
Jeglek!
Tap.. Tap.. Tap..
Aku lagi-lagi terbangun di rumah sakit. Begitu berkedip sekali, aku langsung menyadari keberadaan Yoga, adiknya Rizky tertidur di samping ranjangku.
"Yo-Yoga..?"
"Uhhm... Hoaaamn.. Hm?"
Yoga ikut terbangun, dan menguap. Sesaat ia meregangkan tubuhnya dan melihatku terbangun, ia langsung kaget dan berlari ke luar ruangan, memanggil petugas kesehatan.
Gradak!
"Mb-mba sudah bangun!? Tu-tunggu sebentar ya saya panggilin dokter!! Ja-jangan bergerak dulu ya mba!!"
Dap! Dap! Dap!
"TO-TOLOONGG!!! BU DOKTEEEERRR!!"
BRAK!
"U-ugh.."
Apa.. Yang terjadi? Kenapa aku lagi-lagi berada di rumah sakit?
Aku mencoba memperhatikan sekeliling, dan mencari tahu rumah sakit mana tempat saya dirawat saat ini. Dilihat dari ruangannya, ruangan pasien ini pasti bukanlah ruangan untuk pasien umum atau UGD.
".... Kalau dilihat-lihat mungkin di sini ICU atau VIP."
Jeglek!
Yoga kembali dari luar, dan membawa dokter wanita dan beberapa asistennya memasuki ruanganku.
Yoga yang melihatku mencoba bangun, langsung menghentikanku dan kembali menidurkanku.
"Mba! Jangan duduk dulu mba! Aduh!"
"Sa-saya udah nggak papa."
BRAK!
Sang dokter wanita nampak membanting sebuah botol obat, dan memelototiku dari jauh. Aku yang masih terbaring sigap heran dengan perlakuannya dan mempertanyakannya.
"Bu dokter, kenapa lihat saya begitu?"
"Loe."
"I-iya?"
"Loe pacarnya Rizky?"
"A-apa?"
"Pfft-!"
Wanita itu pun sedikit tertawa dan berjalan mendekatiku. Ia menyeret kursi Yoga dan mendudukinya. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik,
".... Loe tahu nggak, Rizky itu sebenarnya apa?"
"Apa... Maksudmu?"
Wanita tulen ini sigap tertawa terbahak-bahak, dan menoleh ke arah Yoga.
"Bhahahahahahah! Ahahahah! Dan loe, bocil!"
"Ya-ya?"
"Loe tau nggak Rizky itu apaan?"
"Ke-kenapa, bu dokter? Bu dokter tahu sesuatu?"
"Woiya! Tau banget malah! Ahahaha! Taunya terlalu banyak!"
Aku yang mulai tak tahan dengan tingkahnya, sigap bangun dari tidurku, dan memulai mempertanyakan siapa sebenarnya wanita ini.
"Siapa kamu!? Tahu Rizky dari mana?!"
BRAK!
Wanita itu pun berdiri dan mendekatkan wajahnya yang mulai berekspresi bengis. Ia berbisik geram,
"Justru loe yang siapa, sialan? Kenapa loe bisa tahu berandalan itu? Kenapa loe pikir berandalan itu bisa jatuh cinta sama loe?"
"A-aku... Aku..."
"Bhahahahahah!"
"Aku kenal dia dari..."
"Darimanapun loe tahu dia itu gak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana bisa Rizky jatuh cinta sama loe? Ahahahahah!? Laki-laki itu!? Yang otaknya udah beku macam es masih bisa jatuh cinta!? Ahahahahah lawak!!"
"A-apa maksudmu?!"
"Dengar, apapun yang loe pikirin tentang Rizky itu semuanya palsu. Loe nggak melihat segalanya."
"A-apa..?"
"Loe liat dirinya tertawa? Itu bohong. Loe lihat dia senyum? Itu juga bohong. Loe buat dia nangis? Itu juga bohong. Loe lihat dia jatuh cinta? AHAHAHAHAHAH!! ITU BOHONG!"
"Ke-kenapa kamu bisa simpulkan seenaknya begitu!? Justru kamu yang seharusnya tidak bisa dipercaya! Kamu pikir ak-"
__ADS_1
"Sudah gue bilang."
"!!!!!"
Wanita itu mulai mendekatkan bibirnya ke telingaku. Matanya melotot dan berbisik,
"Loe yakin, si sialan itu cinta sama loe?"
Deg!
Aku terdiam lagi, dan mencoba berpikir.
