
"A-ADUDUDUDUDUH! ASTAGA! AAARGHK! ADUH! KUPINGKU!!"
"KAU DIAM DULU YA."
"A-ADUH BANG! A-ADUDUDUH!"
Tap! Tap! Tap! Tap!
Saya berjalan laju sembari menyeret telinga Yoga ke ujung lorong. Yoga yang panik, mencoba menahan tangan saya yang sedari tadi gemas ingin membunuhnya.
"ARGHK! SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT!"
SRAT!
"AWW!"
Saya pun melepas telinganya yang hampir lepas itu, dan mencoba berbicara empat mata dengannya. Sekalian menyuruhnya balik.
"Ngapain kamu di sini?"
"ARGHK! MAMAK SURUH AKU KE SINI!"
"Mamak...?"
"Te-terus Yoga juga udah lihat beritanya!"
"...... Jadi kamu sudah tahu?"
"Tahu apa? Tahu kalau cewek Regency yang mau abang pinang kemaren ternyata Anastasia Aning?"
"...... Kamu sudah tahu?"
"Haah, sebenarnya firasatku dari awal pas kita pergi ke rumahnya aja sudah nggak enak. Rasanya cewek yang mau abang lamar ini ketinggian gitu. Ternyata emang kastanya tinggi betul, setinggi langit ke tujuh."
"...... Kamu nggak merestui hubungan kami?"
"Hm? Maksudnya?"
"Kamu, nggak suka abang nikah sama Anastasia?"
"Bukan gitu, eh tunggu. Anastasia?"
"Kenapa?"
"Abang sudah lama pacaran tapi masih manggil nama begitu?"
"Ada yang salah?"
"Abang.. Beneran pacaran lama? Atau karena selama ini lewat internet?"
"Ah.. Memang aneh ya, kalau masih manggil nama depannya lengkap gitu?"
"Ya iyalah. Seenggaknya manggil Ana, atau Sia, atau.. Yank?"
DEG.
Ah, dia ada benarnya juga.
Selama ini, saya selalu berpikir kaku mengenai hubungan pacaran. Saya nggak terlalu mikir soal panggilan antar pasangan yang bisa membuat hubungan semakin mendekat.
"Panggilan sayang, memang sebegitu perlunya?"
"Haah, dasar manusia batu."
"Ah, pikiran soal itu nanti aja. Untuk sekarang kamu pulang dulu. Di sini bahaya."
"Kok begitu?! Yoga baru sampe loh!"
"Bahaya! Pulang san-"
D U A R !
"AARGHK!"
"UGHK! YOGA!!"
Tiba-tiba ledakan kecil terjadi. Beberapa orang berpakaian hitam nampak muncul dari jendela, asal bom kecil tersehut meledak. Mereka membawa pistol, pisau dan alat membunuh lainnya.
Mereka sigap berjalan ke arah saya dan Yoga.
Kebetulan saya dan Yoga berada di ujung lorong yang sepi orang, jadi sepertinya tidak ada yang melihat kami dan ledakan tersebut secara langsung. Yoga yag terduduk sigap berlari.
Namun, sesaat ia pun berhenti dan menoleh ke arah saya yang masih terdiam.
__ADS_1
"ASTAGA!! BANG!! ABANG!! AYOK LARI!"
"............"
"ABANG!!! BANG!!! ABANG!!! ASTAGA MAU NGAPAIN HAH!?"
Entah kemana Hendra, Dimas, dan yang lain, sepertinya mereka baru bergegas kemari.
Saya cukup terkejut karena dari beberapa orang berpakaian hitam tersebut, salah satunya maju mendekat sambil melepas masker wajahnya, dan menunjukkan dirinya adalah Hendy Anas.
"He-Hendy... Anas?!" ujar Yoga syok nan bingung.
"Yoga. Diam di belakang."
"I-iya, bang."
Hendy Anas memperintahkan bawahan-bawahannya untuk menodong semua senjata mereka ke arah saya. Ia pun maju mendekat dan menyapa saya dengan wajah murung nan kecewa.
"Angkat tangan.. Ini perintah kepolisian."
Saya mengangkat kedua tangan saya, dan menunjukkan ekspresi saya yang kosong. Saya menatap wajahnya dengan tatapan tajam, dan mulai menyapa dirinya.
"...... Ah, kamu ya?"
Hendy Anas mengacuhkan pandangan, lalu kembali melirik ke arah saya dengan sinis. Ia pun menjawab sapaan saya, meskipun kesannya tidak sudi.
"...... Yah, ini pertama kalinya kita ketemu. Salken ya, monster."
Yoga membelalakkan kedua matanya. Ia pun seketika menatap wajah Hendy Anas dengan bengis.
Saya yang sadar, mulai menepuk bahunya untuk berhenti, dan membalas ejekan Hendy Anas dengan nada bicara tidak peduli.
"...... Papimu apa kabarnya, ya?"
"!!!"
Mendengar saya menanyakan kabar papinya tersayang, Hendy Anas mulai terpancing emosi.
"Haaah....... Baru ketemu sudah sok aja tingkahnya."
"Terus saya harus ngapain? Mohon ampun biar nggak ditembak?"
"Harusnya sih gitu. Ayo, anak buah. Monsternya ditembak," perintah Hendy Anas santai sembari mengayunkan tangan kanannya dengan lemas.
