
Dua jam kemudian, di Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan.
Pip.. Pip.. Pip..
"UGH!"
Anastasia membuka matanya terbelalak, dan seketika mencoba bangun dari tidurnya. Sigap Yanto menahan tubuhnya agar tetap terbaring.
"E-EITS! MBA NYA BOBO'AN DULU YA!"
"AARGKH! JANGAN SENTUH SAYA!"
"MA-MAAF MBA! SA-SAYA NGGAK BERMAKSU-"
"KA-KAMU!? PO-POLISI YANG BANTU SAYA?!"
"A-AH IYA MBA! SAYA YANTO! SAYA MINTA MBA NYA TIDURAN DULU BISA KAN!?"
"........... Ah.."
Anastasia pun melemaskan tubuhnya yang terbaring. Ia menatap Yanto, dan menanyakan kabar Bayu yang tidak ada bersamanya.
"Mas.. Temenmu yang satunya kemana?"
"Ah? Bayu?"
"Namanya Bayu?"
"Ah.. Iya. Dia nggak usah dipikirin. Pikirin badannya mba dulu aja."
".......... Kalian temennya Rizky?"
"Ah!? Sempat denger ya mba?"
"Iya."
Yanto terdiam sebentar, dan pelan-pelan mencoba memeriksa keadaan sekitar. Ia menoleh kesana kemari, dan memutuskan untuk mendekati kursinya ke arah Anastasia.
"..... Sebenarnya Rizky yang nyuruh kami selamatin mba."
"...... Ah gara-gara saya telpon sih, mas."
"Mba.. Ngomong-mgomong dapat nomornya manusia kontet satu itu dari mana? Hubungan mba apa ya?"
"Ah.. Saya......."
Anastasia sontak terdiam. Ia mencoba menatap plafon, dan merenungkan hubungannya denganku sebentar. Yanto yang menatapnya melamun pun kembali menanyakan hubungannya dengan saya.
".......... Hm? Siapanya?"
Anastasia pun mengedipkan matanya dalam, dan menjawab pertanyaan Yanto dengan senyum tipis nan tegar dari wajahnya.
"Saya.... cuma temennya mas."
"Ah, kalau mba ngomong begitu saya nggak percaya sih mba."
"Ah, saya kenalnya baru-baru ini aja sih ma-"
"Bukan begitu mba."
"I-iya?"
"Masalahnya anak itu nggak boleh ngasih kontaknya sembarangan ke siapa aja. Termasuk temennya."
"........ Kok.... Gitu..?"
"Bukannya... Mba-nya sudah tahu sendiri? Kan anaknya Pak Daus?"
"Nggak! Saya nggak tahu apa-apa!? Apa maksud-"
"SSSSSSHHHHHHHTT!"
"!!!!!!"
"Jadi saya mau mastiin lagi, hubungannya mba sama Rizky apa ya? Sebagai polis- ehem. Mantan polisi saya wajib tahu mba."
".......... Saya... Anggap aja saya calon tunangannya."
"Ah, calon tuna-!? HAAAAAAAAHHHHH!?!?!?!?!?"
"Lh-lho!?"
"AAAAAAPPPPPPAAAAA!?!?!?!?"
...***...
JEGLEK!!
"YAN! MBA ANINGNYA UDAH BANG-"
"BAAAAAYYYYY!"
__ADS_1
Yanto segera bangun dari duduknya dan berlari ke arah Bayu. Ia pun segera berlutut dan menggenggam baju Bayu dengan matanya yang berkaca-kaca.
"KENAPA LAGI ANAK INI!?"
"AAARRGHH!!"
"KENAPA LAGI!?"
"RIZKY!!! RIZKYYY!! RIZUKIIIIIIIII!!! MANUSIA KONTET ITU!!!"
"APAAAAAAAA!?"
"TERNYATA DIA MAU TUNANGAN SAMA ANASTASIA ANING!!!!!"
"Hah..?"
"ANAK ITU BAY!! ANAK YANG SOMBONG, DINGIN, KURANG AJAR, NGGAK SOPAN, BAIK HATI DAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA ITU BAKALAN TUNANGAN!!!"
"...... APAAAAAAAAAAAA?????????"
Anastasia pun bingung dengan tingkah Yanto dan Bayu yang cukup aneh. Ia hanya bisa tersenyum canguung seakan bingung dengan situasi.
...***...
Di sisi lain, saya, Rehan dan Dimas, serta Hendra masih berhadapan dengan Ambar yang nampak mulai menyerah dengan hidupnya.
Ratusan orang mulai keluar dari gedung hotel, semenjak dua ledakan keras berbunyi.
"Bar, kita gak mau nyakitin kamu, but please," ujar Rehan pasrah.
"Iya Bar. Kamu juga kan kawan kami. Kami betulan ndak mau urusin kisah cintamu. Tapi kalau menyangkut negara..," lanjut Dimas.
Ambar masih menutup kedua matanya dan meneteskan air mata. Saya pun masih menepuk-nepuk pundaknya, dan berusaha menenangkannya.
"Sudah. Kita akhiri di sini aja. Saya juga nggak enak kamunya terus begini."
Ambar pun mengangkat wajahnya.
"... Terus aku harus gimana..? Aku masih tunangannya, aku har-"
"Kamu bukan lagi tunangannya."
"...... Apa....?"
G L E K .
"A-APA!?"
Dimas sigap menutup mulutnya. Ia menatap wajah saya yang mulai kembali ke bentuk asalnya, tak beremosi sama sekali.
Hendra yang melirikku kesal, mulai mengumbar pertanyaan.
"Haah, jadi gadis yang mau kamu lamar itu Anastasia Aning? Terus dia diculik Hendy Anas buat tanda tangan kontrak tunangan?"
