Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
ARC YOGA: Invasi Diri Sendiri


__ADS_3

Brrrrrrrrm!!


Sebuah mobil mewah nampak terparkir di depan jalan. Tak lama kemudian, Rebecca dan Ilham keluar dari dalam dan segera memasuki gang.


"Hihihi, ternyata memang anak itu cuma rakyat jelata," ujar kunti kurang ajar satu itu mengejekku.


"Diamlah. Mereka orang-orang yang diurus Papamu, tau tidak?"


"Hihihi!"


Tak lama kemudian, sampailah mereka ke depan rumahku, dan tanpa basi-basi langsung memasukinya. Di dalam, aku pun menyambut mereka dengan wajah masam.


"Wah, datang juga?"


"Hihihi! Halo, Yoga!"


"Selamat sore. Mohon izinnya."


"Ah, ya. Masuklah."


Sesaat mereka hendak masuk, tiba-tiba abang keluar dari dalam rumah dengan pakaiannya yang paling bagus. Kami bertiga pun seketika kaget dan syok. Bukannya ia membimbing kami di sini, tapi malah pergi berkencan.


"Ah, Pak Rizky mau kemana?"


"Mau cari jodoh. Betewe kenapa kalian rapi banget?"


"Hihihi, halo pak!"


"A-abang sudah mau berangkat?"


"Iya, do'akan abang ya."


SPAK!


"Hati-hati di jalan," ujarku memberi semangat, sembari memukul pantatnya yang tengah melewati tubuhku.


Rebecca dan Ilham pun segera kuantar masuk ke dalam, dan menyajikan minuman di ruang tamu. Anak-anak murid lain mulai menyapa mereka, dan tugasku pun selesai.


"Kak Rebecca! Kak Ilham! Haloo!"


"Hihihi, halo!!"


"Halo kaak!"


Aku segera pergi ke dapur, dan hendak mengambil kembali beberapa es batu. Dari dalam, aku pun kembali memikirkan hasil risetku sedari tadi.


Kuambil buku tulis, dan menemukan beberapa hal.


Ada beberapa buku psikologi, dan beberapa buku sains di kamarnya, dan berdasarkan kondisi kertasnya, bisa dilihat bahwa dua tipe buku-buku tersebut adalah buku-buku yang paling sering abang baca.


"Bahkan ada beberapa coretan, tapi aku ndak begitu boleh mengamatinya lama-lama. Yang lain juga harus lihat."


Srak! Srak! Srararaak!


Aku mulai menulis beberapa catatan penting, dan teori-teori yang simpang-siur di antara anak-anak murid. Kini, tinggal berhipotesis, dan mencoba mencari jawaban yang paling sesuai dan paling logis.


"Sains, psikologi. Apa abang bekerja menjadi dokter? Professor? Ahli psikologi? Ada banyak sekali kemungkinan."


Namun di Samarinda? Memang kasus psikologi cukup banyak di sana? Apa ia hanya menjalani riset sosial di sana? Apa ia ada hubungan dengan pemerintah di sana?


"AERGHH PUSING BANGET, SIALAN!"


Jeglek!


"Hihi, Yoga!"


"Siapa? Oh Rebecca?"


"Aku mau balikin gelas."


"Ah iya, sini."


Grep!


Tatapan Rebecca pun nampak sedikit tertikung ke arah buku tulisku. Aku yang melihatnya mengintip bukan main langsung panik.


"E-EH!? NGAPAIN KAMU!?"


"Hihihi, cuma ngintip bentar aja kok! Paling nanti nggak inget!"


"A-apa!?"


"Tapi benar juga ya, anak jelata kayak kamu memang sepertinya nggak bisa asal diremehin."


"Apa kau bilang hah!?"


Sesaat aku mulai menaikkan nada suara, wajah Rebecca mulai berhenti tersenyum. Kedua matanya mulai membelalak, dan memelototiku tajam. Raut wajahnya berubah bengis, dan ia pun mulai membeberkan informasi penting padaku.


