
Esoknya.
Jeglek!
Saya membuka pintu mobil Hendra dan hendak masuk. Namun dari dalam gang, Yoga terlihat berlari membawakan saya serantang bekal.
"Abang pergi dulu, assala-."
Dap! Dap! Dap!
"Bang! Tu-tu-tunggu dulu! Abang!!"
"Ha? Apa itu? Bekal?"
"HAH! HAH! HAH! IYA! JANGAN SUKA LUPA GITU NAPA BANG!? HAH! HAH! NGEREPOTIN MULU!"
Saya pun sedikit tersenyum melihat tingkahnya itu. Pelan-pelan, saya mengusap kepalanya. Tak pernah sekalipun dalam hidup Yoga membuatkan saya bekal.
Kemarin, pas saya pulang dari interview, memang Yoga tiba-tiba belajar memasak dengan mamak di dapur, entah apa tujuannya.
Tapi sebenarnya kalau dipikir-pikir, sangat bagus kalau Yoga mulai bisa memasak di dapur. Pekerjaan mamak di rumah akan semakin ringan. Apalagi saat ini saya yang bertugas menyuci di rumah, jadinya mamak punya waktu istirahat lebih banyak dari biasanya.
Lumayan, mamak juga akhir-akhir ini Mood-nya sudah membaik. Apalagi semenjak kedatangan saya di rumah, nampaknya atmosfir tidak lagi terasa sepi.
"Yoga, ini kamu yang masak semua?"
"Nggak semua, tempe tumisnya mamak yang bikin. Yoga bikin telor orak-arik sama bumbu baladonya aja."
"Beuh, mantap. Meskipun dari luar telornya kelihatan gak karuan, mungkin rasanya enak."
"Heh, asal abang tau ya, jangan nilai sampul dari buk-"
"Terbalik."
"Ja-jangan nilai buku dari sampulnya! Ma-maksud Yoga begitu!"
"Haha. Oke deh, nanti abang kasih review. Abang pergi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalaam. Kata mamak hati-hati!"
"Iya."
JEGLEK!
Saya pun masuk ke dalam mobil, dan Hendra pun sigap menyalakan mesin. Saya meletakkan bekal saya di atas laci mobil, berniat memasukkannya dalam tas.
"Wih, itu Yoga yang bikin? Wangi ya."
"Iya, Hen. Tiba-tiba aja dia minta mamak ajarin masak."
"Mungkin dia mau ringanin beban mamakmu kali, Ki."
"Bisa jadi, Hen."
"Astaga, memang kamu ini. Gak peka-peka."
"Diem, yuk di gas."
"Oke."
...***...
Siang, jam istirahat.
Klotak! Klotak!
Seorang wanita bohay sedang berjalan menuju ruang kerja CEO dengan pakaian yang cukup terbuka. Ia pun membuka pintu tanpa salam, dan sigap memanggil Anastasia di dalam, namun sayang sekali hanya ada saya yang sedang bersih-bersih di sini.
Jeglek!
"Ana! LHO!?"
"Ah, salah ruangan, mas. Di sini ruangannya CEO."
"SIAPA LOE!? ANA MANA!? ANAA!"
"Ruangan Nyonya Anastasia ada di lantai bawah."
"GUE TANYA SIAPA LOE!? IH!"
"................... nama saya Rizky."
"Emang jam segini OB udah boleh bersih-bersih!? Gak jelas loe!?"
"Ya.. emang kerjanya OB jam segini kan?"
"Bacot! Iuh!"
"????????"
Wanita tulen itu pun segera keluar lalu membanting pintu. Saya pun menunggu suara selop wanita itu memudar, lalu memanggil Anastasia keluar dari dalam lemari.
"Yank, udah aman."
"Ghakk!"
"Hm? Kenapa?"
"A-a-!?!?"
"Ah, kaget dipanggil ayank?"
"A-apaan sih!? Gak usah pake begituan! Udah kayak Leo ama Verna aja.. lebay banget!"
"Hm? Oh kalau nggak mau gapapa."
...***...
Brak!
Ana menutup pintu lemari. Tak lama kemudian, ia pun duduk di kursi ayahnya. Ia pun menarik nafas dalam, danĀ menatap saya yang sedang bersih-bersih dengan tatapan sedkit kecewa.