Aku tidak tahu siapa dirinya. Dirinya pun sepertinya tidak tahu apa-apa tentangku. Tapi kenapa aku berani seenaknya bilang kalau kami adalah sepasang kekasih?
Apa.. Aku terlalu percaya diri?
"..... Memang, aku tidak tahu dan tidak yakin siapa dirinya."
"Hah..?"
".... Tapi aku masih percaya akan perasaannya."
"Bhahahah! Perasaannya?! Loe pikir dia masih punya perasaan!? Anak itu!?"
".... kau pikir Rizky itu sebenarnya apa!? Dia itu manusia!! Dia pasti punya perasaan sekecil apapun itu!!"
"PERASAANNYA TIDAK ADA!!"
"A-apa..?"
"Kenapa? Loe bingung?"
"A-apa maksudmu!?"
"Perasaan manusia itu sudah tidak ada. Emosinya sudah sepenuhnya hilang. Loe nggak tahu?"
"Pe-perasaannya? Nggak ada?.... Nggak mungki-"
"Sudah gue bilang, yang loe lihat itu bukan segalanya. Semua gelak tawa, senyuman, kemarahan, bahkan kata-kata cinta yang loe dengar darinya itu semuanya palsu. Karena itu sadar diri dan pergi dari hadapannya. Sebelum semuanya terlambat."
"...... Nggak... Nggak mungkin. Mustahil."
"Loe itu nggak ngerti. Dia bukanlah sembarang manusia yang loe bisa tahu hanya make internet."
"A-aku nggak ngerti."
"Ahahahaha!"
"Apa maksudmu?! Dia tidak punya perasaan?! Jangan bohong!"
"APA GUE KELIATAN BERBOHONG?!"
DEG!
"Apa.... Maksudmu...? Jadi Rizky itu apa!?"
Sedetik setelah pertanyaan itu keluar dari mulutku, Yoga langsung berteriak,
"Sa-saya aja yang jelasin nanti, mba!"
"Yo-Yoga..?"
Aku menoleh. Yoga mengepalkan kedua tangannya, dan sigap menghadapkan kepalanya ke arahku. Dengan tatapan yang ragu nan berani, ia menenangkanku yang tengah panik dipanas-panasi dokter gila satu ini.
"Ka-kalau bu dokter kemari cuma mau membuat jengkel kami, sebaiknya bu dokter kembali aja. Biar saya aja yang periksa Mba Ana."
"Pfft. Apa-apaan bocil satu ini?"
"A-aku nggak papa, Yoga. Kamu bisa jelasi-"
"A-apanya mba!? Jelas-jelas mba dipanas-panasin begini-"
"Yoga!"
"Ah-! Ma-maaf.."
Dokter kurang ajar satu ini melirik sinis ke arah Yoga, dan mulai mengejek tingkahnya itu.
"Loe sadar diri, dek. Jangan pikir Mba kesayangan loe satu ini bakalan bisa pacaran sama Rizky semudah itu. Asal loe tahu, Rizky cuma mau menjalin hubungan sama orang lain itu sekedar buat dimanfaatin, tau nggak?"
"A-apa..?!"
Lagi-lagi wanita sarap ini mengatakan omong kosong. Jelas-jelas Rizky bukanlah orang seperti itu. Aku percaya.
"Kalau masih mau membual, lebih baik saya keluar dari sini."
"Ah kalau itu gak bisa, sorry."
"Hah? Apa lagi maumu?"
"Rizky minta gue untuk jagain kalian tetap di sini. Jadi jangan kemana-mana dulu, ya."
Yoga yang mendengar hal itu, langsung kebingungan dan sigap bertanya.
"Ma-maksudnya!? Jadi kita diam doang di sini gitu!?"
"Yo ndak tau, tanya kok... Tanya saya?"
"Lah terus abang sama temen-temennya gimana?! Mereka sendirian di luar sana gak ada yang bantuin gitu!?"
"Lha iya?"
__ADS_1
"HAH!?"
"Justru kalian ini yang ngebebanin mereka tau nggak!? Yang diincer bajingan korporat politik itu kan cewek ini, terus entah dari mana kau si bocil gendheng tiba-tiba aja nongol! Apa mereka nggak kesusahan hah!?"
"HEH! NGOMONG APA KAMU!?!"
"APA?! HAH!? APA LOE!?"
Aku yang mulai muak dengan pertengkaran ini, segera berteriak menengahi mereka berdua.
"SUDAH-SUDAH-SUDAAH!! BERHENTI!!"