"Tapi biar kuberi tahu. Sebelumnya, kamu tahu nggak, kalau Ilham berencana merekrutmu ke OSIS?"


Aku pun sontak kaget.


"A-apa!? OSIS!?"


"Sepertinya abang kesayanganmu itu bukan manusia jelata biasa. Dan Ilham pikir kamu suatu saat akan bisa mengejar kuasanya di pemerintahan. Kamu paham?"


"........ ma-maksudnya?! Abang punya hubungan dengan pemerintah?!"


Rebecca pun menyilangkan tangannya, dan melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Ternyata Ilham benar, melihat tulisan-tulisan di buku usangmu itu, kemampuan analisamu sepertinya memang di atas rata-rata."


"A-aku ndak yakin barusan itu pujian atau hinaan, tapi maaf, kurasa aku ndak percaya kalau abang benar-benar punya kuasa lebih tinggi seperti itu! Abangku cuma rakyat jelata biasa!"


"Hihihi! Yogaa... Yoga. Sepertinya pikiranmu masihlah sangat sempit. Coba lihat, bagaimana kalau kuungkap siapa yang bocorin informasi kalau kamu itu adiknya Pak Rizky?"


"KA-KAU TAHU!?"


"Tentu saja, kau tahu staff sekolah bercadar yang bertugas di Tata Usaha? Bu Ambar?"


"A-aku ndak kenal."


"Percaya atau tidak, tapi Bu Ambar itu kakaknya Ilham, lho! Dan beliau kayaknya kenal banget deh, sama abangmu! Sangking kenalnya, beliau sampe repot-repot ngacaukan posisimu di kontes berhadiahnya Pak Rizky! Hihihihi!"


"Ma-maksudnya?! Kenapa beliau mau aku keluar dari kontesnya abang!?"


"Ya karena dia mau adiknya yang menang, lah!"


"Padahal kalian sudahlah kaya, buat apa lagi ikut kontes ecek-ecek begini!?"


"Itu dia masalahnya, Yoga. Asal kamu tahu, Kakaknya Ilham itu betul-betul meminta Ilham biar dia bisa menangin kontesnya! Sampai-sampai dia bikin Ilham beli informasi soal kamu ke dia Hihihi! Belinya nyampe 20 juta lagi!"


"B-Buset!? 20 juta!? Bukannya itu rugi!? Prize pool kontes ini aja cuma 10 juta!?"


"Nah itu dia, hihihi! Kok mereka sampe segitunya yaa? Apa alasannya ya, kira-kira?"


"Kalau beliau benar-benar ingin adiknya menang, cuma ada satu alasan sih, cari.... perhatian kah?"


"Hihihi, baru mudeng kamu ya!?"


Bahkan kedua anak Perwira Tentara ingin mencari perhatian abang? Apa maksudnya ini? Apa mereka juga mau membuktikan diri ke abang? Tapi dalam rangka apa? Apa tujuan mereka mencari perhatian abang? Apa ada suatu hal penting yang abang punya dan mereka mau dari dia?


"Siapa... sebenrnya abang..? Kenapa ada begitu banyak hal yang tidak kutahu dari dirinya!?"


Sialan. Lagi-lagi aku ketinggalan. Begitu banyak hal orang lain tahu mengenai abang dibandingkan diriku tahu. Dan aku adalah adiknya sendiri, bagaimana bisa!?


"Aku, benar-benar adik yang busuk," ucapku kesal sembari mengepalkan kedua tanganku dengan erat.


Rebecca pun mengembalikan wajah bahagianya, dan segera pergi meninggalkan dapur, hendak melanjutkan pencarian informasinya.


"Mau kemana kau?!"


"Lanjutin kerjaan!"


"Kau ndak mau meminta bayaran? Buat semua informasi itu?"


"Hihihi, sorry aja lah ya! Aku nggak butuh duit dari rakyat jelata macam kamu!"


"...... dasar kunti."


...----------------...


