
Tok! Tok! Tok!
Saya mengetuk pintu rumah, dan nampak Yoga segera membukanya. Saya yang hendak masuk nampak sedikit syok dengan keadaan wajah adik saya yang tengah berlinang air mata.
"Kenapa kamu? Habis digebukin?"
"Waalaikumsalaam. Ndak usah banyak cocot, masuk cepetan."
"Wah, makin ndak sopan ya sama abangnya."
"........."
Yoga tidak menjawab ejekan saya, dan hanya berjalan naik ke kamarnya, dan mengunci pintunya. Mamak yang sedang menyiapkan makan malam di dapur nampak berwajah kosong, seperti biasa.
"Yoga kenapa, mak?"
".......... dia sudah tahu."
"Hm..? Maksudnya?"
"Haah, jangan pura-pura ndak tahu. Padahal kamu sendiri yang kasih dia petunjuk."
".......... sejauh mana dia tahu?"
"Semuanya."
"Buset, cuma dikasih petunjuk secuil tahunya sudah sampai semua. Memang adek saya ini sudah besar ya, coy."
...----------------...
Saya yang sudah diberi kabar, segera tersenyum bangga. Saya pun segera mendatangi kamar Yoga, dan mengetuk pintunya tiga kali.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, paket."
"...... apa lagi?"
Yoga menjawab dengan nada bicara kecewa dari dalam kamarnya. Saya pun hanya bisa menanyakan kabarnya setelah semua kebenaran tentang saya terkuak.
"....... kenapa? Ndak berani ketemu kah, sudah?"
"......."
Tidak ada jawaban lagi, namun pintu kamarnya mulai terbuka perlahan. Yoga yang merunduk, membukakanku pintu kamarnya lebar-lebar.
Krieeeeeet!
"Wah, kacau. Adeknya siapa coba ini?"
"Yoga mau bobo. Besok aja ngomongnya."
"Syok apa kaget?"
"...... menurut abang?"
"Menurut abang sih dua-duanya, haha."
"......."
Melihat air mata adikku pecah seperti ini, nampak bahwa ia benar-benar satu-satunya manusia di keluarga ini yang punya hati nurani. Karena itu, rasanya hati ini benar-benar bahagia karena memiliki adik sepertinya.
Perlahan, saya memeluknya dengan lembut.
Yoga yang saya peluk tidak bereaksi apa-apa, dan hanya terdiam menerima pelukan saya dengan wajah kosong. Tak lama kemudian, saya melepas pelukan dan kembali menanyakan kabarnya di kontes berhadiah tadi siang.
"Jadi? Kek mana? Sudah yakin menang?"
Yoga nampak mengusap air matanya, lalu menjawab saya dengan nada bicara tenang.
"..... seharusnya sudah menang. Tinggal besok aja cepat-cepatan ngumpulin kertas jawabannya."
"Baiklah, bobo sudah kalau gitu."
"........."
Jeglek!
Ia pun menutup pintunya, dan mengurung dirinya untuk beristirahat. Saya yang sedikit bahagia dibuatnya, lagi-lagi tersenyum lebar.
"Kita lihat apa jawabanmu besok."
...----------------...
Pagi, di sekolah.
Anak-anak murid mulai mengumpulkan kertas jawaban di meja saya. Saya yang sudah siap menilai lagi-lagi menyeruput teh hangat yang disajikan Bu Ambar.
"Ssrrpp... Aaah, mantap betul."
Murid-murid yang udah mengumpulkan kertas jawaban mulai sedikit, tapi Yoga belum juga datang. Kemana kah dia? Mau kalah, apa?
Jeglek!
"Ah, Yoga! Akhirnya! Yang lainnya udah pada ngumpul kamu dari mana aja?" sigap sapa Bu Sinah melihat Yoga yang baru datang kembali ke ruang guru.
"Ah, selamat pagi, Bu Sinah. Saya ke meja abang dulu."
Yoga pun berjalan pelan ke meja saya. Ia terlihat lesu, dan dengan berat hati meletakkan kertas jawabannya di atas kertas jawaban anak-anak lain.
"Kenapa lesu begitu?"
"..... apa boleh, Yoga ungkap kebenarannya ke semua orang?"
"Cemas kau dek?"
"Heh, dasar manusia batu."
"Jangan cemas, mau ungkap sampai ke akar-akarnya silahkan. Yang penting perkenalan diri abang harus epic."
