
Di dalam ruang guru, terlihat beberapa guru mulai diinterogasi murid-murid yang lapar akan 10 juta. Sebagian guru nampak keluar, takut akan kerumunan murid yang mengganggu pekerjaan mereka.
Namun abang masih saja santai seraya menyeruput teh hangatnya di meja. Bagaikan tidak ada yang terjadi.
"Bu! Ibu tahu ndak sebelumnya Pak Rizky kerja di mana!? Sebut perusahaannya aja deh, bu!"
"A-aduh, anak-anak. Ibu ndak tahu astagfirullah. Berhenti tanya ke ibu, ya."
"Aduhh ibu make bohong-bohong segala yaa! Pasti Pak Rizky suruh ibu diam-diam aja kan?"
"Ya ampun, ndak sama sekali, anak-anak. Ibu juga kurang kenal Pak Rizky itu siapa! Demi Allah!"
"Aishh, ibuu ndak seruu!"
...----------------...
Anak-anak mulai mencari informasi kesana kemari. Mulai dari staff, satpam, guru-guru, bahkan asisten guru di sekolah pun sekarang ini sangat diburu.
Anak-anak mulai berubah menjadi monster beringas di jam istirahat. Hanya mencari informasi tentang abang siapa dan sebelumnya ia kerja di mana.
Namun abang sendiri sekarang malah bersantai di taman yang sudah dipenuhi murid-murid beringas itu. Beberapa siswi di dekatnya mulai menginterogasi dirinya.
"Pak Rizky! Pak Rizky hobinya apa? Boleh saya tanya kan?"
"Boleh. Hobi saya itu... main Catur."
"Waduh, susah ya nebaknya kalau hobinya main catur! Haha!"
Aku menatap abang yang seru bersama murid-murid cewek itu. Kelihatan ia sibuk memakan roti isi sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan, mengingatkanku pada masa lalu.
...----------------...
Sejujurnya, aku benar-benar tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.
Setahuku, ia bersekolah di asrama, dan pulang seminggu sekali. Kadang ia membawa oleh-oleh atau mainan baru untukku.
Setiap minggu, ia selalu membawaku jalan-jalan ke taman dekat rumah. Kami bermain, dan tibalah sesi Q & A di tengah hari.
"Abang punya berapa teman di sekolah?"
"Ah, ada Hendra, Rehan, Dimas, Yanto.. sama Bayu."
"Teman cewek ada nda'?"
"Ada, namanya Nowan."
"Hm? Satu aja?"
"Ada banyak, tapi abang cuma kenal satu."
"Ahh! Begitu ya! Semoga, kalau Yoga nanti sudah sekolah, dapat banyak teman kayak Abang!"
"............. aamiin, Yoga."
Aku bertanya banyak hal, dan abang menjawabnya dengan santai. Seperti dirinya yang sedang duduk bersama murid-murid cewek itu yang berusaha keras sok kenal untuk menggaet informasi darinya.
"Pak! Dulu guru bapak di sekolah siapa ya? Pelajaran favorit apa?"
"Wah, pelajaran favorit saya itu pelajaran yang ndak terima pertanyaan lagi ya."
"Aaaaah, bapak ndak seruu!"
...***...
Di ruang guru, kelihatan anak-anak murid sudah berani mengumpulkan kertas jawaban di meja abang. Anak-anak sudah pada berani nebak semua! Kayaknya memang ndak ada anak muda yang ndak tergiur 10 juta di jaman sekarang. Kalau sudah begini, mulai mencari informasi udah terlalu terlambat. Semua murid sudah lebih dulu bergerak. Di saat-saat seperti ini, mau ndak mau aku cuma bisa ngelakuin satu hal.
Iya, satu-satunya hal yang paling efektif adalah beli informasi.
"Ndak usah nyangkal, pasti anak-anak cewek lebih unggul soal informasi. Fix no debat."
Aku pun segera menghampiri beberapa anak cewek di sekolah ini, dan tentu aja dengan segepok uang di tanganku.
Akan kubuktikan ke abang, aku bisa juara satu di liga sekolah ecek-ecek yang dia buat ini!
