Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
Jangan Ganggu


__ADS_3

"Sialan.... Rizky..?"


Saya pun segera mendekatinya dan mengambil HP saya darinya. Ia pun melotot kebingungan melihatku yang sudah mengutak-ngatik komputer di depannya.


Ctak! Ctak! Ctak!


"Riz.. Rizky?"


"Aku mau minta tolong sebentar, cari lokasi panggilan HP bisa kan ya?"


"...... i-iya.. bisa sih.."


"Aku panggil Hendra dulu. Ini log panggilannya. Coba di cek aja lokasi yang nelpon di mana. Kayaknya ini kasus penculikan."


"...... TU-TUNGGU SEBENTAR!!!"


"HAH? APA LAGI!?"


"KAPAN KAMU BALIK!? TU-TUNGGU! KENAPA KAMU BALIK!?"


"WAH BANYAK TANYA KAU YA, CEPAT DAH CARI ITU YANG NELPON LOKASINYA DI MANA! AKU MAU PANGGIL HENDRA!"


"A-APA!? HENDRA!?"


Jegreeeek!


Sang petugas loket bersama Rehan masih termenung menatap saya pergi. Sang petugas loket segera menepuk pundak Rehan, dan bertanya.


"TemenĀ  ya pak?"


"...... i-iya.."


"Terus kenapa syok begitu?"


"..... a-aku masih nggak percaya.. dia balik ke sini..."


"Lho? Nggak senang temennya balik?"


"..... tunggu. Dia belum kasih tahu alasannya balik. Aku harus tenang dulu."


"Saya kurang ngerti apa maksud Pak Rehan, tapi tolong kalau temen minta tolong langsung dibantu ya."


"OH AH! SO-SORRY! LUPA AKU! MASIH SYOK!"


Ctak! Ctak! Ctak! Ctak!


"Haaah, dasar Pak Rehan."


Rehan pun segera mengutak-ngatik komputernya, dan mencari di mana Anastasia berada. Sedangkan saya dengan telepon kantor sudah memanggil Hendra yang segera datang kemari.


BRAK!


Tak sampai tiga menit, Rehan segera membanting pintu dan memberiku kabar lokasi dari mana Anastasia menelepon.


"KI! SUDAH KETEMU!"


"DI MANA?!"


"AGAK DEKET KI! DARI JALAN KAMPUNG TIMUR!"


"KAMPUNG TIMUR!? NGAPAIN DIA DI SITU!?"


"Siapa sih yang diculik!? Aku bikin laporan dulu!"


Rehan sigap mengambil kertas laporan, namun saya langsung menahan tangannya.


"Jangan."


"Lah!? Kenapa!?"


"Kayaknya KOMJEN ada hubungan dengan kasus ini."


"A-APA!? KOMJEN?? KOK-"


"Siapa nama anaknya?"


"A-anaknya siapa? KOMJEN?!"


"Iya."


"Ah.. Oh! Hendy Anas?"


"Nah, sip."


JEGLAK!


Saya pun segera keluar dari ruangan, dan berjalan menuju pintu.


"Loh!? Hendy Anas!? Nyulik orang!?"


"Iya. Kamu cepetan panggil Si Ireng ke sini. Kita urus kasus ini berempat."


"Wah buset!? Reunian ini ceritanya?!"


"......... Gas!"


...***...


20 menit kemudian.

__ADS_1


BRAK!


Dimas, sang eksekutor andalan kami pun memasuki ruang monitoring. Di dalam, saya, Rehan, dan Hendra sudah berdiskusi mengenai rencana mencari calon istri saya.


"Kenapa Han!? Ada darurat ap- LHO!?!?!?"


"Halo, Mas."


"Ri- Rizky!?"


"Yow."


"Ke-kenapa!? Apa ad-"


"Nggak, aku balik bukan gara-gara itu. Sini cepat."


Dimas pun segera duduk di kursi dan Hendra pun menepuk pundaknya, menenangkannya yang syok melihat saya balik tiba-tiba.


Tanpa basa-basi saya pun segera meluruskan situasi untuk Dimas dan yang lain.


