
Segerombolan pria berjalan menuju ruangan pertemuan yang sudah disiapkan.
Salah satu dari mereka, nampak Rizky berjalan dengan wajah yang biasa saja, dengn borgol mengikat kedua tangannya tersembunyi.
Hendy Anas yang mengawasi Rizky dari belakang nampak tersenyum bahagia. Rizky yang mulai risih, menanyakan maksud laki-laki bejat itu terus-menerus tersenyum mencurigakan padanya.
Tap.. Tap.. Tap.. Tap..
"Kenapa kamu senyum-senyum cabul gitu liat saya diborgol? Suka ya kamu?"
"Suka dong."
"Iyuh."
"HEH! MAKSUD GUE BUKAN SUKA YANG ITU YA."
"Terus apaan? Kalau situ memang punya hasrat sama saya mah ngomong aja, kok sul-"
"HEH! SEMBARANGAN AJA LO NGOMONG!"
"Ya terus? Kenapa kamu senyum-senyum ke saya begitu? Ada niat cabul kamu kan?"
"Pfft-! Saya suka aja akhirnya saya bisa keluar dari negara ini setelah bertahun-tahun berusaha. Mendapatkanmu untuk menjalankan eksperimen Papah nampaknya bukan soalan yang susah."
"Ah, eksperimen lagi? Bukannya saya udah lulus?"
"Eksperimen kali ini kayaknya beda deh."
"Wew, eksperimen apaan kali ini?"
"Ya mana gue tahu. Nanti lo tahu sendiri."
...----------------...
JEGLEK!
BRAK!
Mereka nampak dibukakan pintu ruang pertemuan oleh sang empat penjaga yang mengiringi mereka.
Di dalam ruang pertemuan, nampak Ayah Hendy Anas dan Sang Direktur Sanford Daus Aning, sudah duduk rapi menikmati waktu santai mereka.
"Permisi. Saya datang membawakan yang Anda minta," Hendy Anas menyapa papahnya yang tersenyum manis menatap Rizky yang masih bingung dengan keadaan.
"Wah, coba kita lihat apa yang datang?" ucap Daus Aning mempertanyakan perbuatan seenaknya Sang KOMJEN dengan kuasanya.
Hendy Anas yang berada tepat di belakang Rizky sigap membawa Rizky dan melemparnya ke salah satu kursi yang sudah di sediakan.
"Dengan begini saya sudah bisa melakukan apapun semau saya, kan?"
"Ya ya ya. Lakukan semaumu, pergilah."
"Terima kasih banyak, saya izin keluar."
Jeglek!
...----------------...
Hendy Anas pun tanpa ragu meninggalkan ruangan, dan kini sampailah Rizky menghadap kedua pria dengan kekuatan terbesar dalam mengendalikan kedamaian kota.
Yang lebih buruk, salah satu dari mereka adalah calon mertuanya.
"Wah wah wah, ada apa ini? Saya mau diapain lagi coba?"
Mendengar Rizky berani berbicara, Daus Aning sigap berdiri dan berjalan mendekati Rizky dengan sebuah pistol tangan yang sudah berisikan beberapa peluru.
__ADS_1
Rizky hanya menatap calon mertuanya dengan tatapan kosong, lalu tersenyum nakal.
"Ah, ngambek gara-gara anaknya saya ganggu, ya?"
Ceklek!
Daus Aning mulai menarik pelatuk pistol tersebut, dan menghadapkannya ke kepala Rizky tanpa ragu. Rizky yang masih tenang hanya menatap calon mertuanya dengan tatapan meremehkan.
".... Atau Anda marah karena saya udah bisa ngebuktiin satu syarat yang Anda berikan?"
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!-
Daus Aning menembak kepala Rizky berkali-kali, hingga peluru di pistolnya habis tak tersisa. Nafasnya yang cepat nampak bisa membuktikan betapa emosinya ia sekarang, karena perbuatan pemuda di hadapannya itu.
"Wah, kenapa emosi banget begitu pak?"
"..... bapak diam dulu. Saya belum selesai bicara dengan anak ini."
"Hmm.."
Tak lama kemudian, Rizky dengan sebagian kepalanya yang hancur masih nampak bisa bangun dan berbicara.
"..... Memang dari tadi Anda ada bicara sama saya?" ujar Rizky masih santai dengan kondisinya yang seperti itu.
"Dimana anak saya?"
"Ah, gak usah khawatir begitu dong, mukanya. Anak bapak aman kok sama saya."
"DIMANA!?"
"AHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!!!!!"
Rizky sigap tertawa dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu. Sembari kepalanya beregenerasi, Rizky terus tertawa tanpa sebab, lalu melanjutkan kalimatnya.
"DIMANA ANAK SAYA!?"
"Dengan begini syarat pertama sudah saya penuhi, bukan begitu?"
