ternyata bener! Sudah lama sekolah ndak rusuh begini!"
"..... Rebecca. Posisi di OSIS ada yang kosong?"
"Ada, tapi posisinya harus diisi guru atau staff sekolah."
"Penasihat, kenapa emangnya?"
"Aku berencana merekerut Yoga Saputra ke OSIS."
"A-APA?? YOGA? ANAK ITU?"
"Dia anak yang menarik. Kau hanya melihat apa yang ia lakukan selama ini. Memang dia anak yang suka panik dan tidak punya sopan santun, tapi kemampuan menganalisanya luar biasa"
"A-analisa?"
"Kau akan lihat sendiri."
...***...
Sore hari, nampak kami sudah pulang ke rumah masing-masing. Nampak ada beberapa anak yang sigap langsung datang ke rumah untuk memeriksa kamar abang.
Mamakku yang kebingungan nampaknya sudah tahu akan ada banyak murid datang ke rumah kami. Jadi ia hanya menyiapkan minuman manis untuk beberapa anak nikmati selagi mencari dan meriset.
"Untung abangmu sudah ada nelpon tadi siang kalau ada anak-anak muridnya mau datang, tapi siapa sangka muridnya sebanyak ini. Murid sekolahmu juga pula."
"Ah, maaf mak. Ada kontes sekolah soalnya. Anak-anak pada disuruh cari tahu soal abang."
"Haah, macam-macam aja kalian berdua! Yaudah pale mamak mau ke kamar! Mau tidur! Jangan ganggu!"
"Iya, mak."
Beberapa murid selanjutnya pun datang masuk ke rumah. Mereka sigap mengeluarkan buku dan pena, lalu mengucap permisi.
"Yoga! Permisi yaa!"
"Iya, masuk aja."
Mereka sigap memeriksa seluruh kamar kakak dengan teliti. Barang-barang abng mereka periksa dan amati. Ada beberapa murid yang menatap piala-piala kompetisi sekolah abang.
"Wah, gila Pak Rizky. Banyak juga prestasinya ya!"
"Iya, tapi kenapa malah jadi guru pengganti?"
"Ndak tahu."
Aku pun segera ikut mengamati, dan melihat-lihat isi kamarnya. Pelan-pelan aku mengamati piala-piala dan medalinya, menemukan bahwa abangku selama ini nampaknya benar-benar berusaha sekuat tenaganya untuk membandakan mamak dan bapak.
"Sejujurnya, kupikir kamar ini itu gudang. Soalnya lama banget dikunci. Mana pas itu abang lagi ndak di Balikpapan."
"Lho? Kakakmu merantau?"
"Sepertinya. Tapi ndak tahu dia kerja apa. Dulu sekolah di mana aja ndak tahu."
"Gila, Yoga. Kamu jahat banget."
__ADS_1
"Astagfirullah, Yoga. Selama ini kamu mencampakkan kakakmu sendiri?"
"A-APA!? LAH EMANG DIANYA AJA YANG NDAK MAU NGASIH TAHU!!"
"Ish-ish-ish.."
"BE-BENERAN!!"
Tak lama kemudian, abang keluar dari kamar mandi setengah telanjang, tanpa malu menghampiri kami hanya untuk menyuruhku mengambilkan bajunya.
"Yoga, ambilkan bajunya abang yang di atas lemari."
"ASTAGFIRULLAH! ABAAAANG!!!!"
"AAAAAAAAARGHHHH PAK RIZKY!!!!!"
"YA AMPUN!! ABANG!! SANAAA ABANG!!!!"
Bruk!
Dengan kencang aku membanting pintu kamar dan mengunci abang di dalam. Dengan wajah malu, mau ndak mau aku harus ngambilin bajunya!
"SIALAN KAU BANG!"
"Lho-lho-lho!? Kenapa!? Ka-kan abang cuma ma-"
"AAAARGHHH DIEM! DIEM! DIEM! JANGAN KEMANA-MANA!! PAKE BAJU DI KAMARKU AJAA! BENTAR AKU BAWAKAN!!"
"A-ah, boleh-boleh. Makasih."
"AAARRGHKK! ABANG BIKIN MALU AJA SIALAN!"
BRAK!
"JANGAN SENTUH BAJUKU!!"
...***...
HAAARGH! MANUSIA ITU! MAKIN HARI MAKIN NDAK TAHU MALU!!
Mau ndak mau harus minta maaf ke anak-anak ceweknya! Udah lihat hal ndak senonoh begitu mah bikin aku jadi makin malu!!
"A-anu, teman-teman, sorry banget, tadi abangku-"
"Ih ternyata Pak Rizky ada roti sobeknya coy!-"
"Ih kamu! Jangan bahas begituan di sini! Yang malu sedikit apa!?"
"Ih tapi kan Pak Rizky tuh mayan ganteng juga tahu!"
"Gausah macam-macam kamu!"
Ah, lupakan.
Orang kayaknya mereka juga suka liat abang setengah telanjang begitu. Seketika aku lupa kalau cewek-cewek sekarang urat feminimnya udah hilang.
"Maaf teman-teman, abangku orangnya memang begitu. Udah ndak ada malunya."
"Santai aja, Ki. Kami sih justru suka, haha! Nih, lihat aja mukanya Nanda sampe mera-"
"Ih, Fernaa!"
Setelah beberapa saat, aku pun mengambilkan bajunya abang dari atas lemarinya. Pelan-pelan ku antarkan ke kamar, dan nampak abang sedang melihat isi kamarku.
"Nih, bajumu, bang."
"Makasih, taruh aja di situ."
"Hah, lihat-lihat apa sih bang?"
"Udah lama ndak lihat kamarmu, ya."
"........ masih kayak dulu bang, ndak ada bedanya."
"Haha."
Ia berjalan pelan sembari mengamati beberapa koleksi mainanku yang kukumpulkan. Ia pun juga melihat poster-poster game yang berhamburan di kamarku.
"........ kamu suka game?"
"Iya, gara-gara abang."
"Ehem."
"Yaudah, Yoga keluar dulu. Mau cari 10 juta."
"Haha! Semangat ya, cari jodohnya."
"Abang juga, semangat kencannya."
Sesaat aku hendak menutup pintu, abang nampak sigap melemparkanku sebuah kunci. Aku yang sadar sigap menangkap kunci itu.
Tap!
"Yoga."
"Iya?"
"Keinginanmu mengalahkan dirimu sendiri, dan melampaui batas. Abang rasa itu mustahil."
"....... kenapa bisa begitu?"
"Saranku, sebelum kamu mencoba mengalahkan, coba kamu invasi diri sendiri terlebih dulu. Melawan tanpa tahu kelemahan lawan itu terlalu bersiko tinggi."
"....... menginvasi... diri sendiri?"
__ADS_1
"....... bersemangatlah. Buat diriku bangga."
"Siap."