"Cindy!"
"Hm? Yoga?"
"Cindy, tadi kulihat kamu sudah ngumpulin kertas ke mejanya Pak Rizky. Kamu sudah tahu jawabannya?"
"Ah, sepertinya. Kenapa?"
"Aku, mau beli informasi."
__ADS_1
"Beli?"
"Iya, akan ku bayar informasimu."
"Ih! Curang dong kalau begitu!"
"Aih, aku ndak langsung tanya semua jawabannya! Aku tanya hal-hal yang lain!"
"Hmmm.... tapi ndak langsung jawabanku ya? Menarik."
"Gimana? Mau ndak!?"
"Boleh deh."
"Oke. Makasih."
"Baik, apa pertanyaannya."
"Aku mau tanya soal metode yang kamu pake buat nebak jawabanmu. Jawab yang singkat aja, ku tawar 20.000."
"Wah! 20.000? Boleh-boleh!"
"Sip, jawab cepat."
"Ah, aku pernah nonton di internet, soal metode Appearance Analysing."
"Appi- apa?"
"Bahasa Indonesia-nya itu analisa penampilan. Jadi, kita bisa menebak sifat, perilaku, kebiasaan, dari cara orang bertingkah dan mengolah dirinya melalui penampilan yang ia punya."
"Ah, kayak teknik rekrutmen ya, kasarnya."
"Ada pertanyaan lagi?"
"Cuma itu aja metodemu?"
"Ada lagi, cuman dua indormasi berarti 40.000 dong?"
"Iya, ndak masalah. Kalau ada lagi kasih tahu aja."
...***...
Rizky's POV
"Menarik, membiarkan yang lain ngerepotin diri dulu nanya kemana-mana, kamu tinggal enteng beli informasinya."
Ternyata sifat adik saya yang ndak mau repot itu masih aja tertempel khas di dirinya. Ndak mau hilang-hilang. Jangan heran kalau ia suka sekali malas-malasan di rumah.
Namun, metode Yoga itu sedikit beresiko. Jikalau informasi yang diungkap itu bohong, mau ndak mau uang yang dikeluarkannya jadi sia-sia.
Tapi, kelihatan ia memilih untuk membeli informasi hanya dari teman-teman sekelasnya. Ia tak berani bertanya ke orang lain. Bisa dilihat dari wajahnya yang cukup panik, ia pasti juga kesusahan memilih orang.
Meminimalisir kerugian?
"Pfft-! Anak itu. Sudah mulai pintar rupanya, nice."
Selagi saya mengangguk bangga, Bu Sinah nampak menghampiri saya dengan wajah kelelahan.
"Pak Rizky!"
"Ah, Bu Sinah."
"Gara-gara Pak Rizky saya jadi dincar murid-murid kelas satu, tau ndak!? Mereka semua nanyain siapa Pak Rizky ke saya!"
"Wah, bagus dong. Jadi artis."
"Matamu, pak! Bukan cuma saya aja korbanmu, tau! Itu biar Bu Kepsek pun kantornya ramai! Semua cuma gara-gara uang 10 juta!"
"Haha, maaf. Menurut saya, kehebohan itu adalah variasi pola hidup yang cukup baik diterapkan di hari pertama bekerja."
"Va-variasi? Udah kayak nasi uduk aja pak, pake variasi-variasi segala!"
"Haha."
Anak-anak murid nampak kembali menghampiri kami berdua. Mereka sigap mengeluarkan pensil dan buku, dan tanpa basa-basi segera menyapa kami.
"Aduh! Niat banget nyariin saya! Anak-anak itu!"
"Cieeee! Pak Rizky sama Bu Sinah!"
"Haduh, jangan pedulikan saya! Tanya sama Pak Rizky aja langsung! Saya sudah pusing! Pak Rizky, saya balik dulu ke ruang guru!"
"Tapi bu, Pak Rizky udah ndak terima pertanyaan! Bu Sinaah!"
__ADS_1
"Bu! Tunggu sebentar bu!"
Nampak Bu Sinah berlari kecil ke ruang guru sembari dikejar kedua murid cewek itu. Saya yang melihatnya ketar-ketir, hanya bisa tersenyum manis.