"Baik, ini cuma spekulasi, tapi calon istri saya sebenarnya bukan orang biasa. Posisinya cukup tinggi buat punya hubungan sama anak KOMJEN. Jadi jangan banyak tanya."


Hendra yang segera menatap CCTV Hotel Kemza Kampung Timur menatap Anastasia yang berjalan masuk ke dalam hotel dengan sedikit tergesa-gesa.


"Rambut hitam panjang... Anastasia Aning..? Anaknya Pak Daud?" ujar Hendra sigap menebaknya


"DAUD ARIFIN??!" teriak Rehan kaget seketika mendengar namanya.


"NGAPAIN ANAKNYA KOMJEN KE HOTEL SAMA CALON ISTRIMU!?"


Saya pun memajukan waktu CCTV, dan memuji Hendra yang cepat mengenali calon istri saya hanya bermodalkan CCTV buram yang dipasang jauh di atas jalan di depan hotel.


"Heh, masih jago aja kamu, Hen."


"Halah kalau yang tinggi-tinggi begini mah masih gempil. Yang susah itu kalau orang biasa."


Saya sigap memaju mundurkan CCTV mencari tahu jam berapa Anastasia menemui Hendy di hotel. Dimas yang masih kaget sigap mencari map besar kota dan menghamparnya di meja kami.


"Sejak kapan kamu punya hubungan sama Anastasia Aning!?" tanya Dimas sembari menatap map itu dan menandai beberapa rute tercepat yang bisa kami pakai nanti.


"Sudah ada tiga tahunan. Kayaknya emang Anastasia bakalan keseret sama masa lalu kita," jawab saya singkat.


"....... kamu yakin gak mau lapor, Ki?" tanya Rehan lagi.


"Ini urusan pribadi, Han. Kalian sebenarnya nggak bantuin gapapa, jad-"


BRAK!


"Pribadi apanya!? Ini sudah kelewatan namanya! Kalau sampai cewek itu kenapa-kenapa Sanford bakal gimana, sialan!? Kamu mau Si Daud Tulen itu kasih semua sahamnya ke Hendy Anas!? Komunis bisa balik lagi pintar!" teriak Dimas emosi menatapku yang masih berusaha tenang menghadapi situasi.


"....... Rizky."


Hendra dari jauh memanggil saya dengan nada suara yang dingin.


"Apa..?"


"............... Ambar tahu kamu punya hubungan sama Anastasia Aning?"


".......... nggak sengaja, Hen."


BRAK!


"SEMUANYA! AYO BERANGKAT CEPAT!"


Hendra pun panik langsung berdiri dan menghidupkan alat perekam suara yang terpasang di ruang monitor.


"DISKUSI SELESA! AYO MULAI!"


"A-APA!?" teriak Rehan panik dan segera menghabiskan kopinya yang sisa sedikit.


"AYO SUDAH! INI RUTENYA! AKU SIAP-SIAP DULU!" ujar Dimas sigap sembari mengambil sebuah pisau kecil dari atas meja monitor.


"CEPAT KI!"


JEGLEK!


Kami pun segera keluar ruangan dan segera keluar dari kantor. Tuti, petugas yang menemani Rehan pun hanya bisa bingung menatap kami yang seenaknya masuk keluar kantor macam maling.


"Loh-!? Ma-mau kemanaan!? Pak Rehan!?"


"Tuti! Tolong jagain ruang monitor ya! Sebentar saya balik!


Hendra segera mengecek jam dan melihat Map di HP-nya. Dimas pun menujuk rute terbaik dan menyarankan Hendra untuk memakai rute pilihannya.


"Lewat Blue Sky aja Hen! 14 menit sampe!"


"Oke deh. Semua aman!? Ada yang ketinggalan!?" tanya Hendra memastikan kondisi kami semua siap.


"GAS!" jawab Rehan semangat.


"Huh, bismillah," ujar saya gugup.


...***...


Brmmmm!


"Hen!? Kenapa sih buru-buru banget!?" tanya Rehan bingung.