"..... Kau.. Apa yang kau inginkan dariku!? BICARA!! JANGAN SANGKUT PAUTKAN PUTRIKU DENGAN RENCANA BUSUKMU ITU!!"
"Lah? Jadi selama ini kamu pikir saya meminang putrimu karena saya ingin mendapatkan uang dan kuasa?"
"...... Lepaskan Anastasia!!"
"Pfft-! Bapak dan anak sama aja. Sama-sama idot."
Kepala Rizky nampak berhasil beregenerasi sepenuhnya, dan Rizky pun memperbaiki struktur kepalanya dengan kedua tangannya yang entah dari kapan telah lepas dari borgol.
Daus Aning sigap menjatuhkan pistol dari tangannya dan termundur, menjauh dari Rizky yang mulai bangun berdiri dari kursinya. Daus Aning yang menatap pemandangan mengerikan itu pun terjatuh dan terududuk kembali ke kursinya.
Rizky berjalan mendekatinya, mendekatkan wajahnya, dan membelalakkan kedua matanya lebar.
"Kamu pikir selama ini yang aku pikirkan hanyalah uang dan kuasa?"
"Lalu? Apalagi yang senjata biologis seperti dirimu mau!?"
"Bagaimana tentang hidup layaknya manusia biasa? Bahagia bersama keluarga? Bahagia bersama orang yang ia cintai?"
"Cinta!? Kau pikir senjata tanpa emosi sepertimu masih bisa merasakan cinta!?"
"Aish, gak ada pertanyaan yang lebih bagus apa? Ya bisa lah, walau nggak sepeka dulu."
"..... A-apa?!"
Ayah yang panik kini kahabisan kata-kata. Kami pun tenggelam ke dalam keheningan yang cukup lama.
__ADS_1
Hingga akhirnya Sang KOMJEN berdiri dan menepuk tangannya bahagia, menatap Rizky dan Ayah dengan tatapan terhibur.
"Wah, ini dibuat sinetron bagus ini. Nggak mau dilanjut toh?"
Rizky hanya melirik ke arah KOMJEN dengan lirikan acuh. Sedangkan Ayah yang masih terduduk lesu, kembali melanjutkan kalimatnya.
"..... Urusan saya sudah selesai di sini."
Rizky hanya terdiam menatap Ayah dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian, Ayah kembali mendongak dan menatap Rizky dengan tatapan menyesal.
"Maafkan aku, nak."
"Hm? Karena sudah memancingku ke sini?"
"...... Saya kira.. Saya kir-"
"Sudahlah, kalau memang dari awal tidak berniat untuk memberi restu maka saya tidak bisa apa-apa. Mungkin memang Anastasia bukan jodoh saya?"
"Saya akan kasih restu."
"Wew, pasti ada syarat-menyarat lagi nih."
"Betul. Ada syarat lagi."
"Apakah itu?"
"Serahkan dirimu untuk eksperimen G-14 kali ini."
"Hm? Eksperimen G-14?"
"Kamu mau?"
"Kalau untuk restu kenapa tidak?"
Mendengar itu, Sang KOMJEN yang masih tersenyum terhibur mulai memberi aba-aba ke anak buahnya untuk segera membawa Rizky ke pusat eksperimen lapas.
Rizky nampak tidak menolak, dan hanya mengangkat kedua tangannya menyerah.
Sedangkan Ayah yang menatap Rizky dengan tatapan menyesal kembali menunduk, dan merenungkan perbuatannya.
"Bawa dia," ucap KOMJEN sigap, memerintah anak buahnya untuk membawa Rizky keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu sebentar." Lagi-lagi Ayah menghentikan Rizky.
Rizky hanya menoleh ke belakang, lagi-lagi menatap Ayah dengan tatapan kosong.
"Kenapa lagi, Ayah?" tanya Rizky dengan nada suara biasa saja.
Mendengar calon menantunya itu, Ayah nampak ragu namun masih bertanya,
"Saya boleh tahu Ana ada di mana?"
Mendengar pertanyaan itu masih saja dilemparkan ke dirinya, Rizky kembali menoleh acuh dari calon mertuanya itu. Meskipun ia sudah malas dengan pertanyaan tersebut, namun kali ini sepertinya Rizky memberinya jawaban.
"Jangan khawatir. Sebentar lagi paling ketemu."
Mendengar jawaban dari Rizky, kedua mata Ayah kini mulai berkaca-kaca.
"Ah, begitu, rupanya," jawab Ayah singkat, mengakhiri pertemuan mereka tersebut.
Rizky pun kembali diseret keluar, dan dibawa pergi ke pusat eksperimen lapas.
Sang KOMJEN yang hendak menyusul ke luar ruangan, singgah mendekati Ayah dan menepuk pundaknya dua kali.
"Terima kasih."
__ADS_1