
Tiga jam lalu.
"Mba Ana, ini ada panggilan dari kantor cabang di Kampung Timur."
"Panggilan?"
Aku yang sedang beristirahat di ruang kerja cukup terkejut.
Kenapa kantor cabang buat panggilan tiba-tiba begini? Bukannya harus ada laporan dulu? Apa ada hal urgent? Konfirmasi ke papah dulu aja kali ya?
Ah, nggak usah. Palingan cuma meeting kecil aja, pikriku.
"Nyonya, kebetulan sudah ada mobil yang siap di bawah, biar saya antar."
"Ah..."
...***...
Saya pun segera turun, dan menaiki mobil yang kebetulan sudah siap tersebut.
JEGLEK!
"Ayo jalan, pak."
"Baik, non."
BRMMMMMMM!
Mobil yang kunaiki nampak melaju kencang. Seperti terburu-buru. Aku yang menyadarinya tiba-tiba curiga dengan semua hal.
"Kok kayak buru-buru banget? Lagipula kenapa juga tiba-tiba ada panggilan? Seharusnya kalau ada panggilan darurat paman pasti telpon dulu.."
BBRRRRMM!
Tak lama kemudian, kantor cabang pun terlewati begitu saja. Kutatap sekeliling mobil, dan melirik ke cermin atas mobil. Sang supir melotot ke arahku, dan sebuah pistol muncul dan ditodongkan tangan kanannya dari bawah, tepat ke arah wajahku.
Glek.
"................... jadi? Saya ini sebenarnya mau dibawa kemana, pa-"
DOR!!
Sang supir tak menjawab, dan tanpa ragu menembak lengan kananku dengan pistolnya itu. Aku pun sigap mengerang panik, dan nafasku sigap menegang.
"UGHK!- UGGRHHKK!!-"
"Nona hanya perlu diam," jawab sang supir, lalu menginjak gas mobil semakin dalam. Kami pun semakin melaju mengejar waktu.
Grep.
"...... ukhgk...... uhgh.."
Di dalam hati, aku hanya bisa mencoba untuk meramal masa depan.
"Hari ini.. aku bakalan mati kah..?"
Aku yang mulai berdarah hanya bisa tertunduk dan mengerang kesakitan. Aku menggenggam lengan kananku kuat, mencoba menahan darah yang terus keluar. Namun apa daya aku tidak bisa apa-apa.
"Ughk.... uhh... huuh... uhk!"
...***...
Tiga menit kemudian, kami pun telah sampai di sebuah hotel. Mobil pun dibawa memutar dan kami berhenti di sebuah pintu kecil di belakang gedung hotel yang besar ini.
Aku yang mulai kehabisan darah pun diseret dan dibawa masuk paksa ke dalam hotel.
GREP!
"UGRHHKFF-!!"
"Cepatlah bergerak, nona."
"Haah.. yang bener.. aja.. haah.. haah.."
Ckieet!
Seorang pria tua nampak membukakan kami pintu kecil tersebut. Ia membawa seember air dan sebuah gayung.
"Bersihkan segera. Jangan sampai ada yang membekas," perintah sang supir.
"Baik. Silahkan masuk, sudah ditunggu di dalam," jawab pria itu.
...***...
BRUK!
"URGHK-!!"
Aku dipaksa masuk ke dalam sebuah ruangan, duduk di sebuah kursi. Kursi itu dilengkapi dengan meja, dan satu kursi lagi yang tepat menghadap ke arahku.
"Haah.. haah.. haah.. haah.. ughk-"
Aku terdiam, mencoba melirik ke sana kemari, mengamati situasi. Entah dengan cara apa, aku harus bisa kabur kalau masih ingin hidup.
Beberapa saat kemudian, Hendy Anas, mantan tunanganku, datang dari luar pintu bersama tunangannya saat ini, Ambar Pranata.
Hendy duduk di kursi satunya, sedangkan wanita bercardar, atau sang tunangan, berdiri di belakangnya layaknya seorang Bodyguard.
"Kuharap penjelasanmu mudah dimengerti."
"Aku cuma minta kamu tanda tangan loh. Menghindanya sampe bikin aku harus begini."
"A-apa?"
"Maaf, aku memang bisa make cara yang agak lama, tapi karena ada makhluk itu di dekatmu, jadinya aku harus make cara yang cepat."
"Makhluk..? Maksudmu..?"