RATATATATATATATATATA!
"AAAAAAARGHHKKKKKK ABAAAAAAANGGGGG!!!!!-"
SRAT!
"YOGA! MULUTMU DIKANCING DULU SEBENTAR!"
Saya sigap mengangkut Yoga dengan tangan kanan saya. Saya berlari, ke belokan lorong, sembari menghindari semua peluru yang datang menghampiri.
"Ya, lari kau sana. Dasar monster. Ayo, teman-teman, dikejar ya. Jangan sampai lepas, ya."
DAP! DAP! DAP! DAP!
BRAK!
Saya dan Yoga sudah sampai di ujung lorong, menuju pintu keluar darurat. Baru saja kami mendekat, Anastasia, Hendra dan Dimas sudah menghampiri kami berdua dengan wajah panik.
"RIZKY!!"
"LOH YANK!? KENAPA SUDAH BERDIRI AJA KAMU!?"
"A-APA?! YA-YANK!?"
"Ah, itu lain kali aja kita bahas."
Dimas segera datang menghampiri kami, dan membuka pintu keluar darurat tersebut.
"YOGA KAMU NGGAK PAPA!?"
"Ba-bang! Turunin Yoga dulu kenapa!?"
"Ah, iya."
TAP!
"Kenapa Hendy Anas tiba-tiba datang nembakin Rumah Sakit!? Gila ya dia!?" teriak Yoga kesal.
"Ki, kita harus segera pergi dari sini. Entah mau apalagi oramg itu, kita harus menghindar dari masalah dulu. Ayo cepat."
__ADS_1
"Iya. Yoga. Kamu jangan bikin repot."
"Siap!"
"Terus Anastasia. Kamu jangan kemana-mana. Sembunyikan wajahmu."
"I-iya."
DAP! DAP! DAP! DAP!
Kami berjalan perlahan menuju pintu keluar darurat. Namun, begitu sampai di luar, kami mengunci pintu darurat dengan perlahan.
Ceklek.
Kami pun terdiam menatap gagang pintu, dan menunggu.
"................."
Setelah beberapa saat sunyi, kami pun memalingkan kepala dari pintu tersebut. Dan berjalan menjauh.
"Ba-bang," bisik Yoga khawatir.
"Ssshht," jawab saya sigap.
Tap.. Tap.. Tap..
Kami masih berjalan menjauh, dan entah beberapa saat, ledakan menghantam pintu darurat tersebut, dan menjebol dindingnya hingga hancur berkeping-keping.
D U A A A A A A A A A R ! ! !
"AAAAAAARRRRGHHHHKKK!!!"
"YOGA!! LARI!! JANGAN TERIAK MULU KAMU!!"
"AAAAAAAARRRRRGHHHKKK!!"
Dap! Dap! Dap!
DOR! DOR! DOR! DOR!
Kami pun sigap berlari sekencang-kencangnya dari rumah sakit. Hendra di belakang nampak mencoba menoleh ke pintu keluar darurat, dan menemukan pintu tersebut sudah bolong, dan jebol tak karuan.
Tak lama kemudian, Hendy dan anak buahnya muncul dari balik asap, berlari kencang mengejar kami sembari menembaki kami yang sudah panik terbirit-birit.
"Buset! Mereka masih ngejar kita!" teriak Hendra panik.
"HAH! HAH! HAH! HAH! AKU NDAK MAU MENINGGAAL!" teriak Yoga yang berlari dengan sepenuh tenaganya.
"Lari ke keramaian! Pancing Hendy Anas ke muka publik!" lanjut Hendra mencoba mencari rencana.
"Kamu pikir semua orang tahu mukanya Hendy Anas gimana!?" balas Dimas bingung.
"Gapapa! Kita bisa lakukan sesuatu! Seenggaknya menurunkan citranya di keramaian!" jawab Hendra panik.
"Anastasia! Jangan jauh-jauh dariku!" teriak saya khawatir, mencoba mencari perhatiannya.
"A-aman! Hah! Hah! Hah!"
Di sisi lain, Yoga menatap saya kesal sambil terengah-engah.
"HAH! HAH! HAH! ADEKNYA DILUPAKAN! VERY NICE!"
DOR! DOR! DOR!
Anastasia mulai nampak kelelahan berlari. Saya pun berlari mendekatinya, dan mengangkat tubuhnya dengan cepat. Ia pun sigap panik dan malu.
SRUK!!
"ARGHH!! RI-RIZKY!?!"
Dimas dan Hendra memelototiku dengan tatapan membunuh. Sedangkan Yoga sudah mulai kehabisan nafas, segera diangkat Dimas dengan kedua tangannya sembari berlari.
"ARGHK!!!?"
"KI AKU PINJAM ADEKMU SEBENTAR!!"
"TU-TUNGGU!! KAMU MAU APAI-"
"HENDY ANAS!! BAJINGAN KAAAAUUUUUU!!!"
S Y U N G ! !
Tubuh Yoga tiba-tiba melayang ke arah Hendy Anas dan anak buahnya. Hendy Anas dan anak buahnya sigap bingung dan heran menatap Yoga yang tiba-tiba muncul dari kepulan asap.
__ADS_1
"A-APA-APAAAAANNNN!?!?"