Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
ARC YOGA: Diskualifikasi


__ADS_3

Bu Renata sedang mengajar kelasku dengan damai seperti biasanya. Namun bedanya, anak-anak kurang begitu fokus memperhatikan pelajaran karena sibuk memikirkan strategi untuk memenangkan duit 10 juta dari guru baru itu.


Anak-anak berbisik satu sama lain, dan merencanakan strategi mereka selanjutnya.


"Cin, mungkin kita bisa cari di sosial medianya..."


"...... mungkin Pak Rizky alumni sekolah ini, jadi mungkin dokumen.."


"Sst! Adam! Aku beli informasi yang tadi..."


Buset. Mereka semua pada punya konco buat diajak kerja sama. Strategi udah pada punya masing-masing, langkah selanjutnya tinggal eksekusi, dapat identitas, dan kumpul kertas jawaban.


Lah aku apa kabarnya, coy!?


Tak! Tak! Tak!


Tip pulpen sudah ku catuk-catukkan ke atas meja, tanda bahwa panik mulai kembali menyerang diriku. Lupakan tentang pelajaran Metik hari ini, pikirin strategi sendiri dulu aja. Kalau memang niat dari hati ingin membuktikan diri kalau aku berkembang, aku harus berusaha.


"Jangan menyerah, Yoga!" gumamku menyemangati diri sendiri dari dalam hati.


...***...


Baik, pertama-tama, ada beberapa hal yang wajib dilakukan sebelum bergerak.


Anak-anak murid pasti akan mengincarku di jam istirahat kedua, fix no debat. Aku pasti bakalan dikejar-kejar macam sapi kurban, jadi aku harus bisa bergerak sembunyi-sembunyi.


"Keluar kelas harus langsung sembunyikan diri."


Tapi sembunyi di mana, coy!? Ndak ada tempat yang sepi di sekolah ini! Biarpun gudang sekolah pasti rame, sialan!


Aku mulai menggaruk-garukkan kepala. Selain harus menyembunyikan diri, aku juga harus mencari tahu siapa yang kasih tahu anak-anak murid kalau aku itu adeknya manusia sialan satu itu!


"Siapa ya, kira-kira..?"


Masa abang? Ndak, sudah pasti ndak mungkin. Ada beberapa orang yang bisa dicurigai selain dia. Tapi kalau dihitung-hitung, apa aku harus mencari tahu siapa si ember satu itu, atau mencari tahu identitas kakak lebih dulu.


"Sialan! Jadi serba salah!"


...***...


Teng! Teng! Teng!


Jam istirahat kedua dimulai. Dari teman-teman sekelas aja sudah mulai menggerakkan diri ke arah kursiku. Pelan-pelan aku ikut berdiri, dan segera cabut, kabur dari kelas.


"UGHK-! SIALAN!"


"WOY! YOGA! SIALAN KAU!"


"Buset! Malah lari dia!"


"Mel, kejar dia! Ke masjid dia itu!"


"YOGAAA!"


Sudah kuduga! Tempat yang mereka kira aku datangi pasti masjid! Tapi sayang, aku lari ke arah masjid cuma buat pancingan!


Dap! Dap! Dap!


"HAH! HAH! HAH! MANA!? KAYU NYA DI MANA?!"


Aku terus berlari dan mencoba mencari tempat incaranku untuk bersembunyi. Ada beberapa murid yang masih mengejar di belakang, namun aku sudah terlebih dulu menemukan tempat sembunyi incaranku.


Benar! Menara gentong air!


"SIALAN! MANA KAKI MENARANYA!? CUMA KELIATAN GENTONGNYA DOANG DARI BAWAH!!"


"YOGAAAAAA!!"


"BUSET ANAK ITU CEPAT BANGET LARINYA!!"


"CINDY! KITA TUNGGU DI TEMPAT LAIN AJA DULU! KEMUNGKINAN YOGA BAKALAN LARI KE PERPUS LAGI!"


Buset! Rasanya jadi buronan begini, rupanya!? Ndak seru betul! Mana aku sudah diporotin, sekarang mau diinterogasi lagi!?


Aku yang masih berlari, segera menoleh kesana kemari. Dengan cepat, kaki menara gentong air pun sudah kutemukan.


"HAH! HAH! KETEMUU!! YES!"


Dap! Dap! Dap!