"Tapi, Rizky... ada yang pengen ku omongin."
"Afaan tuh?"
"Aku pengen ngomong soal kerjaan kamu di sini."
__ADS_1
Trak!
Saya meletakkan sapu dan serokan dengan rapi, lalu menatap wajah Anastasia dengan tatapan bingung. Anastasia pun nampak segan mengatakannya, namun ia memberanikan diri.
"Ada masalah?"
"Kenapa kamu nggak bilang kalau papah nawarin kamu jadi OB di sini?"
".............. ada masalah?"
"Ke-kenapa.... harus OB?"
".............. ada masalah?"
"Seenggaknya jawab kek!"
"Kamu nggak suka kerjaanku di sini jadi OB?"
"!!!!!"
Anastasia terkejut dengan pertanyaanku yang mulai menusuk dirinya. Ia seakan membenarkan pertanyaanku, sekaligus tidak ingin menerimanya.
"Kalau bener, mari kita asumsikan satu hal."
"......... sa-satu hal?"
"Kalau kamu masih belum bisa menerima diriku apa adanya, bukan begitu?
".......... benar."
"Kenapa begitu?"
"Kurasa, aku masih belum mengenal dirimu lebih jauh."
Saya yang mendengarnya mengeluh, pelan-pelan kembali gemas ingin mencubit kedua pipinya yang gembul itu.
"Kamu jangan bikin aku gemes. Kalau masalah kenal gak kenal itu salahmu karena gak pernah nanya."
"!?!?"
Gradak!
"Hm? Anastasia?"
PLUK!
Anastasia yang mulai memerah segera bangun dari kursi ayahnya. Ia berlari kecil ke arah saya, dan pelan-pelan memeluk saya dengan erat.
Saya cuma bisa berekspresi terkejut. Karena ini pertama kalinya saya dipeluk oleh seorang wanita, mungkin indera perasa di tubuh saya mulai berfungsi kembali. Kehangatan Anastasia membuat hati saya lebih bersemangat untuk mendapatkan dirinya.
Ia yang masih mendekap, mulai bergumam kesal.
"Masa cewek nanya si..?"
"Hm? Oh jadi maunya aku yang kasih tahu duluan?"
Anastasia pun mendongak ke atas dan menatap wajahku. Ia pun tersenyum dan membalas,
"Iya, mau dong!"
"Gak bisa hari ini, aku masih kerja, mba."
"Hmph, dasar!"
"Maaf, mungkin minggu aku bis-"
"Minggu nggak bisa."
"Kok gitu?"
"Minggu ini aku mau kasih kamu kejutan."
"Hm? Kenapa dikasih tahu?"
"Blwee! Suka-suka aku dong!"
"...... iya deh, kalau gitu, lain kali aja."
Beberapa saat kemudian, adzan mulai berkumandang. Saya pun segera membereskan pekerjaan, dan Azam, teman kerja saya, mengajak saya untuk dzuhuran bersama.
"Mas, ayok dzuhuran."
"Gas."
...***...
1 jam kemudian..
"Allahumma sollialaa.. muhammad..."
Sang Imam pun membubarkan shaf. Saya dan Azam pun hendak kembali ke kantor bersama.
"Berarti minggu depan Mas Rizky mulai shift malam ya?"
"Iya, soalnya pagi saya sibuk ngajar di sekolah. Jadi saya mau usahakan ambil malam."
"Haah, kerja jadi OB sekaligus Security emang susah ya mas. Saya aja yang cuma jadi OB udah kesusahan di kantor. Pegawainya banyak yang jorok soalnya..."
"Ah, mungkin ad-"
TINUT! TINUT! TINUT!
"Hm?"
Senjata saya berbunyi kencang. Saya yang sibuk berbicara awalnya ingin mengabaikan panggilan itu. Namun, karena saya pikir panggilan itu penting, saya mencoba mengangkatnya dan menemukan Anastasia menelepon saya.
"Halo? Kenap-"
"HAH! HAH! HAH! RIZKY!! TOLONG!"
BRAK!