"Meskipun cuma sebagai guru pengganti?"
"Ehem."
"...... terserahlah."
...**...
Yoga's POV
Tak lama kemudian, kami pun dikumpulkan di aula dua sekolah yang cukup besar. Kami pun satu per satu mengungkap hasil riset, dan menguak jawaban akhir kami.
"Kira-kira ada berapa kertas yang dibawa yaa? Menurutmu gimana, Cin? Kalau menurutku sih paling ada 20 yang lolos! Haha!"
"Seandainya kita nggak ngumpulin duluan kemarin, mungkin aja kita bisa masuk final! Kamu sih Mel, make asal nebak aja!"
__ADS_1
Anak-anak cewek itu. Dari kemarin bikin kesal mulu. Baguslah mereka sudah ngumpulin plus salah duluan. Jadinya lawan berat berkurang dua.
"Kan sudah kubilang dari kemaren, jangan kepedan dulu sama jawaban kalian, anak-anak pandai," ejekku sembari berwajah bangga.
"Heh! Yoga! Asal ngomong kamu ya! Paling kamu pun gak bakalan menang kontesnya! Huh!"
"Mentang-mentang adeknya, sok keras banget kamu!"
"Blweee! Banyak cocooot!"
"Ih! Apa sih Yoga ini! Awas kamu ya!"
Tak lama kemudian, Rebecca dan Ilham pun akhirnya tiba di aula. Bedanya, kali ini mereka membawa seluruh anggota OSIS untuk melihat hasil kontes.
"Mereka berdua pede banget, sampe bawa anggotanya segala, cih."
Mereka pun segera mencari tempat duduk, dan tiba lah abang dengan sebuah folder di tangannya.
"Buset! Dikit banget yang lolos!"
"Siapa yang bakal menang?"
...***...
Rizky's POV
Baru saja saya melangkahkan kaki di aula, semua mata langsung tertuju pada amplop kertas yang saya bawa. Ketahuan bahwa mereka penasaran, siapa yang akan menang.
Yoga pun nampak duduk dengan tenang, tidak panik seperti biasanya. Sungguh perkembangan yang bagus. Mentalnya bukan mental triplek lagi.
Saya pun segera duduk di kursi saya, dan memulai final.
"Selamat pagi, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. SALAM SEPULUH JUTA!!"
"SEPULUH JUTA!!!" jawab semua murid yang mendengar, termasuk Cindy dan Amel yang berteriak di samping Yoga.
"Buset, ada slogannya juga kah, sekalinya?" ujar Yoga heran.
...----------------...
"Baik, tanpa basa-basi, saya akan mengungkap beberapa kertas jawaban yang lolos final akhir."
Srak!
Saya menarik kertas-kertas jawaban tersebut, dan segera mengungkap beberapa jumlahnya ke murid-murid.
"DIGIDAW-DIGIDAW-DIGIDAW, TUNENENET! HANYA ADA EMPAT!!"
"WAAAAAAAAA-!!"
"Buset! Cuma empat!?"
"Buset!"
Anak-anak murid mulai berbisik satu sama lain, kebingungan dengan jawaban mereka yang tidak lolos seleksi.
"Naah, bingung kan? Kebanyakan jawaban kalian itu adalah pekerjaan-pekerjaan sementara yang saya lakukan, dan ada beberapa yang melenceng jauh. Kayak pekerjaan badut. SIAPA YANG NULIS DI KERTAS JAWABAN KALAU SAYA PERNAH KERJA JADI BADUT!?"
"..........."
"Oke, lupakan. Mari kita menuju kertas jawaban pertama, yaitu Rebecca Amalia Ginting. Silahkan maju, presentasikan risetmu, lalu ungkap jawaban akhirmu."
"Selamat pagi, saya Rebecca Amalia. Saya akan membacakan hasil riset saya terlebih dahulu."
"Silahkan."
"Lalu, apa aja yang kamu temui?"
"Mulai dari buku-buku psikologi dasar hingga kompleks, buku-buku riset sosial yang sukar dibaca karena usang, serta beberapa benda pengamat pikiran seperti lonceng, dan arloji. Dan juga ada beberapa jam pasir."
"Baik, dan jawabanmu?"
"Saya rasa bapak dulunya adalah seorang psikolog."
"WAAAAAAAA!!"