Aku menjatuhkan diri di sofa, dan beberapa murid pun mulai menatapi diriku yang mulai gila, memelototi buku sedari tadi, mencoba memikirkan jawabannya.


Lupakan dulu soal nama panjang. Pekerjaan sebelumnya lebih penting. Berdasarkan data hasil risetku dan informasi yang Rebecca ungkap, sepertinya memang abang adalah seseorang yang memiliki ikatan dengan pemerintah.


"Mata-mata pemerintah? Detektif? Eksekutif Departemen? Argh! Masih banyak kemungkinan!"


Mau ndak mau aku harus kembali mencari tahu. Tapi di mana? Semua dokumen pribadi abang tidak ada di mana-mana. Bahkan di kamar mamak sama bapak ndak ada!


"Ijazah, KTP, akta kelahiran, semuanya ndak ada di sini. Haish! Berarti tinggal Kartu Keluarga."


Aku pun berinisiatif mencaru fotokopi Kartu Keluarga lalu segera menempelnya di dinding ruang tamu, sehingga semua murid yang ada bisa melihatnya.


"Wah! Ada Kartu Keluarganya!"


"Dengan begini, nama panjang abang sudah ketahuan, kan? Tinggal pekerjaan tetap sebelumnya aja yang harus ditebak dengan benar."


"Hihihi, Yoga benar-benar main adil ya! Suka deh!"


"Diem kau, kunti."


"Eh tapi di sini Pak Rizky lahirnya ndak di Balikpapan ya? Justru dia lahir di Selangor? Di mana tuh?! Aneh banget!"


"Selangor itu di Malaysia, Sayang. Hihi!" jawab Rebecca seraya tertawa.


"........ iya juga ya," ujarku ikut bingung sembari mencatat info-info tersebut.


"Baru di sini pekerjaannya cuma 'buruh', ih Kartu Keluarganya ndak seruu! Ndak mau ngasih tahu!"


"Ya kali, goblok!?"


Abang lahir di Malaysia? Baru tahu. Ku pikir ia lahir di sini. Jelas-jelas ia ndak pernah ke Malaysia!? Kenapa begitu? Lalu pekerjaannya, buruh?! Apa-apaan!?


"Ja-jangan-jangan... KK palsu?!"


Baru saja otakku kembali berjalan, Si Kunti Rebecca pun tiba-tiba membisikiku sesuatu. Aku yang punya telinga sensitif bukan main kaget nan syok dibuat kelakuannya.


"Psst! Yoga.."


"AARGH BUSET! KAGET!"


"Hihihi, sensitif ya?!


"APA SIH!? NGOMONG AJA KENAPA!?"


"Kayaknya KK ini gak ada begitu banyak informasinya deh! Ada dokumen lain, ndak?"


"Ugh.. Ndak ada! Cari aja sendiri di rumah ini! Kamu pikir aku ndak ada nyoba cari dari tadi!?"

__ADS_1


Ilham yang mendengarku berteriak, segera datang ke ruang tamu dan menenangkan kami.


"Kemungkinan dokumen lainnya tidak ada disini."


"..... baru muncul kau?"


"Yoga, sepertinya keluargamu memiliki latar belakang yang menarik. Ada beberapa buku anti-pemerintahan di rak buku abangmu."


"A-apa!?"


BRUK!


Ilham pun menarik buku-buku itu dan membantingnya ke meja. Ia menatapku serius, dan mencoba menginterogasiku.


"Kau tahu seberapa bahayanya buku-buku seperti ini?"


"Kenapa.... abang punya buku-buku seperti ini!?"


Namun, ketika aku melihat kondisi kertasnya, sepertinya buku ini sama sekali tidak pernah dibaca begitu mendetail. Kertasnya masih tersarak rapi, halaman-halamannya seperti tidak pernah dibuka.


Kemungkinan buku ini hanyalah pajangan.


"Tapi sepertinya buku ini tidak pernah dibaca. Jadi mari berasumsi kalau buku ini hanyalah dekorasi," lanjut Ilham berasumsi menenangkan kami, lalu hendak pergi.