Hendra pun menjawab Rehan dengan emosi,

__ADS_1


"TANYA RIZKY! JANGAN AKU!!"


"Maksudnya!? Nggak ngerti sumpah!"


Jegelek!


"Sorry Han, kayaknya kita ke sana bakal ketemu Ambar."


DEG!


"A-AMBAR!? KENAPA BEGITU!?"


"Kayaknya Ambar yang ditugas buat ngeculik Anastasia."


"Lah kenapa dia!?"


"Kemungkinan sepertinya KOMJEN masih mau putranya bertunangan dengan calon istriku."


BRAK!


"A-APAAAAAAA!??" teriak mereka bertiga kaget nan syok.


Hendra menggaruk kepalanya, dan segera menginjak gas mobilnya semakin dalam. Dimas pun lagi-lagi terkena serangan panik, dan Rehan pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menahan rasa syok mempermalukan dirinya.


"Bu-bukannya anaknya KOMJEN sudah tunangan sama Ambar!?"


"Nah itu dia. Kemungkinan tujuan Ambar ngeculik Anastasia adalah untuk membuat kontrak pertunangan atau sekalian pernikahan sementara, spekulasi aku dan Hendra masih begitu."


"TCH! MACAM-MACAM BANGET KAMU RIZKY!!"


BRRRRRMMMM!!


"Kalau begitu... pasti Ambar nggak bakal biarin itu kejadian, kan? Bukannya bagus!?" tanya Rehan lagi memastikan.


"Mana bisa gitu, Han!" balas Dimas semakin panik.


"K-kok gitu!?"


"Masalahnya apa yang terjadi kalau rencana Ambar sudah ada di luar nalar!? Kamu tau kan Ambar orangnya gimana!?"


"O-oh iya juga ya.... LAH BERARTI ANASTASIA-NYA BAKALAN-!?"


"BARU MUDENG DIA-!"


"LAJU LAGI HENNN!"


"GAK BISA! BAKALAN MENTOK! JALANAN RAME TAU! SIALAN!"


...***...


Tak lama kemudian, kami pun sampai di Hotel Kemza, tepatnya Kampung Timur. Kami pun memasuki hotel, dan mencoba menginap sebagai tamu.


"Mba, kami mau menginap sehari."


"Ah boleh mas. Satu kamar berempat? Mau pake paket-"


"Nggak usah mba. Yang biasa aja."


"Baik mas, sebentar ya."


Semenit kemudian, seorang wanita berambut panjang hitam dengan dua orang laki-laki berbadan bontor berjalan melewati kami menuju pintu luar hotel.


Benar, wanita itu Anastasia.


"Sst! Ki," bisik Rehan mengingatkan.


"Iya. Jalan dah. Hen mau bantu Rehan bisa. Siapa tau mereka kemana-mana," saya memberikan izin dia untuk maju membuntuti mereka, dan saya pun memulai misi ugal-ugalan kami.


CRAK!


"TUNGGU DULU."


Namun, tiba-tiba suara pelatuk pistol yang tertarik muncul dari bawah meja loket pendaftaran.


DEG.


"Halo, Ambar."


"....... Ambar."


Ambar pun berdiri dari bawah meja loket, sembari tertawa kecil. Kami berempat yang mulai panik, sigap memahami situasi. Kami berempat sudah di outplay.


"Halo, udah lama ya nggak lihat tim Quarta bareng-bareng lagi."


Tak lama kemudian, sang kasir penjaga loket berteriak.


"PAK! TOLONG SAYA PA-"


"Berisik."


Namun karena berisik, Ambar tanpa ragu menembak kasir tersebut di perutnya.


DOR!


"AARGHK!"


"AMBAR! NGAPAIN KAMU!!?"


"KAMU SUDAH GILA!!!"

__ADS_1


Ambar hanya menatap kami berempat bengis. Tak lama kemudian, ia pun menodongkan pistol tersebut tepat ke arah kepala saya. Hendra dan yang lain pun menatap saya panik.


"Jangan ganggu. Sialan."


__ADS_2