Anak-anak mulai ricuh. Mereka nampak yakin bahwa Rebecca benar. Saya yang tersenyum jahil pun segera melanjutkan final.
"Baiklah, kalau begitu, saya akan jawab benar atau salah."
"Silahkan, pak."
"Rebecca, jawabanmu itu....... benar..."
"A-apa? Benar!?"
"Benar kalau itu pekerjaan sementara."
"A-APA!?"
"Memang benar, saya pernah kerja jadi psikolog selama setahun. Tapi psikolog bukan pekerjaan tetap saya. Hanya pekerjaan sementara saya."
Waaaaa! Waaaaa!
"Ternyata salah?"
"Salah coy! Katanya la-"
"Waduh! Tebakannya salah, Di!"
Murid-murid kembali berbisik satu sama lain. Tanda bahwa mereka masih bingung dengan apa jawaban yang sebenarnya.
"Usaha yang bagus, Rebecca."
"Haaah, makasih banyak ya pak. Padahal udah capek-capek bangun pagi buat ngumpulin awal-awal. Huuh."
"Baik, selanjutnya, Adam Mahendra, silahkan maju ke depan!"
Saya memanggil peserta lolos berikutnya, yaitu Adam Mahendra. Sesaat setelah saya panggil, ia akhirnya nampak muncul dari kerumunan.
"Ah, maaf pak."
"Gapapa, ayo silahkan. Spill jawabanmu."
"...... kemarin saya sudah meriset beberapa fakta menarik seputar bapak."
"Wah, apa aja tuh?"
"Selain menyukai catur, nampak bapak juga menyukai aktivitas-aktivitas fisik, seperti bermain bola, atau bulu tangkis. Apa saya benar?"
"Benar, saya cenderung suka melakukan apa saja."
"Daripada mengansumsikan bahwa buku-buku psikologi dan sains itu adalah bahan belajar anda, saya lebih berpikir bahwa buku-buku itu berguna untuk mengendalikan mental bapak. Apalagi melihat medali-medali bapak di kamar, sepertinya bapak cukup berkompetitif di masa sekolah. Khususnya bidang olahraga."
"Lalu?"
__ADS_1
"Karena itu, jawaban saya adalah, Atlet!"
"Hm, atlet ya?"
".........."
Aula kembali terdiam, menunggu jawaban dari saya. Saya pun mendekatkan mic ke mulut, dan segera memberi pernyataan.
"Adam, jawabanmu..... salah!"
"Haaah, salah juga."
"Hehehe, kamu kurang beruntung sepertinya."
"Terima kasih pak, saya harap jawaban sebenarnya sesuai dengan hasil penelitian saya."
Adam pun segera menyingkir dari depan meja saya. Saya pun ikut menyingkirkan kertas jawabannya, lalu mempersilahkan peserta selanjutnya masuk.
"Baiklah, peserta selanjutnya, ada Bosku Ilham! Silahkan maju!"
Anak-anak pun lagi-lagi ricuh. Mereka sigap bersorak untuk Ilham, sampai-sampai banyak murid memulai taruhan nama pemenang.
"Wah! Ini dia!"
"Apa jawabannya Kak Ilham ya?"
"Aku nge-bet lima ribu!"
"Sama!"
Ilham yang segera maju ke depan aula, sigap memberi salam dan tanpa basa-basi membeberkan hasil riset dan penelitiannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Saya akan menguak hasil penelitian saya secara berkala, semua informasi akan saya kupas satu per satu, menuju satu jawaban yang pasti."
"Wah, sepertinya menarik. Silahkan."
"Bisa dibilang pekerjaan sebelumnya Pak Rizky tidak bisa dikatakan sembarangan ke orang lain. Apalagi sepertinya tipe pekerjaan Pak Rizky tidak bisa diisi orang sembarangan. Apa saya benar?"
"Hm-hm, benar sekali."
"Ada beberapa hal yang saya temukan, kebanyakan semuanya berhubungan dengan psikologi massa, dan buku-buku strata sosial, hukum, dan anti-pemerintahan."
"Hmm?"
"Dari beberapa kondisi buku, hanya ada dua tipe buku yang sering bapak baca, yaitu buku-buku psikologi dan sains. Dari situ, kesimpulan saya pertama bahwa bapak adalah seroang psikolog. Namun bagaimana dengan buku-buku yang lain? Apa perlu psikolog sampai membeli beberapa buku anatomi tubuh manusia yang terus dibaca sampai kertasnya melecek?"