"Luar biasa, dia bisa langsung tahu?" ujarku terkjut dalam hati.


Ilham, dia anak yang kuat insting. Bisa dilihat dari caranya mengamati sekitarnya. Situasi, kondisi, bahkan dirinya sendiri, ia mampu menganalisa semuanya dengan baik.


"Ternyata memang mau caper," bisikku geram.


Kini,  jam 10 malam sudah tiba. Anak-anak murid yang berkunjung semuanya sudah nampak kembali ke rumah mereka masing-masing. Sedang Rebecca dan Ilham yang masih berada di kamar abang, masih mengamati benda-benda di dalam sembari menunggu mobil mereka tiba.


"Hihihi, tapi kalau ditebak, kayaknya Pak Rizky bener-bener tipeku, deh!" ujar Rebecca pede.


"Jangan asal bicara. Pak Rizky sudah punya pacar."


"Ah, masa? Kamu tahu? Spill ceweknya dong! Hihihi!"


"Adiknya saja tidak tahu, apalagi aku."


"Hihihi, dasar Ilham! Mau nyembunyiin apalagi kamu!?"


Brrrrrrm!


Nampak mobil mereka sudah tiba di depan gang. Aku pun yang sudah memantau dari luar, segera masuk dan memberi tahu mereka secepatnya.


"Oy! Anak OSIS! Jemputan kalian sudah datang!"


"Hihihi! Finally!"


"Ayo, simpun barangmu. Jangan ada yang tertinggal. Kita berangkat."


"Ya, cepatlah keluar. Sudah bosan aku liatin muka sombong kalian yang minta diudak-udak itu."


Tak lama kemudian, mereka pun hendak berangkat pulang dari rumahku. Kami pun berpamitan.


"Makasih banyak ya, Yoga! Sampai ketemu besok!"


"Semoga jawaban kita berbeda, Yoga Saputra."


"Bisa ndak sih ngomongnya ndak usah kaku begitu! Sanati aja kenapa sih!? Sudah sana! Cepetan pergi!"


"Dadaa! Selamat malaam! Hihihi!"


"Selamat malam."


"Yayaya, selamat malam, hati-hati."


...----------------...


Jeglek!


Ah, akhirnya rumahku sepi. Padahal cuma kunjungan sehari, tapi dapat banyak pengunjung bikin capek juga, ya. Belum lagi nyajikan ini itu, belum lagi riset. Bikin penat.


"Haargh, pikiran masih buntu. Memangnya kerjaan abang dulu apaan sih!? Rumit banget, sialan!"


Aku yang masih pusing nan buntu, kembali memikirkan tujuanku mengikuti kontes ini.


"Bisa aja kah, aku ini menang? Melihat mereka sudah tahu sebanyak itu, paling tidak mereka sudah punya jawaban yakin."


Apa aku mampu membuktikan diri? Mengalahkan orang lain saja sulit, apalagi mengalahkan diri sendiri?


Aku yang terbaring di kasur, mencoba mengingat-ngingat pembicaraanku dengan abang tadi sore.


"Saranku, sebelum kamu mencoba mengalahkan, coba kamu invasi diri sendiri terlebih dulu. Melawan tanpa tahu kelemahan lawan itu terlalu bersiko tinggi."


"..... invasi... diri sendiri?"


Tunggu. Sepertinya aku juga mengingat perkataannya tadi siang soal invasi.


"Baiklah, kalau begitu saya tunggu semua jawaban hasil riset kalian besok. SILAHKAN INVASI WILAYAH SAYA SEPUASNYA."


"Invasi... diri sendiri..? Invasi wilayah diri sendiri!?"


SRAK!!


Aku langsung terbangun dari tidurku, dan sigap tersenyum panjang nan lebar.


"BUSET!! SELAMA INI JAWABANNYA DI SINI!? DI KAMARKU SENDIRI!?"

__ADS_1


__ADS_2