
Krieet...
Yoga perlahan membuka pintu kamar. Kepalanya mengintip keluar, dan ia tak melihat siapa-siapa. Ia pun kembali menoleh ke dalam, dan memberiku aba-aba untuk mengikutinya.
"Mba! Shhht!"
"O-okeh.."
Dap.. Dap.. Dap..
Kami berjalan sesunyi mungkin. Mata kami tak berhenti-berhentinya melirik, waspada akan keadaan. Kami tidak mau berhadapan lagi dengan dokter nggak waras itu.
"Pelan-pelan, mba.."
"Okeh.. Aman.."
Menuju ujung koridor, kami menemukan Lift. Yoga langsung memiringkan kepalanya, dan berwajah bingung.
"Hm?"
"Ke-kenapa? Ada orang kah..?"
"Kok Liftnya.."
"Apa..? Kenapa Lift-nya..?"
Aku melirik ke arah Lift tersebut, dan menyadari angka lantai yang muncul di atas Lift tersebut.
31.. 30.. 29.. 28.. 27..
...****************...
Melihat angka lantai yang terus tyrun tersebut, aku dan Yoga mulai menoleh panik ke arah satu sama lain. Dahi Yoga mulai kembali berkeringat dingin, sedangkan detak jantungku kembali menanjakkan gasnya.
"Mba... Ki-kita ada di mana..?"
"Nggak tahu, setahu saya gedung setinggi ini gak ada di Balikpapan."
"Lah!? Tapi kita masih di-"
"Kalau kita masih di Balikpapan, berarti tempat ini bukan tempat sembarangan, Yoga."
"Ma-maksudnya!?"
"...... Lapas Bawah Tanah, mungkin."
JEGLEK!
Nampak Lift berhenti tepat di lantai tempat kami berada. Yoga sigap sadar, dan memintaku untuk bersembuyi.
"Mba! Lift-nya udh berhenti di sini!!"
"Astaga! Yang bener!!"
"Waduh!! Lewat sini mba! Cepetan!"
"Hiiyy!!"
"Ayo masuk ke sini mba!"
Syuk!
Kami segera masuk ke ruangan tepat di samping kami. Kami menutup pintu sedikit merapat, agar Yoga bisa mengintip. Aku berada di belakang Yoga sigap merapatkan tangan kanan ke mulut dan hidung, berusaha tidak bersuara sama sekali.
TINUUUT!
Jegreeek!! Chsssssss!!
Tap.. Tap.. Tap.. Tap..
Beberapa suara langkah kaki mulai terdengar keluar dari dalam Lift. Aku dan Yoga mulai merapatkan pintu serapat mungkin, namun masih mencoba mencari celah untuk mengintip siapa yang keluar dari pintu Lift.
"........"
"......."
Kami teridiam membisu. Sembari menatap orang-orang yang lewat.
"Lihat muka mereka betul-betul, Yoga."
"I-iya mba."
Tap.. Tap.. tap..
Satu per satu orang lewat, namun Yoga tidak begitu mengenal wajah mereka, sampai beberapa orang selanjutnya lewat, Yoga tiba-tiba dengan panik, sigap menjauhi daun pintu dan membelalakkan kedua matanya
__ADS_1
SRARAKK!!
"Yo-Yoga?!"
"Alamak! Buset!"
"Ka-kamu ada kenal salah satu orang dari mereka?!"
"Haah... Haah.. Haah.. Gilak!"
"Yoga?!"
Grasak!
Yoga yang nampak panik, sepertinya belum mau untuk menjawab pertanyaanku. Ia hanya memintaku menjauh dari pintu, dan segera mengajakku untuk bersembunyi.
"Mba, kita jangan bicara depan pintu! Ayo sembunyi di belakang dulu!"
"A-ada apa!?"
...****************...
Singkat cerita, kami sudah bersembunyi. Yoga diam-diam mengeluarkan HP dari dalam kantong celananya, dam mengecilkan volume sebelum menyalakannya.
"Yoga!"
"Se-sebentar mba! Saya mau nelpon orang dulu sebentar!"
"A-apa!? Di-disini emangnya ada jaringan!?"
"Di lapas mana mungkin ada jaringan!"
"Terus kamu mau ngapain!?"
Crak!
Yoga mengeluarkan kartu provider dari HP-nya sendiri. Ia pun mengutak-ngatik layar HP, membuatku sigap bingung dengan tingkah lakunya itu.
"Ka-kamu mau ngapain sih!?" bisikku kesal.
"Dibilangin mau nelpon orang!"
"Gimana mau nelpon kalau kartunya aja gak ada!?"
"Sshht-!!"
Tap! Tap! Tap! Tap!
"Ayo dong, plis lah ya. Bekerjalah!"
TINUT!
TUUUT... TUUT.. TUUT..
Tiba-tiba suara menghubungkan keluar dari HP Yoga. Yoga pun tersenyum semangat dan segera menempelkan HP ke telinganya.
"LAH!? KOK BISA!?"
"Mba Ana, kalau telpon saya terhubung ke temen saya tolong diam sebentar ya."