"A-anatomi??!"
"Lah!? Ada buku anatomi!? Di mana!?"
"Buset! Dia ketemu buku anatomi!?
Murid-murid pun kembali ricuh, dan saya yang semakin tertarik dengan situasi yang mulai panas pun meminta Ilham kembali melanjutkan.
"Wah, kamu ketemu buku anatomi saya?"
"Buku itu berada di bawah rak, karena itu susah ditemukan. Bagaimana cara saya menemukannya adalah karena tidak sengaja. Kaki saya nampaknya tersentuh buku itu yang berada di paling bawah rak, karena itu saya sadar ada buku lain yang belum ditemukan, dan karena itu, kesimpulan saya mulai berubah kembali, menjadi professor, seorang mahasiswa kedokteran, atau.."
"Atau....?"
"Penasihat Departemen Kesehatan Dan Psikologi Negara."
"Hoo?!"
Sesaat ia membeberkan jawabannya, semua murid menjadi sangat ribut. Ada salah satu dari mereka yang sampai menulis jawaban dan hasil riset Ilhan ke buku tulis mereka, ada yang syok, ada yang biasa aja, dan ada beberapa murid yang nampaknya sudah memperkirakan jawabannya Ilham.
"Wah! Buset!"
"Wih, Adam! Coba dengerin it-"
"Ternyata emang ada hubun-"
Saya pun mulai tersenyum bangga, dan meminta Ilham melanjutkan kembali presentasinya. Saya pun melontarkan pertanyaan.
"Apa ada alasan lain yang membuatmu berpikir pekerjaan tetap saya adalah Penasihat Departemen Kesehatan Dan Psikologi Negara?"
"Ada, khususnya di bagian buku anti-pemerintah. Ada beberapa halaman yang telah dirobek. Setelah mencari tahu buku tersebut di internet, semua halaman yang dirobek adalah halaman yang berisi penjelasan struktur negara komunis dan penjelasan kekuasaan tertinggi dalam sebuah pemerintahan yang absolut."
"Oke, terus?"
"Bapak, sempat ingin mengincar posisi yang lebih tinggi,
begitu bukan?"
"Ho?"
"Dan sepertinya buku-buku anatomi dan sains tersebut digunakan untuk meneliti cara membunuh eksekutif dengan cepat dan seefektif mungkin. Dan buku-buku psikologi dan strata sosial bapak pelajari untuk mengubah opini publik jika dibutuhkan."
"WAAAAAAAAAAAAAAA!"
"GILA! TERNYATA PAK RIZ-"
"GILA! CINDY!! TERNYATA PAK RIZKY-"
"GILAAA!"
"................."
Gawat, sepertinya Ilham mulai bisa menguak siapa saya sebenarnya. Meskipun memang kenyataan bahwa saya pernah bekerja di bawah anggota pemerintah untuk membunuh anggota pemerintah lainnya tidak bisa dipungkiri, tetapi tetap saja,
"Ilham, jawabanmu.... salah."
"A-APA!?"
JDAR!
"HAAAAAH!? APAAA!?"
"BUSET SALAH COY!"
"ASTAGA, MASIH SALAH!? BIAR SUDAH SETELITI DAN SELENGKAP ITU!?"
"Sa-salah saya di mana, pak? Apa ada informasi yang saya kelirukan!?"
"Ah, ndak. Semua hasil risetmu benar adanya. Hanya saja tidak lengkap."
"Ma-maksud bapak?"
"Nanti kamu tahu sendiri. Baiklah, peserta selanjutnya! Maju ke depan sini, cepat!"
Ilham yang masih berwajah terkejut, dengan berat hati menyingkirkan dirinya dari depan aula. Dari kerumunan murid yang duduk, adik saya berjalan dengan gagah berani, dengan wajahnya yang lagi-lagi habis dibasahi air mata.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. Saya Yoga Saputra, dari Jurusan Teknik Komputer Jaringan. Mohon bimbingannya, manusia batu."
"Haha, siap... siap. Silahkan."
__ADS_1
Baiklah, Yoga. Kira-kira apa jawabanmu? Apa kamu berhasil menebak abangmu ini dulu siapa? Apa hasil risetmu akan memuaskan saya?