Aku berlari ke arah gentong air, dan memastikan tidak ada murid berhasil mengikutiku. Aku pun segera bersembunyi, dan berhati-hati melangkah.


"Akhirnya, yes!"

__ADS_1


GREP.


"Hah?"


Namun, sesaat aku ingin memanjat menara itu, kakiku tiba-tiba saja ditarik oleh seorang murid berbadan besar. Aku yang kaget, langsung berteriak panik.


SREEEEEEEEET!


"AAAAAAAARGHHH MAMAK!"


BRUGH!


Kupikir aku akan jatuh ke tanah. Namun sepertinya dugaanku salah. Aku malah jatuh langsung ke pundak murid berbadan besar satu ini.


"AARGHK!- SIAPA!? WOY TURUNIN SIALAN!! UGHK-!"


"Yoga Saputra, adik dari Pak Rizky. Saya benar?"


"TURUNIN AKU WOY!! SIALAN!!"


"Berbeda dengan kakakmu, sepertinya perawakanmu benar-benar berantakan. Penuh dengan ketidakpastian, kasar, dan phobia kehidupan sosial."


"WAH, KAYAKNYA SAYA SUDAH TAHU SIAPA YANG NYEBAR INFO KALAU MANUSIA BATU ITU PUNYA ADIK."


"Maaf, tapi saya bukanlah pelakunya. Saya juga dapat info itu dari membeli informasi."


"CIH. MEMANG SIALAN KALIAN SEMUA!"


"Baiklah, ayo kita menghadap Pak Rizky."


"HAH?! MAU NGAPAI- LEPASIN DULU, SIALAN!!! AARGGHK-!!"


Namun beberapa saat kemudian, murid-murid yang mengejarku akhirnya tiba. Namun bedanya, kali ini mereka malah mengikuti tempo jalan si badan bontor satu ini.


Salah satu murid wanita yang memakai almamater OSIS nampak maju mendekati kami, dan berbicara.


"Hihihi, sudah dapat ya, Ham?"


"Pak Rizky posisinya di mana?"


"Hihihi, di ruang guru, ngecekin kertas jawaban."


"....... kumpulkan anak-anak yang setuju."


"A-apa!? Kalian mau ngapain!? Lepasin saya aja dulu bisa ndak!?!"


"Benar. Sudah sangat curang kalau adiknya sendiri berhak ikut di kontes ini. Sama saja kalau Pak Rizky hendak menipu kita. Beliau bisa saja memberimu jawabannya, dan membiarkanmu menang. Sehingga uangnya kembali ke tangannya sendiri."


"TUDUHAN MACAM APA ITU, SIALAN!? AKU PUN NDAK TAU APA-APA SOAL MANUSIA ITU, SUMPAH!! PERCUMA!! LEPASIN AKU!!"


"Setidaknya kau harus di diskualifikasi. Begitu banyak keuntungan bagimu sebagai adiknya. Apalagi kontes ini hanya di adakan selama dua hari. Besok sudah menjadi hari penentuan."


"KEUNTUNGANKU APA!? BIAR AKU ADIKNYA AKU PUN NDAK TAU AP-"


"Sebaiknya kau bela dirimu nanti di ruang guru. Lawan semua argumen murid yang setuju dirimu didiskualifikasi dari kontes ini."


"UGHK-! SIALAN!!"


...***...


Di ruang guru.


Nampak abang yang tengah menyeruput teh hangat sibuk mencorat-coret kertas jawaban murid-murid. Secara tidak mengejutkan, semua jawaban itu salah.


BRAK!


Sang murid bontor ini segera memasuki ruang guru, sembari terus menggendongku di pundaknya. Aku yang menahan malu, terus memintanya untuk menurunkn tubuhku.


"AAAARGHKK-!! LEPASIN SAYAAA!! WOY!!"


Bu Sinah yang asik duduk minun teh sembari mengoreksi jawaban tugas di mejanya, sigap tersedak teh dan syok.


"PRRFTT-!! Astaga! Ilham kamu apain anak orang!!"


"Halo, Bu Sinah. Selamat siang."


"I-iya!? I-itu diturunin dulu dong anaknya, kasihan."


"Kalau saya turunkan, ia langsung kabur."


"?????"


"Permisi bu, saya mau ke meja Pak Rizky."

__ADS_1


"Ah sa-saya kurang mengerti sebenarnya ada apa, tapi tolong jangan dirudung anaknya."