"RIZ- AAAARGHKK!! AAARGKH!! HENTIKAN! STOOOP! BERHENT- AAARHK!!"
"Anastasia? Woy! Anasta-"
PLAK!!
__ADS_1
"AAAAAARKHH! HENTIKAAN!!! HENDY! SUDAH! SUDAH! STOOP!"
"ANA! KAMU DI MANA!?"
KLAK!
"HENDY!!!! BERHEN-"
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT-!
"A-apa-apaan itu, mas? Sia-"
DRAP!
Saya pun sigap lari ke luar pagar masjid dan menghentikan angkot yang lewat. Azam hanya bisa ikut dan mencoba menghentikanku.
"Ma-mas!? Mau kemana mas!?"
"SAYA BOLOS DULU!! NANTI SAYA INFOKAN KALAU MAU BALIK! SAYA ADA KEPERLUAN MENDADAK!"
"A-APA!? KOK BEG-"
"CALON ISTRI SAYA DICULIK! TOLONG GANTIKAN SAYA HARI INI! NANTI JATAH SAYA BUAT KAMU!"
"A-APAA?????"
JEGREEESS!
"SAYA PERGI DULU!"
"AH, I-IYA MAS!"
BRMMMMMMM!!!
Saya pun melaju dengan angkot yang kebetulan kosong tersebut. Sang supir nampak panik karena saya yang menyuruhnya melaju, namun ia tetap bisa tenang mengendarai angkot tersebut.
"Dek, ke polsek barat bisa nggak? Saya nggak bisa sempat turun."
"A-aman, mas! Ada gawat darurat ya mas?!"
"Anggap aja kalau saya telat dunia bakalan kiamat. Ayo cepat di gas!"
"A-APA!? KI-KIAMAAAT!?"
JEGLAK!
BRRUUUUMMMMM!!!
Angkot yang di bawa anak ini nampak melaju sekencang Flash. Namun ia mampu menyalip motor dan mobil dengan baik.
"HATI-HATI YA DEK!"
"A-AMAN MAS!!"
Semakin lama ia semakin melaju. Dan ada beberapa menit, kami pun sampai di polsek barat dengan selamat. Meskipun detak jantung anak itu masih terlalu cepat untuk mengambil nafas.
"NAH DEK! AMBIL AJA SISANYA! MAKASIH BANYAK!!"
"A-AH MAKASIH BANYAK MAS!!"
...***...
BRAK!
Saya pun sigap memasuki kantor polsek. Sembari berlari, saya pun dipersilahkan masuk oleh petugas pelayanan sosial dengan ramah
"Selamat datang di Polsek Barat. Ada ya-"
JEGLEK!
"LHO!?"
Saya yang panik, segera menaiki tangga menuju ruang monitoring yang berada di lantai dua. Sang petugas penjaga loket panik mencoba menghentikan saya.
"Ma-mas! Mau kemana!? Harus daft-"
"Rehan masih bertugas di sini ya?!"
"A-apa!? Ka-kalau Pak Rehan iya.."
"Oke, makasih. Saya mau ketemu dia aja."
"E-eh tu-tunggu mas!? Cuma staff aja yang bole-"
...***...
JEGREK!!
BRAK!!
"REHAN!! AKU BISA MINTA TOL-"
Saya pun segera membuka pintu ruang monitoring, dan mendapati sahabat lama saya sedang mengorok di depan layar-layar CCTV dengan santai.
"REHAN!!!"
"Nghrok-!? U-Umh! Ke-kenapa lagi Tut-"
"PA-PAK REHAN, MAAF INI ADA MAS-MAS YANG MAU KET-"
"Aerghh... siapa siiii...?"
Saya yang emosi pun sigap melempar senjata saya ka wajah Rehan yang masih berliuran itu. Rehan pun sigap menangkapnya, dan menemukan bahwa saya lah yang ingin bertemu dengan dirinya.
SSAT!
TAP!
"Siapa sih?"
"WOY MANUSIA KONTET. MASIH SUKA TIDURAN AJA KAMU!?"
"........ tunggu sebentar, kayaknya aku tahu-"
"KENAPA? LUPA?"
"................ anjink.. Rizky...?"
__ADS_1