"O-oke. Eh soal orang-orang yang dari Lift ta-"
"Sshht!!"
Tiba-tiba HP Yoga berbunyi statis. Yoga yang panik segera membuatku menutup mulut.
...----------------...
BZZZTTT-!!!
"Ha..... Ha..... Halo? Yoga?"
"Ro-Roger! Ini bener saya Yoga! Radio Daruratmu ternyata berhasil!"
"Ro-Roger! Baguslah kalau begitu! Betewe kenapa tiba-tiba kamu hubungin begini? Kartumu mati?"
"Ro-Roger! Sorry, posisiku sekarang lagi di lapas, gak ada sinyal!"
"A-APA!?! KAMU DI LAPAS!? KAMU JADI KRIMINA-"
"GAK USAH BICARA MACAM-MACAM KAMU YA! AKU MINTA TOLONG CARIIN JALAN KELUAR AJA!"
"Lah!? Kenapa kamu kejebak di Lapas!? Bawa kabur tahanan kamu ya!?"
"MATAKMU!"
__ADS_1
"Haah.... Ro.... Roger, titik lokasi cepet."
"Lantai -24 kamar A4."
"Oke. Bentar ya."
BZZZT-! Ceklek!
...----------------...
Sesaat Radio Darurat Yoga mati, Yoga langsung menatap kedua mataku.
"Mba! Setelah keluar dari kamar ini, saya mau cari salah satu orang tadi!"
"Kenapa!? Kamu ada kenal salah satu dari orang-orang itu!?"
"Untuk empat orang dari depan saya gak tahu, tapi dua orang di belakang, salah satunya..... ada abang."
"A-APA!? Abangmu!?"
"Haah.. Haah.. Iya, mba."
"BAGAIMANA BISA RIZKY?!"
"Haah.. Haah.. Yoga.. Kurang.. Tahu.."
Detak jantungku sigap berdegup kencang. Buat apa Rizky ke lapas bawah tanah? Apa yang sedang ia perbuat?!
"Te-terus!? Yang satunya lagi!?"
"Yang satunya lagi.. Hendy Anas."
"Ah, manusia sialan itu, rupanya."
"Mungkin mereka mau buat kesepakatan? Soal hubungan Mba Ana sama Abang!?"
"Haah... Haah.. Aih, kurang tahu sudah."
Kami berdua sigap terdiam. Bak dua kucing yang sudah hilang tempat untuk dituju. Yoga yang sedang kebingungan perlahan semakin panik. Aku pun mengelus kepalanya, dan mencoba menenangkannya sebisaku.
"Udah, tenang dulu. Abangmu pasti punya alasan. Mungkin teorimu bener. Mereka mau bikin kesepakatan soal hubungan kontrak saya dengan Hendy Anas."
"Haah... Abang.. Pasti bener-bener punya perasaan, walau sedikit. Saya percaya! Abang gak bakal pernah ngelepasin Mba Ana gini aja! Mba Ana pun orang yang baik!"
"Yoga.."
Aku duduk mendekati Yoga, dan menatap kedua matanya. Yoga yang mulai berlinang air mata menatap mataku dalam-dalam, dan mendengarkanku dengan saksama.
"Ini semua bukan soal baik atau buruknya saya. Tapi ini semua soal darimana asalnya saya, seberapa pentingnya saya di antara orang-orang, dan.."
"....... Dan...?"
"Dan.... Seberapa bergunanya saya bagi orang-orang."
Yoga menatapku dengan ekspresi kasihan. Namun bukannya aku marah, aku malah merasa wajar. Diriku yang sudah terikat dengan harta negara, tidak bisa bebas bertindak semaunya seperti orang lain.
Yoga meneteskan air matanya, dan bertanya dengan nada bicara ragu
"Mba harus hidup.. Sampai sebegitunya?"
"..... Memangnya dari awal apa kita punya pilihan untuk menjalani hidup sesuka hati?"
"..... Pfft-!"
"Hahaha, kita cuma bisa menerima, walau pahit. Ngerti semuanya, Yoga?"
"Pfft-! Haah.. Iya. Yoga ngerti, mba."
Yoga mengusap air matanya laju, dan memeriksa HP-nya kembali. Sigap, ia tersenyum nakal, dan menatap mataku semangat.
"Saya sudah dapat map lapas dari temen saya. Kalau begitu tujuan kita sekarang kemana, mba?"
"Yang pasti bukan kabur."
"Oke..? Terus?"
"Kita cari Si Manusia Kontet sama Abangmu itu."
"Ah! Mau grebek mereka nih ceritanya?"
"Bomat sama orang-orang yang lain, saya cuma mau lihat pacar saya untuk terakhir kalinya!"
"Beh beh beh! Ayo kalau begitu lewat sini!"
"GAS!"
__ADS_1
Kami pun segera keluar dari kamar tahanan dengan percaya diri, dan memulai pencarian. Meskipun aku mungkin akan sedikit menyesal, tapi bukan berarti ini pilihan yang buruk.
Apapun yang terjadi, seenggaknya saya mau dengar penjelasan darimu!