"A-APA?! RIZKY MAU LAMAR GADIS?! TERUS GADIS ITU ANASTASIA ANING!?"
"Begitulah. Tapi saya kayaknya sudah telat keduluan, dia udah jadi tunangannya Hendy Anas."
Saya tahu Anastasia pasti sudah menjadi tunangan Hendy di titik ini. Dan dari awal ketahuan bahwa Ambar hanyalah pancingan. Namun apa yang saya bisa lakukan, semua ini memang sudah direncanakan dengan matang sepertinya.
Namun kalau saya kembali berpikir, semua ini benar-benar di luar nalar. Saya hanya datang dengan kedamaian. Namun siapa sangka, kedatangan saya yang damai malah memancing kerusuhan.
"Tunggu bentar! Anastasia Aning!? Tunangan ama Hendy Anas!?" ujar Rehan syok.
"Ah, masuk akal. Semuanya jadi masuk akal!" ujar Dimas semangat.
"Jadi.. Kamu bakalan gimana, Ki?"
Saya kembali merenung. Di pikiran saya saat ini, keselamatan Anastasia adalah nomor satu. Yang penting dirinya hidup, itu saja sudah lebih dari cukup.
Untuk urusan meladeni si bajingan itu, urusannya nanti.
"Yang penting Anastasia selamat. Itu aja dulu."
Hendra, Dimas, Ambar dan Rehan menatap saya yang merenung, seketika menghampiri saya. Wajah khawatir muncul dari mereka, dan saya pun kembali mendongakkan wajah saya yang masih terlihat tak beremosi.
"..... Maafkan aku."
"Kalau begitu, sebagai permintaan maaf, bantu selamatin calon bini saya dari tangan mantan tunanganmu gimana?"
"..... Bukan masalah."
Rehan, Dimas, Hendra, seketika kaget.
"Wah, jadi kita makin lengkap lagi nih! Tinggal si Yanto ama Bayu haha!" ujar Dimas bersemangat.
Saya melirik ke arahnya dengan dingin.
"Ah, mereka sudah di rumah sakit sama Anastasia. Ayo kita liat mereka."
"A-apa?"
__ADS_1
"....... Eh?"
"APAAAAAAAAAAA???!"
...***...
30 menit kemudian.
JEGREEEEK!
"Ah, hati-hati mba!"
Anastasia yang berada di ranjang, berusaha menurunkan ketinggian sandaran kepalanya. Bayu yang mengawasi terlihat sangat khawatir.
"Nggak papa mas, saya bisa sendiri."
"Aduh! Ini Yanto lama banget! Ngambil air kayak pergi tempur aja!"
"Nggak papa mas, santai aja."
Anastasia mulai menyamankan posisi kepalanya, lalu mencoba untuk tidur.
Tak lama kemudian, saya dan yang lain beserta Yanto datang dari luar ruangan. Anastasia dan Bayu pun terkejut melihat kami semua datang menyerbu.
"LAH?! RIZKY!? LOH, HENDRA!? DIMAS JUGA!? LOH!? REHAAN??"
Bayu syok. Tubuhnya terpaku diam, sampai Ambar dari belakang memasuki ruangan.
"LHOOOOOOO?! AMBAAR!?!?"
Anastasia yang menatap saya sehat mulai tersenyum manis. Ia pun segera bangun dari tidurnya, dan duduk di ranjang dengan manis. Menunggu saya menghampirinya.
"Ah, Rizk-"
P L U K ! !
"!!!!!!!!!"
"Oh my-!!"
"Hmph!?"
Saya memeluk Anastasia dengan lembut. Teman-teman beringas saya yang berada di belakang sigap syok dan mulai memerah malu. Rehan yang berada paling dekat saya pun sigap menutup mulut dengan kedua tangannya.
"A-ah! Rizky?! Aku gapapa ko-"
"Apanya. Lihat dirimu."
"...... Seharusnya aku lebih berhati-hati."
"Itu sudah nggak penting. Mana papahmu?"
"...... Sepertinya aku nggak mau kembali ke rumah. Atau ke kantor."
"...... Kenapa begitu?"
"...... Aku, nggak mau mati konyol, Ki. Lihat aja akibat kalau aku ngelawan papah. Dia marah banget sampai ngizinin si brengsek itu buat nyakitin aku."
"...... Haah."
Ambar perlahan menghampiri kami. Anastasia yang melihat dirinya, sigap syok dan berusaha menjauh.
BRAK!
"..... KAU!!!"
"Anastasia, tenanglah. Dia sudah menjadi sekutu."
"Apanya. Dia jelas-jelas ikut bersalah atas semua ini. Bagaimana dirinya bisa kupercaya!?"
Saya sontak terdiam. Saya yang tidak bisa memberikan jawaban lagi, hanya bisa menoleh ke arah Ambar yang masih belum mengatakan apa-apa.
"..... Saya memang tidak punya hak untuk minta maaf. Tapi setidaknya beri saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya."
"..... Apa maumu?"
"Saya tidak ingin apa-apa lagi. Saya sudah memutuskan untuk melawan ayah saya."
"Hah? Maksudmu?"
"......... Saya akan bebaskan kamu dari tangan Hendy Anas."
"...... Entah apa tujuanmu, kamu masih belum bisa saya percaya."
Hendra ikut maju, dan melempar beberapa pertanyaan.
"Tapi ngomong-ngomong, kalau memang Anastasia Aning sudah jadi tunangan Hendy Anas, bukannya kamu sudah tidak punya hubungan apa-apa dengannya? Gimana caranya kita bebasin dia? Kamu kan sudah nggak punya kekuatan lagi di situ?"
Ambar terdiam sejenak, lalu menoleh ke wajah Hendra dengan percaya diri.
"Aku punya rencana."
__ADS_1