"Lupakan soal itu. Papahmu sama papahku meminta persetujuanmu untuk bertunangan denganku. Sebagai pasangan pertama."
"Apa..?"
__ADS_1
"Ayolah. Kamu paham ucapanku."
"....... beraninya kau menawarkanku tunangan posisi pertama, padahal sudah ada orang yang memegangnya di belakangmu?"
Hendy tersenyum.
"A-apa?! Pfft-! Ma-maksudmu Ambar?"
".......... apa....?"
"Hah, ayolah. Dia hanya mengisi posisi ini sementara. Sejak awal memang kamu yang harusnya mengisi posisi ini. Tapi entah kenapa kamu masih aja ngotot nggak mau setuju."
"..... kurang aj-"
BRAK!
"Permisi, Pak Hendy."
"Hm? Ada apa?"
Seorang suruhan Hendy memasuki ruangan, dan membisiki Hendy sesuatu. Hendy pun segera melirik tajam ke arah Ambar, dan Ambar sigap pergi ke luar bersama suruhannya tersebut.
Pistol pun keluar dari cadar wanita itu, dan ia nampak menyiapkan diri untuk bertempur.
"Haah, makhluk-makhluk menjijkkan itu sepertinya datang buat jemputin kamu, harus gimana nih?" ujar Hendy.
"...... maksudnya? Makhluk-makhluk..? Kamu ngomong apa dari tadi aku nggak ngerti!"
"Hhahahaha.."
"...... lepaskan aku. Nggak ada gunanya kamu terus maksa ak-"
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!!"
"!!!!!!!!"
Hendy tertawa terbahak-bahak. Ia pun mencoba mengusap wajahnya, dan lagi-lagi mencoba memprovokasiku.
"TANDA TANGAN AJA SUSAH BANGET, DASAR L#NTE!!"
"KURANG AJAR! KAMU PIKIR AKU TAKUT SAMA KA-"
D O R !
"ARGHKK-!"
BRUK!
Kali ini nampak perutku tertembak. Pelan-pelan, darah kembali mengucur, dan aku pun terjatuh dari kursi. Tak lama kemudian, dua orang pesuruh Hendy datang memasuki ruangan dan membawaku keluar.
"Maaf, Ana. Tanda tangan sebentar aja bisa nggak?"
"Uhgk... ukh.. nggak sudi!"
".... makin hari makin goblok."
"Urhk! Ohok! Enyah kau, manusia kotor!"
Aku yang masih tersadar, mendapati bahwa lukaku nampak semakin membesar. Tidak ada satu pun orang di sini yang bisa diandalkan, membuat diriku sendiri jadi nggak berguna.
"Ughk... stop... hentikan..."
"Tenang aja, Ana. Habis ini diobatin kok. Aku juga udah izin sama papahmu buat nyulik kamu jadi jangan coba ngadu-ngadu, ya. Percuma."
"...... a-apa..?"
Pa-papah? Ia bahkan izin sama papah? Buat nangkep terus nembakin aku cuma buat ngasih cap jempol buat bisnisnya?
"...... ta-.. lian.. mua.."
"Hm? Kamu ngomong apa?"
Aku yang terus merintih lemah mencoba terus menyadarkan kedua mataku. Meskipun kepalaku terasa sangat sakit, tetapi aku terus mencoba menahan diri agar seenggaknya tidak jatuh pingsan.
Setidaknya kalau memang ini adalah saat-saat terakhir, seenggaknya aku ingin meludahi wajah pria kotor ini.
"..... ka-"
B R A K ! !
Tiba-tiba saja ada suara tembakan dari luar ruangan. Sepertinya dari kepolisian.
Ah, apakah masih sempat?
"ANGKAT TANGAN! LEPASKAN SANDERA!!"
"A-APA!?
DOR! DOR! DOR!
"BUSET! APA-APAAN!?!"
BRAK! BRAK! BRAK!
"BAY! MEREKA KABURAN SEMUA!"
"ADA RUANGAN LAGI DI SITU! DOBRAK YAN!"
BRAK! BRAK! BRAK!
"BUKA PINTUNYA!"
Kini salah satu polisi nampak berusaha mendobrak pintu ruanganku, dan alhasil Hendy dan pesuruhnya sigap panik. Mereka pun segera kabur dari ruangan ini.
"Buset!? Polisi!? Nggak mungkin! Aku sudah suruh aya-"
"Pa-pak! Saya sudah amankan kertasnya! Ayo kabur lewat sini!"
"O-oke!"