"Happy resting."
Saya yang sudah berada di lantai dua pun kembali menoleh ke arah Yoga yang sibuk membeli informasi dari teman-temannya. Bagi saya, liga tarkam ini bukan cuma buat bermain dan membangun kehebohan aja. Kontes berhadiah ini secara tidak langsung adalah ajang pembuktian buatmu, Yoga.
Selama saya pergi, apa kamu ada perkembangan? Apakah kamu ada perubahan? Apa ambisimu ingin mengalahkan bapak lebih besar dari ambisiku?
Kutunggu jawabanmu.
...***...
Yoga's POV
Teng! Teng! Teng!
Baru sehari diumumin, semua murid di kelasku sudah pada nebak semua! Gila! Apa-apaan?! Kenapa mereka pede banget kalau jawaban mereka pasti benar!?
"Kalian semua kepedean! Yakin banget jawaban kalian bakalan benar!?"
"Yoga."
"Hah!?"
Cindy nampak duduk ke kursinya, dan ia segera menegurku yang mulai ngebacot ndak jelas ke anak-anak.
"Kamu pikir cuma kamu doang di kelas ini yang beli informasi?"
"A-apa!?"
"Kamu pikir kami semua ini idiot apa? Siapa yang mau jual semua informasi yang udah susah-susah kami cari ke kamu?"
"............."
Amel pun ikut menegurku.
"Iya! Lagipun kan kamu pasti sudah tahu semuanya lebih dari kami! Iya kan? Adeknya Pak Rizky!?"
"!!!!!!!!!!!"
SIALAN! MEREKA TAHU!?
"Ka-kalian tahu dari mana!?"
"Hahahaha! Coba liat cowok kepintaran satu ini! Masih ndak mudeng kamu!?" teriak Cindy yang mulai emosi dan muak dengan diriku yang kebingungan dibuatnya.
"Kenapa Yoga!? Mau beli informasi lagi?!" tambah Amel yang sepertinya puas karena ia dan teman-teman sudah berhasil mengerjaiku.
"Ughk! Sialan kalian semua! Sialan!"
Jeglek!
"Ayo anak-anak! Semua duduk. Berhenti diskusi!"
Bu Renata tiba-tiba masuk kelas, dan hendak memulai jam pelajaran ke empat. Namun sebelumnya, beliau terlebih dulu memberikan arahan.
Greeeeeek....
Semua murid-murid nampak duduk rapi, dengan buku tulis dan buku cetak mereka masing-masing di meja.
"Sebelumnya saya mau umumin kalau saya ndak ada hubungannya sama Pak Rizky, jadi tolong jangan hampiri saya kecuali untuk bertanya soal pelajaran saya. Ingat!"
"Baik buu..."
"Dan juga saya dengar ada beberapa perkelahian terjadi di kelas dua karena adanya transaksi informasi pake uang. Saya mau peringatkan kelas ini untuk berhati-hati dalam mengolah informasi dan uang."
"Baik, buu..."
"Haah, saya bukannya mau nyuruh kalian berhenti ikut kontes tebak-tebakan itu, tapi saya minta hati-hati dalam berkompetisi. Jangan sampai ada staff sekolah atau guru-guru dan asisten jadi kerepotan bekerja karena kalian. Mohon dipahami."
"SIAP BUUU!"
"Haah! Dasar anak-anak jaman sekarang! Yaudah saya mulai pelajarannya!"
Sial. Anak-anak sudah benar-benar jadi musuhku. Coba lihat mukanya Cindy itu! Minta diudak-udak! Udah macam Nenek Lampir!
"...... awas kau ya, biadab!" ujar geramku dalam hati.
Dalam otakku, ada begitu banyak pertanyaan.
Lagi-lagi aku tertinggal. Bagaimana caranya aku bisa bertahan di situasi begini? Apakah aku akan berhasil membuktikan diri ke abang di sini? Siapa yang menjual informasi tentang aku dan abang!? Pasti ada seseorang yang terlibat!
__ADS_1
Apa yang terjadi!? Siapa?!