"Siap bu."


...***...


Si bontor ini sigap melanjutkan langkahnya ke meja abangku. Abang yang nampaknya tidak terkejut dengan kedatangan kami sibuk menatap pantatku yang sudah tepat menghadap wajahnya.


Matanya sedikit melotot, ketahuan menahan ketawa.


"Turunin! Aku ndak bakalan kabur!!"


"Baiklah."


Aku pun diturunkan, dan segera murid cowok bernama Ilham ini mengeluarkan keluhannya menghadap abangku.


"Wah, ada apa ini?"


"Saya mau bapak mendiskualifikasi satu murid."


"Hm? Si pria ganteng di depan saya ini?"


"Benar."


"Lho? Kok begitu? Alasannya?"


"Karena Yoga Saputra adalah adik bapak."


Sigap seluruh ruang guru menatap wajahku. Aku pun segera menunduk, mencoba untuk menyembunyikan wajahku.


"Jangan lihat saya! Jangan lihat saya!" ujar panikku di dalam hati. Kakiku mulai gemetaran, dan tanganku mulai lembab mendingin.


Sedangkan, abang hanya diam berekspresi kosong menatapku yang mulai berkeringat deras. Ia pun mengedipkan matanya sekali, dan tiba-tiba saja ada banyak murid yang memasuki ruang guru. Mereka pun mendatangi kami, dan segera berdemo untuk mengeluarkanku dari kontes.


"Pak! Keluarkan adik bapak! Ndak adil banget!"


"Iya pak! Curang!"


"Keluarkan dia!"


"Dis! Dis! Dis!"


Semua murid mulai berdemo, dan tidak setuju aku diperbolehkan bergabung ke kontes berhadiah ini.


"Dia punya previlege lebih yang ndak kita semua punya, dan tentu aja itu namanya curang dong, pak. Iya kan?" tambah gadis OSIS yang mendampingi si bontor itu.


"..........."


Aku menahan malu. Kedua tanganku ku remas, dan nafasku mulai berdetak tidak karuan. Apa kesempatanku membuktikan diri hanyalah sampai di sini?


"Hm, kan sudah saya bilang saya ndak menerima pertanyaan lagi soal ini."


"Hihihi, sorry ya pak. Kami ndak bertanya, tapi meminta. Kami meminta bapak untuk mengeluarkan adik bapak dari kontes ini. Soalnya dia pasti tahu lebih banyak tentang kehidupan bapak dari pada kami. Toh dia juga punya akses ke rumah bapak, terus ke pekerjaan bapak, terus pacar bapak.. dan lain-lain. Begitu, pak. Hihihi."


"Benar itu pak!"


"Iya pak! Licik dong namanya!"


"Iya pak! Keluarin!"


"Hmm, bukannya udah tertera di poster ya. Kalau semua murid di sekolah ini itu berhak mengikuti kontes? Saya juga udah umumin kemarin loh. Soal dia adik saya itu ndak masalah. Ndak usah dipikirin."


"Ha-hah? Maksudnya ndak usah dipikirin?"


"Maaf, tapi adik saya pun tidak tahu siapa saya. Jadi ini juga kontes yang bagus untuk ia ikuti."


"Dan kami percaya bapak soal itu?"


"Hmm. Yaudah kalau begitu."


Abang segera berdiri, lalu mengambil sebuah penggaris kayu kecil dari lacinya. Ia berakting seakan-akan penggaris itu sebuah mic, dan melotarkan beberapa pertanyaan padaku yang masih panik ini.


"Digidaw-digidaw-digidaw tunenenenet! Baiklah, anak-anak! Saya, Pak Rizky, akan melontarkan sebuah pertanyaan untuk murid SMKN B di depan saya satu ini! Kalau ia berhasil menjawab dengan benar, 10 juta akan jatuh ke tangannya!"


"Ugh..."


"Yoga, kan? Namamu?"


".........."


"Baiklah Yoga, ini adalah pertanyaannya! Siapakah nama panjang dan pekerjaan sebelumnya dari Pak Rizky!? Silahkan di jawab!"


Sret!

__ADS_1


Ia melayangkan penggaris itu tepat ke wajahku. Ia menatap mataku dengan tajam, menunggu jawaban keluar dari mulutku, dan ingin aku mengatakannya dengan lantang.


"....... saya....."


__ADS_2