Dap! Dap! Dap! Dap!
__ADS_1
Mereka berdua pun lari lewat ruang belakang. Aku yang masih dendam pun memutuskan untuk mengawasi mereka.
"Lewat sini, pak!"
Sang pesuruh pun menbuka sebuah tirai yang cukup membaur dengan dinding. Dan kemudian, muncul sebuah pintu kecil di belakang. Aku yang sudah tahu kemana mereka kabur, akhirnya bisa menutup mata. Namun, sesaat aku kehilangan kesadaran, pintu pun berhasil didobrak.
B R A K ! !
"!!!!!!"
"ASTAGA! YAN!! YAAAN! YANTOOO! DI SINI NAAH! YANTOOO!"
DAP! DAP! DAP! DAP!
"HAH! HAH! HAH! APA!? MANA!?"
Seorang polisi yang dipanggil pun dengan cepat menghampiriku yang sudah tersungkur. Ia tak sengaja melihat wajahku, dan ia pun terkejut.
"YA AMPUN!! ANASTASIA ANING!?!?"
"BUKA JALAN! AKU AJA YANG ANGKAT! RIZKY MANA!?"
"DUA MENIT LAGI SAM-"
DOR! DOR! DOR!
"ASEP! SEMBUNYI DULU PINTAR!"
SRAK!
"UGHK! BIARIN AKU SELESAI NGOMONG DULU KENAPA!?"
"MEREKA SURUHANNYA SI HENDY ITU KAN!? PASTI MEREKA SEMUA POLISI YAN!! GAK BISA BUKA JALAN INI!"
DOR! DOR! DOR!
BRAK!
"TCH! KITA SEMBUNYI DULU AJA GIMANA BAY!? KALAH JUMLAH INI!!"
"HAAIIHH!"
Aku yang mendengar mereka panik mencoba memberikan informasi mengenai pintu kecil rahasia yang berada di balik ruangan. Mesikpun hanya sanggup berbisik, tetapi nampaknya dua laki-laki ini sigap mendengarkan.
"P-pintu.."
"!!!!!!!"
"I-IYA MBA?!"
"A-ada... haah.. pi-pintu... kecil.. di belakang.."
"PI-PINTU!?"
GREP!
Crak!
Salah satu dari laki-laki ini pun mengambil sebuah pistol yang terjatuh di lantai. Ia pun memeriksa apa ada peluru di dalamnya, dan ia menemukan dua peluru tersisa yang siap dipakai.
"AYO! KITA COBA KE BELAKANG! BIAR AKU TAHAN PINTUNYA KAMU BAWA DIA KE SANA DULUAN!"
"OKE! JANGAN MENINGGAL KAMU!"
"SI PINTAR! KAMU PIKIR AK-"
"OKE DEH BAY-BAY!!!"
"UGHK!"
DAP! DAP! DAP! DAP! DAP!
Laki-laki satunya sigap mengangkat tubuhku, dan berlari ke belakang ruangan.
"MBA KASIH TAHU SAYA PINTUNYA, OKE?"
"I-itu.. haah.. buka aja.. tirai nya.."
"Tetap bernafas mba! Kalau mau tidur gapapa!"
SRARAK!
"Beuh! Kecil banget! Bisa muat gak ini yah!?"
"Ka-kalau mau masukin saya dulu ke pintunya gapap-"
"AH TEROBOS AJA LAH COY!"
"????"
Tak lama kemudian, ia pun segera meletakkanku di lantai, dan mencoba meraba pintu kecil tersebut.
TAP.. TAP.. TAP..
"Ma-mas... nga-.. ngapain..?"
"Ini beton kan ya..? Bisa nih."
"Ma-mas..?"
"MBA TOLONG TUTUP KEPALANYA YA!"
"A-apa..?"
SSAT!
Laki-laki ini sigap mengangkat kakinya, dan ia mendendang pintu itu dengan sekuat tenaganya.
𝗗 𝗔 𝗔 𝗔 𝗔 𝗔 𝗥
Pintu kecil itu pun segera terbuka lebar, menuju lorong rahasia menuju parkiran. Aku yang menutup kepala, tiba-tiba tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"A-ASTAGA! YA AMPUN MBA! MAAF! ADUH! ADUHAI AMPUN DJ!!"
Aku mulai tertidur, dan menyadari suara ambulans mulai datang mendekati hotel. Tak lama kemudian, kesadaranku hilang, dan aku pun pingsan di tempat.