"......"
"......"
Sementara mereka terdiam, aku kembali mengusap wajahku sekali, dengan ekspresi kecewa.
"Kau, tolong keluar. Saya mau ngomong sama adek saya."
"Pfft? Ternyata bocil songong ini adek loe? Bhahahahahah! Terserah."
Tak.. Tak.. Tak.. Tak..
BRAK!
...****************...
Dokter sialan itu menutup pintu kamar dengan kasar. Yoga yang melotot ke arah pintu, sigap menoleh ke arahku dengan wajah panik.
"Mba? Mba gapapa? Omongan dokter gila itu nggak usah dipercaya! Abang saya orangnya nggak seperti itu!!"
"Gimana kalau kamu coba jelasin dulu sebenarnya Rizky itu siapa. Apa maksud dari semua omong kosong wanita sarap itu? Selama ini Rizky cuma maanfaatin saya?"
Yoga sigap menelan ludahnya sendiri. Wajahnya semakin panik, kedua matanya terbelalak lebar. Ia menoleh kesana kemari, seakan-akan ragu dengan tindakannya, namun yakin akan keputusannya.
"Mba Ana."
"Hm?"
"Mulai sekarang, semua perkataan yang keluar dari mulut saya adalah kejujuran. Saya tidak akan berbohong lagi. Jadi tolong dengrerin saya dulu sampe selesai. Oke?"
"..... Oke."
"Sebenarnya, abang saya ini dari kecil diam-diam ikut sebuah program pemerintah yang berbidang di eksperimen manusia. Yang saya tahu sejauh ini, eksperimen manusia ini bertujuan untuk membuahkan tentara-tentara super untuk pemerintah dalam melawan organisasi-organisasi jahat yang mengancam negara."
"..... Lalu?"
"Abang dinyatakan lulus setelah menjalankan semua program eksperimen itu, tapi.."
"..... Tapi?"
"Sama kayak mamak, semua emosi abang lenyap, hampir sama seperti senjata yang hanya mau menuruti tuannya. Setelah pulang dari kamp yang ia sebut sekolah itu, ia mulai menjalankan beberapa misi-misi berbahaya yang hampir merenggut nyawanya."
"..... Emosinya.. Hilang? Tapi-"
"Semua ekspresi, nada bicara, perasaan, pikiran yang ia tunjukkan ke kita semua, itu memang sebenarnya hanyalah pura-pura. Meskipun ia tertawa terbahak-bahak sekalipun, di dalam hati dan pikirannya ia tak mampu merasakan apa-apa."
Aku mulai meremas dadaku. Menerima semua perkataan Yoga, pikiranku mulai kembali berputar.
"... La-lalu kenapa dia... Dia-!?"
"Ah... Soal itu.."
"TERUS KENAPA DIA BILANG JATUH CINTA SAMA AKU!? APA TUJUANNYA!? BUKANNYA AKU CUMA JADI BEBAN BUAT DIA!? APA YANG IA MAU DARI MANFAATIN AKU!?"
"..... Maaf kak, saya nggak tahu. Tapi ada satu teori dan kemungkinan yang saya pikirin dari semua tindakannya saat ini."
"Apa itu?"
"Selama 7 tahun ia pergi, tak ada satupun hari di mana ia berniat pulang dan menyapa kami. Tapi dua bulan lalu, ia menelepon mamak. Katanya dia mau pulang, melamar seorang wanita."
"........ Apa?"
"Saya pikir, cinta abang saya selama ini tulus ke Mba Ana. Meskipun saya nggak tahu dia bisa ngerasain perasaan itu, tapi selama ini ia masih memperlakukan saya selayaknya adeknya kok. Saya masih bisa merasakan kasih sayang, walau tahu semuanya mungkin palsu."
"....... Haah..."
Kecewa, namun ragu. Itulah perasaan yang mulai saya rasakan. Perlahan-lahan, saya mengangkat kepala, dan menggeram emosi.
"HHHHAAAAAAAARGGGGGGGGGGHHHH!!"
"M-Mba?"
"YOGA."
"Hiiy!! I-iya??!"
"AYO KABUR DARI SINI."
"A-apa?!"
"Aku butuh interview langsung ke orangnya."
"!!!!!"
"Pikirkan cara buat kabur."
"Ta-tapi dokte-"
"PEDULI AMAT SAMA DOKTER SARAP N*****T ITU!! SAYA MAU KABUR!!"
__ADS_1
"O-oke! Ayo kabur!